Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
49. trust to Gavin


__ADS_3

"Berikutnya. Gavin La Ligeo Gerald. Pria kelahiran Italia. Mahasiswa kelas bisnis yang meraih nilai tertinggi dan berhasil mendapatkan gelar cumlaude!" Ujar MC dengan begitu lantang ketika mengucapkan nama Gavin.


Pria bertoga itu berdiri dari deretan kursi paling depan. Kaki jenjangnya melangkah dengan begitu gagah. Kakinya melangkah naik keatas panggung. Dosen yang pertama memberikan selempang bertuliskan cumlaude. Gavin kemudian menyalaminya dan berjalan lagi.


Dosen kedua, memindahkan tali topi toganya. Gavin juga menyalaminya dan berjalan kesamping. Dan dosen ketiga, memberikan sebuah bukti kelulusan. Momen-momen penting pun tak luput dari fotografer yang bertugas mengabadikan setiap momen.


Gavin turun dari atas panggung dan kembali duduk. Disampingnya ada Andro. Pria itu tersenyum lebar, tak bisa menahan emosinya. Begitu senang ketika telah berhasil bersama sahabatnya.


"Selanjutnya. Andro Lirenshi.." ucap MC itu.


"It's my turn. Watch and see what I get from there" ucap Andro sambil berdiri sambil mengedipkan matanya pada Gavin.


"It's the same as me" ucap Gavin acuh tak acuh.


Serangkaian acara pun kini telah usai. Saatnya berfoto bersama keluarga. Tapi lagi-lagi, Gavin dan Andro mendapat urutan terakhir. Huh, sudahlah.


Kedua pria itu berjalan menuju pintu keluar. Mereka mendapati 3 sahabatnya berdiri disana. Seorang gadis berambut pendek datang menghampiri mereka dengan dua buket bunga yang indah. Kakinya jadi sedikit berlari ketika sudah mendekat. Lalu dipeluknya tubuh Gavin dengan erat.


"Congrats Vin. Gua bangga banget sama Lo" ucapnya.


"Woi woi woi babe! Pacar disini! Kenapa yang dipeluk es kutub? Valeria, jangan bercanda deh" gerutu Andro pada kekasihnya.


Valeria yang nampak lebih dewasa dari sebelumnya. Begitu cantik dan elegan walau dengan sifatnya yang tomboi. Tapi gadis ini tetap berusaha memakai rok si saat acara wisuda kedua orang yang begitu penting di hidupnya.


"Iya iya ah! Bawel" Valeria melepas pelukannya pada Gavin dan beralih memeluk Andro bergantian.


Kini giliran Louis bersama Olivia. Olivia lah yang paling banyak berubah. Pekerjaannya sebagai model papan atas membuatnya harus memakai kaca mata hitam dan pakaian tertutup agar tak mudah dikenali orang. Kuliah? Tidak! Olivia bahkan sudah berencana untuk fokus pada karirnya dan akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dengan Louis nantinya. Kehidupan yang sangat tertata rapi.


"Selamat ya Gavin" ucap kedua orang ini sambil memeluk Gavin bersamaan.


"Cepet nyusul tahun depan" ucap Gavin.


Louis dan Olivia terkekeh dan melepas pelukan mereka. "Tahun depan? Louis mungkin akan lulus 2 tahun lagi karena pria ini terlalu telmi" ucap Olivia sampai terkekeh geli.


"Berhenti meremehkan suami masa depan Liv" ujar Louis kesal.


"Iya iya suami masa depan" ledek Olivia sambil meniru cara bicara Louis.


"Uhm, permisi" ucap seorang pria yang datang menghampiri mereka.


"Maaf, saya ingin mengantar surat ini pada Gavin Gerald..." Pria itu langsung langsung meraih tangan Gavin dan memberikan kertas kecil itu. Dan pria itu langsung berlari kencang karena takut ditanya lagi oleh Gavin yang lumayan menyeramkan baginya.


Gavin membuka lipatan kertas itu. Ternyata itu adalah sebuah amplop kecil. Gavin membuka lagi amplop itu dan menemukan secarik kertas kecil didalamnya.


**You have a big surprise. Come to south garden now! Jangan sampai tidak datang**


Dari : rahasia 👓


Apa sih!?


Andro melongok mengintip sedikit kertas itu. Dirinya menyadari sesuatu. Begitupun Valeria, ia langsung menarik Gavin.


"Kita kesana sekarang. Gua rasa ini Kevin deh" ucap Valeria.


"Eh? Ini bukan rencana kalian?" Tanya Andro.


"Kevin ga mau kita ajak kesini. Dia bilang masih ada urusan" ujar Olivia.


Gavin kembali terdiam. Kevin? Untuk apa kembarannya mengirimkan surat seperti ini? Tapi Gavin penasaran. Karena tertulis big surprise.


Gavin mengangguk dan langsung menarik Andro untuk ikut bersamanya. Valeria juga begitu, gadis ini ikut menyusul dibelakang mereka. Louis dan Olivia ikut menyusul setelah Valeria.


Mereka berlari. Melewati beberapa lorong dan beberapa gedung. Taman ini begitu jauh. Tempatnya ada diujung wilayah kampus ini. Olivia bahkan sampai menjatuhkan kacamata hitam serta syal yang memang melilit di lehernya.


Setibanya disana. Mereka mematung berdiri. Melihat dua orang dihadapan mereka. Pria berkacamata itu tersenyum lembut dengan tangan yang terus menggenggam dorongan kursi roda.


Gadis yang duduk di kursi roda itu juga tersenyum manis. Gaun hitam yang ia kenakan begitu sangat serasi dengan jas yang Gavin pakai. Valeria dan Olivia bahkan sampai meneteskan air mata. Valeria yang lebih dahulu berlari dan langsung memeluk sahabatnya.


"Oh astaga! My honey Yuki!! Lo udah sadar dari koma! Gua seneng banget. Lo kapan siumannya" ucap Valeria sambil menangis tersedu-sedu.


Olivia bahkan tak bisa berkata-kata lagi. Dirinya sudah berdiri tegap dihadapan Yuki dan gak mampu melangkah lagi. Olivia terhuyung dan berakhir duduk direrumputan hijau sambil terus menutupi wajah nangisnya.


Valeria melepas pelukannya dan sedikit menoleh kebelakang. "Lo ngapain sih!? Olivia! Gua mau kita bertiga pelukan bareng!" Pekik Valeria.


Olivia mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar. Ia melangkah dengan setengah berdiri, menggunakan lututnya sebagai tumpuan. Tak peduli akan kotor atau tidak.


Ketiganya berpelukan erat. Yuki bahkan bisa merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Begitupun dengan Valeria dan Olivia, keduanya seperti menemukan sebuah bagian kehangatan di hati mereka. Yuki memang pembawa kehangatan bagi siapa saja yang memeluknya.


Ketiga perempuan itu melepas pelukannya. Olivia mengajak Louis untuk menyambut Yuki juga. Louis nampak tersenyum tipis dan bibir itu mulai terbuka.


"Ada hal yang mau gua bilang" katanya sambil menatap Yuki. Gadis ini tersenyum dan mengangguk.


"Maaf. Maaf. Maaf. Maafkan aku tidak mengajakmu ketika aku dan Olivia berkencan waktu itu. Padahal kau sudah banyak membantu. Aku tak seharusnya melupakan temanku sendiri. Maaf" ucap Louis. Yuki merentangkan kedua tangannya dan Louis melangkah maju. Ia memeluk Yuki perlahan dengan lembut.


"Tak ada yang bersalah disini. Aku senang bisa bertemu kalian lagi" ucap Yuki.


Louis melepas pelukannya dan beralih menatap Gavin. "Sekarang giliran Lo Gav! Ayo" ajak Louis.


"Oh iya. Mana Kev, bunganya?" Tanya Yuki sambil menoleh ke belakang. Kevin memberikan buket bunga yang ukurannya lumayan besar. Isinya ada berbagai macam bunga yang sangat harum.


Sambil menggenggam buket besar itu, Yuki tersenyum manis. Tanganny mengajak Gavin untuk berjalan mendekat agar dirinya bisa memberikan buket bunga itu.

__ADS_1


"Congratulation on your graduation. Aku sangat bangga padamu. Terimakasih telah menunggu selama 4 tahun lebih"


Gavin malah merah merona. Rahangnya sendiri mengeras ketika berusaha menahan senyumannya. Gavin akhirnya tersenyum lembut. Kakinya mulai melangkah kedepan, menghampiri gadis itu.


Grep.


Tiba-tiba langkah Gavin terhenti karena seorang gadis menghalangi jalannya dan memeluknya. Sontak Gavin mengubah ekspresi wajahnya dan langsung mendorong gadis itu agar menjauh.


Namun gadis ini malah tak melepas pelukannya pada Gavin. Gavin mulai geram. Dilepaskannya tangan gadis itu dari tubuhnya dengan kasar hingg gadis itu terduduk di tanah.


Semua orang membelalakkan matanya, tanpa terkecuali Yuki. Apa-apaan gadis ini? Pikir mereka.


"Lo apa-apaan sih Sheila!!" Marah Gavin.


Sheila berusaha bangkit dan mengibaskan gaun mininya yang sedikit kotor karena terjatuh tadi. Gadis ini malah tersenyum pada Gavin dan memberikan sebuah boneka beruang kecil yang dipakaikan pakaian wisuda atau toga.


"Selamat atas kelulusan kamu, babe. Kamu hebat banget sih.. aku jadi makin cinta" ucap Sheila yang terdengar menjijikan ditelinga mereka.


"Tunggu tunggu tunggu! Gavin! Siapa gadis ini?" Tanya Valeria marah.


"Gue pacarnya! Kita udah pacaran selama 3 tahun" jawab Sheila dengan sombongnya.


"Kalian pacaran? Sheila, jangan main-main" ucap Andro.


"Apa ini benar, Vin?" Tanya Valeria mengintimidasi.


"Gue?" Bodohnya Kevin malah menyahut. Huh, Kevin mengganggu suasana, jadi ambyar dah.


"Itu pertanyaan bukan buat Lo Kevin!" Bisik Louis.


"Dia cuma ngaku-ngaku doang. Lo percaya kan sama gue, Vale?" Ucap Gavin dengan jujur.


Valeria kenal Gavin sejak lama. Dirinya memahami setiap ekspresi Gavin yang mungkin akan sulit dibaca karena memang terlihat sangat datar. Valeria mengangguk dan mendorong pundak Sheila agar dirinya menjauh dari Gavin.


"Jadi Lo cuma lagi ngehalu ya? Minggir jauh-jauh dari kehidupan Gavin. Lo ga pantes masuk dalam lingkaran kami. Gua paling ga suka sama orang yang ga tulus" ucap Valeria kejam.


Sheila tersenyum menantang dan mengangkat kepalanya dengan angkuh. Dirinya melepas tangan Valeria dengan kasar dan membalas tatapan tajamnya.


"Gua juga bisa tulus sama kalian yang entahlah siapa. Tapi kalau itu untuk menyenangkan hati Gavin, akan gue lakuin"


"Tapi sayangnya hati Gavin yang beku ini hanya milik Yuki. Gua juga ga setuju kalau Lo masuk lingkaran hidup kami" ucap Andro yang mendukung pendapat kekasihnya.


"Yuki? Apa gadis itu yang bernama Yuki?" Ujar Sheila dingin dengan menunjuk Yuki yang terduduk di kursi roda.


Semua orang diam.


"Jadi elo, Yuki sang pemilik hati Gavin" ucap Sheila sambil melangkah kedepan.


Plak!


Sheila bungkam akibat tamparan keras dari Olivia. Gadis ini sudah emosi melebihi siapapun. Ditariknya baju Sheila hingga ia sedikit menjinjit. Olivia mencengkram kerah gaunnya kuat.


"Lo ga berhak ngomong kayak gitu sama sahabat gue! Lo bukan siapa-siapa! Lo pikir Lo siapa hah?" Marah Olivia.


Mata Sheila memincing memperhatikan wajah Olivia. Dia mengenal gadis ini. "Kamu kan.... Model papan atas yang sedang naik daun. Kau baru saja mencelakai ku. Kita lihat rumor jelek apa yang akan menimpah karirmu"


Olivia membanting tubuh Sheila hingga tersungkur di tanah. "Dan gua akan buat klarifikasi dan membongkar semua perbuatan dan ucapan buruk Lo"


Sheila nampak ketakutan dan langsung berlari. Ia tak bisa tahan dengan wajah Olivia yang marah. Ini benar-benar mengerikan.


Huh, satu masalah beres.


Gavin bisa bernafas lega sekarang. Tidak disangka Sheila akan nekat seperti tadi. Benar-benar keterlaluan.


Mata Gavin sendu menatap Yuki yang sudah menangis di pelukan Kevin. Entah sejak kapan ia menangis sampai-sampai Gavin tidak menyadarinya.


Gavin baru bisa berjalan mendekat ketika Kevin sudah kembali berdiri. Pria ini terduduk di tanah dan memperhatikan wajah gadisnya. Berusaha membantu, Gavin sudah mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap air mata Yuki.


"Aku ga tau kalau kamu sangat menderita. Maaf Gav maaf. Hiks hiks maaf. Aku juga ga tau kenapa aku koma selama itu. Maafkan aku semuanya"


"Ini jelas bukan kesalahan Lo. Kan Lo yang bilang sendiri kalau ini bukan salah siapapun" Gavin menyingkirkan buket bunga yang berada dipangkuan Yuki dan memeluk tubuh gadis itu dengan lembut.


"Terimakasih. Ini adalah kejutan termanis yang pernah gua rasain" ucap Gavin dalam pelukannya.


🌸🌸🌸


"Ja-jadi ini? Calon menantu mama?" Tanya Clara tak menyangka saat melihat wajah Yuki.


"Uhm, ma, calon menantu mama yang ini" ujar Andro sambil menunjuk Valeria, kekasihnya.


Mama Andro langsung berlutut di depan Yuki. Matanya menatap Yuki dengan begitu hangat. Tangannya juga menggenggam kedua tangan Yuki.


"Kamu cantik banget sayang. Gavin memang punya mata yang bagus deh kalau soal perempuan. Mulai sekarang, kamu panggil mama aja ya"


"Eh?"


Yuki nampak bingung dan langsung mengintip kebelakang. Dibelakang Clara ada Andro yang sedang merangkul Valeria. Seolah bertanya, gadis ini memasang ekspresi seperti antara bingung dan takut. Tapi Andro menjawabnya dengan senyuman lembut dan anggukkan kepala.


"Uhm, tan-te.." cicit Yuki.


"Mama!!" Bantah Clara.

__ADS_1


Ups. Yuki salah bicara. Baiklah Yuki akan mengubah panggilannya pada Clara. "Iya baiklah, mama"


"Kyaaaaa.... Itu yang mama tunggu-tunggu! Kamu manis banget!" Ucapnya heboh sambil memeluk Yuki.


Setelah acara wisuda selesai tadi, ibu Gavin langsung pulang ke Italia karena ada urusan penting. Jadi dia hanya datang saat sesi acara foto bersama keluarga. Hanya ada Gavin, ibunya dan Kevin.


Kevin memang menyebalkan. Ternyata pria ini sekongkol dengan Yuki untuk membuat kejutan untuknya. Sudah 3 tahun lamanya saudara kembar ini berpisah. Waktu selalu tidak tepat. Disaat Gavin pulang kerumah, Kevin tidak ada, dan begitu terus sebaliknya.


Sudah terhitung 2 pekan Yuki akhirnya siuman dari komanya. Namun tubuhnya masih belum pulih. Kakinya bahkan belum kuat untuk dipakai berjalan. Ia akan terus terjatuh jika memaksakan kakinya untuk berdiri. Dirinya sendiri pun tak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.


Jadi Yuki takkan pernah pergi sendirian sekarang. Karena menggunakan kursi roda itu menyusahkan baginya. Dulu, kakinya begitu lincah jika berjalan kemanapun. Tapi sekarang tidak. Ia bahkan harus belajar jalan lagi seperti seorang bayi.


"Nyonya, jangan memaksa adikku untuk memanggilmu seperti itu" sindir Axel dingin.


Ya, Axel masih saja mengikuti adiknya kemanapun ia pergi. Ia takkan pernah membiarkan Yuki pergi jauh sendirian lagi. Axel bahkan membawa 2 orang bodyguard bersamanya. Dan Alvaro juga ikut untuk memastikan keadaan tubuh Yuki. Untung Zen, Felix dan Nancy tidak ikut.


Mereka sekarang berada di sebuah restoran Jepang yang lumayan terkenal di Jerman. Wagyu bakar yang menjadi incaran mereka sekarang. Daging sapi Jepang memang sangat enak.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka. Ia membungkuk ala Jepang dan menegakkan tubuhnya kembali.


"Meja anda sekalian ada di taman restoran ini. Sesuai pesanan anda tuan Cortez. Silahkan ikuti saya" ucap pelayan itu sebelum melangkahkan kakinya.


Valeria dan Olivia sontak berjalan duluan karena senang. Andro dan Louis mengikuti mereka dari belakang. Kevin juga malah menarik mamanya Andro untuk ikut bersama mereka.


Ada satu situasi, dimana ini sangat menyebalkan bagi Axel. Dirinya menatap Gavin kesal. Karena ketika ia akan memegang dorongan kursi roda adiknya, tangan Gavin sudah lebih dahulu mendarat disana. Dan langsung mendorong kursi roda adiknya.


Selangkah demi selangkah, keduanya mulai berjalan menjauh darinya. Seketika, Axel jadi terpikirkan sesuatu. Tapi ia benci untuk mengatakannya.


Apa ia harus melepaskan adiknya? Mempercayai Gavin, apakah itu hal yang terbaik baginya? Apa Yuki akan bahagia bersama dengannya? Sejuta pertanyaan kini berlabuh dipikirannya.


Axel diam, melamun.


"Kakak? Ada apa?"


Perkataan Yuki mampu membuat lamunan Axel buyar. Dirinya terkejut dan langsung tertunduk. Melihat sang adik yang wajahnya terlihat sangat khawatir dengan dirinya. Mereka berbalik hanya untuk melihat Axel melamun?


"Tak apa. Ayo jalan. Gavin, hati-hati" ucap Axel sambil menepuk pundak Gavin dan berjalan duluan.


"Eh? Kukira kau yang akan mendorong kursi roda Yuki" ucap Gavin bingung.


"Seperti yang kujanjikan. Aku akan melepas Yuki untukmu" Axel menghentikan langkahnya dan berbalik. Wajah dingin itu kini tersenyum tulus dengan perasaan yang lebih dalam.


"Kalian memang sulit untuk dipisahkan. Jadi, ..." Ucapan Axel menggantung dan dirinya berjalan mendekat.


"Untuk mencari pengalaman, ikutlah bekerja denganku ke Rusia. Aku sedang membangun kantor cabang disana yang sempat tertunda. Awalnya itu adalah kerjaan Yuki, tapi karena ada kau, kaulah yang pantas untuk melanjutkannya"


Gavin bahkan tak bisa berkata-kata lagi saking terkejutnya.


"Yuki juga akan kubawa kesana untuk terapi. Jadi kalian akan bertemu setiap hari. Bagaimana Mr. Gerald? Apa jawabanmu? Beruntung kau tidak perlu melamar pekerjaan. Aku disini yang menawarkannya sendiri" lanjut Axel.


Gavin terdiam, sedikit melamun dengan mata berbinar. Benar-benar ekspresi yang aneh. Gavin memang tak bakat untuk mengekspresikan wajahnya.


"Aku berniat untuk membangun perusahaanku sendiri. Tapi kau sudah susah payah untuk mengajakku bekerja. Baiklah, aku terima. Terimakasih kak!" Gavin mengulurkan tangannya untuk melakukan jabat tangan dengan Axel. Tapi Axel mengabaikannya dan malah menggendong Yuki. Author sampai lupa kalau Yuki ada disini🤭


"Hm, kita mulai bekerja Minggu depan. Persiapkan barang-barang mu. Kita akan pindah kesana" ucap Axel yang membawa Yuki dalam gendongannya dan meninggalkan Gavin dengan kursi roda itu didepan restoran.


"Tunggu-tunggu! Kenapa kau malah membawa Yuki pergi!? Kau baru saja memberikannya padaku" ucap Gavin kesal.


"Disana akan ada undakan tangga" jawab Axel.


Astagaaaa....


Axel mendudukkan Yuki dikursi. Meja yang besar ini telah terpasang diluar ruangan. Semuanya sedang sibuk membakar daging mereka. Tiba-tiba Alvaro datang dengan sebuah nampan ditangannya.


"Kau belum boleh makan yang itu. Makanlah yang ini. Aku sudah repot-repot meminjam dapur restoran asal kau mau tahu" ujar Alvaro.


Yuki bahkan terkekeh geli dengan perilaku Alvaro yang sangat perhatian sekali. Dan disisi lain, Gavin juga jadi geleng-geleng kepala sendiri. Kapan mereka akan bersikap biasa pada Yuki? Statusnya yang sekarang kekasihnya Yuki sepertinya sia-sia.


Gavin ikut duduk di samping Yuki. Laki-laki ini mengintip isi mangkuk yang dibawakan oleh Alvaro. Sup kacang merah dengan 3 buah mochi mochi disampingnya. Makanan manis semua.


Tapi Gavin tak mengatakan apa-apa lagi dan memegang sumpitnya untuk mengambil potongan daging yang akan dibakarnya.


"Axelerious! Sepertinya kini sudah saatnya" ucapan Clara, mamanya Andro kini terdengar serius. Sontak semua orang menghentikan makannya dan memperhatikannya.


"Saatnya untuk apa?" Tanya Axel bingung.


"Untuk memiliki seorang istri! Diusiamu yang semakin tua, kau sudah tidak pantas untuk berpacaran" ujar Clara sambil memincingkan matanya.


"Uhh.. aku tidak setua itu" elak Axel.


"Tanyakan sendiri pada adikmu itu!" Ketusnya.


"Iya, kupikir dia memang membutuhkannya. Yuki sekarang berumur 20 tahun. Menurutku itu sudah memasuki umur dewasa bagi seorang gadis. Jadi kau tidak usah mengawasinya 24 jam. Kan ada yang lainnya" sahut Alvaro.


"Loh? Kenapa kau yang menjawabnya?" Tanya Clara bingung.


"Aku ini masih terhitung adiknya" jawab Alvaro.


"Baiklah. Yuki, bagaimana pendapatmu tentang seorang kakak ipar baru?" Tanyanya pada Yuki.


"Kakak ipar?" Yuki bahkan Samapi bingung harus menjawab apa. Dirinya bahkan tak pernah sampai berpikiran seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2