Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
48. Dibalik Perjuangan


__ADS_3

Gavin mendorong kursi roda Yuki dengan sangat hati-hati dan pelan. Matanya tak luput dari gadis yang sedari tadi mengoceh tentang berbagai hal.


Kini keduanya tengah berada di taman belakang mansion yang ditumbuhi oleh berbagai macam bunga. Bunga yang paling utama adalah bunga mawar. Bunga dan pepohonan yang rindang membuat Gavin berhenti dan menghirup dalam-dalam udara segar disini.


Yuki juga diam saja. Dia membiarkan Gavin menikmati suasana. Karena ia juga suka berjalan-jalan di taman. Apalagi itu bersama Gavin. Huh, Yuki sedari tadi sudah sangat senang dan wajahnya sedikit merah merona.


"Kita bisa duduk disana" ucap Yuki sambil menunjuk pada bangku yang berada tak jauh dari tempat mereka.


Gavin mengangguk dan kembali mendorong kursi roda. Rambut Yuki yang panjang digulung keatas. 4 tahun ia tak memotong rambutnya. Tak ada seorangpun yang berani. Nancy bahkan melarang siapa saja yang berniat memotong rambut Yuki. Rambut Yuki sekarang tebal dan sudah mencapai mata kakinya sendiri. Jika tinggi Yuki adalah 160 cm, mungkin panjang rambutnya juga segitu.


"Kau ingin duduk di bangku juga?" Tanya Gavin.


"Tidak. Aku duduk disini saja" jawab Yuki.


Gavin mengangguk lagi sebelum akhirnya bersandar dan memejamkan matanya. Menikmati angin dimusim semi memang sangat menenangkan. Yuki juga terdiam. Dirinya hanya menatap keatas, menatap langit biru yang terdapat beberapa awan putih dari pengelihatannya.


"Apa saja yang telah kulewati?" Tanya Yuki datar.


"Banyak. Mungkin salah satunya adalah ulang tahun mu sendiri"


"Ahahaha kau benar! Ya, hari kelahiran ku sama dengan hari kematian ibuku"


"Ah maaf. Aku tidak bermaksud" ucap Gavin yang merasa bersalah telah berkata seperti itu.


"Tidak apa. Uhm, aku ingin cerita. Mau dengar?"


"Tentu" jawab Gavin.


Gadis ini kembali tersenyum.


"Aku lahir di Jepang saat musim dingin. Waktu itu ayah sedang ada proyek di sana dan membawa keluarganya. Katanya, ia dulu sangat bersemangat jadi tak bisa meninggalkan istrinya yang akan melahirkan. Jadi kami diboyong sekeluarga ke Hokkaido. Malam itu, keadaan bunda sedang tidak baik dan harus melahirkan. Dokter bertanya, ingin menyelamatkan si bayi atau si ibu. Bunda langsung jawab si bayi. Awalnya ayah menolak, tapi bunda tetap dalam pilihannya. Aku tak tahu seperti apa detailnya, tapi saat aku lahir ke dunia, ibuku langsung tiada setelah selesai melahirkan"


"Itulah sebabnya, aku dinamai Yuki. ゆうき (yuuki) yang berarti es atau salju dalam bahasa Jepang. Dan menambahkan nama ibuku Lucyana karena aku sangat mirip dengannya"


Yuki masih menengadahkan kepalanya keatas sambil mengerjapkan matanya untuk mencegah air mata itu turun.


"The bad day. Kami bahkan sampai bingung. Haruskah kami bersenang-senang dihari itu atau tetap dalam berduka dihari itu?"


"Lalu, apa yang kalian lakukan?" Tanya Gavin.


Yuki menundukkan kepalanya dan tersenyum lebar. Tangan Gavin menggenggam tangan Yuki yang berada di atas paha Yuki. Yuki menarik nafas dan melanjutkan kata-katanya.


"Dihari itu, kami pasti akan memakai pakaian hitam dari pagi hingga matahari terbenam. Membuat mansion tetap tenang dan datang ke makam saat siang hari. Tapi ketika setelah makan malam, biasanya kak Axel membuat pesta sederhana. Hanya ada kue tart dengan beberapa lilin yang menyala"


"Tak apa, yang terpenting kau tetap bahagia diakhir, dan akan tetap bahagia selamanya" ucap Gavin begitu lembut.


Gavin menempelkan kening mereka berdua. Jantung Yuki sampai berdebar tak karuan. Melihat wajah Gavin sedekat ini, Yuki baru pertama kalinya merasakan. Dilihatnya wajah tampan itu, begitu tenang dengan mata yang terpejam.


"Aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku mencintaimu. Sangat mencintai mu hingga rasanya tak bisa kutahan lagi untuk mengatakannya"


Darah Yuki berdesir hebat ketika mendengar suara rendah Gavin. Matanya kini ikut terpejam dan berusaha tenang.


"A-aku juga" cicit Yuki dengan malu-malu.


"Aku tahu. Kau selalu mencintai ku kan?"


"Iya" jawab Yuki pelan namun memiliki banyak arti.


"Jadi, kita bisa disebut sebagai sepasang kekasih?" Tanya Gavin ambil menjauhkan kening mereka


Yuki terkekeh geli ketika mendengarnya. Tangannya memukul pelan lengan Gavin sambil tertawa.


"Itu artinya kau berpacaran dengan anak SMA" ucap Yuki.

__ADS_1


"Hah?"


"Aku kan belum lulus SMA. Hei, kau akan di bilang pedofil Lo nanti" ucap Yuki ditengah-tengah tawaannya yang begitu lepas.


"Aku tidak keberatan"


Tangan Gavin meraih tangan Yuki dan menggenggam erat kedua tangannya. Tangannya yang begitu mungil sangat pas saat digenggam tangan kekar milik Gavin. Seolah keduanya memang tercipta untuk saling menyatu.


"Sekarang kita bisa hidup dengan tenang" ucap Gavin pelan.


"Semoga saja kita akan selalu bersama"


🌸🌸🌸


"Kita harus kembali Vin. Jadwal sidang wisuda ku besok lusa" ucap Andro.


Gavin diam dan lebih memilih menatap wajah polos Yuki yang sedang tertidur pulas. Tangannya tak henti-hentinya mengelus pipi Yuki yang menggemaskan baginya.


"Gua ga mau negosiasi kayak Kevin. Lo harusnya ngerti" ucap Andro lagi.


"Iya gua ngerti. Lo tenang aja"


Gavin bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kamar Yuki. Gavin kembali menoleh pada Andro yang masih memerhatikan Yuki.


"Lo ga ngasih tau siapapun soal ini kan?" Tanya Gavin.


"Sesuai perintah Lo" jawabnya sambil merangkul pundak sahabatnya dan mengajaknya keluar dari kamar Yuki.


"Gua suka Gavin yang hangat. Bisa dipertahankan ga kalo lagi ga ada Yuki?" Tanya Andro dengan cengiran yang menampilkan deretan gigi yang rapi.


"Ga bisa. Jijik gua rasanya. Apalagi didepan Kevin" ujar Gavin dengan memasang wajah jijik


"Hm, kalo sama Kevin, Lo itu dinginnya bisa -20 derajat. Asal Lo tau aja"


Andro tersenyum ramah pada orang itu dan ikut merangkul orang itu di lengan satunya. "Lo baru datang ka?" Tanya Andro.


"Iya. Cape banget. Kalian kok udah disini aja? Curang banget sih. Gua yang dianggap kakak aja belum liat Yuki sama sekali" ucap Felix.


"Disini siapa lagi kalo bukan Gavin yang maksa kesini" ejek Andro.


Gavin hanya diam. Sedangkan Andro dan Felix sudah tertawa lepas. Felix melepaskan rangkulan tangan Andro dan pergi untuk menemui Yuki.


Kini Andro dan Gavin sudah berada dikamar yang mereka tempati di mansion ini. Keduanya sedang merapihkan koper agar dapat langsung dibawa ketika ingin pergi.


Andro sudah menemukan tiket pesawat yang akan berangkat besok pagi. Jadi mereka bisa sampai di Jerman pada siang harinya karena pesawat takkan transit ditempat lain lagi.


Tok tok tok..


Andro berjalan untuk membukakan pintu. Kali ini ia yang membukakan pintu. Dibukanya pintu itu hingga terbuka lebar.


"Holla... Gua dengar kalian mau ke Jerman besok" ternyata yang mengetuk pintu adalah Zen.


"Dari mana Lo tau? Kita kan belom ngasih tau" ucap Andro. Namun diacuhkan oleh Zen. Pria itu malah menyeret Andro masuk dan dan menutup pintu rapat-rapat.


"Kenapa sih?" Tanya Andro kesal.


"Sssttt... Jangan heboh deh" ucap Zen sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


Andro jadi langsung diam dan duduk didepan Zen. Rasa penasaran membuat Andro jadi tenang. Gavin yang sedang duduk membaca buku di atas kasur pun juga tidak terlalu memperdulikan kedua orang itu.


"Kalian pulang setelah makan malam" ucapan Zen tiba-tiba serius.


"Hah? Jadwal ditiket pesawat kita itu besok pagi" elak Andro.

__ADS_1


"Akan bermasalah jika Yuki sampai menghalangi kalian pulang. Dia baru aja sadar dari koma. Tubuhnya memang berumur 20 tahun, tapi pikirannya tetap gadis berumur 16 tahun. Lebih baik, kalian serahkan Yuki pada Axel. Biar dia yang menjelaskan" tutur Zen lebih serius.


"Uhh, terus kita harus apa?" Tanya Gavin yang mulia tertarik pada pembicaraan ini.


"Kalian bakal berangkat bareng gua pake jet pribadi. Kebetulan gua mau ke Jerman. Kita berangkat saat Yuki sudah tertidur. Aku akan meminta Nancy untuk mengawasinya"


"Gimana Vin?" Tanya Andro yang terdengar ragu.


Gavin mengangguk dengan raut wajah yang lebih tenang. "jika itu untuk kebaikannya, aku akan lebih memilih pulang diam-diam" kata Gavin serius


"Uh, aku tak bisa membantah orang ini"


🌸🌸🌸


Setelah kepulangannya secara diam-diam, kini Gavin kembali menjalankan aktivitasnya. Mempersiapkan sidang wisuda lebih tepatnya. Bahkan Gavin sudah duduk didepan ruang sidang dengan pakaian yang rapi. Kemeja merah maroon dengan celana panjang hitam membuatnya terlihat seperti orang kantoran.


Dirinya terus mengingat kata-kata yang telah disusunnya khusus untuk hari ini. Matanya terus menatap tajam pintu itu yang tak kunjung terbuka. Dirinya memang berada dalam urutan terakhir dalam sidang, bukan berarti dosennya akan mengabaikan urutan terakhir itu kan?


Gavin mulai agak gelisah. Jari telunjuknya mulai mengetuk-ngetuk kursi. Lorong yang telah sepi dapat mendengar suara ketika jari Gavin.


Resiko orang yang mendapat urutan terakhir.


Bukan takut, tapi Gavin malah tidak sabaran sekarang! Ia ingin segera masuk kesana dan menyelesaikan tugas akhirnya itu.


Bisakah seseorang keluar dan memberitahukan sesuatu? Batinnya.


Cklek


Seseorang keluar dari sana. Huh, Gavin bisa bernafas lega. Pria ini langsung bangkit dan berjalan mendekat.


"Anda Gavin La Ligeo Gerald? Maaf sudah menunggu lama. Silahkan masuk" ujar wanita itu yang kemudian pergi keluar.


Gavin menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke dalam ruang tempur tugas akhirnya. Gavin membungkuk pada kedua dosen itu dan langsung mempersiapkan bahan presentasi skripsi miliknya.


Gavin akhirnya mulai bicara. Suaranya yang lantang dan terdengar tanpa keraguan sedikitpun membuat kedua dosen itu tercengang kagum. Kewibawaan yang ia turunkan dari keluarga Gerald, mungkin Gavin tidak menyadarinya. Ia justru hanya meniru Mr. Schalke sang dosen idolanya.


Cukup lama Gavin berbicara mengenai skripsinya. Dan sesi tanya jawab pun dimulai. Tidak ada pertanyaan yang dianggapnya sulit untuk dijawab. Gavin menjawab pun tanpa ragu. Otaknya berjalan begitu cepat bagai air sungai yang tak pernah berhenti mengalir.


Setelah Gavin menjawab semua pertanyaan yang dilemparkan padanya, kedua dosen itu pun nampak berpikir dan seperti menuliskan sesuatu di secarik kertas. Salah satu dosen pria itu tersenyum pada Gavin.


"Selamat! Anda berhasil melewati tahap sidang skripsi. Silahkan ikuti arahan wisuda pada kertas ini. Sekali lagi selamat" ujar dosen wanita.


"Beneran Bu?" Tanya Gavin dengan semangat.


"Tentu. Ini ambillah" dosen wanita itu menyodorkan kertas itu dan diterima oleh Gavin.


Gavin tersenyum tipis dan membungkuk sedikit. Saat hendak pergi, dosen pria itu menahannya. Ada rasa penasaran yang ada dibenaknya.


"Bisa kutanya satu hal lagi?" Tanyanya. Gavin mengangguk dan membalikkan badannya agar berhadapan lurus dengannya.


"Kalau boleh tau, siapa orang yang selalu memotivasi dirimu untuk terus belajar? Apa itu orangtuamu?"


Gavin tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan. "tidak. Orangtuaku bahkan tak pernah perhatian padaku. Orang yang selalu menjadi sumber semangatku hanya gadis yang kucintai. Dia yang mengajarkanku untuk terus semangat walau tidak ada yang mendukung. Perempuan itu bahkan kehidupannya lebih malang daripada saya. Ketulusan yang ia miliki telah menggerakkan hatiku. Jika aku ingin membahagiakannya, maka aku harus membuatnya bangga" tutur Gavin dengan wajah yang sedikit merona.


"Hmph! Sudah kuduga! Setiap tahun saat sidang wisuda kampus ini, yang mendapat urutan terakhir pasti memiliki cerita indah dibalik perjuangannya" ujar si dosen wanita.


Wow. Apa itu benar?


"Baiklah. Selamat atas kelulusan mu tuan Gerald. Semoga kita akan bertemu kembali"


"Terimakasih"


Gavin melangkahkan kakinya. Tangannya memutar kenop pintu itu perlahan dan membukanya. Kaki jenjang itu melangkah dengan kepala tertunduk. Dan tiba-tiba kaki itu berhenti melangkah karena seseorang yang menghalangi jalannya. Gavin menaikkan matanya untuk melihat wajah orang itu

__ADS_1


"Va-Valeria???!!!"


__ADS_2