
"Apa kalian benar-benar harus membawanya pergi?" Tanya Valeria miris.
Zen memalingkan wajahnya karena tak bisa tahan dengan Valeria yang terus menatapnya seperti ia sedang melarangnya untuk membawa Yuki.
Felix berjalan mendekat dan menarik bahu Zen. Ia membiarkan Zen untuk berdiri dibelakangnya. "Ini untuk keselamatan Yuki. Kami khawatir tempat ini tidak aman setelah publik mendengar keberadaan Yuki" ujar Felix serius.
Suasana mulai terasa tidak enak. Valeria terus melontarkan tatapan marah pada keduanya. Andro yang bernotabene sebagai kekasihnya sendiri pun tidak berani mendekat jika sudah seperti ini.
"Ah iya! Aku lapar. Ayo kita sarapan di kantin rumah sakit. Aku belum pernah kesana. Ayo Andro" ujar Zen yang berusaha mencairkan suasana tak nyaman ini.
Andro mengerti apa yang dimaksud Zen dan segera bertindak. Andro melangkah dan merangkul Zen dengan memasang wajah senang, walau dipaksa. "Iya! Aku juga lapar. Ayo kita pergi Vale"
Andro dan Zen melangkah bersama dan Andro menarik tangan Valeria. Ia tak bisa melawan lagi karena Andro sudah terlanjur menarik tangannya.
Felix masih mematung disana. Pandangannya teralih pada Yuki yang dapat terlihat dari kaca pintu. Sudah terhitung 6 hari sejak kejadian itu.
Terakhir kali Felix melihat senyuman itu sekitar 20 hari yang lalu. Felix sebenarnya merasa menyesal karena telah meninggalkannya.
Padahal Yuki sudah terang-terangan mengatakan padanya untuk tidak pergi. Tapi Felix tetap pergi. Begitupun dengan Axel dan Alvaro yang harus menyelesaikan semua pekerjaan yang tertinggal.
Rencana mereka untuk berlibur selama sebulan penuh pun kini hanya angan-angan belaka. Mereka telah gagal. 4 pria dewasa telah gagal menjaga dan merawat seorang gadis.
Huh, betapa lalainya mereka.
"Felix" panggil seseorang dari belakang tubuhnya. Felix membalikkan badannya dan menatap datar orang itu.
"Aku akan pergi ke mansion Gerald untuk berterimakasih dan pamit. Aku akan pergi bersama Zen" ujar Axel datar.
"Lalu kalian akan kekantor dan kembali kesini. Dan aku harus diam disini menjaga Yuki. Sekembalinya kalian, kita akan langsung berangkat. Kau ingin minta aku menyiapkan semua prosedur secara sempurna. Baik aku mengerti. Sana pergi" Felix mengeluarkan serentetan kalimat panjang.
"Hm, bagus. Tolong kau panggilkan Zen. Bilang padanya aku menunggu di mobil" Axel menjawab dengan perintah selanjutnya.
Felix mendesah kemudian mengeluarkan ponselnya. Untuk apa ia mencari Zen jika bisa menelponnya sekarang. Jangan buang-buang waktu dan tenaga. Yuki sekarang lebih penting dari Zen.
"Hai hallo"
"Kau ditunggu Axel di mobilnya. Kalian akan pergi ke mansion Gerald dan kantor cabang. Untuk kelanjutannya, tolong tanyakan sendiri"
BIP
Felix langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak dan memasukkan ponsel itu kedalam saku celananya.
Ia memutar kenop pintu itu dan masuk kedalam. Hawa hangat mulai terasa ditubuhnya yang sedikit kedinginan dan semerbak harum bunga mawar yang terhirup hidungnya.
Felix duduk dan tersenyum melihat Yuki yang terbaring. Tangannya terangkat dan mengusap kening Yuki dengan lembut. Kemudian jari telunjuknya kini menyusuri perban yang terlilit di kepala Yuki dengan lembut.
"Jangan terlalu lama tertidur. Aku sangat merindukanmu. Hei nona besar, aku rindu dengan masakan mu. Jujur aku tidak suka kau menderita seperti ini. Bangun dan berbagi lah penderitaan itu denganku" gumamnya seraya menatap Yuki.
🌸🌸🌸
Seorang gadis kecil membukakan pintu itu dengan menariknya kuat karena pintu besar itu sedikit berat. Gaun berlengan panjang yang dikenakannya terlihat sangat indah ketika angin bertiup dan ujung gaun itu melambai-lambai.
"Ingin bertemu siapa?"
"Hai Sena. Kami ingin bertemu dengan ayah dan ibu kalian. Apa mereka ada?" Ujar Zen dengan ramah.
"Kebetulan ayah sedang dirumah. Ayo silahkan masuk"
Sena membawa keduanya masuk dan menyuruh mereka untuk duduk di ruang tamu. Setelah memanggil pelayan untuk membawakan Zen dan Axel hidangan, Sena beralih naik keatas untuk menghampiri ayah dan ibunya.
Tak lama kemudian, pasangan suami istri ini turun bersamaan dan saling berpegangan tangan dengan mesranya. Dibelakang mereka ada Sena dan Kevin yang mengikuti mereka. Rasa penasaran sudah merasuki keduanya.
"Ah, Axel dan Zen. Senang kalian bisa melihat kalian berkunjung kemari" ujar ayah Gavin.
"Langsung to the point saja kak" bisik Zen.
"Oke. Jadi begini tuan dan nyonya Gerald, kedatangan kami kemari bermaksud ingin mengucapkan rasa terimakasih kami atas semua bantuan yang kalian lakukan. Kini semua sudah dalam kendali kami. Hanya tinggal menunggu adik kami sadar dari komanya" jelas Axel dengan sopan.
"Dan kami juga ingin pamit pulang. Kami akan kembali ke Florida. Yuki akan kami bawa karena keamanannya sangat terjamin jika berada disana" kini Zen yang angkat bicara.
__ADS_1
"Apa? Yuki ikut bersama kalian!? Tapi---" ucapan Kevin menggantung.
"Ini demi keselamatannya. Jika Yuki sudah sadar dan kembali pulih, ia pasti akan kembali kesini"
"Tidak!" Pekik Gavin yang datang menghampiri mereka.
"Gavin! Ini bukan saatnya untuk egois. Yuki seorang nona besar. Kemarin saja mereka baru saja membereskan 5 paparazi yang berusaha mengambil gambar Yuki" tegas ayah Gavin.
Gavin tak bisa mengatakan apapun lagi. Lidahnya terasa keluh untuk berbicara. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Jangan sampai ia memperburuk keadaan.
"Kau bisa datang berkunjung untuk melihat Yuki sepuas mu jika kau kesana" ucap Axel sebelum menyeruput teh yang telah disediakan.
Matanya terangkat dan menatap Axel. Gavin memiliki harapan. Senyuman tipis muncul diwajahnya.
"Iya. Datanglah kapanpun. Kami akan menjemputmu nanti"
Axel kemudian berdiri dan merapihkan jasnya. Begitupun dengan Zen, ia juga spontan berdiri ketika melihat Axel.
"Senang bisa mengenal keluarga anda tuan Gerald. Saya sangat berhutang budi dan nyawa pada anda. Jika ada hal yang bisa saya lakukan, tolong katakan saja" ujar Axel dengan penuh kewibawaan.
Axel dan tuan Gerald kini saling berjabat tangan. "Hm, bisa kau lakukan sesuatu untukku" ujar ayah Gavin.
"Apa itu?"
"Restui lah hubungan puteraku dengan adik tercinta mu" ujar ayah Gavin seraya mengedipkan sebelah matanya setelah melirik Gavin.
Semburat merah merona hadir di wajah tampannya. "Ayah! Apa yang kau katakan?"
"Tentu, akan kuberikan. Kita lihat saja bagaimana setianya kulkas itu menghadapi Yuki" sindir Axel keras.
Axel pamit dan berjalan keluar duluan. Zen berlari dan memeluk Gavin sebelum akhirnya pergi menyusul Axel.
"Kau baru saja mendapat lampu hijau dari big boss" bisik Zen.
🌸🌸🌸
"Saat sampai di Florida, bagaimana keamanannya?" Tanya Axel yang masih tak puas dengan serentetan laporan tadi.
"Jika sudah sampai disana, keamanan sudah tidak diragukan lagi" ujar Felix dengan jengkel.
"Dan, bagaimana dengan ma--"
"Berhenti bertanya! Kau hanya pergi selama 45 menit. Aku hanya bisa mengatasi apa yang telah disebutkan tadi. Aku tak bisa menghubungi semua orang yang kau mau dengan waktu yang singkat! Mansion sudah pasti aman karena alat keamanan yang tak pernah bisa dimatikan! Kau puas!?" Felix marah.
"Hm, bagus" respon Axel dengan singkat dan tanpa perasaan bersalah ataupun terimakasih.
Zen yang berdiri di belakang Axel hanya bisa tersenyum kikuk. Kakaknya ini kadang mengagumkan, kadang susah ditebak, dan terkadang menjengkelkan juga orangnya. Dan jangan lupa dengan sifat tak berperasaan miliknya.
Alvaro datang dengan pakaian kasual namun tetap terasa hangat dengan sweater turtle neck miliknya bersama Nancy yang sudah berpakaian formal.
"Yuki sudah siap. Kita berangkat sekarang?"
Axel melirik mereka berempat satu persatu. Wajah mereka semua nampak serius, kecuali Zen. Axel memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
"Let's go home"
Mereka berempat saling melirik sebelum akhirnya menganggukkan kepala bersamaan. Alvaro menekan tombol alat pendengar yang terselip ditelinganya.
"Cepat. Nona besar berangkat sekarang" ujar Alvaro pada benda itu.
Beberapa bodyguard dan perawat datang untuk menarik bangkar Yuki. Axel melangkah terlebih dahulu bersama Zen. Sementara Felix mengamankan lorong rumah sakit. Dan Alvaro mendampingi Yuki.
Mereka sangat kompak. Seperti inikah cara kerja orang-orang profesional. Tak perlu penjelasan lanjut, hanya sepatah katapun mampu menggerakkan pergerakan besar.
🌸🌸🌸
Sebuah mobil Pajero putih melaju dengan cepat dijalanan yang lumayan tidak terlalu ramai. Alunan musik pop band terus terdengar.
Gadis dengan berambut pendek itu terus bersenandung kecil seraya memperhatikan buket bunga mawar yang berada di pangkuannya. Dan kedua temannya yang merupakan sepasang kekasih ini hanya diam menatap pemandangan yang dilewati mobil ini.
__ADS_1
"Seneng banget sih babe?" Ujar Andro yang sedang menyetir. Valeria menoleh dan tersenyum manis.
"Lain kali ga boleh egois yah. Mereka juga kan melakukan itu demi honey nya kamu juga" tutur Andro dengan lembut.
"Iya iya aku paham" jawabnya yang sudah tak emosional lagi.
Valeria kembali bersenandung mengikuti alunan lagu. Begitupun dengan Andro yang mulai bernyanyi untuk menghilangkan pikiran yang berkecamuk akhir-akhir ini.
Wiuw wiuw wiuw wiuw wiuw...
Bunyi sirine terdengar keras. Para pengemudi pun tiba-tiba jadi diharuskan minggir sedikit untuk membiarkan mobil bersirine itu lewat. Sirine itu berasal dari arah yang berlawanan dari mereka.
"Apa presiden negara ini baru saja lewat?" Tanya Olivia yang memperhatikan banyaknya motor polisi yang mengawal mobil hitam didepannya.
"Presiden? Tapi yang kulihat tadi sebuah ambulans" ujar Louis yang nampak bingung.
"Jadi siapa dong? Pejabat negeri gitu?" Tanya Olivia lagi.
Dan kecurigaan pun muncul di benak Andro. "Ambulans? Mobil hitam? Dan dikawal polisi? Apa jangan-jangan...." Andro menggantung perkataannya dan melirik kesamping.
Mata Valeria melotot setelah memahami sesuatu. "Itu pasti Yuki!"
"Kau benar! Andro, cepat ikuti sirine itu!" Ujar Olivia yang sampai sedikit bangkit dari duduknya dan menunjuk kedepan.
"Ini jalan satu arah woy! Jangan gila deh" pekik Louis.
Hah, mereka jadi heboh sendiri di dalam mobil.
"Sabar semua. Harap tenang. Kita cari persimpangan dulu, okay" ujar Andro yang berusaha tetap tenang karena dirinya yang sedang menyetir.
Andro kembali melajukan mobilnya dengan sedikit lebih cepat. Menyalip beberapa mobil didepannya bukanlah hal yang sulit baginya.
Setelah melihat ada tempat untuk memutar balik arah, Andro langsung memutar balik mobil itu dengan cekatan. Huh, untuk tidak menabrak mobil lain.
Pelan-pelan Andro, author yang deg-degan nih.
Acara kejar kejaran pun kini sedang dilakukannya.
"Kira-kira kita bakal kemana?" Tanya Andro.
"Bandara lah! Masa mereka mau terbang ga pake landasan pacu" tukas Louis.
"Wih, si telmi boleh juga"
Andro membelokkan mobilnya di persimpangan menuju bandara. Dan langsung memberhentikannya ketika Valeria berteriak berhenti di depan gedung keberangkatan.
Mereka bertiga sontak keluar dari mobil dan langsung berlari kencang meninggalkan Andro didalam mobil.
"Woy! Gua ditinggalin! Gua ga bisa parkir disini!" Teriak Andro.
Mereka tetap berlari masuk sampai ada seorang petugas yang menghadang mereka dengan garang.
"Anda tidak bisa masuk begitu saja. Eh? Tuan muda Vuitton. Apa ada urusan penting?" Ujar petugas itu.
"Cepat! Kami harus menuju jet milik Cortez. Ini darurat!" Ucap Louis dengan tergesa-gesa.
Petugas itu langsung mengarahkan mereka untuk mengikutinya. Petugas ini juga ikut berlarian dengan meniupkan peluit miliknya.
Setibanya di tempat tujuan mereka, Valeria masih terus berlari. Bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Olivia sudah gak kuat berlari dan memilih berhenti sejenak. Dan Louis yang tertinggal di belakang Valeria dan petugas itu.
Wushhhh...
Sebuah jet bertuliskan C03 baru saja lepas landas. Jet itu sudah mengudara dan langsung hilang dari pengelihatannya dengan secepat kilat.
Yuki sudah mereka bawa pergi.
Valeria membanting buket bunga itu hingga tercerai berai di atas tanah beraspal. Kemudahan gadis ini menghentakkan kakinya dan menghancurkan buket bunga itu.
"Aarrgghhhh... Kau sangat menyebalkan Axelerious!"
__ADS_1