
Maaf untuk semua orang di bumi ini. Maafkan aku. Kecuali untuk satu orang. Zen. Yuki's note.
🌸🌸🌸
10.15 p.m.
Masih di hari yang sama dengan kepergian Yuki dari rumah Valeria, Zen keluar dari mobilnya setelah ia masukkan ke dalam garasi mobil rumah. Hari ini, rumahnya begitu gelap. Seperti tak ada kehidupan.
"apa - apaan ini? Kemana gadis itu?" Ujar Zen sambil mencari kunci rumah di tas ranselnya.
Cklek
Pintu terbuka dan rumah ini sangat gelap gulita. Tak ada pencahayaan sedikit pun. Kecuali yang keluar dari celah jendela yang tak tertutup gorden.
Zen memasuki rumahnya dan menyalakan semua tombol lampu. Zen menghela nafas berat ketika melihat piring bekas makan yang belum di bereskan.
Sudah terhitung 3 hari Zen dan Yuki bertengkar. Masalah sepele ini bisa memancing pertengkaran hebat di antara mereka.
"Sepertinya Yuki belum pulang sejak hari itu" ujar Zen.
Zen duduk di lantai dapur sambil memeluk lututnya. Kepalanya kini tertunduk. Mengingat semua kejadian malam itu di hotel. Zen menyesal telah menampar Yuki. Adik kesayangannya itu.
Setelah beberapa saat, Zen akhirnya bangkit dari duduknya dan naik ke atas menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya.
Ting tong Ting tong
Bel rumah berbunyi.
"Ck, baru juga rebahan" gumamnya.
Zen beranjak dari berbaringnya dan turun untuk membukakan pintu. Entah siapa yang bertamu di malam hari seperti ini.
Cklek
"I'm home" Zen membelalakkan matanya saat melihat orang dengan wajah datar yang ada di depan pintu.
"K-kak Axel!?"
Ya, itu Axel. Anak tertua di keluarga Cortez. Kakak Yuki dan Zen. Kaka yang selalu Yuki bicarakan. Kakak yang selalu Zen banggakan. Kakak yang selalu membuat Zen tunduk pada setiap peraturannya. Axelerious Arvie Cortez.
"A-apa yang kau lakukan disini kak?" Tanya Zen yang masih terkejut.
"Kau yakin bertanya seperti itu?" Tiba - tiba Alvaro muncul sambil membawa 2 koper besar.
"E-eh, itu, aku... Uhm" Zen gelagapan seperti sedang terciduk.
Tanpa menunggu lama, Axel dengan cepat melangkah ke depan dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Zen dan Alvaro di luar. Alvaro masih menatap Zen dengan lekat. Seperti sedang menelusuri sesuatu di wajah Zen ini.
"Ada apa Zen?" Tanya Alvaro.
"Eh? Kak Al? Anu itu.." Zen mulai dengan sikapnya yang seperti sebelumnya.
"ALEXZANDER!" Teriak Axel dari dalam. Bulu kuduk Zen meremang seketika. Sepertinya ia akan dihajar oleh kakaknya sendiri malam ini.
'aduhh bunda, tolongin zen' batin Zen.
Zen dan Alvaro langsung masuk ke dalam menghampiri Axel yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"A-ada apa kak?"
"Mana Yuki!?" Sentak Axel.
"Yuki memangnya kemana?" Bodohnya Zen malah bertanya balik.
"Kau ini bodoh atau tuli sih sebenarnya!?" Axel mulai tak bisa menahan amarahnya.
"Kau belum baikkan dengan Yuki kan?" Tanya Alvaro yang membuat Zen semakin terpojokkan.
"Kalian bertengkar dan belum berbaikan? Apa yang kau pikirkan Zen!? Ini sudah 3 hari! 3 HARI! Sebagai seorang kakak, kau seharusnya mengalah Zen!" Pekik Axel.
"Tapi aku tak sepenuhnya salah!!" Balas Zen dengan berani.
Axel mengusap wajahnya dengan kasar. Apa yang sebenarnya terjadi? Axel semakin tak mengerti.
"Lalu kau tak berusaha untuk meminta maaf?" Zen tetap diam membisu.
"Hahh.. baiklah Zen. Sekarang begini, dimana Yuki?" Axel berusaha melembutkan perkataannya.
"Dia di rumah Gavin" jawab Zen spontan.
"Okay fine. Varo, ayo jemput Yuki sekarang" ujar Axel
'aduh, tadi kata - kata itu keluar begitu saja. **** banget sih gua! Gimana kalo Yuki ga ada di sana? Abis gua malam ini' batin Zen berkecamuk.
"Jangan kak!" Zen berusaha melarang kakaknya pergi dengan memegang lengannya.
Axel kini menatapnya tajam. Keringat dingin terus mengalir di tubuh Zen. Apa yang harus ia katakan lagi sekarang?
"Kayaknya Yuki udah tidur kak. Jadi, kita jemput besok saja ya" bujuk zen.
Axel diam. Masih dengan tatapan tajamnya yang sangat menusuk hati. Setelah diam beberapa detik, akhirnya Axel bereaksi. Axel menghela nafas berat. Lelah rasanya. Baru saja di tinggal 3 bulan, keadaan Zen dan Yuki sekarang sudah tak karuan.
"Okay fine. Kita jemput Yuki besok pagi. Varo, biar ku bawa sendiri koper milikku. Istirahatlah" ujar Axel.
Axel menenteng kedua koper besar miliknya dan naik ke atas. Ia berencana untuk memakai kamar Yuki malam ini.
"Kau selamat malam ini Zen" ujar Alvaro yang berjalan mengekori Axel, lalu meninggalkan Zen mematung di ruang tamu.
🌸🌸🌸
7.30 a.m.
Pagi kini sudah tiba. Zen yang semalaman susah tidur, kini sedang menatap keluar jendela. Berharap, semoga Yuki ada di apartemennya Gavin.
Zen menuruni tangga dan menemukan Axel yang sedang memasak sarapan di dapur. Jantung Zen berdebar lebih cepat dari biasanya.
Axel, dia masih dengan tatapan dinginnya saat matanya bertemu dengan mata Zen. Tatapan Axel takkan melembut jika ia belum melihat Yuki.
"Ini sarapanmu" Axel menyodorkan semangkuk bubur pada Zen dan di terima olehnya.
"Kita makan bersama yuk" ajak Zen.
"Makan saja sendiri. Aku sudah makan tadi. Habiskan sarapanmu dengan cepat, kau kuliah kan? Ini Minggu Zen" ujar Axel.
"Kak Al sudah makan?" Tanyanya lagi.
"Sudah"
"Untuk Yuki?"
"Aku akan mengajaknya makan di luar hari ini"
Zen membalikkan badannya dan duduk di kursi dan menyantap bubur buatan Axel. Memang, semua orang dirumah mereka bisa memasak, kecuali Zen. Dan buatan Yuki lah yang paling enak di antara mereka.
"Pagi Zen" sapa Alvaro.
"Pagi"
"Mobilmu sudah di panaskan. Berangkat sana. Nanti telat"
"Makasih kak"
Zen beranjak dari duduknya dan menaruh mangkuknya di wastafel sambil membawa tasnya.
"Aku berangkat kak" pamit Zen. Tapi Axel tak menjawab.
🌸🌸🌸
Setelah Axel telah selesai dengan urusan dapurnya, Axel naik keatas untuk mengganti pakaiannya. Ia berpikir untuk terlihat baik di hadapan adik tercintanya.
Hari ini, Axel memakai kemeja merah maroon dengan lengan yang di gulung hingga siku dan celana panjang hitam. Rapi, tapi gak terlalu rapi, biasa saja.
Axel keluar dari kamar Yuki lalu menuruni tangga dengan perlahan sambil melirik kesana kemari untuk mencari keberadaan Alvaro.
"Hei! Alvaro" Alvaro yang merasa terpanggil pun menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Sudah siap? Ayo berangkat!" Ujar Alvaro.
Axel mempercepat langkahnya menghampiri Alvaro dan mereka pun berjalan keluar rumah bersama.
"Mau naik mobil atau jalan kaki?" Tawar Alvaro yang menenteng tas laptopnya.
"Naik mobil saja. Aku akan mengajak Yuki ke suatu tempat yang pasti ia suka" jawabnya.
"Okay"
Axel dan Alvaro langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
"Kau akan membawanya kemana hari ini?" Tanya Alvaro yang sedang menyetir.
"It's secret, varo" jawab Axel dingin.
"From me too?" Alvaro malah tak percaya. Dan Axel menganggukkan kepalanya.
"Kau terlalu merindukannya, ya? Padahal kalian baru berpisah 2 bulan--" perkataan Alvaro di sela.
"3 bulan!" Ketus Axel.
"Okay fine bro. 3 month"
Alvaro akhirnya menyerah. Ia tak bisa meledek Axel lagi kali ini. Cukup sampai disini. Takut Axel akan marah dan seisi mobil ini jadi beku. No! Itu takkan terjadi.
🌸🌸🌸
Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai di apartemen Gavin dengan mobil. Axel menatap gedung apartemen itu. Ia kira, Gavin tinggal bersama keluarga Gerald. Ternyata ia tinggal di sini sendiri.
Pikiran Axel sudah tak benar kali ini. Mereka hanya berdua di apartemen Gavin dan tak ada siapapun disana. Ahh, Axel terus memegangi kepalanya. Bagaimana kalau mereka melakukan hal yang tidak senonoh disana? Tidak. Tidak boleh terjadi! Axel membuang pikiran itu dan menyamakan langkahnya dengan Alvaro yang sudah berjalan duluan.
Ting tong Ting tong
Tak ada jawaban.
Baiklah. Alvaro akan mencoba sekali lagi.
Ting tong
Cklek
Tiba - tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok Gavin yang sepertinya baru saja selesai mandi. Gavin pun terkejut dengan siapa yang ada di depan pintunya.
"Kak Al? Ada apa?" Tanya Gavin.
"Oh maaf. Apa kami mengganggumu?" Ujar Alvaro dengan cemas.
"Eh? Tidak kok. Ayo silahkan masuk"
Gavin mempersilakan Alvaro dan Axel masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tamu. Dan tak lupa pula, Gavin membawakan 2 gelas jus untuk mereka.
"Kau baru bangun ya?" Alvaro mulai berbicara.
"Tidak. Aku bahkan sarapan dan mandi. Ada apa kak Al kemari? Dan siapa ini?"
"Ini? Axel. Kakaknya Yuki" jawabnya.
"Apa!? Eh. Oh. Hai. Kak. Eh bukan--" Gavin jadi gugup.
"Panggil saja kakak. Tak apa kok" Axel akhirnya menanggapi Gavin.
"Ba-baiklah kak" jawab Gavin berubah kikuk.
Hening seketika.
Dan Gavin melamun.
"Vin?"
"Eh, iya?"
"Sebenarnya, tujuan kami kesini, kami ingin menjemput Yuki pulang. Mana Yuki?" Ujar Alvaro.
"Hah!?"
"Me-memangnya Yuki kemana?" Ujar Gavin.
Dengan sigap Axel mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Yuki.
"Hai, ini Yuki. Aku sedang sibuk. Aku akan telpon balik nanti, setelah kesibukan ku--"
BIP.
Ternyata yang keluar adalah voice note yang Yuki buat.
Shit.
"Sepertinya Yuki berada di rumah Valeria. Karena yang gua tahu, dia menginap di sana" ujar Gavin berdiri dari duduknya.
"Cepat. Kita kesana sekarang"
Axel juga langsung berdiri dan menyambar kunci mobil yang sedari tadi di pegangi oleh Alvaro. Alvaro langsung menyusul dari belakang. Axel tak bisa tenang kali ini. Sifat dinginnya bisa saja membunuh siapa saja yang mengganggunya sekarang. Bahkan, sifat dinginnya ini bisa mengalahkan sifat Gavin yang memiliki julukan 'Kulkas berjalan'.
🌸🌸🌸
*Ting tong
Cklek*
Pintu langsung terbuka dalam hitungan detik dan menampilkan sosok Andro yang membukakan pintu. Alvaro pun bingung. Kenapa Andro yang membukakan pintu?
"Ini rumah Valeria atau Andro?" Tanyanya langsung.
"Ini rumah Valeria kok. Gua kan pacarnya. Ngelancong di pagi hari kan wajar kak" jawab Andro dengan percaya diri tinggi.
Tanpa memperdulikan sikap Andro yang berada di depan pintu, Gavin langsung mendorongnya dan membawa Alvaro serta Axel masuk ke dalam. Andro yang merasa di perlakukan seperti itu pun merasa kesal.
PRANG
Ayah Valeria menjatuhkan vas bunga yang sedang dibawanya. Dan sekarang wajahnya begitu pucat, terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Tu-tuan Co-Cortez!!?" Ujarnya terkejut melihat kedatangan Axel di rumahnya.
"Mr. Geison, kedatangan kami kemari untuk menjemput adikku pulang" ujar Axel dengan dingin.
"Yuki tak ada disini" ujar Valeria yang tiba-tiba muncul dari dapur.
"Apa!?"
"Bukankah kakak tercintanya sudah menjemputnya kemarin?" Valeria bersedekap dengan mata yang memincing.
Semua orang terdiam. Axel mengusap kasar wajahnya. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Duduklah dulu. Dinginkan kepala anda Mr. Cortez" ujar Valeria yang berusaha formal.
Suasana menjadi sangat kurang nyaman. Antara Valeria yang sebenarnya ingin marah pada Axel, sedangkan Axel sedang menahan amarahnya untuk tidak gegabah sekarang.
"Yuki sempat cerita. Dia bertengkar dengan kak Zen sekitar saat 4 hari yang lalu. Tepatnya hari Kamis. Aku tak tahu detailnya seperti apa. Mungkin Gavin tahu" Valeria menunjuk Gavin agar ia juga dapat berbicara.
Dan yang benar saja. Semua orang kini menatap Gavin dengan tajam. Seolah Gavin lah yang mengetahui semuanya.
"Okay fine. I'll tell you all. Benar yang di katakan Vale. Tapi Yuki sudah berusaha untuk bicara baik - baik. Kita bahkan pernah nungguin kak Zen dari pulang sekolah sampai jam 7 malam. Karena penasaran, Yuki datang menghampiri kak Zen di hotel. Sampai - sampai ia diusir oleh satpam yang mengira dia anak kecil" tutur Gavin.
"Shit, satpam kurang ajar" gumam Axel yang nyaris tak terdengar.
"Dan yang lebih parahnya lagi, kak Zen menampar Yuki tanpa memikirkan apapun. Bikin gereget doang!" Akhirnya Valeria mengucapkan inti permasalahan.
"Eh, tunggu.. tadi apa Lo bilang? Yuki di jemput sama kakaknya? Yuki kan bawa mobil" ujar Gavin curiga
"Ga kok, dia bilang dia ga bawa. Jadi pas hari Jumat, kita pulang bareng bertiga" jawab Andro.
"Cepat, lacak mobilnya sekarang" perintah Axel pada Alvaro. Ia pun segera membuka laptopnya dan langsung mengerjakan tugasnya.
Semoga Yuki bisa di lacak. Batin Valeria.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Axel akhirnya bisa melacak keberadaan mobil Yuki. GPS itu mengarah pada jalan yang sepertinya lumayan sempit.
"Ini beneran disini?" Tanya Gavin
"Gua tau jalan ini! Ayo kesana sekarang!" Pekik Valeria.
Alvaro langsung berdiri membawa laptopnya. Alvaro, Axel dan Gavin masuk kedalam mobil yang sama dan kali ini Gavin yang menyetir. Sedangkan Andro dan Valeria mengendarai mobil yang berbeda sambil berjalan duluan, memimpin.
🌸🌸🌸
Dan benar saja. Gang ini sangat sempit! Sepertinya hanya muat 1 mobil saja. Bagaimana kalau ada mobil yang muncul dari depan? Haruskah mereka mundur?
Daripada mengambil resiko, mereka memutuskan untuk memarkirkan mobil mereka di pinggir jalan. Mumpung tak ada tanda di larang berhenti di sini.
Mereka berjalan kaki bersama dan menurut orang lain yang melihatnya, seperti ada masalah yang sedang terjadi.emang benar kok.
"Disini!" Ucap Alvaro.
Yang lainnya pun sigap menelusuri gang ini dengan cermat. hingga Andro pun seperti menemukan sesuatu. Benda itu berbentuk kotak persegi dengan lampu kecil yang terus berkedip.
"Apa ini bom?" Tanyanya sambil mengangkat temuannya ini.
Axel yang melihat pun langsung berlari menghampiri Andro. Axel mengambil paksa benda yang dipegang oleh Andro.
"Eh, kak! Itu bom bukan!?" Tanya Andro lagi panik.
"Bukan ******! Itu GPS!" Pekik Valeria dengan memukul kepala Andro, pacarnya sendiri.
"Biasa aja dong bep" ketus Andro.
"Kok bisa lepas?" Ujar Axel dengan nanar.
"Memangnya ini dipasang dimana sebelumnya?"
"Di dekat mesin mobil. Itu pun bautnya di bor dengan bor listrik. Ini tak masuk akal"
"Oh iya! Terakhir kali, aku yang masukkan bor listrik ke mobil Yuki" jujur Alvaro.
"Sorry bro" Alvaro kini tertunduk.
"It's okay varo. Mungkin ini adalah keberuntungan bagi Yuki" jawab Axel.
Axel menatap benda itu dengan sedih. Yuki sepertinya sudah benar - benar membenci Zen. Bagaimana caranya untuk mendamaikan kedua adiknya ini? Sulit rasanya. Di satu sisi, Zen yang terlalu keras kepala dan di sisi lain, Yuki yang sepertinya sudah tidak mau melihat Zen.
Frustasi? Ya, itu yang dirasakan oleh seorang Axelerious Arvie Cortez. Ia merasa gagal. Ia kira, Zen sudah cukup dewasa untuknya mempercayai Yuki padanya. Ternyata tidak. Ini di luar ekspektasi. Ingat teman - teman, ekspektasi takkan seindah realita.
Axel mendudukkan dirinya di atas aspal. Alvaro pun langsung menarik tangan Axel untuk berdiri kembali, tapi Axel tak mau berdiri. Teriknya panas kini sudah tiada. Hanya ada mendung beserta petir yang menyambar sesekali.
"Istirahat dulu ya? Ini sudah lewat jam makan siang" ujar Gavin mengusap punggung Axel.
Axel pun mengangguk dan berdiri dari duduknya. Itu membuat Gavin tertawa kecil dan membuat Axel bingung.
"Kita lagi sedih dan lu seenaknya ketawa" ujar Axel yang berhenti bicara formal.
"Gua cuma ingat sama Yuki. Kalau dia sedih, usap aja punggungnya. Dia bakalan senyum lagi kok" jawabnya. Axel tersenyum tipis. Sepertinya Gavin cukup mengenal Yuki.
Mereka berjalan kembali menuju tempat tadi dimana mereka memarkirkan mobilnya. Dan melajukan mobil mereka mencari restoran keluarga terdekat.
🌸🌸🌸
"Makan Xel!" Ketus Alvaro yang mulai kesal.
"Berani banget Lo merintah gua" jawabnya dengan ketus juga.
Bugh
"Sakit!"
"Yuki bakalan lebih marah daripada ini! Makan!"
"Yuki ga ada disini!" Pekik Axel.
Hening.
Hening lagi..
Hening aja terus...
"Up to you, man! Akal sehat Lo ilang! kalah sama emosi" ujar Alvaro yang biasanya bersikap tenang, kini juga ikut menuangkan emosinya ke dalam perkataan.
"Fine! Gua makan!"
Axel memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan kesal. Axel lebih baik mengalah daripada memperpanjang urusan.
Setelah 15 menit, Axel selesai dengan urusan makannya. Ia pun membayar semua makanan dan keluar dari restoran seorang diri.
"Kak Axel masih kesal tuh.." ujar Valeria.
"Biarin aja" ujar Alvaro kesal.
"Mau telpon siapa Ndro?" Tanya Gavin.
"Louis. Gua mau kasih tau dia. Siapa tau, si telmi ini bisa bantuin" jawab Andro.
"Halo?"
"Halo. Napah?" Jawab Louis dengan nada malas.
"Yuki hilang"
"APA!?"
"Biasa aja dong"
"Astaga! Hilang dari kapan?"
"Nanyanya nanti aja. Btw, Lo bis--"
"Udah lapor polisi!?"
"Belom"
"Kenapa ga lapor!?"
"Nanyanya nanti aja. Kita masih nyari nih. Lo ada ide ga?"
"Eh? Lo nanya ke gua?"
"Sama bayangan Lo!"
"Ahahahahahahaha. Oke oke. Lo udah nyari di cafe yang biasa kita datangi?"
"Kita lagi disini"
"Sekolah?"
"Tutup!"
"Perpustakaan kota?"
"Tutup! Kan lagi renovasi"
"Ehm.. kolam renang tak mungkin"
"Ck, Vin! Dia ga tahu"
"Gavin!? Eh iya gua tahu tempat yang pastinya bakalan dia datengin!"
"APA!? DIMANA!"
"TAMAN KOTA! Yuki kan suka kesana sama Gavin"
"Ketemuan di parkiran taman kota sekarang"
"Aye aye captain. On the way now!"
__ADS_1
Tut
"Ke taman Kota sekarang!"