Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
42. terus berharap


__ADS_3

Valeria terus memutar setir mobil ketika melewati tikungan. Mobil Merci berwarna putih itu melaju kencang di jalanan yang kosong. Valeria melirik kesamping, ada beberapa kotak makan dan handuk. Ia bawa untuk teman-temannya yang sedang main di pantai.


Ia menyetir sendirian. Untung sedang tidak ada polisi, bisa-bisa ia ditilang nanti karena tak memiliki SIM dinegara ini.


Ia jadi teringat kejadian tadi. Sebelum ia berangkat tadi, ia sempat berdebat dengan Gavin. Orang itu tidak mau meninggalkan Yuki sekarang. Padahal Gavin udah berjanji akan menyusul dengannya. Huh, biarkanlah. Valeria juga tak bisa terlalu memaksa si kulkas juga.


Ketika sampai di tempat parkir, Valeria turun dari mobil. Matanya berbinar ketika melihat deburan ombak yang begitu menenangkan. Pantai ini tidak ramai pengunjung. Huh, Valeria jadi merasa sedikit menyesal telah menolak pergi bersama tadi.


"Babe?"


Valeria tersenyum. Ia mengenal suara berat itu. Ia berbalik dan mendapati Andro yang sudah basah kuyup dengan hanya memakai celana pendek, alias shirtless.


So hot.


"Kamu ganteng banget" puji Valeria sambil menunduk malu.


"Kau yakin? Aku bahkan merasa berantakan sekarang" elak Andro yang tak menyadari dirinya sendiri yang begitu sedap dipandang bagi semua wanita. Rambutnya yang berantakan dan basah, otot yang sangat tercetak begitu memanjakan mata. Huh, Andro....


"Sudahlah. Abaikan saja. Ayo bawakan barang-barang yang ada di dalam mobil. Aku akan menggelar kain untuk alas duduk kita" ujar Valeria sambil memalingkan wajahnya.


Sebenarnya Valeria sedang berusaha menyembunyikan niatannya yang sangat ingin menyentuh otot Andro yang begitu atletis. Walau Andro adalah kekasihnya, tapi tetap saja perasaan malu itu terus hadir di kala momen canggung seperti ini.


Andro menuruti Valeria. Ia membuka pintu mobil samping kemudi dan menemukan sebuah handuk besar. Dengan cepat Valeria mengikat handuk itu di leher Andro hingga menutupi seluruh dadanya tentu ia lakukan setelah mengeringkan sedikit tubuh Andro. Pria ini sekarang terlihat seperti mengenakan sebuah jubah namun kainnya menjuntai kedepan.


"Babe, kau yakin dengan ini?" Andro menunjuk ikatan handuk yang ada dilehernya.


"Aku mengikatnya terlalu kencang?" ujar Valeria.


"Bukan itu!"


"Kenapa? Sudahlah. Memangnya kau mau jadi tukang pamer? Aku tidak suka berbagi dengan siapapun. Sebaiknya kau mengerti" ujar Valeria yang menunduk sambil meremas handuk yang terikat di leher Andro.


Andro tertegun. Jarang sekali ia melihat Valeria menjadi lembut seperti ini. Wajahnya yang polos dan sedikit merah merona, menambah aksen keimutan dari dirinya. Andro tak tahan. Tangannya merengkuh tubuh Valeria. Dipeluknya dari belakang. Melingkarkan tangannya di perut rata Valeria dan terus menghirup harum sampo dari rambut kekasihnya.


"Kau sangat manis" ucap Andro pelan.


Valeria tak bisa berkata-kata lagi.


Oke. Kita abaikan sepasang kekasih yang sedang kasmaran ini. Beralih disisi lain. Kini Sena sedang berada dibibir pantai. Dengan pelampung bulat bergambar donat, ia terus menggerakkan kakinya menjauhi pantai. Takut adiknya tenggelam, Kevin juga ikut berenang mendampingi Sena disamping kanannya dan ada Louis di samping kiri Sena.

__ADS_1


"Senaaa... Jangan terlalu ketengah" pekik Louis yang sudah mulai tertinggal dibelakang.


Louis sudah tidak kuat berenang. Ia berhenti. Lama kelamaan Louis mulai mengambang di atas air. Kaki dan tangannya merenggang. Matanya menatap matahari yang memancar dengan begitu terangnya.


"Kapan Yuki akan siuman ya.." gumamnya sambil menghela nafas berat.


Tiba-tiba keseimbangannya terganggu karena Kevin yang menarik lengannya kebawah air. Louis beberapa kali menelan air laut yang asin lewat hidung dan mulutnya. Berusaha mengomel, tapi ia tidak sadar jika ia berada di bawah air.


"Bbuuaahhh..." Akhirnya Louis bisa kembali ke permukaan.


Dilihatnya Kevin yang berada tak jauh darinya. Tangannya terus menarik pelampung Sena dengan tangan kirinya. Kevin menyeringai dan sedikit tertawa.


"Sorry! Yang tadi itu sengaja" ledek Kevin.


"Kampret emang tuh orang!" Pekik Louis.


Ia kemudian memyelamkan kepalanya masuk kedalam air dan berenang. Berenang sekuat tenaga untuk menyusul Kevin.


🌸🌸🌸


7 p.m.


Eits, yang naik sepeda hanya para lelaki. Para perempuan sudah pasti ikut naik mobil bersama Valeria. Ada untungnya juga Valeria menyusul dengan mobil.


"Wah wah. Kalian kelelahan sekali sepertinya" ujar Alvaro yang sudah berdiri di depan pintu.


"Naik dan segera bersih-bersih. Kita akan makan malam. Karena 1 jam lagi Axel pulang" lanjutnya.


"Oke. Aku juga capek banget. Udah lama ga olahraga"


Olivia nampak memegang tangan Louis. Tubuhnya bahkan sangat lemas sampai Olivia harus memeganginya agar tak jatuh. Sena yang sudah tertidur di gendongan Kevin pun masih belum ada tanda-tanda untuk bangun.


Berbeda dengan Valeria dan Andro. Mereka terlihat sama sekali tidak kelelahan. Yah, mungkin itu kehebatan dari anak ekskul bidang olahraga.


Setelah 1 jam kemudian, mereka satu persatu menempati tempat duduk dimeja makan dan menunggu Axel turun.


"Eh eh eh tunggu. Dari tadi kok kita ga lihat Gavin sih?" Tanya Kevin.


"Laaah.. Lo kan kembarannya. Masa kalian ga punya kekuatan telepati gitu?" Ujar Louis.

__ADS_1


"Hah, mana ada yang begituan. Lo kebanyakan nonton film fantasi" sahut Andro.


"Hm, kayaknya Gavin ada di kamar Yuki deh. Sebentar gua kesana dulu" pamit Valeria.


Gadis ini menginjakkan kakinya menaiki tangga perlahan. Setelah sampai di atas, ia harus melewati lorong yang disepanjang dindingnya terdapat foto keluarga ini di berbagai momen. Akhirnya Valeria sampai.


Dilihatnya pintu yang memiliki 2 bilah kayu yang kokoh bercat putih. Disamping kanan dan kirinya terdapat pilar besar dan didepan pilar itu ada pot bunga mawar yang menjalar ke pilar-pilar itu. Sudah dipastikan ini pasti kama Yuki.


Didorongnya pegangan pintu itu perlahan. Matanya membelalak ketika melihat kedua orang itu. Gavin terduduk dilantai dengan tangannya yang terus menggenggam tangan mungil Yuki. Gavin tertidur dengan posisi duduk dilantai.


Apa ia sudah begitu sejak pagi?


Valeria berjalan mendekat. Dipegangnya pundak Gavin dan sedikit menggoyangkannya. Gavin akhirnya bergerak. Tangannya sedikit meremas tangan Yuki dan matanya perlahan terbuka.


Mata Gavin masih terarah pada wajah Yuki yang belum siuman. Gavin memejamkan matanya lagi dan menggeram kesal.


"Lo ngapain disini?" Tanya Gavin dingin.


"Lo sejak pagi disini? Lo pasti ngelewatin makan siang. Ayo bangun, kita kan makan malam" jawab Valeria.


Tangan Gavin terangkat dan menyingkirkan tangan Valeria yang berada di bahunya. Ia melepas genggaman tangannya dan mencoba untuk berdiri. Matanya menatap tajami Valeria. Ditatapnya mata Gavin. Valeria mengerti. Gavin sudah terlalu jauh mencintai Yuki. Kepedihan luka yang memancar dimatanya begitu menyilaukan. Tak ada lagi cahaya dimatanya. Binar mata yang selalu ia nampakkan kini telah tiada.


Gavin begitu sendu Dimata Valeria.


Direngkuhnya tubuh besar itu dan Valeria mengusap pelan punggung Gavin. Perlahan Gavin mulai merasa rileks. Terasa olehnya kalau Gavin berulang kali menghela nafas berat.


"Bukan Lo doang yang sedih disini. Tapi gua juga. Bukan Lo doang yang merasa hancur disini, tapi yang lain juga. Lo jangan putus asa" ujar Valeria.


"Gua ga bisa Vale. Gua merasa yang paling bersalah untuk semua ini. Gua merasa lemah" jawab Gavin sendu.


"Kita sahabat kan? Semua kesedihan dan luka, kita akan hadapi bersama. Jangan merasa kalau ini adalah yang terakhir buat Lo"


"Terimakasih Vale. Thanks for everything. You're my best friend, the real sister and the most kind than anyone else"


"Sekarang, Lo percaya sama gue. Maju terus kedepan. Ketika Yuki membuka matanya, ia akan begitu takjub dengan perubahan hebat yang lo lakukan demi dirinya"


"Okay Vale. Terimakasih"


"Lakukan semua itu dengan harapan cerah. You can do anything with your hands"

__ADS_1


__ADS_2