Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
17. Dingin, tapi konyol


__ADS_3

"Yuki!!!" Valeria membulatkan matanya terkejut melihat Yuki terkapar di tanah.


"Andro! Cepat bantu Yuki!"


"Ada apa ini?" Tanya Andro dengan panik.


"Yuki pingsan! Gua juga ga tau kenapa" Vale sedikit mengeluarkan air matanya karena panik, takut Yuki kenapa - kenapa.


Dengan sigap, Andro membopong Yuki dan berlari menuju UKS. Gavin yang juga terkejut pun langsung mengambil tasnya dan tas Yuki, kemudian ikut berlari menyusul Valeria dan Andro.


"Minggir!" Pekik Valeria dengan suara nyaring.


"Budeg ya Lo semua!? Ini darurat bukannya minggir malah jadi patung di tengah jalan" pekik Andro yang membuat semua orang yang ada di lorong pun ikut terkejut dan langsung menyingkir dari jalan. Untunglah UKS sekolah ini ada yang dilantai 4 dan lantai 1, jadi mereka tak usah bersusah payah naik lift.


Saat sampai di depan UKS, mereka langsung masuk dengan sangat panik. Andro juga langsung membaringkan tubuh Yuki di atas bangkar. Dokter sekolah langsung masuk tergesa-gesa karena memang ia baru datang.


"Ada apa ini?" Tanya dokter yang sedang mengeluarkan stetoskop miliknya.


"Saya ga tahu dok. Tiba - tiba dia pingsan setelah turun dari mobil" jelas Valeria.


"Hah? Dia mabuk kendaraan?"


"Itu tak mungkin"


"Lalu apa ini? Mukanya pucat dan keringat dingin terus mengalir. Sepertinya dia mengalami shock" ujar dokter yang masih memerhatikan Yuki yang terbaring lemah. Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Andro langsung menatap Gavin dengan perasaan curiga. Ia pun segera menyeret Gavin keluar UKS.


Sepertinya ada yang tak beres disini. Batin Andro.


"Katakan! Apa yang barusan Lo perbuat" Andro mulai intimidasinya.


"Astaga Ndro! Ini bukan salah gua!" Ketus Gavin.


"Lalu salah siapa? Kalau Yuki sudah sakit dari rumah, seharusnya lu jangan biarin dia masuk sekolah dong. Mikir pakai otak!" Balas Andro.


"Sekarang gini aja deh. Lu cerita, ntar gua bantuin. Lo tahu sendiri kan, Vale bisa ngamuk kalau Yuki kenapa - kenapa gara - gara Lo." ucapnya lagi.


"Ck, tadi itu, gua cuma nasihatin dia untuk jangan marahan sama kakaknya terlalu lama. Terus, di bilang gua aneh lah, ga bener lah, dan yang lebih parahnya lagi, Yuki barusan anggap gua sebagai penjahat yang nyamar jadi gua sendiri. Gila ga tuh!?" jelas Gavin.


"Terus?" Ujar Andro masih penasaran.


"Ka-karena ekspresi dia lucu, gua kerjain aja sekalian" Gavin mulai menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ragu dan malu sebenarnya untuk mengakui ini pada Andro.


Huh, Andro menghela nafas berat dan menggeleng - gelengkan kepalanya. Lelah dengan tingkah Gavin yang konyol. Si kulkas kita ini memang aneh. Dingin tapi konyol. Itulah yang bisa mendeskripsikan diri Gavin sendiri.


Pletaakk


"Gila Lo!" Ketus Andro. Tapi Gavin malah menghindari tatapan tajam dari Andro.


"Sakit Ndro!" Gavin mengusap keningnya yang tadi di pukul oleh Andro.


"Yaudah sekarang kita masuk lagi aja. Siapa tau, Yuki udah bangun" Andro menyeret lagi tubuh Gavin masuk lagi ke dalam UKS.


Dan benar saja, Yuki sekarang sudah terbangun dari pingsannya tadi. Tapi, keadaan Yuki sepertinya malah lebih parah dari yang sebelumnya. Air mata terus mengalir deras dari pelupuk matanya sambil memeluk Valeria dengan erat.


"Hiks, hiks, Vale... Gavin" racau Yuki tak jelas.


"Hei, tenanglah. Apa yang terjadi?" Tanya Vale lembut.


"Yuki.." panggil Andro.


Yuki pun sedikit menegakkan kepalanya yang tadi tersandar di bahu Vale dan menatap Andro. Yuki langsung membelalakkan matanya saat melihat Gavin yang sedang berdiri di belakang Andro dengan raut wajah biasanya, datar. Tak ada raut wajah rasa bersalah. Huh! Dasar Gavin.


"Gavin!?" Ujar Yuki. Cewek ini pun langsung melepas pelukannya dengan Vale dan langsung turun dari kasur. Yuki berlari, terburu-buru menghampiri Gavin dan langsung memeluk Gavin dengan erat.


"Gavin.." lirih Yuki pelan. Gavin yang mendengar Yuki pun langsung membalas pelukan Yuki, merengkuhnya dengan lembut dan mengusap punggung Yuki pelan. Setelah beberapa saat kemudian, Yuki akhirnya melepas pelukannya dan mundur selangkah kebelakang.


"Berhentilah mengeluarkan air mata" ujar Gavin sambil mengusap air mata Yuki dengan ibu jarinya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Yuki


"Dengerin gua Ki" Gavin meletakkan kedua tangannya di bahu gadis ini sambil menatap matanya.


"Se-sebenarnya tadi tuh.."


"Apa? Tadi kenapa? Kalau ngomong tuh yang jelas" ujar Yuki yang sedikit menaikkan volume suaranya.


Aduh. Kenapa gua jadi ragu gini sih. Batin Gavin.


"Apa? Apa Vin? Tadi kena--"


"Tadi itu gua cuma ngerjain Lo doang! cuman bercanda!" Sela Gavin.


"So, that was just kidding?" Tanya Yuki tak percaya.


"I-iya"


Tiba - tiba, wajah Yuki berubah datar dan mundur menjauh sedikit dari Gavin. Gavin juga melepaskan tangannya yang tadi ada di bahu Yuki. Sedangkan Andro dan Vale, Mereka hanya memerhatikan Yuki dan Gavin sedari tadi dari kejauhan.


"Yuki, maaf" ujar Gavin yang akhirnya mengaku salah.


"Cih" umpat Yuki sambil menoleh ke samping. Sepertinya Yuki yang tadi melow, sekarang menjadi sangat kesal.


"Yuki, tak baik berdecak seperti itu saat ada yang meminta maaf" ujar Valeria.


"Orang seperti itu, tak pantas mendapatkan maafku" sinis Yuki.


"Yuki! Lo ngerti ga sih!? Gua ini udah berusaha minta maaf sama Lo!" Gavin mulai tak bisa menahan amarahnya.


"Kamu yang ga ngerti!" Ujar Yuki tak mau kalah.


"Apa yang ga gua ngerti!?"


"Kamu ga ngerti! Rasanya kehilangan orang yang kita sayang!" Pekik Yuki yang berhasil membuat Gavin, Andro dan Vale terkejut. Air mata Yuki juga terus mengalir kembali. Keheningan pun terjadi. Yang ada hanya suara Isak tangis Yuki. Gavin menundukkan kepalanya, ia semakin merasa bersalah.


"Yuki, maafin gua ya" ujarnya lagi dan Yuki diam tak menjawab.


"Oh, atau lu mau sesuatu dari gue? Lo mau apa? Semua kemauan Lo gua turutin, asal Lo mau maafin gue ya?" Gavin mulai mencoba rayuannya. Berhasil ga?


"Apapun?" Yuki mengusap kasar matanya untuk membersihkan sisa air matanya tadi.


Gavin mengangguk dengan cepat. Yuki tersenyum dan mulai berjalan mendekati Gavin. Dan..


BUGHH


"Auuhkkhh"


Yuki mendaratkan pukulan tinjunya tepat di perut Gavin. Gavin terus memegang perutnya dan membungkuk kesakitan. Andro dan Vale yang sedari tadi melihat pertengkaran mereka pun membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang barusan Yuki perbuat.


Ini gila! Sungguh gila.


"Ku maafkan kau kali ini" ujar Yuki yang berlalu meninggalkan ketiga temannya di UKS sambil membawa tasnya.


"Vale, tolongin gue" lirih Gavin yang nampak kesakitan.


"Lo pantas mendapat ini. Soalnya, Lo udah jarang dihukum, sekalinya kena hukuman, sakitnya kebangetan." Jawab Vale yang ikut meninggalkan mereka di UKS. Karena bel pelajaran ke 2 sudah berbunyi. Mereka melewatkan 1 pelajaran hanya karena ulah Gavin. Konyol sekali.


"Ayo Vin, gua bantuin" ujar Andro sambil mencoba membantu Gavin untuk berdiri.

__ADS_1


"Heh, dramatis banget sih kalian" ujar dokter yang ternyata masih ada sejak tadi.


"Eh? Pa-pak dokter? Kok masih disini?" Ujar Andro terkejut.


"Saya kan memang sudah seharusnya di UKS. Wajar dong"


"Maaf pak, teman saya jadi buat keributan disini. Padahal ini kan UKS"


"Gapapa, lagian dari tadi juga ga ada yang sakit kok. Santai saja"


"Terimakasih pak"


🌸🌸🌸


11.45 a.m.


Yuki masih diam


Yuki terus diam


Diam


Diam lagi


Diam terus


Gavin jadi jengah melihatnya. Padahal Gavin sudah meminta maaf tadi dan Yuki juga sudah memukul perutnya tadi. Apa itu kurang? Sekarang jam istirahat makan siang dan Yuki masih berkutat dengan buku catatannya. Apa buku catatan semenarik itu? Gavin rasa tidak. Sepertinya Yuki menyibukkan diri hanya untuk menghindari Gavin.


Dreeek


Yuki memundurkan kursinya dan berdiri. Gavin pun langsung menoleh. Berharap Yuki akan berbicara padanya. Tapi tidak. Yuki malah pergi keluar kelas tanpa basa-basi terlebih dahulu. Itu bukan Yuki banget.


Gavin jadi penasaran. Mau kemana Yuki? Gavin pun berdiri dan berniat mengikuti kemana Yuki pergi.


"Mau kemana Lo?" Tanya Valeria dan Gavin memberhentikan langkahnya, tetapi matanya tetap memerhatikan arah pergi Yuki.


"Iya mau ngikutin Yuki lah" cerocos Andro.


"Oh, yaudah gih. Tapi jangan lama-lama. Kita tunggu di kantin" ujar Vale dan Gavin pun melanjutkan kembali langkahnya.


Aduh, Lo mau kemana sih? Batin Gavin.


Gavin terus mengikuti Yuki dari belakang. Jaraknya sih lumayan jauh, tapi masih bisa terlihat kok. Tenang.


Ternyata Yuki malah masuk ke dalam toilet. Dan itu toilet wanita. Mana bisa Gavin masuk kesana. Ahh, putus asa rasanya. Gavin juga jadi canggung saat melihat ada cewe yang keluar dari toilet wanita ini dan Gavin berdiri tepat di depan pintu. Oke, akhirnya Gavin memutuskan untuk berdiri di samping pintu. Menunggu Yuki keluar.


5 menit kemudian,


"Kyaahh" pekik Yuki terkejut mendapati Gavin sedang berdiri tepat di samping pintu toilet wanita.


"Apa yang kau lakukan disini!?"


Ahh, akhirnya nih cewe ngomong juga sama gua. Batin Gavin yang malah tersenyum miring.


"Ayo" Gavin menggandeng tangan Yuki menuju lift. Yuki berusaha melepas tangannya, tapi tenaga Gavin lebih kuat. Yuki pasrah. Terserah. Bodo amat. Tapi, ini sedikit canggung. Bagaimana tidak, mereka sekarang sedang menjadi tontonan gratis di lorong sekolah.


"Vin, lepasin!" Ujar Yuki, tapi Gavin malah terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh pada Yuki.


Aduh, tolong sembunyikan wajahku ini. Batin Yuki.


🌸🌸🌸


"Hei Vin, kenapa harus bergandengan seperti itu" tanya Louis sedikit meledek.


Yuki pun langsung menarik tangannya yang sedari tadi di genggam Gavin. Tangannya jadi berkeringat. Ia tak memperdulikan Yuki yang masih berdiri dan duduk di kursi, dan langsung menyantap makanannya.


"Nih" Vale memberi sepiring nasi dengan ayam goreng sebagai lauknya.


"Thanks Vale" ujar Yuki tanpa senyum kali ini.


Mereka pun mulai memakan makan siang mereka dengan lahap. Takut bel masuk berbunyi kembali. Yuki jadi lebih banyak melamun dan diam. Tak ada senyum, tawa dan keceriaan yang biasanya bertebar di sekitar Yuki. Dan yang lebih mengganjal lagi, Yuki kini duduk di antara Andro dan Vale, Yuki tak duduk di samping Gavin. Mereka hanya berhadapan.


"Olivia mana Is? Kok ga diajak makan bareng kita?" Tanya Andro memecah keheningan di antara mereka.


"Dia lagih makhan hiang hama junioy cheeyleadey nya" jawab Louis dengan mulut penuh makanan.


"Telen dulu Is, baru ngomong" ujar Vale takut Louis tersedak.


"Ghua ga bakalam uhhuuk uhhuukk" Louis tersedak.


"Nih! Ngeyel sih dibilanginnya" Yuki akhirnya membuka suaranya sambil memberikan Louis minum.


Glek glek glek..


Louis minum dengan cepat. Yuki jadi ragu melihatnya. Takut Louis tersedak air minum. Heh, Louis si tukang tersedak.


"Ahh, thanks Ki" Louis menghela nafas dan bersandar di bahu Gavin.


"Minggir ah, jijik gua" ketus Gavin sambil menoyor kepala Louis.


"Astaga Vin, cuman nyender doang. Pelit bangett" Louis kesal.


"Ck, udah dong. Lama - lama kalian tuh nanti jadi berantem lagi" ujar Valeria yang tak tahan melihat tingkah Louis. Tingkah Louis kali ini bisa memancing pertengkaran, dan sebaiknya di hentikan dari sekarang.


"Gua bayar makanan dulu, awas aja kalo sampai gua denger lu semua berantem lagi, gua tempeleng kepala lu satu - satu" ancam Valeria.


Setelah memastikan Vale sudah pergi menjauh, mereka pun menghela nafas lega. Valeria benar - benar mudah sekali marah.


"Ndro, bini Lo serem juga" ujar Louis.


"Emang bini Lo ga serem Is?" Tanya Andro.


"Iya kagak lah. Bini gua mah adem banget malah. Kalem nan lembut" jawab Louis yang membanggakan pacarnya. Yuki pun berdiri hendak meninggalkan temannya.


"Mau kemana Ki?" Tanya Louis.


"Ke kelas" Yuki menjawab singkat.


"Ntar dulu Ki, kita ke kelas barengan aja" ajak Louis. Tapi Yuki tak menjawab dan malah berlalu pergi. Dan bukannya bertindak, Gavin malah diam memerhatikan tingkah Yuki.


"Yuki kenapa?" Tanya Louis.


"Tanya aja noh sama si kulkas" Andro menunjuk Gavin menggunakan dagunya.


"Vin?"


"Ck, iya salah gua"


"Bukan itu Vin!" Pekik Louis.


"Apa sih? Ga usah teriak"


"Bukannya Lo kejar, malah diam aja sih!"


"Kalo gua kejar, yang ada Yuki tuh malah makin marah sama gua"


"Louis bener kok Vin, kejar sana"

__ADS_1


"Ga!"


"Yaudah sih kejar aja, perasaan gua ga enak" ujar Valeria yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Gavin pun berdiri dan berlari untuk mencari Yuki. Ia jadi teringat tentang Elise. Semoga Yuki tak bertemu dengan si cabe Elise.


🌸🌸🌸


Gavin's POV


Aduh, Yuki, Lo dimana? Jangan bikin gua takut. Jantung ini terus berdebar. Sepertinya, apa yang di katakan Valeria ada benarnya juga. Gua berusaha positif thinking, tapi ga bisa.


Gua naik lift supaya lebih cepat sampai. Lantai 4 yang sekarang gua tuju. Semoga Yuki sudah sampai dikelas.


Ting


Pintu lift terbuka di lantai 4 dan gua pun langsung berlari keluar. Dan yang benar saja, dari kejauhan, gua bisa liat Yuki yang sudah mematung di hadapan Elise dan ketiga temannya atau lebih tepatnya bisa kita sebut sebagai 'bawahan Elise'. Dan mereka ada di ujung lorong.


Gua langsung berlari kencang ketika Elise mengangkat tangannya. Sepertinya dia hendak memukul Yuki. Ini tak bisa di biarkan.


Pakh


Ah, gua berhasil nahan tangan nih cabe, dengan cepat gua tarik tangannya hingga dia hampir terjatuh. Hampir kok. Kan ada bawahannya di belakang yang siap tangkap majikannya.


"Ga-gavin? Ha-hai sayang. Kamu ada perlu apa sama aku?" Ujar si cabe yang sok kecantikan dengan ucapan yang terbata-bata. Cih, Menjijikan sekali.


"Pergi sekarang atau lu gua seret sekarang ke ruang BK" akhirnya Elise bersama ketiga bawahnya berlari meninggalkan kami berdua.


"Yuki, Lo gapapa kan?" Ujar gua sambil mengecek Yuki. Yuki hanya menggeleng dan menunduk


"Ki, jangan diam begini, gua ga ngerti"


"Hiks" Yuki tak menjawab, yang terdengar hanya suara Isakan Yuki pelan. Gua pun memeluk Yuki pelan. Menyalurkan kehangatan padanya. Air mata Yuki semakin deras.


"Bicaralah. Gua ga ngerti kalo Lo kayak gini terus"


Yuki malah dorong gua dan melepas pelukan. Dia tetap menunduk. Tak berani menatap. Ada apa dengan gadis ini?


"Menjauhlah dari ku" lirih Yuki.


Apa yang barusan dia katakan? Apa sih? Gua ga ngerti sumpah.


"Apa maksud Lo?"


"Hiks, aku telah membuat banyak masalah di hidup kamu Vin. Tolong jauhin aku"


"Apa sih Ki? Kita itu temenan. Kan lu sendiri yang bilang kalo gua ini teman pertama Lo! Gua temenan sama Lo ini tulus Ki!"


Gila nih cewek. Pikirannya udah ga bener. Sebenarnya apa sih yang tadi di katakan Elise padanya.


"Maaf Vin. Aku udah bikin banyak masalah buat kamu" ujarnya lagi.


"Lo bikin masalah? Masalah apa? Ki, kita ini sahabatan! Kalo ada masalah tuh bisa kita selesaikan bersama. Jangan nyuruh gua untuk menjauhi Lo!"


"Hiks hiks hiks"


"Jawab Ki! Jawab!" Tuh kan gua jadi kebablasan bentak dia.


"Karena aku, mobil kamu jadi disita. Karena aku, kamu jadi kesusahan pas nyiapin party buat Sena. Dan karena aku, kamu jadi harus bolos ekskul basket karena jenguk aku yang lagi sakit, padahal kan junior kamu mau tanding"


"Gila Lo Ki!"


"Dan karena aku juga, perut kamu jadi sakit karena aku pukul tadi pagi"


Yuki terhuyung ke bawah dan berakhir duduk di lantai. Tak kuat berdiri menghadap gua saat ini. Tangis Yuki semakin menjadi. Gua pun ikut mensejajarkan diri dengan Yuki.


"Hei, dengar Ki" ujar gua pelan dan Yuki malah menggelengkan kepalanya.


"Dengerin gua sekali Ki! Sekali doang!" Gua bentak dia lagi dan menakup kedua pipinya agar dia menatapku.


"Kenapa Lo bisa mikir kayak gitu?"


Yuki tak menjawab dan memalingkan matanya ke arah samping. Oke, dia ga mau jawab pertanyaan dari gua.


"Karena Elise ya?" Yuki tetap diam


"Kenapa Lo bisa - bisanya bawa masalah kayak gitu sih Ki? Mobil gua disita itu karena gua yang pulang telat abis balap liar waktu itu sebelum ketemu sama Lo"


"Pas party Sena juga, Lo kan bantuin gua buat nyiapin party. Lo yang masak semua hidangan malam itu. Dimana letak kesalahan Lo? Dimana!?"


"Aku udah pukul kamu tadi pagi. Pasti sakit kan?"


"Astaga Ki! Gua pantas dapat itu! Dan gua anggap itu impas, karena gua udah ngerjain Lo di jalan tadi pagi. Justru gua yang harusnya minta maaf sama Lo!"


"Maaf Vin. Maaf" lirih Yuki lagi dan air mata membanjiri pipinya lagi.


"Please jangan minta maaf lagi"


Gua ga kuat liat Yuki yang air matanya semakin banjir. Langsung gua rengkuh tubuhnya kembali. Kali ini dia tak menolak. Oh astaga, apa yang barusan terjadi, tidak boleh terjadi kembali.


Setelah tangis Yuki mereda, akhirnya gua melepas pelukannya dan mengusap mata Yuki yang sembab dengan sapu tangan.


"Balik ke kelas yuk" ajak Yuki.


"Gausah"


"Eh? Kenapa?"


"Bel masuk udah bunyi dari tadi. Sebentar lagi juga pulang kok" Yuki langsung melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 13.30, setengah jam lagi juga bel pulang akan berbunyi.


"Ups, sorry Vin" ujar Yuki dengan wajah malu. Imut sekali.


"Gua udah bilang, jangan minta maaf Ki!"


"Oke oke" ujar Yuki seraya tersenyum lebar. Ah akhirnya senyum tercetak di wajahnya. Lega rasanya.


Akhirnya, gua sama yuki memutuskan untuk membolos pelajaran terakhir karena udah nanggung banget kalo masuk sekarang.


Gua antar Yuki ke toilet untuk mencuci mukanya, supaya tidak terlalu terlihat sehabis menangis. Tapi tenang, gua ga masuk kok, cuman di depan pintunya aja. Lagian, sekarang kan masih jam pelajaran dan toilet pun sepi.


Setelah mengantar dari toilet, gua dan Yuki pun pergi ke kelas untuk mengecek keadaan kelas. Ternyata kelas sudah agak sepi. Sepertinya guru yang mengajar hari ini sudah keluar sebelum bel pulang berbunyi. Dan di dalam kelas, ada Valeria yang sedang memainkan ponselnya.


"Aduh, ada yang udah baikan nih. Enak kan liatnya. Adem" ujar Valeria berjalan menghampiri kami.


"Andro mana?" Tanya Yuki sambil melirik ke belakang Vale.


"Dia udah ke ruang OSIS. Kelas juga udah sepi dari tadi. Ini gua baru aja mau telpon lu Vin" jawab Vale sambil mengangkat ponselnya.


Gavin's POV end πŸ”–


🌸🌸🌸


Kini Gavin dan Yuki sedang berada di dalam mobil dan siap untuk pulang.


"Lo baikan gih sama kakak Lo" ujar Gavin yang sedang serius memundurkan mobil dari parkiran.


"Ga mau!"

__ADS_1


"Hah!?"


__ADS_2