
Hari ini, Gavin terbangun di kamarnya. Ia berada di rumah. Gavin tersenyum. Sudah lama ia tidak tidur disini. Gavin menoleh ke sampingnya, ada Louis yang tertidur disana dan Andro yang tidur di atas sofa kamarnya yang bisa dibuat kasur.
Pesta kemarin sungguh sangat ramai. Keceriaan bertebaran dimana-mana. Dan anehnya, biasanya keluarga Gerald akan menyewa koki terkenal. Tetapi kemarin, masakan Yuki dapat menyaingi para koki terkenal yang pernah di sewa keluarganya.
Ah, mengingat tentang kejadian kemarin, Gavin jadi teringat dengan apa yang Yuki bilang semalam.
"Ga ada yang ga mungkin. Usaha aja belum, masa mau nyerah duluan"
Gavin bangun dari kasur dan menginjakkan kakinya di lantai. Pagi ini tak terlalu dingin, bahkan bisa dikatakan lumayan panas. Sepertinya musim panas telah datang.
☀️Welcome summer☀️
Gavin melangkahkan kakinya dan pergi ke kamar mandi. Karena sekarang masih jam 6.30 pagi, Gavin berniat menyapa adiknya lebih awal. Setelah selesai mandi, Gavin memakai seragam khas musim panas. Hanya kemeja, dasi, dan celana panjang. Kini Gavin sedang bercermin, merapikan rambut hitamnya.
"Hoaaamm, pagi" ujar Andro yang baru bangun dari tidurnya.
"Pagi, mandi sana! Gua turun duluan. Bangunin tuh si kebo" Gavin menunjuk pada Louis yang masih tidur sambil memeluk guling.
Gavin keluar kamar dan turun ke lantai dasar. Kamar Gavin, Sena dan Kevin berada di lantai 3, dan ada beberapa ruangan lagi seperti ruang kerja dan ruang keluarga yang cukup luas di lantai ini.
Saat sampai sampai dibawah, Gavin melihat Sena yang sedang melirik kado darinya. Kotak besar yang sempat di tebak oleh Yuki. Sangat mudah untuk membuka kotak hadiah darinya, hanya perlu menarik pita dan kotak itu akan terbuka lebar dengan sendirinya.
Saat sudah terlihat hadiah dari Gavin, Sena langsung berteriak terkejut dan memeluk boneka Tedy bear yang sangat besar. Hadiah Gavin tahun ini memuaskan bagi Sena. Gavin tak tahan jika hanya melihat dari jauh, Gavin memutuskan untuk menghampiri Sena disana.
"Hai little sister. Morning" sapa gavin.
"Pagi juga kak kulkas!" Balasnya.
"Berapa banyak hadiah yang kamu dapat?"
"Sepertinya ada sekitar 30 hadiah dan aku baru membukanya 1 dari mu kak. Ini sungguh gila! Boneka ini besar sekali!" Pekik Sena. Gavin hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Sena. Sena terus memperhatikan tumpukan hadiahnya.
"Apa yang kau cari?" Tanya Gavin.
"Hadiah dari kak Yuki. Kira - kira yang mana ya?"
"Biar ku bantu" Gavin berdiri dari duduknya dan memperhatikan satu persatu hadiah itu. Sena juga malah memutari tumpukan hadiahnya.
"Ini dia!" Sena mengangkat tinggi hadiah yang ia temukan dan berlari ke arah Gavin.
"Itu hadiahnya? Kecil banget" Ujar Gavin.
Sena membuka hadiah dari Yuki dengan antusias yang tinggi. Ia membuka kertas kadonya perlahan. Saat sudah bersih, ternyata didalam ada kotak beludru kecil berwarna ungu. Sena memutar kotak itu dan menemukan tombol kecil untuk membuka kotaknya dan ia pun menekan tombol itu.
Kotak itu terbuka, terdapat kalung perak dengan liontin bulat lonjong yang didalam bulatan itu terdapat bunga mawar beserta daun dan tangkainya. Sangat dewasa. Dan ada kertas kecil didalamnya.
*Dear gadis kecil,
Kuharap kau suka kalungnya
Jadilah gadis yang dikagumi banyak orang
Yuki✨*
"Lihat kak! Kalungnya bagus banget!" Sena menunjukkan kalung pemberian Yuki pada Gavin.
"Biasa saja" jawab Gavin datar.
"Ck, susah ya kalau ngomong sama kulkas" Sena kesal karena Gavin tak memberikan pujian padanya.
Gavin pergi meninggalkan Sena yang sedang sibuk memperhatikan hadiah dari Yuki. Gavin menghampiri ayahnya yang sedang menunggu sarapan pagi datang sambil menyesap kopinya.
"Pagi yah!" Sapa Gavin.
"Pagi nak. Apa mau mu kali ini?"
"Apa maksud ayah?"
"Kau tak mungkin menyapa ayah di pagi hari tanpa ada keinginan. Cepat katakan!" Ucap ayahnya yang seperti sudah mengetahui isi kepala Gavin.
"Uhm, sebenarnya aku mau minta mobil sportku kembali yah" ujar Gavin. Ayahnya yang awalnya ingin meminum kopinya langsung menaruh cangkir itu kembali.
"Tidak ***.."
"Boleh banget kok" sela ibu Gavin yang muncul dari dapur sambil membawa beberapa piring ke meja makan.
"Asal nilai murni akhir semester kamu ga boleh di bawah 70%. Gimana? Kamu siap?" Ibunya seperti memberikan tantangan dengan mobil sport sebagai hadiahnya.
"Baiklah" jawab Gavin tanpa basa-basi.
Ayah dan ibu Gavin tersenyum pada Gavin. Sepertinya anak mereka akan berubah sedikit demi sedikit. Memang perubahan itu jangan terlalu dipaksakan. Perubahan akan terjadi jika ada kemauan yang tulus.
🌸🌸🌸
Setelah selesai sarapan, Gavin, Louis dan Andro pun berpamitan kepada ibu Gavin dan berangkat ke sekolah. Karena Louis dan Andro membawa mobil masing-masing, Gavin memilih untuk ikut bersama dengan Andro.
"Kata ayah gua, hari ini kita free, gurunya rapat" ujar Gavin.
"Kenapa Vale ga ikut nginep? Biasanya juga dia nginep kan?" Tanya Andro.
"Ck, kita lagi ga ngomongin Vale. Kita ngomongin tentang freeclass Ndro!"
"Vale lebih penting!" Ketus Andro
"Bodo amat!" Balas Gavin.
"Emang gimana ceritanya dia bisa pulang?"
"Dia dijemput daddynya semalam"
"Yah, keduluan sama ayah mertua"
"Dih najis"
🌸🌸🌸
"Elise!" Teriak seseorang. Elise yang merasa terpanggil pun menatap orang yang memanggilnya dengan tatapan marah. Ternyata itu salah satu anak buahnya.
"Ini masih pagi! Ga usah berisik bisa ga Lo!?" Ketus Elise.
"Berita buruk!" Gadis ini tak peduli jika Elise sedang marah, karena beritanya lebih penting dari itu.
__ADS_1
"Ja**g itu semakin ga karuan!"
"Maksudnya?" Elise menaikkan salah satu alisnya. Ia penasaran.
"Kemarin adik Gavin ulang tahun dan ja**g itu ada disana"
"Dari mana Lo tahu?"
"Dari akun medsos yang dikirim Louis. Disana ada foto mereka berlima termasuk si ja**ng dan adik Gavin juga ada"
BRAK!
Elise menggebrak meja. Kini aura membunuhnya sudah keluar. Ingin rasanya ia membunuh Yuki yang sejak tadi ia sebut dengan ******.
"Arrhghh, brengsek!" Pekiknya.
🌸🌸🌸
Hatcih hatcih..
"Hei kau tak apa? Kalau kau sakit, sebaiknya kita putar balik" ujar Alvaro.
"Aku tak apa kak" jawab Yuki sambil membersihkan hidungnya dengan tissu
"Oke baiklah"
Akhirnya mereka sampai didepan gerbang sekolah Yuki. Yuki yang hendak keluar, ditahan oleh Alvaro. Ia pun menyentuh kening Yuki dengan punggung tangannya.
"Agak panas. Kau pusing?" Tanya Alvaro.
"Aku baik. Kak Al tenang saja"
Alvaro menyingkap poni milik Yuki dan mengusap pelan plester yang masih berada disana. Alvaro selalu menjaga sifat tenangnya dimana pun dia berada.
Yuki juga jadi terkena sugestinya. Yuki yang biasanya sangat ceria dengan senyum lebarnya yang khas, bisa langsung berubah lemah lembut ketika bersama Alvaro.
"Kalau ada masalah, cerita saja" ujar Alvaro.
"A-aku baik kak" jawabnya terbata bata
"Kau dibully?"
Bukannya malah menjawab pertanyaan, Yuki malah memeluk Alvaro dengan erat. Alvaro juga bingung dengan Yuki. Seperti ada yang ia sembunyikan. Yuki tak pandai berbohong. Alvaro tahu itu. Tapi Alvaro tetap diam dan membalas pelukannya.
"Everything is fine" ujar Yuki pelan dan melepas pelukannya.
"Baiklah, nanti ku jemput lagi ya. Telpon aku kalau kau ingin pulang" ujar Alvaro. Yuki tersenyum dan langsung keluar dari mobil.
Yuki berjalan melewati lobby sekolah. Setiap Yuki melewati seseorang, mereka langsung berbisik dengan mata sinis. Sepertinya mereka membicarakan tentang dirinya. Apa salah Yuki kali ini?
Yuki mempercepat langkahnya dan sedikit agak berlari menuju lift. Saat menunggu liftnya terbuka, perasaan Yuki jadi tak enak. Banyak pasang mata yang terus meliriknya. Yuki langsung masuk kedalam lift saat pintunya terbuka. Huh, akhirnya ia sendirian.
Ting
Kriiinggg...
Pintu lift terbuka. Dan bel masuk juga berbunyi bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Huh, Yuki aman. Yuki berusaha berjalan dengan tenang dan tegap. Yuki juga memasang senyum tipis. Dan akhirnya ia sampai di depan kelasnya.
"Pagi"
"Pagi cantik"
"Wah Yuki baru datang"
"Pagi juga
Banyak teman sekelasnya yang menjawab sapaan Yuki. Yuki langsung menghampiri Vale yang sedang duduk berhadapan dengan Andro. Ada yang aneh. Vale tak biasanya menundukkan kepalanya seperti ini.
"Vale good morning!" Sapa Yuki.
"Yuki, good morning honey" senyum Vale langsung merekah ketika mendengar suara Yuki.
"Lo hampir telat Ki. Ada masalah?" Tanya Andro.
"Eh iya. Bukan masalah kok. Tadi aku sama kak Al cuman keasikan ngobrol jadi lupa deh aku harus berangkat. Tapi tenang, aku ga telat kok" jelas Yuki.
"Kalau Lo datang jam 10 juga ga masalah kok. Lagian hari ini freeclass seharian" ujar Gavin.
"Seharian full?" tanyanya.
"Yup"
"Yeaayy..." Ujar Yuki dan Vale bersamaan.
"Hai guys. Ada tugas dari bu Lili. Katanya tuh mending ngerjain soal science daripada gabut ga jelas" ujar Angel yang tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil membawa setumpuk kertas soal. Semua murid pun menyorakinya tak suka jika sedang freeclass di beri tugas sebanyak ini.
Mau tak mau, mereka harus mengerjakan tugas sekarang. Banyak murid yang mengerjakan tugas dengan cara berkelompok, supaya lebih cepat terselesaikan. Begitu juga dengan Yuki, Gavin, Andro dan Vale. Mereka membagi 20 soal ini menjadi 4 bagian. Masing-masing dari mereka mendapatkan 5 soal yang harus dijawab.
Setelah 1 jam kemudian, akhirnya mereka selesai mengerjakan tugas. Vale berdiri lalu merenggangkan otot lengannya.
"Haah! Gila tuh guru! Untung kita ngerjainnya barengan, coba kalo gua ngerjainnya sendirian, bisa pingsan gua" gerutu Vale.
"Kalo lu pingsan, gua siap kok tangkap Lo dari belakang" balas Andro.
"Cie cie!" Sorak Yuki.
"Gavin!" Panggil Yuki lalu ia berdiri dan memegang tangan Gavin.
"Mau apa Lo?" Tanyanya.
"Ayo kita pergi. Kita beri ruang pribadi buat mereka" ujar Yuki sambil menunjuk Andro menggunakan dagunya.
"hm, ayo!" Gavin juga langsung berdiri dan menggandeng tangan Yuki lalu pergi meninggalkan Andro dan Vale berduaan.
"Woy! Jangan keluar dulu!" Pekik Vale.
"Kalian ngobrol aja dulu. Bye honey!" Jawab Yuki sambil berteriak.
"Duduk Vale!" Perintah Andro.
"Lo mau apa sih? Gua malu tau nih diliatin banyak orang" ujar Vale pelan dan duduk ditempatnya.
__ADS_1
"Kalau Lo malu, kita ngomongnya di ruang OSIS aja yuk!" Ajak Andro. Lalu ia membawa Vale keluar kelas dan pergi menuju ruang OSIS.
🌸🌸🌸
Gavin masih setia dengan terus menggandeng tangan Yuki tanpa melepasnya. Dan sekarang mereka ada di lantai 1.
"Lo mau kemana?" Tanya Gavin.
"Kita ke perpustakaan dulu, setelah itu terserah Gavin mau kemana, oke?" Jawab Yuki.
"Oke. Kita ke perpus" ujar Gavin lalu melanjutkan jalannya menuju perpustakaan.
"Uhm, Vin" cicit Yuki pelan. Gavin menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Yuki dan menatapnya.
"Apa?"
"Lepasin tangan aku. Ga enak tau, dari tadi kita di perhatikan banyak orang" ujar Yuki. Gavin langsung melepaskan tangannya dan memasukannya ke dalam saku celananya kemudian melanjutkan langkahnya.
Sudah berapa lama ia menggandeng tangan Yuki? Malu sekali rasanya. Tapi Gavin tetap berusaha terlihat tak terjadi apa-apa.
Setelah sampai di depan pintu perpustakaan, Yuki dan Gavin masuk ke dalam. Hari ini perpustakaan lumayan ramai dan agak bising. Yuki terus berjalan mengitari rak buku yang berjejer rapi di sini. Gavin juga terus berjalan di belakang Yuki.
"Bisa kita duduk dulu?" Ujar Gavin kalau Yuki menghentikan aktivitas berkelilingnya dan mengangguk. Mereka memilih duduk di bangku yang terdekat yang mereka temukan dan itu kosong. Yuki dan Gavin duduk berhadapan.
"Ada yang mau gua omongin" ujar Gavin. Dan Yuki menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Sebenarnya, gua udah ngomong sama ayah gua tentang mobil gua yang dia sita. Dia bilang, gua boleh bawa mobil lagi, kalau gua berhasil dapat nilai rata-rata murni ujian akhir semester di atas 70%" jelas Gavin.
"Wahh, selamat!" Yuki senang mendengarnya
"Jangan bilang selamat dulu! Gua justru bilang sama Lo, gua itu mau minta bantuan Lo"
"Hhmm itu mah hal yang gampang Vin" ujar Yuki enteng.
"Ini ga segampang yang Lo kira. Ujian dimulai 3 Minggu lagi, dan gua ngerasa mustahil" Gavin mulai menundukkan kepalanya.
"Ck, gitu lagi deh. Kalau kamu bilang mustahil, yaudah, aku mulai ngajarin kamu hari ini juga!" Tegas Yuki.
"Eh? Lo yakin?"
"Iya. Kita bakalan belajar hari ini. Dan mumpung kita lagi di perpustakaan, aku bakal pilihan buku yang cocok buat kamu baca. Ayo!" Ajak Yuki lalu Gavin menyusul.
Yuki mulai mengelilingi seluruh rak buku dan memperhatikan semua buku. Yuki mengambil beberapa buku yang menurutnya mudah dipahami. Setelah selesai berkeliling dan membawa beberapa buku, mereka membawa buku - buku itu ke meja penjaga perpustakaan untuk dipinjam.
"Tolong kembalikan semua buku - buku ini Minggu depan. Boleh kurang dan ga boleh lebih. Kalau masih belum selesai bacanya, mending di perpanjang masa pinjamnya daripada denda" ujar kakak kelas yang sedang menjaga perpustakaan.
"Oke kak! Terimakasih, aku pergi dulu ya" sahut Yuki dan pergi meninggalkan perpustakaan.
"Mau belajar dimana?" Tanya Yuki.
"Taman belakang aja"
"Oke kita kesana!"
"Jangan sekarang, gua laper. Kita ke kantin dulu" ujar Gavin lalu menekan tombol lift.
"Kita ke kelas dulu. Gua males bawa buku ke kantin" Lanjut Gavin.
Di dalam lift Gavin terus memperhatikan buku yang Yuki pinjam. Banyak sekali. Apa buku ini harus dibaca oleh Gavin?
🌸🌸🌸
Kini Gavin dan Yuki udah berada di kantin. Mereka menunggu kedatangan sahabatnya, yaitu Vale, Andro dan Louis. Akhirnya Louis muncul dari balik pintu masuk dan melambaikan tangan pada mereka berdua.
"Vale sama Andro mana?" Tanya Louis yang sedang menarik kursinya dan duduk di samping Yuki.
"Ga tau nih. Mereka sejak tadi belum datang" sahut Yuki.
"Apa mereka berdua sudah jad--"
"Iya kita udah jadian" ujar Andro yang tiba-tiba muncul bersama Vale disampingnya. Yuki dan Louis terkejut dan langsung bertepuk tangan.
"Aciee cieee. Ekhem ekhem..." Ledek Louis.
"Wow Vale, selamat yaa!" Ujar Yuki yang bangkit dari kursinya dan langsung memeluk Vale.
"Thanks honey" jawab Vale.
"Lo ga seharusnya panggil Yuki dengan 'honey' dong. Gua kan pacar Lo" ketus Andro.
"Ck, baru juga jadian Ndro, jangan langsung cemburu juga kali" balas Vale.
"Ahahahahahahaha..." Yuki dan Louis tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sepasang kekasih ini. Akhirnya mereka duduk di kursinya masing-masing.
"Vin, jangan diam saja. Katakan sesuatu dong" ujar Yuki.
"Selamat"
"Eh? Cuman itu?"
"Sudahlah Yuki. Kalau Gavin banyak bicara, akan turun hujan badai nantinya, paham?" Ujar Andro yang mulai melahap makanan ke mulutnya.
"Gavin, kau menyeramkan" Yuki bergidik ngeri.
🌸🌸🌸
Setelah mereka selesai dengan makannya, Louis langsung pamit, begitu juga dengan Vale dan Andro. Pasangan baru ini sepertinya sedang merencanakan kencan pertama.
"Hei, pergilah duluan. Aku akan ke kelas mengambil buku dan menyusulmu nanti" ujar Yuki.
"Baiklah" Gavin beranjak pergi dan membayar makanan hari ini.
Setelah membayar makan siang hari ini di kantin, dia menoleh kearah tempat duduk yang tadi mereka tempati, dan Yuki sudah tak ada.
Gavin memutuskan pergi ke taman belakang terlebih dahulu. Sepertinya cuaca kurang mendukung. Agak mendung dan sedikit berangin. Kalau hujan ingin turun, turun saja, toh Gavin tak suka musim panas yang terlalu ekstrim suhunya. Jadi, biarkan saja.
Setelah sampai, Gavin memilih duduk dibawah pohon beringin yang tumbuh ditaman ini. Tak banyak orang yang datang ke taman belakang sekolah, karena Gavin meminta ayahnya untuk membuat peraturan agar tak sembarang orang bisa mengganggu Gavin ditempat ini.
Gavin terus menunggu kedatangan Yuki yang tak kunjung datang. Gavin sudah duduk disini selama setengah jam.
"Sebenarnya Yuki pergi ke mana sih?" gumamnya.
__ADS_1