Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
39. kalah telak


__ADS_3

"Valeria" cicit Olivia pelan.


Gadis itu membalikkan tubuhnya. Berjalan pelan dengan langkah kaki yang lemas. Olivia juga berjalan mendekat hingga direngkuhnya tubuh itu hingga Valeria sendiri pun tak bisa berdiri lagi, kakinya terlalu lemas untuk berdiri.


"Mungkin ini yang terbaik" ucap Olivia pelan. Valeria perlahan melepaskan tangannya, namun pandangannya masih tertunduk. Kedua perempuan ini terduduk di aspal landasan pacu bandara.


Andro datang bersama Louis. Tidak berlari, karena mereka sudah tahu apa yang terjadi pada kedua gadis itu.


"Babe, kita pulang yah. Kau bisa jalan?" Tanya Andro lembut. Valeria menggelengkan kepalanya yang masih tertunduk.


Andro berlutut dan memeluk Valeria. Seperti mengangkat koala, Andro menggendong kekasihnya dari depan. Sudah terlalu lemas jika dibawa berjalan. Dan bisa dirasakan oleh kalian bagaimana jadi Andro ya, sudah jangan dipikirkan.


Louis dan Olivia mengikuti mereka dari belakang. Mereka berjalan menuju tempat Andro memarkirkan mobilnya. Tempat apa yang akan menjadi tempat pemberhentian mereka selanjutnya? Masih Andro pikirkan.


Setelah sampai parkiran, Andro meminta Louis untuk menggantikannya menyetir. Olivia membukakan pintu mobil untuk keduanya dan Andro meletakkan Valeria dibangku belakang.


Namun tangan itu belum terlepas. Masih dengan posisi membungkuk, Andro juga berusaha melepasnya, tapi kekasihnya ini tak mau melepasnya dulu.


"Lepas dulu dong. Aku susah naiknya" bujuk Andro.


Valeria melepaskan tangannya. Wajahnya terlihat sedih ketika Andro menatapnya. Tak ada semangat yang memancar dimata indahnya. Ia membenarkan posisi duduk Valeria dan memasangkan seatbelt padanya.


"Louis, kita kerumah Gavin sekarang" ujar Andro.


"Aye aye captain!" Sahut Louis dengan semangat.


Olivia dan Louis masuk ke dalam mobil bersamaan, begitu juga dengan Andro yang sudah duduk disamping Valeria.


Mobil itu mulai melaju ke jalanan, bergabung dengan mobil-mobil lainnya. Alunan musik kembali terdengar setelah Olivia menyalakan radio. Yah, lumayan lah untuk mencairkan suasana.


Tak sampai 15 menit, mobil itu kini sudah sampai di dalam pekarangan mansion milik keluarga Gavin. Louis mematikan mesin mobil dan menoleh ke belakang.


"Eh? Vale?" Louis terkejut ketika Valeria sudah tidur terlelap. Sejak kapan?


"Ssstt..." Andro menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


Olivia dan Louis sontak keluar dari mobil dengan tenang. Jangan bersuara. Andro melepas seatbelt yang dikenakan Valeria dan langsung menggendongnya.


Dan untung saja ada ibu Gavin yang langsung membukakan pintu ketika mereka menekan tombol bel. Andro membawa Valeria masuk.


"Diruang keluarga saja. Kebetulan penghangatnya sedang menyala" bisik ibu Gavin.


Andro bergegas membawanya kesana. Namun dengan langkah yang hati-hati. Takut jatuh dan takut Valeria terbangun nanti.


Setelah menidurkannya di sofa yang cukup lebar, Andro baru bisa bernafas lega. Ia melepas sepatu yang dikenakan Valeria, setelah itu baru ia menyelimutinya dengan selimut hangat.


Wah, kita sudah menjadi saksi bagaimana setianya seorang Andro Lirenshi.


"Hai kalian.."


"Ssssttttt....."


Kevin datang dengan seonggok kehebohan. Andro langsung menyeret Kevin keluar dari ruangan itu. Olivia dan Louis mengikuti mereka dari belakang.


Bruk


Andro mendudukkan Kevin di gazebo kayu yang berada di taman mansion ini. Dengan kesal, Kevin memasang wajah cemberut dan terus mendengus.


"Kalian ini kenapa sih?" Tanyanya kesal.


"Ada apa kalian kesini?" Ujar Gavin yang baru datang menghampiri mereka.


Tatapan mereka spontan melihat Gavin dengan terkejut. Gavin sendiri juga terkejut ketika melihat ekspresi wajah mereka seperti itu. Memangnya Gavin ini hantu apa?


"Apa?" Sungut Gavin.


"Euh Gavin.. Andro cepat bicara!" Olivia memukul pelan punggung Andro.


Andro menelan salivanya dengan sulit sebelum kembali menatap Gavin. Satu alis terangkat diwajah Gavin seolah mengatakan "apa?"

__ADS_1


"Itu Vin, ini tentang Yuki---" ucapan Andro terpotong cepat oleh Gavin.


"Yuki dibawa ke Florida" ucap Gavin cepat.


"JADI LU UDAH TAHU!?" Ucapan Andro, Louis dan Olivia spontan berbarengan dan keras.


"Iyap betul! Karena kak Axel dan kak Zen yang kemari sendiri dan bilang pada kami" Kevin menyahut dengan heboh.


"Akh, gimana sih Ndro. Kalau tau gitu mah ngapain kita kesini" kesal Louis.


"Ya mana gua tau"


"Yah, terus Valeria gimana?" Tanya Andro sedih.


"Gua yang urus. Tenang" ujar Gavin.


"Uwahh, Gavin Lo pahlawan gue"


Gavin? Pahlawan? Huh, ada-ada saja...


Setelah setengah jam lamanya, Valeria akhirnya mulai membuka matanya. Matanya mulai melirik kesekeliling. Tangannya bergerak untuk mengangkat tubuhnya sebelum akhirnya duduk termenung. Gadis ini memejamkan matanya, menyadari sesuatu. Tadi kan ia sedang didalam mobil, dan sekarang dia sudah berada dirumah Gavin.


Kok bisa? Batinnya.


Cklek


Sena masuk dengan sebuah gelas besar ditangannya. Ia tersenyum melihat Valeria yang telah terbangun.


"Ini minum dulu kak" Sena memberikan gelas itu padanya.


Valeria memperhatikan gelas itu dan malah terdiam. Sena tertawa melihatnya. "Ini kak, coklat panas kesukaan kakak" ujarnya dengan meraih tangan Valeria dan memberikannya.


"Ah, terimakasih... Oh, ini hangat"


Valeria mulai meniup permukaan gelas itu, kemudian ia langsung menyeruput pelan minuman itu. Rasanya sangat enak, tidak terlalu manis, hangatnya sangat terasa pas. Hah, Valeria jadi merasa tenang.


"Kak" panggil Sena. Valeria meletakkan gelas besar ditangannya ke atas meja, lalu menatap Sena dengan senyuman.


Sena dengan mengangkat jari kelingkingnya didepan wajah Valeria. Ia tertawa dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sena seraya mengangguk.


"Kami sudah tahu jika kak Yuki di bawa ke Florida. Tadi kak Axel dan kak Zen sendiri yang datang kesini. Mereka mengucapkan sangat-sangat berterimakasih pada kita semua, termasuk kau, kak. Dan, ia juga minta maaf karena tak berpamitan dengan yang lainnya juga. Keadaan mereka lumayan mendesak"


Valeria kembali menunduk sedih, lalu melepas tautan jari kelingkingnya. "Jangan bersedih kak! Kita akan kesana. Ke Florida besok, kau mau ikut? Karena ku dengar kau belum lama ini memesan tiket ke Madrid" Sena kembali menyemangatinya dengan tawaran yang menarik.


"Benarkah? Tentu saja aku akan ikut! Aku akan packing sekarang"


Senyuman mengembang di bibirnya. Ia menyingkap selimut itu dan langsung berdiri. Saat ingin berlari keluar, ia merasa aneh ketika berdiri dan mematung sebentar. Dilihatnya kedua kakinya yang sudah bertelanjang kaki alias nyeker. Hampir saja sepatunya tertinggal.


"Kak Vale, ini sepatunya" Sena mengambil sepatu itu dan memberikannya.


Semangatnya kini mulai berkobar. Senyuman lebar hadir kembali. Setelah mengikat kencang sepatunya, baru ia bisa berlari keluar dan menghampiri pacarnya.


Andro, Gavin, Kevin, Louis dan juga Olivia kini sedang berada di dapur, mereka sedang asik makan siang.


"Babe! Aku punya berita baik!" Ujar Valeria dengan semangat berlebih.


"Yuki dibawa ke Florida, Gavin dan Kevin tau karena kak Axel yang datang kemari dengan sendirinya tadi untuk berpamitan. Dan kita diajak ke Florida besok. Setelah ini kita pulang untuk packing ya" ujar Andro.


Seketika senyuman Valeria luntur. Gagal. Ia baru akan mengatakan hal bagus, dan kekasihnya sudah tahu duluan. Rasanya sangat ingin mencakar wajah Andro yang tak mau mendengarkan dirinya.


"Ih, ga asik Lo! Kesel gue" gerutu Valeria.


"Aku salah apa lagi sih?" Tanya Andro memelas.


"Seharusnya Lo dengarin gua bicara dulu. Padahal gua mau ngomong itu tadi. Kesel gua"


"Iya maaf bep... Yaudah, sekarang gini aja, aku dengerin kamu ngomong sekarang. Kamu ngoceh ga berhenti-henti juga aku bakalan dengerin"


"Uwuwuwhwhhh... Cayangnya Vale. Sini bebep Andro, Valeria bakalan ngomong, tapi Andro ga boleh motong pembicaraan" ujar Valeria dengan nada manja.

__ADS_1


Gadis ini membuka tangannya lebar-lebar. Mau tak mau, Andro harus bangkit dari duduknya dan menghampiri pacarnya. Direngkuhnya tubuh Valeria. Gadis ini mulai mengoceh panjang. Tidak usah diperjelas, ujung-ujungnya juga bakalan muter-muter nih cerita.


"Dasar bucin" sindir Kevin.


"Iri ngomong. Makanya kalo gak mampu, jangan nyindir. Cari sendiri sana" balas Andro.


"Cari apa?" Tanya Kevin bingung.


"Pacar lah!"


"Dih"


"Kenapa?"


"Emang ada yang mau sama gue?" Sungut Kevin.


"Whahahahahahahahhaaha...." Mereka tertawa terbahak-bahak karena mendengar ucapan Kevin. Ya kecuali Gavin, laki-laki ini lebih memilih mendengarkan dengan tenang.


Kevin semakin memasang wajah cemberutnya dan mulai mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.


"Si kulkas aja udah punya gandengan. Masa Lo kalah sih" ledek Andro.


"Jangankan itu, si telmi aja udah ada yang punya" kini Valeria juga ikut meledek.


"Karena Lo nyebelin, mungkin cewek-cewek bakalan mikir dua kali" ucap Gavin datar.


What!?


"Heh! Kita itu kembar! Lo nyadar ga, kalo Lo juga nyebelin disini, sama kayak gue!" Pekik Kevin kesal.


"Gua ga ngerasa kita mirip" balas Gavin.


Skakmat!


Kevin tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka kalau sudah ada target yang ingin dipojokkan, pasti akan terus dilakukan hingga targetnya kalah telak!


Poor Kevin.


Dan tawa mereka sudah lama tak terdengar. Semenjak ujian akhir pun mereka jadi jarang bertemu apalagi berkumpul. Ini pertama kalinya mereka tertawa bersama kembali setelah kejadian itu.


Hari dimana Yuki kecelakaan. Semua orang bahkan menyalahkan diri mereka sendiri. Mulai dari Andro dan Valeria yang biasanya mengajak Yuki pulang bersama, tapi tak dilakukan oleh mereka saat itu.


Olivia dan Louis juga begitu. Biasanya jika ingin pergi kencan, mereka selalu iseng mengajak Yuki, tapi tak dilakukannya saat itu.


Dan terutama Gavin yang selalu berada disampingnya. Kemarin ia terlalu excited dengan kembalinya mobil tercintanya. Kini mobilnya telah kembali, dan ia hampir kehilangan nyawa Yuki.


Jika waktu bisa diputar kembali, Gavin pasti akan membawa Yuki juga ke mansionnya. Mobilnya bisa ia dapatkan lain kali, tapi tidak dengan nyawa Yuki.


Get well soon Yuki. Semua orang kangen padamu. Termasuk author 🤧


"Baiklah semua, ayo kita pulang dan packing" ucap Andro dengan semangat.


"Kita bertemu di bandara besok jam 9. Okay?" Sahut Kevin.


"Kita berapa hari disana?" Tanya Olivia.


"Entahlah, sampai bosan. Atau sampai masuk sekolah lagi... Eh, tapi kalau keadaan mendesak bagaimana?" Valeria mulai berpikir keras.


"Ga usah dipikirin babe, biarin aku yang mikir. Kamu cukup mikirin aku aja" ucap Andro dengan sejuta rayuan basinya.


"Ngebucin terusssss...." sindir Kevin.


"Oh iya! Apa kita akan berenang ke pantai? Florida kan tempat hangat" ujar Olivia.


"Lihat sikon dulu. Siapa tahu suhunya masih dingin" ucap Louis.


"Wih, Lo ngerti arti 'sikon' sekarang?" Tanya Andro.


"Wahahaha... Iya dong! Sikon artinya situasi dan kondisi!" Jawab Louis dengan bangga.

__ADS_1


Semua orang bertepuk tangan, termasuk ibu Gavin yang baru datang bersama Sena. Dan kecuali untuk Kevin. Laki-laki ini sedang kesal karena merasa teracuhkan.


Kali ini Kevin kalah heboh dengan si telmi Louis.


__ADS_2