Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
18. baikkan yuk


__ADS_3

"hah!?"


"Ga boleh gitu Ki!"


"Kesel Vin keseel!"


"Baikkan Itu ga selamanya si pembuat masalah yang minta maaf. Bisa aja yang minta maaf duluan itu Lo. Ga ada salahnya, ga beda jauh kok" ujar Gavin meyakinkan Yuki.


"Mustahil"


"Coba dulu"


"Oke oke aku coba" Yuki pasrah.


"Sekarang kita ke rumah Lo nih?"


"Ke kantor kak Zen aja. Dia pasti masih di kantor kali jam segini"


Gavin pun memutar arah mobil yang mereka tumpangi ke arah kantor Zen.


🌸🌸🌸


Sesampainya di depan kantor Zen, Yuki mengarahkan Gavin untuk tidak ke basemen, melainkan langsung ke depan pintu masuk. Ternyata saat mobil Yuki berhenti di depan pintu masuk, ada seorang satpam yang berlari ke arah mobil dan membukakan pintu mobil untuk Yuki seraya tersenyum lebar.


"Selamat datang non" ujar satpam itu.


"Jangan panggil nona, Yuki aja sih" gerutu Yuki.


"Eh iya Yuki, maaf saya lupa"


"Ayo Keluar Vin, kuncinya biarin aja nempel" Yuki membuka pintu mobil untuk Gavin dan ia pun keluar dari mobil.


Kali ini, Gavin yang berjalan mengekori Yuki dari belakang. Mungkin karena Yuki lah yang mengetahui tempat ini. Sebagai tanda minta maaf, Gavin akan menemani Yuki berbicara pada kakaknya. Semoga kak Zen dapat mengerti dan masalah antar kakak beradik ini cepat selesai.


Ketika mereka berjalan melewati lobi kantor, banyak karyawan yang berhenti sejenak dari kegiatan mondar mandirnya hanya untuk membungkuk hormat pada Yuki. Sepertinya Yuki sangat mereka hormati. Atau mungkin karena Yuki adalah adik dari pemilik perusahaan?


Mereka memasuki lift dengan pintu yang memiliki corak berbeda dengan lift lainnya. Ada sekitar 8 lift di bangunan ini. Gila sekali. Dan 1 diantaranya sedang di masuki oleh Yuki dan Gavin. lift ini hanya di gunakan oleh para petinggi perusahaan dan tak ada karyawan biasa yang menaiki lift ini.


Ting


Lift terbuka di lantai 27. Lantai paling atas sebelum rooftop. Gavin penasaran, ada ruangan apa saja di lantai teratas ini?


Ternyata ada ruangan CEO milik kak Zen, sekretarisnya, dapur, toilet pastinya, ruang meeting dan beberapa ruangan lainnya.


"Hai Marshall" sapa Yuki pada pria yang sedang berkutat dengan buku - bukunya.


"Hai, kau mencari pak Zen? Dia tak ada disini" jawabnya.


"Kemana perginya dia kali ini?"


"Meeting dengan kolega baru di restoran seafood. Dan apa kau tahu, tadi pagi pak Zen terlihat seperti habis putus cinta. Lucu sekali" ujar Marshall yang menahan tawa. Dan Yuki tak menanggapi


"Kapan dia kembali?"


"Mungkin sekitar 2 jam lagi, karena dia baru saja pergi setengah jam yang lalu"


"Vin? Mau nunggu 2 jam?" Tanya Yuki menghadap ke arah Gavin yang sedang duduk di sofa.


"Tak masalah" jawab Gavin enteng.


"Oke, kita akan menunggu dengan sabar" ujar Yuki dengan senyum merekah.


"Baiklah. Aku akan membawakan makanan ke ruanganmu" kemudian Marshall berdiri dari duduknya dan menuju ke dapur. Yuki mengajak Gavin ke ruangan miliknya. Di depan pintu tertulis


Arvie's room


Do not enter without permission!


Ruangan apaan ini?


Saat dibuka, ruangan ini ternyata ada sofa besar dan tv, meja makan, dapur kecil dan kasur ukuran king size. wow! Ini seperti masuk ke dalam kos-kosan mewah. Sebenarnya Yuki ini sekaya apa?


"Duduklah Vin. Apa yang kau lihat dari tadi?" Ujar Yuki menepuk bahu Gavin. Gavin pun berjalan mendekati Yuki dan ikut duduk di samping Yuki.


"Lu ngapain ngeluarin buku?" Tanya Gavin yang terkejut melihat Yuki mengeluarkan buku dan laptopnya.


"Katanya mau dapat nilai bagus biar mobilnya dibalikin. Iya harus belajar lah. Sebentar, aku print dulu nih soal latihan"


"Yuki, astaga. Gua kesin--"


"Ga ada penolakan! Pokoknya nanti kamu selesaikan soal latihannya, pakai buku ini" Yuki menunjukkan beberapa buku yang dapat menjadi referensi. "Kalau kamu sudah selesai, kita bahas satu persatu deh"


Ahh, Gavin rasanya ingin pingsan.


Tok tok tok


"Masuk!"


"Miss lucyana!" Pekik Marshall.


"Apa sih? Masuk - masuk kok teriak sih"


"Ngerjain gue banget ya Lo! Kualat Lo nanti ngerjain yang lebih tua" Marshall meluapkan amarahnya sambil membawa nampan di tangannya.


"Mr. Marshall, tolong jaga sopan santun anda. Saya memperkerjakan anda bukan hanya untuk marah dan berteriak saja! Gunakan sopan santun! Pakai akal sehat mu!" Ujar Yuki dengan serius sedikit menaikkan suaranya.


Ini sebenarnya ada apa sih? Batin Gavin.


"Maafkan saya nona" Marshall tertunduk malu.


"Pfffttt ahahahahahahaha. Aduh Marshall, kau lucu sekali. Pintar kan aku. Memutar balikkan pikiran mu itu mudah sekali" Yuki tak bisa menahan tawanya.


"Lalu, apa maksudnya ini?" Marshall menunjukkan lembaran kertas padanya.

__ADS_1


"Iya kan sekalian"


"Besok-besok, kalau mau ngeprint tuh di sini aja, ga usah di meja gua. Kan gua jadi harus ngambil nih kertas dulu kan. Iseng banget lu jadi atasan"


"Iya iya maaf"


"Iya ku maafkan. Yasudah saya pergi dulu. Jika anda membutuhkan sesuatu, tolong, jangan panggil saya nona. Terimakasih" ujar Marshall yang melenggangkan kakinya keluar ruangan.


"Bye bye" Yuki melambaikan tangan pada Marshall.


"Marshall itu siapa?" Gavin akhirnya membuka suara.


"Sekretaris kak Zen. Sekretaris kak Zen itu ada dua, Felix dan Marshall. Felix kerjaannya selalu berada di samping kak Zen, bisa dibilang seperti kaki tangannya. Sedangkan Marshall ini dia bekerja di kantor saja, dia yang mengatur jadwal untuk kak Zen" jelas Yuki.


"Jangan banyak bertanya dan kerjakan ini, sekarang!" Ujar Yuki sambil memberikan lembaran kertas soal pada Gavin. Dan langsung diterima olehnya.


"Ck, bawel menyebalkan" tukas Gavin.


"Ga boleh mengeluh Vin"


"Cewe jelek dan menyebalkan sepertimu seharusnya pindah saja lagi ke asalmu" gerutu Gavin yang berusaha mengerjakan soal latihan yang di berikan Yuki.


"Haahhh, up to you Vin." Yuki menghela nafas berat. Memang susah untuk mengajari Gavin tentang aturan. Gavin memang lebih suka membuat aturannya sendiri. Dasar, suka seenaknya sendiri.


Tok tok tok


"Masuk"


Cklek


"Ahh, ternyata kau pak satpam, ada apa?" Tanya Yuki pada lelaki tua itu.


"Permisi, nona, ada yang membutuhkan bantuan anda di bagian keuangan. Katanya mereka meminta saya untuk berbicara pada anda untuk membantu mereka" jawabnya dengan sopan


"Baiklah aku akan memeriksanya sekarang"


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi. Maaf mengganggu waktu anda nona" pria itu pun pergi dan menutup pintunya kembali.


"Vin, ku tinggal sebentar ya?" Gavin melepas pensil yang sedang di pegangnya dan beralih menatap Yuki.


"Kita kesini untuk belajar selagi menunggu kak Zen pulang. Dan lu ninggalin gua gitu aja?" Tanya Gavin dingin seperti biasanya.


"Hanya sebentar kok, 10 menit" Yuki membentuk tanda 'oke' di tangannya.


"Gak!" Ketus Gavin.


Oh astaga, kenapa Gavin jadi manja gini sih. Batin Yuki.


"Oh ayolah. Aku tak akan lama Vin" bujuk Yuki.


Gavin diam dan berpikir sejenak. Gavin kembali memegang pensilnya dan memangku bukunya.


"Oke. Tapi ga boleh lama"


🌸🌸🌸


Setelah 15 menit kemudian, Yuki kembali dengan membawa sekotak donat dengan berbagai varian rasa.


"I'm back!" Pekik Yuki.


"Lo telat 5 menit" ketus Gavin.


"Uwwuhh Gavin ngambek" goda Yuki yang sengaja menoel dagu Gavin dan langsung di tepis olehnya dengan kasar.


"Gimana soal latihannya? Have done?" Tanya Yuki yang memerhatikan kertas latihan Gavin.


"Gua ga ngerti. Pelajaran sejarah tuh rumit!" Jawab Gavin.


"Ada satu kunci untuk pahamin pelajaran sejarah"


"Apa?"


"Baca. Pahami. Dan berpikir kronologis"


"Kronologis apaan lagi tuh? Klorofil kali"


"Kronologis itu berpikir sesuai urutan waktu Vin. Kalau klorofil mah bagian tumbuhan" Yuki tertawa terbahak-bahak. Gavin bingung sepertinya. Terlalu banyak belajar membuat otaknya bingung.


Yuki melanjutkan penjelasan dan Gavin mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali mengunyah donat yang di bawa Yuki tadi.


"Cih, ternyata pelajaran sejarah segampang itu?" Decah Gavin menaruh buku tebal itu di meja.


"Makanya, kalau punya otak dengan IQ tinggi itu dipakai. Jadi ada gunanya kan tuh sekarang" balas Yuki.


"Apa nih selanjutnya? Gua siap belajar" ujar Gavin dengan semangat.


"Hm, nantangin. Yaudah kita langsung ke matematika dulu nih" Yuki mengeluarkan buku catatan berukuran kecil miliknya dan mulai membuka lembar demi lembar. Hingga ia berhenti.


"Nah, kita mulai dari phytagoras!" Pekik Yuki tak kalah semangat dengan Gavin.


"Phytagoras? Apaan lagi tuh?" Ujar Gavin bingung. Seperti baru pertama kali mendengar.


"Aduhh Vin. Capek aku tuh. Kamu itu kalo di kelas kerjaannya ngapain sih? Phytagoras itu pelajaran SMP yang di ulang di SMA. Parah kamu Vin" ujar Yuki menepuk pelan keningnya sendiri.


"Ga tau dah. Yaudah sih langsung aja" jawab Gavin dengan asal.


"Mau baca dulu atau mau aku jelasin aja?" Tanya Yuki.


"Langsung aja lu jelasin" jawabnya.


Akhirnya mereka berdua melanjutkan belajar mereka. Bukan mereka sih, sebenarnya hanya Gavin yang belajar. Tapi tak apa, Yuki juga jadi bisa mengulang. Bagaimanapun juga, jika Yuki yang mengajarkan, Gavin akan lebih cepat mengerti dibandingkan dengan guru - gurunya di sekolah.


🌸🌸🌸

__ADS_1


7.30 p.m.


Yuki dan Gavin masih tetap belajar di kantor Zen. Entah kapan Zen akan pulang. Kepulangannya jadi tidak jelas sekarang. Mereka sudah terlalu lama menunggu.


Bahkan mereka sudah menghabiskan 1.5 liter jus apel yang tadi di bawa Marshall. Donat yang di bawa Yuki saja sudah habis 2 kotak penuh. Tak mungkin ia harus menyuruh seseorang untuk membelinya lagi, ini sudah menjelang malam. Yuki jadi merasa tak enak dengan Gavin.


"Vin" tegur Yuki. Gavin langsung menoleh padanya dan melepaskan pensil yang sedari tadi di pegangnya.


"Sebaiknya kau pulang saja. Ini sudah mau larut malam. Besok kita lanjut lagi ya" bujuk Yuki.


"kamu di sini sama siapa?" Tanya Gavin yang menyenderkan punggungnya di sofa.


"Aku akan menunggu kak Zen disini. Aku tak tahu kapan ia akan kembali. Tapi tenang, aku sudah bilang pada Felix kalau aku ada disini. Mungkin sebentar lagi kak Zen akan datang kemari" jelas Yuki sambil menunduk. Tak enak rasanya membuat Gavin ikut menunggu Zen yang tak jelas.


"yakin?" Tanya Gavin yang merasa tak yakin. Seperti sesuatu akan terjadi.


"Iya, percayalah"


"Oke. Gua percaya"


"Ayo ku antar ke bawah"


Yuki akhirnya membantu Gavin membereskan semua barang-barangnya ke dalam tas dan berjalan keluar ruangan. Kini, kantor sangat sepi. Hanya tertinggal beberapa orang saja di setiap ruangan. Yang ada hanya beberapa orang saj yang sepertinya akan kerja lembur. Tak seramai tadi siang. Sepi, tapi tak terlalu sepi.


Ting


Pintu lift terbuka di basemen. Gavin bingung. Tapi ia hanya diam mengikuti langkah Yuki. Yuki berhenti di depan mobil sedan putih miliknya dan menyodorkan kuncinya pula.


"Ini. Bawa mobilku pulang bersamamu" ujar Yuki dengan senyum tipis.


"Eh? Lalu kau pulang naik apa?" Tanya Gavin terkejut.


"Kan ada kak Zen"


"Huft baiklah. Besok pagi gua jemput" ujar Gavin.


"Oke, yaudah sana pulang" Yuki mendorong punggung Gavin untuk masuk ke dalam mobil.


"Bye Mr. Gerald" ujar Yuki sambil melambaikan tangannya.


"Apaan sih jijik" ketus Gavin.


"Vin" ujar Yuki mengetuk jendela mobil dan Gavin pun menurunkan jendela itu.


"Apalagi?"


"Ummm, itu.."


"Apaan sih?"


"Nanti kalau.."


"Kalau ngomong yang jelas Ki" ujar Gavin dingin.


Yuki diam sejenak.


Yuki mengangkat kepalanya, menatap Gavin dengan senyum lebar khas miliknya. "Nanti kalau ada tikungan jangan lupa belok yah" Yuki tertawa terbahak-bahak.


"Ck, gua kira apaan, udah ah gua pulang" Gavin menutup jendela mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan Yuki di sana yang masih tertawa.


🌸🌸🌸


Gavin memarkirkan mobil di basemen apartemennya. Yuki terlalu percaya pada Gavin. Sampai - sampai ia bisa dengan mudahnya mengizinkan Gavin membawa mobil kesayangannya. Huh, dasar Yuki.


Gavin memasukkan angka kombinasi untuk membuka pintu apartemennya. Seperti biasa, Gavin selalu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal biasa. Gavin menyalakan semua lampu ruangan dan langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Setelah selesai dengan urusan mandi, Gavin langsung menuju dapur dan membuka lemari es. Ia mengeluarkan spaghetti instan yang sudah matang sebenarnya, hanya perlu di masukkan microwave dan siap santap. Sangat praktis. Jadi ia tak perlu keluar dan menunggu tukang masak selesai memasak. Ini hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit, dan makanan siap santap. Terlalu praktis. Lebih praktis dari mie instan.


🌸🌸🌸


Ting tong Ting tong Ting tong


Sura bel berhasil membuat sang Gavin La Ligeo Gerald terbangun dari tidur nyenyaknya. Siapa yang bertamu di jam 11 malam. Gila nih orang.


"Apa itu Andro? Atau Louis?"


Gavin bangun dari tidurnya dan langsung langsung berjalan dengan gontai menuju pintu depan. Astaga, Gavin akui, ia sangat malas bangun untuk kali ini. Jika itu Andro atau Louis yang ada di depan pintu, ingatkan Gavin untuk memukul sahabatnya ini besok. Tanpa menyalakan lampu, Gavin langsung memasukkan pin untuk membuka pintu dengan cepat.


Kesal rasanya. Ingin cepat kembali ke kasurnya lagi. Orang ini tak henti-hentinya membunyikan bel. Gila nih orang. Bertamu malam - malam dan membunyikan bel terus menerus.


Cklek.


"Berisik anj**g!!" Pekik Gavin


"Eh? Yuki?"


Ya, itu Yuki. Air matanya malah tumpah setelah di bentak oleh Gavin. Yuki menangis tanpa suara. Hanya isakannya saja yang terdengar sekarang.


"I'm so sorry Vin" Yuki langsung berbalik dan hendak pergi, tapi di tahan oleh Gavin.


"Sorry gua bentak Lo tadi. Lo ngapain di sini?" Ujar Gavin.


"Hiks hiks, sorry Vin" ujar Yuki lagi. Karena takut mengganggu tetangga yang lain, Gavin menarik Yuki untuk masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintunya. Yuki memeluk Gavin dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.


"Hey, apa yang terjadi?" Gavin mengelus punggung Yuki dengan lembut.


Yuki diam dan terus diam. Tak mau menjawab. Gavin melepaskan pelukan mereka dan menyalakan lampu karena Gavin lupa tadi. Gavin membawa Yuki untuk duduk di ruang tamu. Siapa tau Yuki sudah mau di ajak bicara.


"Apa yang terjadi Ki? Kenapa Lo bisa kesini? Kenapa ga pulang? Ini tuh udah mau tengah malam. Ga baik gadis keluyuran tengah malam gini ki. Apa lu mau gua anterin pulang?" Tanya Gavin bertubi-tubi.


"Aku tak mau pulang. Biarkan aku menginap Vin"


"Apa? Menginap!!?"

__ADS_1


__ADS_2