
"Ke taman Kota sekarang!"
πΈπΈπΈ
Dengan sigap, Valeria, gavin dan Alvaro berdiri dan berjalan cepat keluar. Axel yang sedang termenung di luar pun tersentak dengan Alvaro yang tiba-tiba menariknya.
"Yuki ketemu!?" Tanya Axel dengan penuh harapan.
"Iya, dia diperkirakan ada di taman kota"
Seketika, senyum Axel pun mengembang sempurna. The perfect smiling. Axel berlari dan lebih dahulu masuk ke dalam mobil dengan semangat.
"Kabarin Zen sekarang!"
Mereka pun melajukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Axel tak sabar ingin segera memeluk Yuki dan mendengar suara adik manisnya ini.
JDEERR...
Kilat besar pun menyambar. Hujan deras mulai mengguyur kota seketika. Tapi hal ini tidak menyulutkan semangat Axel untuk terus menyetir dengan kecepatan yang sedikit ia kurangi. Walau sebenarnya sangat beresiko.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, mereka berhasil sampai di parkiran taman kota dengan selamat. Mereka langsung keluar dari mobil bersamaan dengan payung masing-masing.
Disana sudah ada Louis yang sudah berdiri di samping mobil Yuki dengan tersenyum sambil melambaikan tangannya. Apa Yuki ada di dalam mobil?
"Ini mobil Yuki!"
"I'm the right one here" ujar Louis membanggakan diri.
"Tapi dia tak ada di dalam mobil. Sepertinya dia ada di dalam taman. Kita berpencar saja, karena taman ini lumayan luas" lanjut Louis.
Oh astaga.. ada apa dengan si telmi kita ini? Batin Valeria berucap.
Mereka langsung berpencar. Axel dan Gavin pergi bersama. Alvaro dengan Louis. Dan yang terakhir Valeria dengan Andro pastinya.
Axel POV
Berlari
Lagi
Dan terus berlari.
Aku benci hujan ini. Hujan yang terlalu deras dan Sambaran kilat yang terus saja menyambar bagai pecutan yang sadis ini menghalangi penglihatan jarak jauh.
Shit.
Bahkan, untuk yang kesekian kalinya, aku hampir tergelincir. Jalanan terlalu basah dan licin. Kalau sampai aku terjatuh, itu akan sangat memalukan.
Dan Entah aku yang terlalu lambat atau kurang semangat, tapi Gavin berlari lebih cepat dari ku. Sepertinya bukan hanya aku yang menyayangi Yuki. Gavin berlari tanpa menoleh kebelakang melihat ku yang hampir tertinggal.
Kami singgah di tempat stand ice cream yang sedang menutup tokonya. Gavin bertanya pada penjaga stand, dan ia menjawab tak tahu. Kemudian Kami berlari lagi. Hingga kami melewati sebuah gazebo kayu dengan atap berwarna merah muda itu membuat Gavin memberhentikan langkahnya.
"Pink.." gumamnya dan dia berlari lagi.
Aku tak mengerti apa yang dimaksudnya barusan. Pink? Warna kesukaan Yuki. Dan apa maksudnya?
Akhirnya kami sampai di taman bunga mawar berwarna merah muda. Taman ini begitu indah. Walau hujan mengguyur dengan deras, tapi tak mengurangi keindahan taman ini.
Dari kejauhan, aku bisa melihat seorang gadis tengah duduk di sebuah bangku dengan memegang payung di tangan kirinya.
Tangan kiri?
Tunggu!
Itu yuki!
Yuki suka memegang payung dengan tangan kiri dibandingkan dengan tangan kanannya. Iya! Itu Yuki! Adik manis dan tercinta ku.
"YUKI!!!!...." pekik ku dan Gavin bersamaan sambil berlari menghampirinya.
Gadis itu pun menoleh dan berdiri. Yuki hendak pergi, tapi Yuki kalah cepat dengan Gavin. Gavin sudah lebih dulu mencekal lengan Yuki dan langsung memeluknya.
Aku tetap menghampiri keduanya dan berdiri di belakang Yuki. Ingin sekali aku memeluk Yuki sekarang. Pergilah kau Gavin! Oh astaga aku tak tahan.
Tapi, entah sejak kapan kami bertiga tidak menggunakan payung lagi. Hujan mengguyur dan tubuh kami pun basah.
"Stupid girl" umpat Gavin melepas pelukannya.
Aku membalikkan tubuh Yuki agar ia menghadap ke arahku. Aku memeluknya dengan erat. Yuki mengerjat kaget ketika ku peluk.
"Kak Axel?" Lirihnya takut.
Dia takut padaku!? No! Ga boleh! Jangan! Please!
Aku melepas pelukan dan dia berkata, "k-kak Axel ngapain disini?" Antara takut dan terkejut. Mungkin itu yang ia rasakan.
"Seharusnya, aku yang tanya begitu. Kenapa kau ada disini sweety?" tanyaku selembut mungkin.
"A-aku.." Yuki ragu untuk menjawab.
"YUKI!!" Ujar Zen yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Cepat sekali ia datang.
Yuki terkejut setengah mati. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ada apa ini? Yuki terus melangkah mundur menjauh perlahan. Tapi, Zen mencekal lengannya dengan kasar.
Dengan rahang yang mengetat serta tatapan tajam dari Zen, mampu membuat Yuki tertunduk, gemetar ketakutan dan aku hanya diam saja? Ini tak bisa di biarkan! Ku rangkul pundak Yuki dari belakang dan berusaha melepas genggaman Zen.
"Lepaskan Zen!" Pekik ku membuat Zen tetap tak mau melepaskan Yuki. Yuki mulai mengeluarkan air matanya. Menangis tak bersuara.
"Ini urusan ku! Kau saja yang lepas!!" Jawabnya. Berani sekali dia.
"Bi-biarkan aku pergi.." lirih Yuki pelan.
"Kau sudah membuat semua orang gila Yuki! Pulang sekarang!" Ujar Zen.
"AKU TAK AKAN PULANG!"
"PULANG YUKI! JANGAN KERAS KEPALA!" Zen semakin tak terkendali.
"Aku tidak keras kepala!" Jawab Yuki sedikit menurunkan volume suaranya.
__ADS_1
"LALU APA? JANGAN BANYAK MEMBANTAH! KAU MEREPOTKAN SAJA!" Zen juga menjawab dengan marah.
"Kalau begitu, buang saja aku. BUANG SEJAUH MUNGKIN!--"
"YUKI!"
"APA!? BIARKAN AKU MATI! SUPAYA AKU BISA BERTEMU BUNDA!"
"JAGA BICARAMU! DASAR ADIK TAK TAHU DIRI!"
"AKU BUKAN ADIKMU!"
"AKU TAK PEDULI! PULANG YUKI!" Zen terus mengepalkan kedua tangannya. Menahan diri agar ia tak memukul Yuki. Jangan sampai Zen memukul Yuki. Aku terus memegang tangan Yuki.
"Hehhehh, kau tak ingat?" Ujar Yuki merendahkan suaranya lagi dan membuat Zen mengernyitkan keningnya.
"Apa!?"
Dan kalian tahu? Ini seperti bukan Yuki, adik kecil yang kuketahui. Ini berbeda. Yuki telah berubah.
Yuki menyingkirkan tangan Zen dengan kasar. Tatapannya tak kalah tajam dengan tatapan Zen. Yuki kini menenggakkan kepalanya menatap Zen dengan api membara. Yuki siap untuk mengamuk.
"DASAR PELUPA! KAU BILANG APA DIMALAM ITU!? KAU MELARANGKU UNTUK MENEMUI MU SAAT KEPALA KU BELUM DINGIN?! KEPALA KU BELUM DINGIN! BAHKAN LEBIH PANAS DARI SEBELUMNYA! DISINI, AKU. HANYA MENURUTI. PERINTAH. DARI. KAMU. TUAN. ALEXZANDER YANG TERHORMAT!" Ujar Yuki tak tahan lagi dengan Zen.
Zen diam.
"KENAPA DIAM!? JAWAB AKU!"
Aku semakin kesal.
Jadi ini yang sebenarnya terjadi. Ku tarik Yuki kebelakang ku. Ini saatnya aku menggantikan Yuki berbicara.
"Ternyata seperti ini sikap mu selama ini Zen! Aku tak bisa mempercayakan Yuki pada mu lagi" ujar ku. Zen diam. Rasa bersalah belum juga muncul.
Dasar. Keras kepala akut!
"Wow wow wow Axel.. jangan gegabah. Kita bicarakan lagi dirumah ya" ujar Alvaro yang tiba-tiba memayungi aku dan Yuki. Di ujung sana juga ada Louis yang sudah memayungi Gavin.
"Hiks, aku tak mau pulang kak" ujar Yuki sambil memelukku dari belakang. Ini membuatku semakin tak ingin marah-marah.
"Fine, little sister. You won't go home now?" Tanyaku dan yuki mengangguk.
"Kita terbang ke Florida malam ini, mau?" Tanya ku lembut.
Yuki diam.
"Jangan!" Ujar Gavin.
"Tenang Vin. Yuki butuh waktu untuk menenangkan diri"
Gavin menghela nafas lega sambil mengelus dadanya. Ku suruh Alvaro untuk mengabari Valeria dan Andro untuk berhenti pencaharian dan pulang.
Kami memutuskan untuk pulang. Yuki benar-benar tak mau menatap Zen. Dia terus berjalan di belakangku dan di sampingnya ada Gavin yang memayungi Yuki. Padahal kami sudah basah kuyup. Tapi, Gavin tetap bersikeras untuk melindungi Yuki dari hujan. Up to you man.
Yuki masih tetap berjalan dibelakangku. Dia terus meremas bagian belakang kemejaku. Sepertinya dia kesal ingin mengamuk, tapi ditahan olehnya. Yuki butuh pelampiasan kali ini. Air mata terus saja mengalir dari matanya. Walau dia sudah bertemu Valeria, tapi Yuki malah mengacuhkannya.
Didalam mobil, aku tak menyalakan AC, karena kami berdua basah kuyup. Aku takut Yuki akan demam lagi. Aku hanya meninggalkan Yuki selatan 3 bulan, dan dia sudah beberapa kali sakit. Mendengar kabar Yuki sakit saja sudah membuat hati ku sakit.
Yuki terus diam. Melamun. Dan akhirnya tertidur dengan air mata yang terus mengalir. Aku jadi tak tega melihat adikku ini. Entah langkah apa yang harus digunakan untuk menghukum Zen.
**Axel POV end π
Author POV**
Saat sampai di rumah, Axel langsung memasukkan mobil ke dalam garasi. Tak peduli mobilnya basah, ia langsung memasukkannya. Dirumah ini ada 3 mobil, mobil Yuki, Zen dan Felix. Axel memasukkan mobil Yuki terlebih dahulu, kemudian Gavin memasukkan mobil Felix di samping mobil Yuki dan terakhir mobil Zen masih di depan pekarangan rumah.
Axel terus membangunkan Yuki dengan menepuk-nepuk pipi chubby milik Yuki hingga sang pemilik pipi chubby itu terbangun.
"Hei, sweety. Bangun sayang. Kita sudah sampai rumah. Ayo masuk. Langsung mandi yah. Nanti kedinginan" ujar Axel melembut.
Yuki memutar bola matanya, malas. Dan berkata, "aku sudah bilang, aku tak mau pulang kak. Pulang ke mansion saja yuk"
"Iya, nanti. Sekarang mandi dulu. Masa kamu pergi naik pesawat pakai baju ini" bujuk Axel
"Jadi, aku harus masuk kedalam rumah itu dulu?"
"Iya. Ayo" Axel mengulurkan tangannya pada Yuki. Tapi Yuki masih menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. Dan Axel mengangkat salah satu alisnya.
"Gendong.." ahh, Yuki mau manja ternyata saudara-saudara.
"Fine, here sweetty" akhirnya Axel lebih memilih mengiyakan Yuki tanpa memikirkan apapun.
Yuki tersenyum manis. Nah, ini yang ditunggu-tunggu oleh Axel. Akhinya senyum terukir di wajah adiknya ini. Axel membuka tangannya lebar dan Yuki melingkarkan tangannya dileher Axel serta kakinya di pinggang Axel.
"Aku sayang kakak" ujar Yuki. Kemudian Axel menghela nafas berat.
"Kenapa kak? Aku berat ya?"
"Pikir aja sendiri"
"Ga mau mikir" elak Yuki.
Axel membawa Yuki masuk hingga langkahnya terhenti di depan pintu. Zen ada disana. Menghalangi jalan masuk. Axel pun menggeram kesal. Apa yang dilakukannya sekarang?
"Minggir Zen"
Zen diam.
"Apa yang kau lakukan disitu!? Kau menghalangi jalan masuk. Minggir atau aku akan menendangmu agar kau takkan menghalangi kami masuk" Axel berucap tanpa ekspresi dan nada dingin.
Axel juga jengah dengan Zen. Zen menunduk dan bergeser sedikit. Axel melangkah maju dan masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun lagi.
'apa yang sebenarnya ingin dia lakukan tadi' batin Axel.
πΈπΈπΈ
"Mana Yuki?" Tanya Axel yang sedang menggosokkan handuk di rambutnya.
"Masih berendam air hangat, mungkin" jawab Alvaro yang sedang memasak.
__ADS_1
Dan Gavin ada disini, ia sedang duduk sambil menonton televisi sendirian. Ya, Gavin tadi ikut pulang bersama mereka.
Dan Zen?
Jangan ditanyakan. Ia sedang dikurung di kamarnya sendiri. Kali ini Axel takkan membiarkan sifat keras kepala Zen jadi akut tak terkendali. Tidak boleh. Lagipula, Yuki tak mau melihat Zen sekarang. Ada bagusnya juga Zen dikurung.
"Jam berapa pesawat yang kau pesan berangkat?" Tanya Axel yang menarik kursi di meja makan dan duduk.
"Jam 11 malam. Tak apa bukan?" Jawab Alvaro.
"Jam 11? Dan kalian akan menunggu? Ini masih jam 6. Kenapa ga pake jet pribadi?" ujar Gavin.
"Sesekali naik yang biasa juga gapapa" jawab Axel datar.
Yuki akhirnya turun dengan mengenakan dress biru selutut dengan rambut tergerai indah. Tanpa senyuman. Tak ada keceriaan di wajahnya.
"Maaf kak Al. Hari ini kan seharusnya aku yang memasak" ujar Yuki.
"Tak apa. Lagian kan kamu baru selesai mandi. Bagaimana? Sudah hangat?" Axel mengusap kepala Yuki dengan lembut dan Yuki memeluknya, menyembunyikan wajahnya di perut Axel.
"Hangat.."
"Manja banget sih" goda Axel.
"Kangen tau..." Yuki mengerucutkan bibir mungilnya.
Alvaro datang dengan semangkuk besar sup ayam dan ditaruhnya di atas meja makan. Yuki dengan sigap berlari mengambil mangkuk kecil dan beberapa piring.
"Laper Ki?" Tanya Gavin.
"Banget.. kangen tau masakannya kak Al" jawab Yuki.
Mereka berempat pun makan dengan hikmat dan penuh candaan, tanpa Zen. Ya, tanpa Zen. Zen akan makan setelah mereka selesai makan. Jahat? Biarkan saja. Ini hukuman dari Axel. Siapapun yang melanggarnya, dia akan di beri hukuman.
Dan hukuman kali ini, Zen tidak diperbolehkan berada di ruangan yang sama dengan Yuki hingga Yuki pulang kembali kesini. Axel's rules.
πΈπΈπΈ
Setelah mereka selesai makan, Yuki dan Gavin keluar rumah untuk pergi ke minimarket di dekat stasiun untuk membeli beberapa ice cream dan camilan lainnya. Sedangkan Axel, dia pergi keatas untuk menemui Zen.
Cklek.
"Wanna eat your dinner here? Yuki baru saja keluar" tanya Axel dengan dingin. Lagi.
Zen menatap keluar jendela. Entah apa yang dilihatnya. Tapi dia terlihat tidak senang. Melamun. Tidak jelas.
"Aku tak mau makan" ujar Zen singkat tanpa menoleh.
"Fine. Yuki akan ku bawa pulang malam ini"
Zen menoleh dengan wajah datar. Sedikit terkejut. Mungkin. Menyesal? Sedikit sepertinya. Tak ada yang bisa Zen harapkan.
"Kau beneran akan membawanya? Tapi dia.."
"Dia sekolah? I know. Aku sudah bilang pada ayahnya Gavin. He said okay"
"Apa Yuki akan kembali?"
"Tergantung pada Yuki. Dia mau kembali padamu atau tidak"
Zen tertunduk kembali.
"Sebaiknya kau merenung. Renungkan semua kesalahan yang kau perbuat akhir-akhir ini." Ujar Axel. Tapi, Zen tetap diam tak berkutik.
"Kurangi keras kepala dan egoisme. Tak ada gunanya juga jika aku memarahimu seperti anak kecil. Kau sudah dewasa, Zen. Berpikirlah sendiri. Jangan hanya memikirkan diri sendiri. Pikirkan juga Yuki, dia adikmu yang tak mengerti kasih sayang orangtua. Maklumilah Zen." lanjutnya.
BLAM!
Axel keluar dan menutup pintu kamar Zen dengan keras setelah mengucapkan kalimat tadi. Zen yang mendengarnya pun semakin takut jika Yuki tak mau berbaikan dengannya.
"Sorry sis"
πΈπΈπΈ
Kini, Yuki dan Gavin sedang duduk di sofa depan tv sambil menikmati acara talk show. Padahal acara kali ini bertema comedian, tapi Yuki dan Gavin tak tertawa sama sekali.
Yuki meletakkan kepalanya di paha Gavin dan Gavin pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh gadis ini. Lemas. Mungkin itu yang Yuki rasakan.
"Ngapain Lo?" Tanya Gavin datar.
Yuki diam tak menjawab.
Gavin menghela nafas dan memilih untuk mengabaikan Yuki. Terserah dengan apa yang ingin dilakukannya. Gavin tak peduli. Sampai akhirnya Gavin merasa tak nyaman, ia mengangkat kepala Yuki dan meletakkannya di bahunya sendiri. Yuki pun menegakkan kepalanya.
"Vin.." ujar Yuki sambil memakan keripik kentang.
"Apa?"
"Menurut kamu, tadi aku keterlaluan ga ya sama kak Zen?" Tanya Yuki dengan polosnya.
Gavin menghela nafas berat. Masih sempat-sempatnya Yuki menanyakan Zen. Padahal disini Zen yang salah. Dia terlalu kasar pada adiknya sendiri
"Ga. Biasa aja" jawab Gavin singkat.
"Serius Vin.."
"Iya"
Yuki bangun dari duduknya dan memeriksa kembali tas berukuran kecil yang akan dibawanya ke Florentine malam ini. Gavin terus menatapnya. Tangan Gavin terulur untuk menyentuh Yuki, tapi tak jadi. Ia menarik kembali tangannya dan memalingkan wajahnya, menatap ke atas.
"Dan lu bakalan ninggalin gua?" Ujar Gavin.
Yuki menoleh terkejut. Menunduk sedih. Dan malah bersandar pada pundak Gavin. Namun, beberapa detik kemudian, Yuki menegakkan kembali tubuhnya dan berdiri.
"Jawab Ki"
"Aku tak mau menjawab"
Eh!?
__ADS_1