Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
6. Cakaran kucing?


__ADS_3

Apa?!!! Sejak kapan?"


🌸🌸🌸


"Memang sejak didirikannya taman ini, peraturannya sudah seperti itu. Ayo bayar sekarang dek" ujar pak penjual es krim.


"Yaudah saya ke ATM sebentar deh. Ini teman saya, saya titip dulu disini. Awas ya pak, dia suka ngilang terus kayak setan" ujar Gavin


"Heh! Enak aja main titip. Ngatain setan lagi. Ih Gavin ih" Yuki memukul lengan Gavin.


"Mending lu duduk disini. Diam. Jangan kemana-mana. Kalau ada yang ngajak ngobrol, jangan dijawab. Kalau perlu, jangan ditengok."


"Ah ga ah. Emangnya aku anak kecil apa?"


"Ett deh. Gua kan cuma nyuruh lu buat duduk disini. Tunggu gua disini selagi gua ke ATM buat ambil duit cash sebentar"


"Ga. Aku ga mau"


"Jangan egois dong Ki."


"Loh? Kok jadi aku yang egois? Kamunya aja yang ga teliti"


"Yaudah iya salah gua. Udah ah, lu diam disini. Jangan kemana-mana ya!" Gavin langsung membalikkan badannya hendak pergi meninggalkan Yuki.


"Ih Gavin jangan pergi" teriak Yuki.


"Terus, siapa yang mau bayar dong, hm?" Tanya gavin.


"Iya iya aku yang bayar" ujar Yuki dan langsung mencari dompet di dalam tas ranselnya.


"Emang anak kecil kayak lu punya duit?" Ledek Gavin. Lalu Yuki mengeluarkan uang 100 ribuan dan memberikannya kepada si penjual.


"Ada uang yang lebih kecil dek?"


"Ga ada. Semua uangku begitu semua" jawabnya.


"Yasudah, tunggu disini sebentar, saya tukar dulu uangnya ya" ujar si penjual.


"Eeh tidak usah pak" larang Yuki


"Eh? Jangan begitu dek, saya juga kan bertanggungjawab untuk mengembalikan uang adek yang lebih"


"Bapak ambil saja kembaliannya. Anggap saja, ini sebagai permohonan maaf dari saya karena tadi sudah bikin keributan. Maaf ya pak dan terimakasih " ujar Yuki dengan tulus.


Gavin tercengang dengan apa yang diucapkan Yuki. Ternyata Yuki memiliki sifat yang sangat tulus dibelakang sifat manjanya.


Lalu Yuki duduk disalah satu bangku kantin stand dan memakan es krimnya dengan damai. Yuki lelah karena berdebat panjang dengan Gavin.


Gavin langsung duduk didepan Yuki. Gavin heran dengan sifat Yuki, selalu ceria dan selalu positif thinking. Kalau Gavin jadi perempuan, dia juga takkan mau pergi berjalan-jalan di taman dengan dirinya sendiri.


Apa bagusnya Gavin? Terkadang kata kata seperti itu keluar begitu saja dari otaknya sendiri.


"Hei. Maaf soal tadi" ujar Gavin dengan perasaan bersalah.


"It's okay. Kadang setiap orang pasti pernah tak bisa menahan emosinya dan terus dengan sikap egonya"


"Oh iya, btw, kenapa lu pindah ke Greenedy?" Tanya Gavin.


"Oh itu... karena kakakku sedang mengerjakan proyek perusahaannya disini"


"ayah gua juga bilang, kakak Lo itu teman bisnisnya ayah gua"


"Oh ya? Berarti kamu anak pemilik yayasan?"


"Wah iya dong" jawab Gavin dengan nada sombong.


"Nanti kalau Lo ditanya sama ayah gua tentang masalah kita kemaren, Lo bisa bilang masalahnya selesai ga?" Lanjut Gavin.


"I don't know" jawab Yuki dengan nada mengejek.


"What? Lo ga bisa? Apa Lo masih marah karena kita ga muter muter kota?"


"Ahahaha bukan itu kok. Hm oke oke nanti gua pikirin lagi"


"Sebaiknya lu selesaikan masalah ini secepatnya. Karena gua ga mau lu kena masalah lagi gara gara dekat sama gua"


"Kalau ada masalah lagi, aku bisa kok ngatasinnya" jawab Yuki enteng.


"Kok Lo dibilanginnya gitu sih" Gavin mulai emosi lagi.


"Calm down vin. Tenang" Yuki mencoba untuk menenangkan Gavin. Tapi hasilnya, ia tak berhasil. Yuki berdiri dari duduknya.


"Udah ah. Muak gua dekat sama perempuan kayak Lo. Gua benci. Bye" Gavin meninggalkan Yuki dengan amarah yang meluap.


"Vin, Gavin, ini..." Ujar Yuki.


"Ketinggalan?"


Yuki hanya bisa menatap punggung Gavin yang lama - lama memudar dari pandangannya. Yuki menundukkan wajahnya. Ingin menangis rasanya. Apa Yuki seburuk itu?


"Huft, sulit sekali untuk mendapatkan teman yang sesungguhnya" batin Yuki. Teman sesungguhnya? Apa yang dimaksud Yuki?


🌸🌸🌸


Gavin keluar dari taman kota dan menuju sebuah minimarket. Gavin ingat bahwa ia harus mengisi ulang saldo kartu busnya. Gavin sudah kesal dengan Yuki. Sepertinya, Yuki sangat tidak suka mendengarkan perintah Gavin. Ah masa bodo dengan Yuki. Gavin sudah tidak peduli dengan gadis itu.


Gavin akhirnya tiba di sebuah minimarket yang letaknya agak jauh dari taman kota. Karena minimarket ini sepi, jadi Gavin langsung menuju kasirnya.


Setelah urusannya selesai, Gavin segera keluar dari sana. Tiba tiba hpnya bergetar di saku celananya. Gavin membuka ponselnya dan terdapat pesan baru dari... Valeria?


Valeria Geishani :


Hai Vin


Gimana jalan jalannya?


Are you have fun?


me :


It's not that fun


Valeria Geishani :


What's wrong?


Lo berantem sama Yuki?


me :


Ya sedikit


Valeria Geishani :


Tapi, Yuki sekarang masih sama Lo kan?


me :


Ga, gua tinggal dia di taman kota


Valeria Geishani :


Heh


Gila Lo!


Lo lupa sama mission kita hah?


me :


Ingat kok


Kenapa sih?


Valeria Geishani :


Tadi, pas gua mau pulang dari bandara, gua sengaja lewat taman kota. Terus gua liat Elise sama 2 orang temannya gitu disana.


Perasaan gua ga enak, jadi gua nanya sama lu.


me :


Beneran?


Valeria Geishani :


Iya lah. Ya ga mungkin juga gua bohong.


Cepet cari Yuki sampai dapat.


Kalau Yuki sampai kenapa - kenapa, besok gua hajar lu tanpa ampun!


me :


Dasar phsycopat


(Just read)


Gavin langsung memasukkan hpnya dan berlari dengan kencang ke arah taman. Apa benar Elise ada disana?


Shit.


Gavin terus berlari. Dan akhirnya sampai di depan taman kota yang ia kunjungi tadi. Gavin terus mencari Yuki kesana kemari. Tapi Gavin tak dapat menemukannya.


Dimana kau Yuki. Jangan buat gua babak belur gara gara kehilangan lu doang. Batin Gavin.


Gavin ingat dimana ia terakhir meninggalkan Yuki ditempat ini, yaitu stand es krim. Gavin langsung berlari lagi kesana.

__ADS_1


🌸🌸🌸


"Permisi pak" ujar Gavin pada penjual es krim tadi.


"Eh nak? Ada apa?" Jawabnya.


"Bapak tahu tidak, teman perempuan saya yang tadi duduk disini kemana pergi ya?"


"Perempuan?" Si penjual es krim pun mulai memutar otaknya.


"ingat ga?" Tanya Gavin lagi.


"Oh iya. Tadi dia baru saja pergi. Dia pergi ke arah sana, menuju pintu keluar taman"


"Oke, terimakasih pak"


Gavin langsung berlari ke pintu keluar taman. Mungkin karena ini sore hari, taman menjadi lebih ramai, dibandingkan saat Gavin dan Yuki datang, sangat tenang.


Gavin hampir sampai di pintu keluar taman. Taman kota ini terlalu luas. Gavin mencapai batasnya. Dia tak kuat lagi berlari. Gavin memutuskan berhenti sejenak, karena keringat telah membasahi bajunya juga.


Selagi Gavin Istirahat sejenak, dia memperhatikan dengan seksama orang - orang yang lalu-lalang lewat dihadapannya.


Akhirnya Gavin menemukan orang yang ia cari sedari tadi. Yuki. Dia ada di ujung sana sedang memperhatikan pepohonan kecil yang sepertinya baru tumbuh. Gavin mengenal tas ransel warna putih yang dikenakan Yuki. Gavin lantas berdiri dari duduknya hendak menghampiri Yuki.


Dan benar saja, dari kejauhan, Gavin bisa melihat Elise? Dia ada disini? Tapi kata Valeria, dia disini dengan dua orang temannya. Gavin melirik sekeliling Yuki. Ternyata temannya ada di belakang pohon yang tepat di depan Yuki. Dan sekarang Elise mencoba mendekati yuki.


Benar - benar nekat cewe satu ini. Apa rencananya kali ini? Batin Gavin. Dia langsung berlari secepat mungkin kearah Yuki. Gavin harus bisa mencegah Elise beraksi.


Elise menepuk pelan bahu Yuki. Yuki lantas menghadap ke belakang dan langsung tersenyum. Yuki berdiri menghadap Elise.


"Ikut gue sebentar yuk! Ada yang mau gue omongin" ujar Elise.


Yuki melangkahkan kakinya ke depan. Yuki mengenal Elise, karena Vale sempat memberitahunya agar tak dekat - dekat dengannya. Elise terkejut. Berani sekali perempuan ini, apa dia ingin melawan? Batin Elise.


Yuki terus berjalan dan langsung berlari kencang melewati Elise. Dengan sigap, Elise menahan lengan Yuki dengan kasar dan mencengkeramnya. Kukunya yang tajam sepertinya menusuk dan melukai lengan Yuki.


"Aww... Lepasin" berontak Yuki.


"Ga, ga bakalan gua lepasin, sebelum lu ikut gue sekarang"


"Sakit..." Rintih Yuki. Yuki menginjak kaki Elise dengan keras hingga dia pun melepas cengkeramannya di lengan Yuki. Yuki berlari menghampiri Gavin yang tengah berlari juga ke arahnya. Langsung dipeluknya Gavin seperti anak yang kehilangan ibunya. Air mata Yuki langsung berderai jatuh dari pelupuk matanya.


"Hiks... Sakit" rintih Yuki. Gavin terkejut ketika mendengar perkataan Yuki.


"Kebangetan ya Lo. Apa mau Lo sebenarnya hah?" Teriak Gavin.


"Gu gua ga sengaja Vin" ujar Elise terbata bata.


"Dengan jawab gagu begitu? Lu udah ketahuan bohongnya"


"Pergi Lo sekarang dari hadapan gua. Dan bawa antek - antek Lo. Muak gua sama Lo" Gavin mulai emosi.


"Gua ga bohong Vin! Dianya aja yang lebay" ujar Elise.


"Sebaiknya Lo pergi dari kehidupan gua. Karena apa? Lu mau tahu? Karena kalau ga ada Lo dan antek - antek sialan Lo itu, hidup gua ini jauh lebih damai. Ngerti ga Lo!?" emosi Gavin meledak.


"Vin, gua ga akan pergi dari sisi lo" ucap Elise tegas.


"Vin, jangan kayak gini dong. Gua ini sayang sama Lo. Dan Lo lebih mementingkan cewe yang ga tau asal - usulnya ini dibandingkan dengan gua. Dia ini hanya ganggu hubungan kita Vin." Ucap Elise dengan dramatis.


"Heh! Jaga ucapan Lo. Yuki lebih baik dari pada Lo. Dan Gua ga pernah punya hubungan dengan Lo ya. Sebaiknya Lo ga usah halu ketinggian" Gavin mengakhiri perkataannya dengan nada tinggi.


Gavin merangkul pundak Yuki dan membawanya pergi menjauh dari Elise. Isak tangis Yuki belum berhenti. Gavin jadi merasa lebih bersalah lagi.


Gavin menggiring Yuki agar duduk di bangku. Dia pun melepas rangkulannya setelah Yuki duduk. Gavin terkejut saat melihat telapak tangannya sendiri. Terdapat darah disana.


"Lo berdarah Ki. Mana yang luka?" Ujar Gavin mulai panik. Yuki malah menangis lagi setelah Gavin mengetahui keberadaan luka Yuki.


Dan untungnya Gavin selalu membawa plester di tasnya. Gavin langsung memakaikannya di lengan Yuki. Luka di lengan Yuki, seperti luka cakaran binatang buas. Gavin menghabiskan 4 plester untuk menutupi seluruh luka Yuki yang panjang. Gavin tersenyum hangat ketika air mata Yuki berhenti mengalir. Mungkin Yuki menangis sejak tadi karena menahan sakit.


"Hei, mau cerita?" Ujar Gavin pelan. Dan Yuki menggelengkan kepalanya.


"Oke. Nanti saja ceritanya. Lo tinggal dimana? Biar gua anter Lo pulang" tanyanya lagi.


"Hm, aku tinggal di daerah sunshine" akhirnya Yuki membuka suaranya juga. Gavin merasa lega.


"Oh, berarti kita searah dong. Ayo kita pulang" ajak Gavin. Mereka pun langsung pergi ke halte bus yang mengarah ke stasiun kereta.


🌸🌸🌸


"Kenapa berhenti?" Tanya Yuki sambil menoleh kebelakang.


"Ini gedung apartemen gua. Lo tinggal dimana?" Jawab Gavin.


"Aku tinggal di komplek perumahan"


"Gua antar yuk"


"Ga usah Vin. Aku udah kabarin Felix untuk jemput kok"


"Oh gitu. Mau nungguin di dalam?"


Mereka pun masuk ke gedung itu dan memasuki lift. Gavin hanya memerhatikan Yuki yang sedang bercermin. Memang di lift ini, bagian kanan dan kiri dinding lift terdapat cermin panjang. Cermin merupakan benda kesukaan wanita sepertinya. Apalagi kalau cerminnya panjang yang dapat memantulkan bayangan dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Vin ayo kita foto" ujar Yuki.


Ting


Pintu lift tiba - tiba terbuka. Ternyata mereka sudah sampai di lantai 10. Lagi - lagi, Gavin meninggalkan Yuki di dalam lift seperti pagi ini. Yuki menggeram kesal.


"Hah. Dasar cowo es ga peka" gerutu Yuki pelan.


"Gua bisa dengar yaa" ujar Gavin sambil mencoba membuka pintu apartemennya.


"Oke. Masuk!" Ujar Gavin menarik tangan Yuki agar ikut masuk kedalam.


Gavin melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahannya. Gavin membuka lemari sepatunya dan mengambil satu sandal berbulu untuk Yuki. Sandal itu merupakan milik adik Gavin, Sena. Untuk berjaga - jaga kalau adik imutnya datang berkunjung.


Tanpa diperintah, Yuki langsung duduk di sofa dan memposisikan tubuhnya tidur tengkurap disana. Lelah rasanya.


"Vin, mau minum dong" ujar Yuki.


"Heh. Ada juga ya, kalau yang namanya tamu tuh kalau belum disuruh duduk, dia ga bakalan duduk. Eh ini malah tiduran seenaknya, langsung minta bawain minum lagi" sindir Gavin. Yuki malah tertawa cekikikan.


"Mau minum apa?"


"Milk tea!"


"Ini bukan kafe. Jadi, sorry aja"


"Bilang aja ga tau cara buatnya, kan?" Ledek Yuki, dia pun bangun dari tidurnya dan menghampiri Gavin di dapur. Gavin sedang menggenggam cangkir ditangannya.


"Punya teh, gula, sama susu?" Lalu Gavin menganggukkan kepalanya.


"Jadi gini loh bikinnya, masukin gula dan teh instan lalu kasih air panas sedikit. Aduk sampai rata. Terus masukin susu sekiranya cukup aja. Aduk lagi deh. Terus angkat dan buang teh celup tadi. Lalu masukan air dingin dan es batu. Dan selesai deh! Gampang kan?" Ujar Yuki sambil mempraktekkannya. Dan Gavin hanya ber'o'ria.


"Cobain deh" Yuki menyodorkan cangkir milk tea uang tadi ia buat. Dan Gavin mencobanya karena penasaran.


"Enak kan? Jadi ga usah ke kafe kalau cuma mau buat ini" ujar Yuki bangga.


"Yaudah sekarang, kamu buatin aku milk tea ya" lanjutnya.


"Eh? Kan tadi Lo udah bikin?"


"Tapikan kamu yang minum, lagian mana ada, tamu yang bikin minumannya sendiri. Ga ada Vin" ledek balik Yuki. Lalu Yuki keluar dari dapur.


"Ahahahahahahaha..." Tawa jahat Yuki.


Kemana ekspresi Yuki yang menangis tadi. Huh, cepat sekali dia dapat tertawa dan meledek Gavin yang ganteng dan most wanted boy di sekolah ini. Heh, hebat.


Tak lama kemudian, Gavin keluar dari dapur dengan membawa secangkir milk tea buatannya.


"Nih" ujar Gavin.


"Wow. Cepet banget Vin" ujar Yuki terkejut. Yuki menerima cangkir yang di bawa Gavin dan langsung meminumnya.


"Mm ini enak banget"


"Syukurlah kalau enak" Gavin mengusap kepala Yuki sampai rambutnya berantakan.


"Ih Vin rambut aku. Aku ga bawa sisir"


"Cari sana di kamar gua. Gua mau mandi. Lo tunggu Felix disini aja. Kalau mau pergi, Lo teriak aja ga usah nungguin gua" ujar Gavin.


"Oke, siap bos" Yuki mengangkat tangannya dan hormat kepada Gavin. Gavin tersenyum tipis melihat kelakuan Yuki dan melenggangkan kakinya menuju kamar mandi.


🌸🌸🌸


"Yuki... Lo dimana? Udah pulang belum?" Teriak Gavin yang keluar dari kamarnya sambil menggosokkan handuk di rambutnya yang basah. Gavin mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemennya. Ternyata Yuki sudah tertidur di sofa. Cepat sekali dia tidur.


Gavin mengambil selimut cadangan di lemari pakaian dan menyelimuti tubuh Yuki. Gavin duduk dilantai, memperhatikan wajah tidur Yuki.


Cukup imut. Batin Gavin.


Tiba - tiba ponsel Yuki berdering. Gavin melihat siapa yang menelepon Yuki. Dilayar ponselnya tertera nama "Felix Siauw Zen". Apa itu 'felix' yang waktu itu ia temui? Entahlah. Dia pun menekan tombol hijau untuk menerima telpon dan berjalan menjauhi Yuki yang tertidur pulas.


"Halo?"


"Yuki ada dimana kau? Aku sudah ada seberang gedung yang kau maksud, apa kamu bisa nyebrang aja. Ribet kalau aku harus memutar balikkan mobilnya"


"Oh maaf. Ini Gavin Gerald yang sedang bicara"


"Eh? Gerald? Oh, ah iya, iya. Apa Yuki bersamamu?"


"Ya, sekarang dia tertidur di apartemenku bisa kau jemput kesini? Dilantai 10"


"Oh baik tuan Gerald. Aku akan kesana Sekar..."

__ADS_1


BIP


Ponsel ditutup secara sepihak oleh Gavin. Dia sangat tak suka dengan orang yang memanggilnya dengan sebutan 'tuan Gerald'. Dia benci harus dihormati seperti itu, padahal kan Gavin tak berbuat apapun. Itu hanya karena ayahnya yang memiliki bisnis diberbagai bidang, bukan berarti Gavin juga harus dihormati secara berlebihan seperti itu.


🌸🌸🌸


Tingtong


Cklek


"Selamat sore tuan Gerald. Bisa saya membawa Yuki sekarang?" Ujar Felix yang berada di depan pintu.


"Jangan panggil gua pake 'tuan'. Gua ga setua itu. Dan ga usah formal juga" ujar Gavin malas. Felix hanya menganggukkan kepalanya dan ikut masuk kedalam.


Ketika mereka sampai di ruang tamu, Gavin menunjuk Yuki yang tengah tertidur di sofa dengan telunjuknya tanpa mengeluarkan suara. Felix tersenyum lebar ketika melihat Yuki yang sepertinya sangat kelelahan.


Sebenarnya apa yang ia lakukan hari ini sampai tertidur seperti itu. Batin Felix.


Felix langsung mengangkat tubuh Yuki, menggendongnya menuruni gedung ini dengan lift. Gavin membantu Felix membawakan tas Yuki. Gavin bingung, Yuki sampai tak bangun ketika ia dipindahkan dari lantai 10 ke lantai dasar? Aneh.


"Tolong bukakan pintunya cepat. Disini sangat berisik" ujar Felix. Dan Gavin menurut saja. Felix menidurkan Yuki di jok belakang dan menutup pintu mobil dengan pelan. Felix memperlakukan Yuki seperti anaknya sendiri menurut Gavin.


"Terimakasih Gavin atas bantuannya" ujar Felix.


"Ya, sama - sama"


"Maaf sebelumnya, kalau boleh tau, luka apa yang ada di tangan Yuki sampai harus menggunakan plester sebanyak itu?" Tanya Felix seperti menginterogasi.


Deg. Gavin terkejut. Harus jawab apa dia. Apa dia akan jujur atau harus berbohong. Oke, kalau berpikir dengan cara Yuki, Yuki akan memilih...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Berbohong.


"Uhm, iya itu tadi dia terkena cakaran kucing ditaman kota" jelas Gavin dengan sekali tarikan nafas.


"Cakaran kucing? Ini tidak seperti biasanya. Biasanya kucing apapun akan bersikap baik pada Yuki, karena dia penyuka kucing. Kucing seperti apa yang sampai mencakarnya?" Felix mulai bingung.


Shit. ****** gua. Mana ngerti gua tentang kucing. Batin Gavin.


"Iya itu, uhm, kucing liar! Iya kucing liar. Tapi tenang saja, gua sudah mengoleskan antiseptik ke lukanya. Dijamin, Yuki ga bakalan kena demam deh" jawab Gavin dengan segenap jiwa penuh keraguan. Apa Felix akan percaya?


Felix masih diam. Sepertinya apa yang dikatakan Gavin tak masuk diakal. Gavin mulai berkeringat.


"Ah begitukah? Baiklah. Sekali lagi terimakasih Vin" Felix tersenyum dan hendak akan pergi, namun ditahan oleh Gavin.


"Tunggu!" Tahan Gavin.


"Ada apa Vin?"


"Apa benar Yuki keluar dari rumah sakit subuh tadi?"


"Subuh? Tidak. Yuki keluar jam 8 pagi tadi, lalu pulang kerumah untuk menyiapkan keperluan sekolahnya dan langsung berangkat. Ada masalah?"


"Oh, tidak ada. Pergilah sekarang"


"Ahaahahaha baiklah. Sampai jumpa" Felix pun masuk kedalam mobilnya dan menginjak pedal gas meninggalkan apartemen Gavin.

__ADS_1


Satu hal yang Gavin tahu hari ini. Yuki berbohong padanya. Seharusnya Gavin tak membawanya ke taman kota hari ini, mereka bisa pergi besok saja kalau ia mau. Tapi Yuki? Dia terlalu bersemangat. Menurutnya, hal menyenangkan tak bisa ditunda.


Hari yang benar - benar melelahkan.


__ADS_2