
Kini Gavin tengah berjalan sendirian. Berpikir. Enaknya makan malam apa ya malam ini? Dan ketika sampai di pintu gerbang sekolah, ada satu hal yang membuatnya terkejut.
Apa itu mobilnya!? Mobil yang selama ini di sita dan di rantai di garasi mansion Gerald. Dan plat nomor yang Gavin kenali. Tapi kenapa mobilnya ada disini? Tiba-tiba satu nama terbesit di otaknya.
"Sena!" Pekik Gavin. Kemudian seorang gadis keluar dari mobil itu dengan pakaian khas SMP. Ya, itu Sena, adik Gavin.
"Kakak!" Sena juga meneriaki kakaknya dan berlari kearahnya. Kemudian, Sena loncat dan Gavin menangkapnya. Mereka berpelukan dengan posisi Gavin menggendong Sena sekarang. Untung disini sepi, coba kalo ramai, bisa habis mereka di gerumuni banyak orang.
Gavin menurunkan adiknya dan mengelus kepalanya dengan lembut seperti biasa. "Kamu beneran datang untuk jemput kakak?" Tanya Gavin.
"Iya! Aku juga sudah membawa mobilmu ke bengkel kak. Aku sudah mengganti bannya" ujar Sena dengan senyuman manis.
"Ku dengar dari ayah, kalau kakak akan belajar dengan serius supaya nilainya bagus. Dan ayah akan mengembalikan mobil kakak" lanjut Sena.
Gavin mengalihkan pandangannya dan berhenti mengelus kepala Sena. "Ada apa kak? Kak Gav harus semangat! Sena akan selalu dukung kakak!" Ujar Sena.
"Terimakasih sayang. Ayo kita pulang" ajak Gavin.
Kemudian Gavin dan Sena memasuki mobil dan pulang. Saat sedang menyetir, Gavin jadi teringat sesuatu.
"Kau kesini sama siapa? Karena tak mungkin kau yang mengemudi, bukan?" Tanya Gavin seperti mengintimidasi adiknya.
"Tentu saja sama supir. Tapi, supirnya sudah kusuruh pulang naik taksi. Lagian ya, siapa suruh punya mobil sport yang cuma muat dua orang doang! Nanti kalau kak Kevin pulang gimana? Kita ga bisa pergi bersama" jawab Sena yang kemudian malah menjadi kesal.
"Kevin akan pulang?"
"Iya nanti saat semester genap dimulai. Sekitar bulan Januari. Dia akan kembali saat sesudah tahun baru"
"Kenapa sesudah tahun baru?"
"Katanya, dia mau merayakan tahun baru terakhir dengan teman-teman disana"
"Jadi, Kevin sebentar lagi akan pulang" gumam Gavin.
"Masih lama kak! Ini masih bulan Oktober"
"Dan Minggu depan sudah masuk bulan November"
"Oh iya, kakak ga kedinginan?" Tanya Sena.
"Kenapa?"
"Sekarang kan cuacanya lagi ga bagus. Angin dari tadi kencang loh. Dan kakak hanya memakai kemeja? Apa tidak membeku?"
"Kenapa harus membeku?" Tanya Gavin asal.
"Eh? Oh iya!!" Pekik Sena secara tiba-tiba.
"Apa?"
"Kakak kan si kulkas berjalan! Dinginnya ngalahin musim salju! Hahahaha" Sena tertawa lepas dan Gavin membiarkannya.
"Terserah kamu lah dek"
🌸🌸🌸
Ditempat lain, Yuki berjalan gontai karena kantuk tak tertahan. Ia baru saja selesai membantu Axel lembur. Jika di Greenedy sekarang pukul 2 siang, maka di sini sekarang pukul 2 malam. Perbedaan waktu 12 jam.
Yuki membanting tubuhnya di kasur king size miliknya setelah menyalakan penghangat. Salju belum turun, tetapi suhunya sudah bisa membuat siapapun menggigil. Yuki terus menatap langit-langit kamar. Memikirkan teman-temannya. Apa yang sedang mereka lakukan ya?
Jika ia tak memutuskan untuk pulang ke mansion, mungkin dia akan belajar seperti biasanya dengan Gavin. Mungkin Valeria dan Andro akan ikut. Oh, atau mungkin Louis ingin bergabung? Ahh, apa sih yang dipikirkan oleh Yuki? Yuki menarik selimutnya. Berbaring. Kemudian mencoba untuk tidur dan masuk ke dalam mimpi.
6.30 a.m.
Seorang wanita dengan pakaian formal masuk ke dalam kamar Yuki tanpa mengetuk pintu. Wanita ini berusaha membangunkan Yuki.
"Nona, mohon untuk bangun sekarang" ujar wanita itu.
"Biarkan aku tidur, Nancy" racau Yuki.
Ya, wanita itu adalah Nancy, Nancy Kaley. Nancy merupakan seorang kepala pelayan di mansion utama Cortez. Yuki menemukan Nancy di panti asuhan yang sedari dulu dibantu oleh keluarga Cortez.
Awalnya, Alvaro ingin mengadopsinya agar ia bisa masuk keluarga Siauw dan dapat menemani Yuki. Tetapi Nancy menolak. Ia bilang, ingin bekerja untuk keluarga Cortez agar dapat membiayai panti. Dan Axel mengabulkannya. Ia memasukkan Nancy ke dalam sekolah maid & butler.
Dan disinilah ia sekarang, Nancy menjadi kepala pelayan di mansion utama. Bahkan, Nancy juga mengatur para maid dan butler di mansion Cortez lainnya. Tak hanya satu, tetapi keluarga Cortez memiliki belasan mansion mewah yang tersebar di berbagai negara.
"Bangun siang tak baik untuk kesehatan. Lebih baik anda bangun, cuci muka dan berolahraga" ujar Nancy dengan penuh wibawa.
Yuki bangun dengan jengkel. Oh ayolah! Ia baru saja hampir bergadang semalam. Gadis ini bahkan baru tidur selama 4 jam saja. Ia butuh istirahat. Yuki berjalan menuju kamar mandi dengan malas kemudian berhenti didepan pintu kamar mandi.
"Ambilkan jus jeruk. Aku ingin minum jus sebelum jogging" ujar Yuki kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
"Sesuai keinginan anda nona" Nancy membungkuk sedikit kemudian keluar dari kamar Yuki.
Setelah selesai cuci muka dan mengganti bajunya, Yuki turun kebawah menggunakan lift. Mansion utama memiliki 6 lantai termasuk rooftop. Lumayan kan jika harus turun ke bawah dari lantai 5? Yuki memilih turun dengan lift. Bisa menghemat tenaga.
Saat sampai di pintu masuk utama, disana sudah ada Nancy yang sedang berdiri di ambang pintu dengan jus jeruk di tangannya. Sesuai kemauan Yuki.
"Jus anda nona" Yuki menerima jus tersebut dan langsung meminumnya.
"Minum sambil berdiri sangat tidak baik untuk kesehatan anda nona" ujar Nancy. Namun Yuki mengabaikannya. Setelah tandas tak bersisa, Yuki memberikan kembali gelas tadi pada nancy dan langsung berlari.
🌸🌸🌸
Setelah Yuki puas berjoging ria mengelilingi taman mansion, ia akhirnya memutuskan untuk kembali dengan berjalan santai. Dan lihat saja, matahari baru saja terbit. Yuki memasuki mansion dan naik ke lantai 4.
Ting
Pintu lift terbuka. Yuki mendapati Axel yang sedang duduk di meja makan sambil menyeruput kopinya bersama Felix.
"Pagi Felix!"
"Pagi kak Axel!" Ujar Yuki memeluk Axel dari belakang.
__ADS_1
"Mandi sana! Bau keringat tidak boleh menyentuh makanan" ujar Felix sinis.
"Galak banget sih mbaknya" ketus Yuki sambil memincingkan matanya tajam pada Felix.
"Hei, Felix benar. Sana mandi. Kita sarapan bareng, oke?" Ujar Axel lembut
"Baiklah" Yuki melepas pelukannya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Felix terus menatap Yuki dengan sinis hingga Yuki hilang dari pandangannya.
"Berhenti bersikap dingin pada semua orang. Kau hanya bersikap lembut pada Yuki saja. Itu menjengkelkan" ujar Felix.
"Itu bukan urusanmu" jawab Axel.
Setelah 15 menit kemudian, Yuki turun dengan menggunakan celana panjang, sweater hitam serta sandal berbulu yang imut. Axel langsung memanggil para pelayan untuk segera menyajikan sarapan.
Yah, jika berada di mansion, mereka akan diperlakukan seperti layaknya raja. Tapi jika mereka di rumah biasa milik Zen, takkan ada pelayan. Zen disana hanya menyewa asisten rumah tangga yang akan datang saat dirumah tak ada orang untuk bersih-bersih.
Saat makanan datang, Yuki mengambil serbet dan ditaruhnya di pahanya. Yuki menyantap dengan hikmat sarapan kali ini. Sup jagung dengan krim. Memang aneh. Tapi bagi Yuki ini sangat enak.
"Kak" ujar Yuki pelan.
"Ada apa sweety?"
"Belikan aku ponsel baru dong..." Yuki mengeluarkan jurus andalannya, yaitu dengan mengeluarkan puppy eyes. Dan Axel menghela nafas berat.
"Tanpa kau minta dan memohon, kakak sudah membelinya terlebih dahulu" kemudian Axel memanggil Nancy untuk membawakan sebuah paper bag dari ruang kerjanya.
"Ini untukmu. Ambillah"
"Uwaaaahhhh! Kak! Ini beneran? Makasih kak" Yuki memekik dan menerima paper bag itu dengan antusias sekali.
"Dijaga ya" ujar Axel tersenyum pada Yuki.
"Siap kak!"
"Lagian kalau punya ponsel tuh jangan dibuang ke sungai. Buang-buang duit doang lu mah" sinis Felix lagi.
"Paansih Felix. Bilang aja kalau iri. Wleek" Yuki menjulurkan lidahnya meledek Felix dan Felix pun geram. Yuki kemudian membawa ponsel itu ke kamarnya. Penasaran dengan ponsel barunya. Ia tak mau membukanya di hadapan Felix. Itu menyebalkan baginya.
Huh, Felix ini, terkadang bersikap formal dan terkadang bersikap menjengkelkan dan terkadang bersikap bahwa dia sangat menyayangi Yuki. Ini membingungkan. Pantas saja Axel lebih memilih Alvaro ketimbang Felix. Walau Felix sangat hebat dalam bidang IT, tapi itu tak membuatnya untuk beralih memilih Alvaro. Yah, walau terkadang menyebalkan bagi Axel ketika Alvaro sedang kumat ingin mengolok-olok dirinya.
"Jangan dimanjain dong kalo punya adik. Ngelunjak nanti tau rasa Lo!" Ujar Felix.
"Kau tak punya hak untuk mengatur nona" Nancy ikut-ikutan sinis pada Felix.
"Tak apa. Lagian setiap kali ku gaji, dia selalu menolak. Padahal kan posisinya sebagai direktur keuangan di pusat cocok untuk digaji dengan ratusan dollar. Memanjakannya takkan membuatku bangkrut. bahkan biaya hidupnya tak sampai mencapai gajinya sendiri" ujar Axel kemudian ia berdiri kemudian naik untuk menghampiri Yuki.
"Huhh, lagian siapa suruh ngajarin bocah 8 tahun untuk belajar management akuntansi. Itu gila! Gila!" Ujar Felix.
"Kau tak seharusnya mengeluh. Itu memang sudah bakat nona mengurus keuangan. Lagi pula menjadi direktur keuangan tak selalu harus hadir di setiap rapat. Rapat penting juga tak selalu diadakan. Itu akan memudahkan nona Yuki. Dan kau, berhentilah mengeluh!" Nancy kini menatap Felix dengan tajam dan pergi meninggalkan dia seorang diri.
Obrolan Felix dengan Nancy masih terdengar sampai atas. Rumah ini sedikit bergema. Karena Axel mengurangi barang-barang yang menurutnya tidak penting. Dan hanya menyisakan beberapa barang saja agar tak nampak kosong. Aneh bukan kalau sebuah mansion tanpa banyak barang di dalamnya?
Klik
"Sudah dipasang kartu perdananya belum?" Tanya Axel.
"Sudah kak! Aku akan minta nomor Gavin pada kak Alvaro nih" ujar Yuki antusias.
"Kau akan menghubungi Gavin sekarang?"
"Iya!"
"Tapi disana sedang malam hari, sayang. Gavin pasti sudah tidur" tutur Axel jelas.
"Yaahhh... Gagal dong." Yuki kecewa.
"Tidak. Tidak gagal kok. Kamu bisa menghubungi mereka saat usai rapat malam ini"
"Aku harus hadir?"
"Tentu"
"Baiklah"
🌸🌸🌸
***From : LucyanaYuki
To : GavinGerald
Kalau kau senggang, video call yuk! Ajak yang lain ya.
❄️Yuki❄️***
Gavin mendapat pesan seperti itu dari Yuki. Senyuman tipis mengembang sempurna di wajah tampannya. Gavin sangat merindukan gadis ini. Sudah 3 hari lamanya mereka tak berjumpa.
Tapi, Gavin gengsi untuk mengakuinya. Hmm, ya kebetulan Gavin sedang membawa laptopnya dan pelajaran terakhir free. Dia akan menghubunginya nanti.
Dan setelah melewati beberapa jam pelajaran, akhirnya tibalah jam pelajaran terakhir. Jam pelajaran kali ini kosong alias free. Gavin, Andro dan juga Valeria sudah duduk berderet memperhatikan Gavin mengutak-atik laptopnya.
"Ah! Berdering!" Pekik Valeria seraya menunjukkan foto Yuki yang muncul dari layar laptop. Valeria sangat nervous kali ini.
Ting!
Tersambung!
"Hai hai!" Ujar Yuki dari seberang sana.
"Kyaaaahhh.... Yuki! I Miss you so much!" Pekik Valeria.
"Miss you too Vale. Oh ya, kalian apa kabar?"
"Baik dong" jawab Andro.
__ADS_1
"Oh ya, btw, Yuki ngapain pakai blazer hitam? Kayak lagi ngantor" ujar Andro dengan nada bercanda.
"Hm? Iya kebetulan aku lagi rapat"
"Ehhh!!??"
"Yuki!? Kita ganggu ya!? Maaf! Mat--" Valeria mulai panik.
"Tenang Vale, rapatnya baru saja selesai kok"
"Fiuhhh... Aman" Valeria terhuyung kebelakang dan bersender di bangkunya.
"Lu ngapain ikut rapat?" Tanya Andro.
"Iseng aja"
Iseng? Wow Yuki. Jawaban singkat yang menyembunyikan hal besar. Karena di rapat tadi, Yuki baru saja mempresentasikan laporan data keuangan perusahaan raksasa. Dan dengan mudahnya Yuki bilang hanya iseng? Sudahlah jangan dipikirkan.
"Gimana Vin belajarnya? Udah belajar belum?"
"Belum" jawab Gavin singkat.
"Yaudah, nanti aku kirim rangkumannya ya. Pokoknya kita pagi ini harus belajar!"
"Pagi?" Gavin seperti menyadari sesuatu.
"Ehh, malam maksudnya. Hehehehe" Yuki malah tertawa kikuk, menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal kemudian memiringkan kepalanya. Huh, kelihatan banget bohongnya.
"Jangan bilang kalau disana malam sekarang" Gavin mulai dengan nada mengintimidasinya.
"Ehh, anu itu--" ucapan Yuki terpotong.
"Permisi nona. Ini laporan keuangan perusahaan yang baru saja saya copy. Laporan yang asli harus digimanakan?" Ujar seorang pria yang berhasil membuat Yuki beralih menatapnya.
"Berikan padaku. Besok akan ku simpan di ruang dokumenter"
"Ini nona, baiklah kalau begitu saya permisi dulu nona. Selamat malam. Selamat beristirahat. Kerja anda sangat membuat saya terpukau"
"Baiklah. Pulang sana. Nanti keburu pagi datang"
Yuki diam sejenak. Pandangannya belum beralih kembali pada laptop. Gavin rasanya ingin langsung menutup laptopnya, tapi Valeria melarang.
"Ekkhheemm.." Gavin berdeham.
"Eh eh. Kenapa laptopnya belum mati!?" Yuki gelagapan.
"Di sana sekarang jam berapa?" Gavin bertanya dengan mata dan nada tajam.
"Eh? Uhm, sebentar.." Yuki mengangkat ponselnya dan menekan tombol disampingnya kemudian melirik ke arah laptop dengan ragu. "Se-sekarang jam 1.24--"
Gavin masih menatapnya tajam. Yuki semakin takut. "Malam?" Tanya Gavin singkat. Kemudian Yuki menghembuskan nafas berat sambil memejamkan matanya.
"Iya malam" jawab Yuki lemas.
"Matikan! Pulang dan tidur"
"Baiklah... Tapi ingat! Jam 7 kita belajar ya! Awas nanti kalau bolos belaj--"
BIP.
Gavin mematikan laptopnya secara tiba-tiba. Andro dan Valeria pun langsung menoleh dan menatap Gavin.
"Gavin!" Pekik Valeria
"Dia butuh tidur. Jangan egois" Gavin segera membereskan laptopnya dan kabel-kabel yang berantakan di atas meja.
"Gavin ga seru!" Ujar Valeria.
"Gila Lo kalau masih mau lanjutin video callnya. Disini tuh jam setengah 2 siang--"
"Terus kenapa?" Sela Valeria.
"Tapi disana jam setengah 2 pagi bep. Itu artinya Yuki belum tidur. Kasian. Ngertiin dong Vale. Yuki juga habis rapat di kantor. Pasti capek banget" tutur Andro dengan selembut-lembutnya pada Valeria.
"Fine." Valeria kalah telak.
Dan kalian tahu? Diseberang sana, Yuki tersenyum kikuk menatap laptopnya. Gavin memutuskan sambungan secara sepihak. Huh, kesal. Padahal kan Yuki masih kangen. Axel yang sedari tadi duduk dihadapan Yuki sebenarnya ingin tertawa, tapi ditahan. Tak tega. Adiknya terlalu imut untuk ditertawakan.
"Sabar dong sweety. Benar kata Gavin. Kita pulang sekarang ya. Sudah mau pagi. Akan kusuruh seseorang untuk mengambil mantel mu" ujar Axel sambil mengelus punggung Yuki.
"Pulang lagi yuk kak" ujar Yuki. Axel mengernyitkan keningnya sendiri, bingung.
"Pulang ke rumah kecil itu?" Ujar Axel asal.
"Itu bukan rumah kecil kak! Tapi kita menyebutnya dengan rumah sederhana" jelas Yuki. Axel menurunkan senyumannya, datar kembali.
"Beli mansion di dekat sekolahmu saja ya" tawar Axel.
"Uwaaahhh... itu ide bagus! Dan apa aku bisa menggunakan sepeda untuk berangkat ke sekolah!?" Yuki malah antusias.
Axel bungkam.
Yaah, membiarkan seorang nona besar bersepeda di tengah kota itu aman tidak ya? Sebenarnya itu sedikit beresiko. Karena Yuki sudah pernah di publikasikan sebagai penerus ketiga perusahaan raksasa milik keluarga Cortez.
Apa Axel harus memperkerjakan pengawal tak kasat mata seperti ninja lagi? Takut-takut Yuki kabur dan menghilang lagi seperti waktu itu.
Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu dengan sebuah mantel coklat di tangannya dan diperkirakan itu milik Yuki.
"Okay kita bicarakan nanti. Kita pulang sekarang" Axel berhasil mengalihkan pemikiran Yuki yang sedari tadi memikirkan untuk pergi ke sekolah dengan sepeda. Tapi Axel belum menjawab.
"Baiklah" Yuki bangkit dari kursi kebesarannya. Ya, mereka sekarang berada di gedung kantor pusat dan lebih tepatnya berada di ruangan milik direktur keuangan alias Yuki. Ngerti ga? Ngerti lah.
'huhh, gila! Adik gua mau naik sepeda ke sekolah? Buat apa gua punya puluhan mobil dan ratusan orang suruhan' Axel membatin di dalam hatinya.
__ADS_1