
"berhentilah bertengkar seperti anak kecil!" Teriak Valeria.
"Oke kita berhenti. Tenang Vale" ujar Louis.
"Wow! Ternyata si jomblo dari bayi ini bisa menyerah juga. Ahahaha" ujar Gavin.
"Gua ga jomblo!" Teriak Louis.
"Eh?!"
"Maksud Lo apa hah? Lo punya pacar?" Tanya Vale terkejut. Apa si telmi ini punya pacar?
Ting
Pintu lift terbuka di lantai 5. Louis langsung berlari keluar dengan cepat dan membalikkan badannya menghadap ke depan teman - temannya dan tersenyum lebar.
"Gua bakal jelasin nanti dirumah Gavin aja. Bye ahahahahahahaha..." Ujar Louis. Lalu pintu lift tertutup kembali setelah Yuki menekan tombol 4 disana.
"Hiii... Kok Louis jadi serem gitu ya?" Ujar Yuki yang akhirnya membuka suaranya.
"Gua rasa dia gila, atau itu memang sungguhan?" Vale langsung memeluk Yuki. Memang akhir - akhir ini, Vale sangat suka memeluk Yuki.
Ting
Pintu lift kembali terbuka di lantai 4. Mereka pun langsung keluar dari sana.
Itu benar. Mereka akan pergi kerumah Gavin karena Sena adik kecilnya ini akan berulang tahun yang ke-14. Sepertinya mereka lupa untuk mengajak Yuki.
"Jadi... aku juga diundang?" Tanya Yuki yang sudah bersemangat.
"Ga! Lo ga diundang! Siapa juga yang ngundang Lo. Adek gua terlalu imut buat ketemu sama Lo" Gavin tak terima kalau Yuki juga harus ikut kerumahnya.
"Oh ya? Apa adikmu suka hal - hal yang berbau pink? Atau peach?" Tanya Yuki.
"Hei! Gua sedang melarang lo untuk ikut. Tapi Lo malah bertanya barang - barang kesukaannya. Jangan mengalihkan pembicaraan" tukas Gavin.
"Lagipula, adik gua takkan suka sama Lo. Lo terlalu cerewet dan menyebalkan bagiku" lanjutnya.
"Itukan bagimu. Tidak bagi adikmu" Yuki semakin tidak mau kalah.
"Iya betul tuh. Bukannya sebaliknya? Kayaknya Sena bakalan seneng banget kalau ketemu Yuki" ujar Andro asal - asalan.
"Hm? Gimana kalau nanti hari Minggu aku bawa mobil dan kamu bisa menyetir. Jadi, kita tak usah naik kereta. Gimana?"
"Kenapa harus gua yang nyetir? Ga mau gua kalau sama Lo!" Tukas Gavin.
"Eh? Padahal Vale bilang, Gavin suka banget sama mobil. Ya kan Vale?" Tanya Yuki sambil menoleh ke belakang dan bertanya pada Vale. Dan Vale pun menganggukkan kepalanya.
"Oke! Karena sekarang hari Jumat, besok kita ketemuan di cafe buat susun rencana bikin birthday surprise party buat Sena" ucap Andro.
"Setujuu!" Ujar Yuki dan Vale.
"Woy. Gua belom bilang 'iya' dan Lo pada malah setuju - setuju aja! Ga. Ini ga bisa. Ga bisa tanpa persetujuan dari gua" balas Gavin tak mau kalah.
"Ayo ki, jangan pedulikan Gavin, biarkan saja. Kita susun rencananya sampai dia bilang terima kasih sama lo. Oke?" Andro dan Vale merangkul pundak Yuki disebelah kiri dan kanannya.
"Woy! Gua belum selesai ngomong!" Teriak Gavin. Astaga.... Apa yang mereka rencanakan kali ini?
🌸🌸🌸
Sesampainya di kelas, ternyata hari ini Bu Ani tidak masuk. Kelas menjadi riuh. Karena Bu Ani tak memberikan tugas. Freeclass guys, yuhuuuu....
Oh, dan ini pertama kalinya Yuki merasakan yang namanya freeclass. Dulu, jika guru privatnya tak bisa datang, guru yang lain akan datang menggantikannya, jadi tak pernah ada yang namanya freeclass seperti ini. Dan sepertinya sangat menyenangkan.
Andro langsung melenggangkan kakinya menuju ruang OSIS untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena sangat tak mungkin ia mengerjakannya di kelas yang sangat berisik. Itu sangat menggangu. Sedangkan Vale? Dia ikut pergi bersama Andro karena disana pasti sepi dan sunyi, Vale berniat untuk tidur disana selagi Andro menyelesaikan pekerjaannya.
Gavin takkan ambil pusing, ia langsung keluar kelas, menuju rooftop. Tempat ini merupakan tempat kesukaan Gavin, karena disini ia bisa bersantai tanpa diganggu oleh orang.
Yuki yang melihat Gavin pergi pun mengikutinya dari belakang. Sesampainya di sana, Yuki terkejut dengan pemandangan yang indah dari atas sini. Wow!
"Huh, pergi dan cari teman lain sana!" Ujar Gavin. Dan Yuki membisu diam. Sebenarnya, apa yang sedang ia pikirkan.
"Aku tak tahu caranya" jawab Yuki setelah membisu sejenak.
"Emangnya gimana cara Lo dapetin teman disekolah Lo yang dulu?" Tanya Gavin yang semakin tak mengerti. Apa iya, anak SMA tahun kedua tidak tahu caranya berteman? Ini sungguh gila.
"Aku tak pernah memiliki teman, sekalipun aku menemukannya, mereka hanya melirik pada hartaku" ujar Yuki pelan seperti tak yakin mengatakannya.
"Dimana kau menemukan teman yang seperti itu? Dikantor kakakmu begitu? Ahhahah..." Tawa Gavin pecah ketika apa yang dipikirkan langsung dikeluarkan lisannya tanpa berpikir dua kali.
"Iya itu benar"
"Eh?!" Apa yang dipikirkan oleh Gavin itu benar - benar kejadian?
"Biasanya, kolega bisnis kakakku membawa anaknya bersamanya untuk dikenalkan padaku. Mereka harap, aku bisa berteman baik dengan anaknya, dan ketika itu terjadi, mereka hanya melirik hartaku. Hal ini sudah berulang kali terjadi..."
"... Sampai - sampai, pernah ketika mereka mengundang kami di acara makan malam bersama, ternyata mereka malah ingin menjadikanku sebagai tunangan anaknya agar jalinan bisnis bisa berjalan lancar bagi mereka. Dan Untung saja ditolak oleh kakakku. Dia bilang, kami tak membutuhkan hal seperti itu, karena keluarga kami tak memandang semacam sistem kasta. Asalkan ada cinta, itu sudah cukup membuat keluarga bahagia"
Yuki mengatakannya sambil menatap langit dan meneteskan air mata tanpa ia sadari. Gavin mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap air mata Yuki yang jatuh dengan pelan.
Gadis ini tersenyum manis. Sangat lega rasanya. Seperti membuang beban berat yang selama ini ia bawa.
"Thanks ya. Udah dengerin cerita membosankan milikku. Maaf, aku terlalu menjengkelkan" ujarnya setelah air matanya berhenti mengalir.
"No problem. Santai aja. Gua kan teman Lo" Gavin tersenyum tipis, sangat tipis. Tapi Yuki masih bisa menyadarinya dan ia pun ikut tersenyum lebar.
"Oh iya Vin, gimana rencana kita tadi? Kamu ga ketemu sama Elise kan? Kalo aku sih ketemu" ujar Yuki mengalihkan pembicaraan.
"Lo juga ketemu? Gua juga. Tapi gua berhasil menghalangi Andro buat ketemu sama tuh cabe. Jadi Lo tenang aja" ujar Gavin dengan santai.
"Hm, baguslah"
"Oh iya, sebentar lagi bel pulang bunyi nih, balik ke kelas yu!" Ajak Yuki.
Mereka berdua pun bergegas kembali lagi ke kelas. Dan disana sudah ada Andro dan Vale.
"Dari mana aja Lo berdua?" Tanya Vale.
"Ga usah kepo dah" ujar Gavin yang membuat Vale semakin curiga.
__ADS_1
"Tenang Vale, kita cuma ke rooftop aja kok" jelas Yuki.
"Hm? Oke!"
"Oh ya, besok kita ketemuan di cafe jam 12 ya, sekalian makan siang disana, dan gua juga udah bilang sama Louis. Jangan telat ya" ujar Andro.
"Siiip" ujar Yuki dan Vale.
"Jangan lupa Loh Ki! Lo yang bayar besok. Jangan sampai Lo lupa terus ga bawa duit, bisa - bisa nanti jadi ribet" Gavin mengingatkan Yuki kalau besok merupakan jadwalnya Yuki membayar.
"Iya pasti, aku takkan lupa!"
🌸🌸🌸
Kriiinggg...
Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Semua murid dikelas pun segera membereskan semua barangnya dan pulang.
Hari ini, Vale langsung pamit karena ada urusan di klub basket putri, sedangkan Gavin di klub basket putra. Gavin dan Vale merupakan ketua tim.
Andro? Jangan ditanya. Cogan kita yang satu ini sedang menyelesaikan rapat yang tertunda kemarin. Dan kini, Yuki sedang menunggu Felix menjemputnya di depan gerbang sekolah.
"Heh! Cewek centil!" Ujar seseorang di belakang.
Yuki menoleh, ternyata Elise yang berteriak padanya. Dan untungnya, mobil Felix akhirnya tiba. Yuki hendak ingin masuk kedalam mobil, tetapi Elise tak henti - hentinya menggubris dengan perkataannya.
"Oh, jadi Lo takut?! Karena ga ada yang nemenin gitu? Hah! Pengecut. Perusak hubungan orang!" Teriaknya lagi. Yuki yang tak tahan dengan perkataan Elise yang setiap harinya semakin tak terkendali, akhirnya Yuki memutuskan untuk membalikkan badannya dan menghampirinya dengan tatapan tajam.
Berani sekali perempuan hina ini. Batin Elise.
"Bisa ga? Ga usah ganggu kehidupanku yang damai. Lagian siapa juga yang perusak hubungan orang? Memangnya kamu ini kekasih Gavin? Bukan kan? Kalau kata Gavin tuh begini, ga usah halu ketinggian!" Balas Yuki yang tak tahan.
Skakmat.
Elise pun semakin kesal dengan balasan Yuki terhadap ucapannya. Elise mengangkat tangannya keatas hendak menampar Yuki. Yuki yang melihat itu pun juga tak takut. Elise semakin geram. Dia pun melancarkan aksinya dengan mengayunkan tangannya pada Yuki dengan cepat dan sekuat tenaga, dan...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Takkan kubiarkan seorang pun melukainya. Menjauhlah dari Yuki!" Ujar Felix. Karena untuk menghindari banyak pasang mata yang melihat pertengkaran itu, Felix menarik tangan Yuki dan pergi meninggalkan Elise yang sedang bengong tercengang.
Felix membawa Yuki ke tempat duduk samping supir. Takutnya kalau Yuki ditaruh dibelakang, Elise akan memancingnya untuk keluar lagi. Setelah memastikan Yuki duduk disana dan memasang searbelt, Felix memutari mobil dan langsung duduk di kursi pengemudi.
"Huh... Hampir saja" ujar Yuki sambil menghela nafas dan mengelus dadanya pelan untuk menetralkan gejolak ingin berantemnya.
"Tadi itu siapa?" tanya Felix yang sedang serius menyetir.
"Elise"
"Elise? Elise dari keluarga Renault?" Tanya Felix.
"Sepertinya sih begitu, ada apa? Kau pernah bertemu dengannya?"
"Tentu saja. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Dia datang ke pesta yang didatangi oleh Zen Minggu lalu. Sepertinya dia datang bersama tantenya. Cih. Tukang tebar pesona"
"Ahh... Jadi kau juga digoda oleh tantenya Elise?" Ledek Yuki. Felix tak menjawab dan sepertinya dia mulai kesal.
"Ppffftt..."
"Ahahahahahahaha... Tante dan keponakan sama saja" tawa Yuki.
"Berhentilah tertawa!" Teriak Felix. Bukannya berhenti, Yuki malah tertawa cekikikan setelah dibentak olehnya.
Felix Siauw. Merupakan sekretaris Zen yang paling setia dan ceria. Tapi Felix tidak terlalu suka kalau ia yang dipojokkan seperti ini. Dia lebih suka meledek daripada diledek. Aneh.
Sudah ratusan tahun lamanya, keluarga Siauw mengabdikan hidupnya untuk menjadi bawahan keluarga Cortez. Kini, bukannya dijadikan bawahan, Axel, Zen, dan Yuki malah menganggap mereka sebagai keluarga mereka juga. Lagipula, mereka tetap berdampingan, takkan jadi masalah. Di keluarga Siauw, hanya memiliki 2 orang putra, yakni Felix dan kakaknya Alvaro. Alvaro Siauw bekerja untuk Axel. Axel menjadikan Alvaro sebagai kaki tangannya. Alvaro merupakan orang kepercayaan Axel. Karena pekerjaannya yang cepat dan rapih tanpa basa-basi seperti Felix.
"Eh? Bukankah tadi pagi kau bilang padaku, ada yang harus aku temui? Tidak jadi ya? Dan kenapa kita pulang kerumah? Padahal tadi aku sudah melihat email dari kak Zen" Tanya Yuki.
"Besok saja Ki, cliennya bilang besok saja di cafe dekat sekolahmu. Lantai 2. Jam... Berapa ya? aku lupa" ujar Felix dengan santai.
"Hei, ini pekerjaan. Jangan main-main!" Teriak Yuki.
"Iya nanti aku lihat dulu schedule nya"
"Lix, didepan putar balik. Aku ingin menemui kakakku hari ini"
"Tapi, dia sedang rapat, gimana?"
"Aku tak peduli, aku akan menunggunya sampai selesai"
"Huh, baiklah. Lagipula, ada pekerjaan yang harus kulakukan. Aku akan meminta seseorang untuk membawakan pakaianmu. Pastikan kau mandi selepas sampai disana"
"Siap bos. Terimakasih"
Mereka akhirnya memutuskan untuk putar balik dan menuju kantor Zen.
🌸🌸🌸
'kyaaaa'
__ADS_1
'kak gavinnnn'
'semangat kak!'
Disisi lain, banyak adik kelas yang sedang melihat Gavin sedang bermain basket dilapangan. Keringat yang telah membasahi bajunya membuatnya menjadi semakin lebih cool dari biasanya. Gavin menyingkap rambutnya ke belakang dan mereka pun berteriak lagi.
'kyaaaaaaaa' yaa kira-kira seperti itu.
Priiiit...
Coach basket membunyikan peluit untuk menandakan berakhirnya latihan. Gavin duduk di pinggir lapangan dan bersandar di pohon. Gavin memejamkan matanya, menikmati semilir angin sore yang tenang. Lumayan untuk mengeringkan bajunya yang basah oleh keringat.
Saat dalam keadaan seperti ini, lagi - lagi Gavin memikirkan Yuki. Apa Yuki sakit hati karena ia tak mengundangnya kerumah? Tapi, inikan kepulangan pertama Gavin setelah tinggal di luar rumah. Reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh Sena kalau Gavin membawa Yuki? Si cewek aneh itu membuatnya selalu memikirkannya.
Arrhghh! Ini semakin rumit
Tunggu, Gavin merasakan adanya pergerakan dan sekarang sepertinya sedang berdiri di hadapannya. Apa itu Yuki? Baiklah, kalau itu Yuki, Gavin akan minta maaf karena sudah melarangnya untuk ikut kerumahnya.
Eh? Tapi tunggu dulu! Bukankah tadi Yuki bilang dia akan menemui klien kakaknya? Lalu, siapa yang berdiri disini? Tanpa menunggu apapun Gavin melangsung membuka matanya. Saat Gavin mengenali orang dihadapannya ini, Gavin membelalakkan matanya.
"Elise?!"
"Ngapain Lo disini!?" Teriak Gavin.
"Vin, jangan gini dong, gu-gua bisa jelasin. Tapi please, jangan usir gua sekarang" ujar Elise.
"Heh, gua ga butuh penjelasan dari Lo! Mending Lo pergi atau gua yang pergi!" Amarah Gavin memuncak. Dia menatap tajam Elise yang setengah menunduk. Tak ada jawaban. Gavin lantas membawa tasnya dan pergi meninggalkan Elise yang sedang mematung.
"Gavin gua cinta sama Lo!" Ujar Elise yang mampu menghentikan langkah kaki Gavin.
"Apa maksud Lo?" Jawab Gavin
"Gua cinta sama Lo! Dulu, Lo baik banget sama gua, tapi sekarang apa? Lo menjauh dari gua cuma gara - gara anak baru sialan itu!" Ujar Elise.
"Hm? Gua baik sama Lo? Kok gua ga ngerasa ya?" Gavin mulai tersenyum sinis.
"Dan Lo kan yang pindahin gua kekelas lain agar gua ga sekelas sama Lo dulu di kelas 10?! Apa gua seburuk itu? Cinta gua ini tulus! Ga kayak si cewe sialan itu!" Balas Elise.
"Diam! Asal Lo tahu, kita ga pernah punya hubungan apapun! Gua pindahin Lo dulu itu karena gua risih, ga nyaman dan sekarang Lo yang bersikap kayak gini bikin gua tambah benci sama Lo. Dan jangan halu ketinggian" tegas Gavin.
"Tapi gua lakuin itu buat kebaikan lo Vin!"
"Berisik!" Gavin membalikkan badannya lagi dan meninggalkan Elise.
"Kalau gua sampai denger Lo ganggu kehidupan gua ataupun teman - teman gua, termasuk Yuki, Lo ga akan gua kasih ampun. Camkan itu!"
Elise membisu. Tak berkutik. Air matanya mengalir deras. Dan akhirnya dia terduduk disana.
"Hiks, gua ga akan biarin hidup Lo tenang Yuki. Dasar cewek sialan, pelakor, pengganggu hubungan orang. Gua benci Lo! Gua akan buat Lo hancur"
🌸🌸🌸
5 pm.
Kini, Gavin sudah sampai didepan pintu apartemennya. Gavin menghela nafas berat. Dan menyandarkan keningnya pada pintu. Sepertinya Yuki dalam bahaya. Elise akan nekat jika sudah merambisi menghilangkan seseorang dari muka bumi. Ini berbahaya bagi Yuki. Akhirnya Gavin memutar kuncinya untuk membuka pintu. Sekarang Gavin lapar. Oke, Gavin akan masak nasi.
Ketika masuk kedalam dapur, dan ternyata banyak cucian piring yang menumpuk disana. Aahh Gavin jadi malas untuk kedapur. Gavin memutuskan untuk memasuki kamarnya sepertinya ia akan berbaring terlebih dahulu. Gavin melepas sepatunya dan langsung naik ke atas kasur lalu memejamkan matanya. Gavin terhanyut dalam indahnya mimpi.
🌸🌸🌸
Tingtong tingtong tingtong...
Seseorang membunyikan bel. Gavin mengerjapkan matanya dan bangun dari tidurnya. Siapa yang bertamu di sore hari? Pikirnya. Dia melirik jam dinding di dekat pintu.
Jam 8.
Hah? Jam 8? Berapa lama Gavin tertidur? Gavin lantas berdiri dan membuka gordennya. Dan melihat ke langit.
Begitu gelap.
Apa ini sudah malam? Tak peduli dengan pikirannya yang kalang kabut, Gavin berjalan cepat menuju pintu, penasaran dengan siapa yang bertamu.
Cklek
"Hai Vin!" Sapa Yuki. Ternyata yang datang itu Yuki. Gavin kira siapa.
"Lo ngapain disini? Eh? Dan siapa ini?" Gavin menunjuk kepada orang yang datang dengan Yuki. Wajahnya sangat tampan dan matanya, sangat biru seperti milik Yuki. Apa dia.... Ayahnya?
"Apa dia ayah lo?" Sontak pertanyaan Gavin keluar begitu saja dari lisannya.
"Ppffftt... Ahahahhaha.... Dia mengira kau ayah! Ahahah!" Yuki tertawa terbahak-bahak. Sepertinya Gavin salah. Aduh, malu banget. Dan pria itu menepuk wajahnya sendiri dan menggelengkan kepalanya.
"Apa aku setua itu?" Ujarnya.
"Eh? Maaf. Kalau begitu silahkan masuk" Gavin membiarkan mereka berdua masuk kedalam dan membiarkannya duduk diruang tamu.
"Akan ku bawakan makanan" ujar Gavin dan langsung masuk kedalam dapur.
"Tidak usah!" Ujar Yuki.
"Tujuan kami kesini, kami ingin masak makan malam disini. Lihat! Kami sudah beli bahannya" ujar Yuki sambil mengangkat kantong belanjaannya.
"Iya tak usah repot-repot. Yuki yang akan memasak. Santai saja dan mengobrollah denganku disini. Kami tahu, kamu juga belum makan kan?" Ujar pria itu.
"Iya kelihatan banget. Gavin sepertinya baru bangun tidur dan masih memakai seragam lengkapnya" ujar Yuki. Kini, Gavin tak bisa mengelak.
"Oke. Baiklah silahkan gunakan dapurku sepuasnya. Lagipula, aku juga lapar. Cepatlah" perintah Gavin. Dengan senang hati, Yuki langsung memulai masak di dapur.
"Kemarilah" ujarnya. Gavin duduk dihadapannya dan menyenderkan punggungnya di sofa.
"Oh ya, perkenalkan namaku Alexzandar Arvie Cortez. Panggil saja Zen. Aku adalah kakak kedua Yuki. Dan terimakasih sudah mau berteman baik dengan Yuki. Aku sangat berterimakasih" ujar Zen. Yeay.
Akhirnya Zen nongol guys✨
"Ti-tidak, aku tak melakukan apapun. Kumohon jangan berterimakasih seperti itu. Lagian kan berteman itu hal yang biasa" ujar Gavin dengan berusaha sopan walaupun sedikit.
"Ini bukanlah hal yang biasa. Ini adalah hal yang luar biasa!"
"Hah?"
__ADS_1