Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
9. Nyasar!?


__ADS_3

"Ini bukanlah hal yang biasa. Ini adalah hal yang luar biasa!"


"Hah?"


🌸🌸🌸


"Apa maksud Lo sebenarnya? Gua benar - benar ga ngerti!" Ujar Gavin.


"Lo adalah teman pertama bagi Yuki" ucap Zen dengan nada datar. Ahh, Gavin jadi teringat tentang apa yang diceritakan oleh Yuki. Sepertinya hal ini sejalan dengan cerita tadi. Baiklah Gavin akan memancing Zen untuk cerita.


"Hm, ya. Gua tau" ujar Gavin.


"Yuki cerita?"


"Yup. She tells her past to me"


"Sejauh apa Yuki cerita?"


"Dia cuma cerita kalau gua ini teman pertamanya. dia ga pernah dapat teman disekolah lamanya. Karena kebanyakan mereka hanya memandang harta Yuki. Dan apa tadi dia bilang? Uhm, .... Oh ya, dia juga pernah dilamar oleh kolega bisnis kakaknya. Hanya itu yang ia ceritakan" jelas Gavin.


"Hanya segitu? Hm, lumayan lah. Tapi akan ku perjelas. Singkat ceritanya saja. Jadi, Yuki ini homeschooling karena tak diizinkan masuk sekolah umum oleh kakak kami. Aku juga ga tahu detailnya, masalah itu, sangat tertutup sampai aku yang juga kakaknya tak tahu menahu. Kakak kami, kak Axel telah menanggung beban keluarga semenjak kematian ayah kami. Perusahaan Cortez memiliki sekitar puluhan ribu orang karyawan. Jika kakakku lengah sedikit saja, itu akan mengancam ekonomi puluhan ribu keluarga. Karena yang kami pekerjaan, rata-rata memang laki - laki. Jadi bisa dibandingkan jika mereka semua adalah kepala keluarga..."


"Saking sibuknya, kak Axel sudah diputusi oleh 5 orang kekasihnya, karena Axel memang dingin, tidak peka dan ... Yaahh aneh deh pokoknya. Tapi herannya, dia sangat peka sekali terhadap Yuki. Jika ada yang sampai memiliki masalah dengan Yuki, Axel takkan segan-segan untuk menghancurkan hidup orang tersebut. Begitu ceritanya..."


Zen tersenyum lebar setelah puas bercerita. Senyuman, tawa, dan cerianya sangat mirip dengan Yuki. Orang ini memiliki kesamaan sifat dan tingkah laku yang dimiliki oleh Yuki. Mungkin memang karena mereka saudara.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Ujar Yuki keluar dari dapur.


"Membicarakan hal-hal yang menyenangkan" jawab Zen.


"Waahh... Menyenangkan? Aku ingin ikut!"


"Tidak boleh!" Larang Zen


"Kau sudah berjanji untuk tidak membuat dapur Gavin berantakan, bukan? Bersihkan perabotan masak dan buatlah makanan yang enak"


"Iya iya aku mengerti. Baiklah, kalian lanjut ngobrol saja. Aku akan selesai dalam 5 menit" akhirnya Yuki kembali lagi ke dapur. Melanjutkan bersih - bersih dapur selagi ia menunggu masakannya matang. Zen terus memerhatikan Yuki, sampai ia benar-benar masuk ke dapur. Setelah memastikan bahwa Yuki melanjutkan pekerjaannya, Zen menoleh dan tersenyum pada Gavin.


"Kita lanjut?" Tanya Zen.


"Tidak usah. Tunggulah disini sebentar, aku akan mengganti bajuku dengan kaos. Terimakasih sudah mau berbagi cerita." Ujar Gavin.


4 menit kemudian...


Masakan Yuki sudah selesai. Kalian bertanya - tanya apa yang dimasak oleh Yuki? Oke. Jawabannya adalah...


Lasagna✨


Uhm, enak... Author juga mau dong...


Yuki membawa masakannya ke ruang tamu. Karena meja makan Gavin hanya memiliki 2 bangku saja, jadi mereka makan diruang tamu. Hah, sudah lama sekali Gavin tak memakan makanan yang benar - benar baru matang.


Mereka memulai makan dengan hikmat. Penuh tawa dan canda. Gavin rindu suasana seperti ini.


"Jika kau ingin belajar memasak, kau bisa meminta Yuki mengajarkanmu. Kau tahu? Masakannya adalah yang paling enak." Ujar Zen.


Memang Gavin akui, masakan Yuki sangat enak. Bagaimana Yuki melakukannya? Apa dia memasukkan sihir kedalamnya? Tentu saja tidak. Yuki pandai memasak karena Yuki senang melihat orang-orang yang memakan masakannya dengan penuh kebahagiaan. Yuki suka.


Saat mereka sudah selesai makan, Yuki membereskan piring bekas mereka makan dan ia bawa kedapur untuk dicuci. Gavin mengikuti Yuki dari belakang, meninggalkan Zen yang sedang asik dengan ponselnya.


"Ki?" Sapa Gavin.


"Ada apa? Makanannya ga enak ya?"


"Justru gua mau bilang sebaliknya, thanks ya. Masakan Lo enak banget." Puji Gavin.


"Oh ya? Waah... Ku kira kamu ga suka karena diam saja. Kalau begitu, sering - seringlah main ke rumahku, aku akan memasakkan makanan yang enak untukmu"


"Ya, nanti aku akan ajak yang lainnya juga"


"Mau gua bantu?" Tanya Gavin.


"Hiii... Telat! Aku sudah selesai mencuci piring, dan kau malah baru bertanya" Jawab Yuki.


"Ups, sorry."


"Hm, it's okay"


"Sorry juga buat yang tadi siang. Gua ga bermaks.."


"Kalaupun Gavin bilang ga boleh datang, aku akan tetap datang. Jadi, ga usah minta maaf" sela Yuki.


Ahh, Gavin menyesal telah mengatakan maaf kepada Yuki. Ternyata Yuki sudah merencanakan hal yang tak pernah terpikir oleh Gavin.


🌸🌸🌸


Akhirnya Zen dan Yuki memutuskan untuk pulang. Karena sekarang sudah larut malam. Dan besok Zen harus berangkat pagi-pagi sekali.


"Terimakasih Vin" ujar Zen


"Bye Gavin" Yuki melambaikan tangannya pada Gavin dan dibalas senyuman tipis. Mobil yang mereka kendarai pun mulai melaju ke depan.


Setelah mobil Yuki dan Zen sudah tak terlihat lagi, Gavin pun masuk kedalam. Dia berencana melanjutkan tidurnya karena sudah kenyang. Saat memasuki apartemennya, dia sadar, tempat ini jadi sepi kembali. Kapan Yuki akan mengunjunginya lagi? Tuh kan, Gavin memikirkan Yuki lagi. Aduuhh... Yuki telah masuk terlalu dalam dikepalanya.


🌸🌸🌸


8 am.


Pagi ini, Yuki tengah sarapan dengan Zen dan Felix. Setelah selesai makan, Zen mulai menjelaskan hal apa saja yang harus ia katakan pada kliennya nanti. Yuki akan menemui klien kakaknya jam 10. Dan Yuki akan menemui teman - temannya di jam makan siang. Zen tak bisa datang menemui kliennya itu karena dia memiliki rapat yang lebih penting dari itu. Itu juga menurut Felix.


"Baiklah, aku mengerti! Terimakasih ka Zen " Ujar Yuki

__ADS_1


"Tak perlu berterimakasih. Kakak yang harusnya terimakasih sama kamu"


"Hm? Gapapa. Perusahaan ini milik kita semua. Masa aku cuma dapat apa yang aku mau tanpa bantuin kakak. Itu ga adil. Jadi, biarin aku bantuin kakak" ucap Yuki. Zen merasa terharu dan bersyukur memiliki adik seperti Yuki. Zen lantas memeluk Yuki dengan erat. Lama sekali.


"Kak... Udah dong. Sesak nih"


"Eh iya maaf ya adiknya kak Zen yang paling cantik" Zen melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Yuki dengan lembut.


"Yaudah. Sana mandi! Sekarang sudah jam 9. Nanti kamu telat loh" perintah Zen.


"Oke. Kakakku yang jelek" Yuki berlari menghindari Zen yang marah karena dibilang jelek.


"Yukiiii!" Pekik Zen kesal.


"Ahahahahahahaha...."


🌸🌸🌸


Sekarang, Yuki sedang dalam perjalanan menuju cafe tempat ia akan bertemu dengan cliennya. Hari ini, Felix tak bisa mengantar Yuki karena ada beberapa hal yang harus diurus. Jadi, Yuki naik tadi agar tak telat. Dia merasa tak enak jika cliennya harus menunggu lama.


Hari ini tidak secerah kemarin. Langit agak mendung sedikit dan angin terus bertiup kencang. Sepertinya akan turun hujan yang lebat. Yuki memberhentikan taxi yang ia naiki tadi diseberang cafe.


Karena ini jalan satu arah, dia tak punya waktu untuk menunggu mobil ini memutar balik di ujung jalan sana. Yuki lebih memilih menyebrangi jalan raya di jembatan penyeberangan.


Ah, pemandangan dari atas jembatan penyeberangan sangatlah indah. Pemandangan kota yang sangat ramai dan angin terus bertiup semakin kencang. Untungnya Yuki hari ini memakai celana selutut, atasan dengan renda - renda di sepanjang kancing serta blazer peach kesukaannya. Dan tak lupa pula, rambutnya dia ikat kebelakang. Oke. Aman.


🌸🌸🌸


Akhirnya Yuki sampai di depan pintu cafe. Yuki menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Felix berkata, cliennya hari ini memakai baju kaos polos berwarna hijau.


Kling


Pintu cafe berbunyi saat Yuki membukanya. Tercium bau kopi dan coklat yang lumayan menyengat. Yuki sangat suka harum cafe ini. Banyak pengunjung yang langsung melirik Yuki. Mungkin memang karena Yuki terlalu imut untuk menggunakan blazernya. Yuki menghampiri kasir, berniat menanyakan tempat pesanan kakaknya.


"Permisi" ujar Yuki dengan ramah.


"Ah ya, ada yang saya bisa bantu?" jawab si pelayang pria itu.


"Meja pesanan atas nama Cortez"


"Cortez? Baiklah tunggu sebentar.... Silahkan menuju lantai 3. Mejanya nomor 303. Pesanan anda akan kami antar 15 menit kemudian"


"Lantai 3? Bukankah lantai 2? Kenapa pindah?"


"Karena ini untuk urusan bisnis, jadi kami memiliki lantai yang memang tidak diharuskan adanya kebisingan"


"Ah, begitukah? Terimakasih atas bantuannya"


Tanpa menunggu jawaban, Yuki langsung menaiki tangga yang ada di pojok ruangan ini. Melakukan hal seperti menemui clien, sudah biasa bagi Yuki. Tidak seperti dulu waktu pertama kali. Dulu, Yuki bisa gemetar ketika ditanya oleh kliennya. Tapi sekarang, asal Yuki paham apa yang harus disampaikan, dia akan dengan mudah menjawabnya.


Yuki sampai dilantai 3. Terdapat pintu di lantai 3. Sangat rapat. Sepertinya ruangan ini kedap suara. Yuki mendorong pintu itu dengan sangat hati-hati, takut ia membuat kebisingan yang akan mengganggu orang lain. Yuki memperhatikan orang-orang didalam. Dimana cliennya yang memakai baju berwarna hijau itu?


"Ahh... Itu dia" akhirnya Yuki menemukannya. Orang itu ada dipojokkan dekat jendela. Yuki menghampirinya sambil mengatur senyumannya. Takut senyumnya aneh nanti. Yuki menepuk pelan orang itu. Dan orang itu menoleh, dan ternyata itu....


"Eh? Andro? Kok disini?" Ujar Yuki terkejut. Kenapa juga Andro ada disini?


"Yuki? Wow ini suatu kebetulan yang bagus! Ahahajaha..."


"Hm? Clien dengan baju warna hijau. Jadi itu kau Ndro?" Ujar Yuki sambil berjalan dan duduk di kursi berhadapan dengan Andro.


"Kenapa kamu dibilang ini bagus?" Tanya Yuki.


"Ini pertama kalinya gua nemuin rekan bisnis kayak gini. Gua tadi cukup gugup dari tadi. Gua juga jadi kepikiran mulu, kalo gua ga bisa dapetin proyek ini, gimana nanti reaksi ayah gua? Gua ga bisa bayangin" ujar Andro yang terus mengoceh seperti anak kecil yang sedang bercerita. Yuki terus memperhatikan Andro dan sesekali tertawa.


"Kalau orang lain yang datang, bisa pingsan gua disini saking gugupnya..." Lanjut Andro.


"Eh tunggu dulu, ayah gua bilang, yang bakal gua temuin itu penerus kedua dari keluarga Cortez, apa Lo bagian dari keluarga Cortez?" Andro mulai menyadari maksud kedatangan Yuki.


"Aku? Oh tentu saja bukan. Yang kedua itu kakakku, kak Zen. Aku hanya yang ketiga. Itu tak berarti apa-apa"


"Terus kenapa gua ga tau kalau Lo dari keluarga Cortez? Apa sebenarnya tujuan Lo?"


"Aduh, tenang Ndro. Oke aku jelasin. Aku kan belum serahin data diri ke OSIS. Gimana kamu bisa tahu. lagian ya kalau aku bilang, aku dari keluarga Cortez, aku bakal digerumunin orang - orang disana. Atau mungkin sebaliknya, gimana kalau aku malah dijauhin, aku ga mau" Yuki mulai menundukkan kepalanya.


"Sorry Ki. Yaudah kita ga usah bahas itu lagi"


"Oke. Kita langsung mulai aja ya"


Akhirnya setelah mengobrol panjang, mereka memulai pembicaraan seriusnya.


🌸🌸🌸


Tingtong


Louis dan Gavin membunyikan bel mansion milik keluarga Valeria. Tempat ini agak aneh. Karena mansion ini bercat full color. Biasanya, mansion itu memiliki cat berwarna elegan, tapi ini sebaliknya.


Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu. Dan tak lupa pula tersenyum pada mereka berdua.


"Hai Tante, apa kabar?" Ujar Louis


"Ahaha, kabar Tante baik. Kalian ingin jemput Vale sekarang?"


"Iya tante, sekarang"


Lalu mereka berdua diizinkan masuk oleh ibunya Vale. Mereka dipersilahkan untuk duduk diruang tamu sambil menunggu Vale yang tengah bersiap - siap.


"Kenapa tidak makan siang dulu disini? Sebentar lagi jam makan siang." Tanya ibu Vale.


"Itu tujuan kami Tante. Kami akan makan siang di cafe siang ini"


"Eh? Dicafe lagi? Tante ga bakalan izinin kalian untuk makan dicafe lagi. Itu tuh kurang menarik. Carilah suasana baru..."

__ADS_1


"Ibu... Jangan mengatur temanku seenaknya" ujar Vale yang sedang menuruni tangga.


"Ibu hanya menyarankan Vale. Jangan gitu dong"


"Mom please, cerewetnya simpan dulu, aku udah mau berangkat nih"


"Yaudah makan saja dirumah" ibu Vale tak mau kalah.


"Kalau kalian makan siang di cafe, ibu ga akan biarin. Terkecuali makan di resto, ibu baru setuju"


Gavin sepertinya menyadari kalau pertengkaran ini akan berlangsung lama. Lantas, ia berdiri dan berkata,


"Baiklah, kami akan makan di resto. Sebutkan saja nama restonya. Kami akan kesana" ujar Gavin dengan wajah datar.


"Nah gitu dong. Kalau begitu, hm... Kalian boleh pergi. Ibu akan kirimkan alamat restonya lewat chat"


"Oh, dan bilang pada teman barumu itu untuk mengunjungi rumah kita ya Vale..."


"Ibuuuu!"


"Sudahlah. Ayo Vale. Tante, kami permisi dulu"


"Hati - hati dijalan..."


Mereka bertiga berjalan keluar dan memasuki mobil. Vale memilih untuk menyetir mobil hari ini, karena ia yang tahu tempatnya.


"Haruskah kita jemput Yuki? Ada yang punya nomor teleponnya?" Ujar Louis yang duduk dibelakang.


"Sebentar ya, kita sebaiknya menepi dulu"


"Oke kita sudah dipinggir" Vale langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetik nama Yuki.


Niiiittt niiiittt...


"Ah, halo Ki!"


"*Hai! Kamu dimana? Ini sudah jam 12 kurang loh, aku lapar..."


"Siapa Ki*?" Ujar Andro yang terdengar di ponsel.


"Ini Vale"


"Vale dimana?"


"Lo sama Andro?"


"Yup"


"Tanya Andro bawa mobil ga? Kita ganti tempat rundingnya"


"*Hei Ndro, kata Vale, kamu bawa mobil ga?"


"Mobil? Bawa kok*!"


"Bawa Vale. Kirim aja alamatnya. Kita langsung meluncur nih..."


"Oke aku kirim ya. Bye Ki..."


"Eh! Tunggu dulu"


"Apa lagi honeyku?"


"Langsung pesan makanan ya Vale. Aku udah lapar... Jangan soup! Ga boleh soup! Oke?"


"Ahahahahh.... Gua pikir apaan, oke siap!"


"Bye!"


BIP


Setelah menutup telponnya, Vale melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Yuki lagi sama Andro?" Tanya Louis.


"Iya"


"Tapi, Andro bilang kan, dia lagi sama rekan bisnis ayahnya. Kok jadi sama Yuki"


"Mungkin dia udah selesai. Positive thinking dong Is. Ini juga Gavin, mukanya biasa aja dong! Kalau cemburu tuh bilang, ahahahah" ledek Vale.


"Berisik Lo" pekik Gavin.


"Waahhh ada yang marah nih" lanjut Vale.


"Aduh, kok tiba-tiba jadi dingin gini yah mobil gua, ppffftt..."


"Ahahahahahahaha...." Tawa Vale dan Andro pecah. Tak tahan melihat Gavin yang berubah menjadi dingin ketika sedang diledek.


🌸🌸🌸


"Aduh, bener ga yah lewat sini?" Ujar Andro yang sedang menyetir lalu menggaruk tengkuknya yang gatal.


"Ga tau juga aku. Aku kan ga pernah kesini. Udah gitu jalannya berbatu gini" ujar Yuki sambil melirik kedepan.


"Iya ya" lalu Andro memberhentikan mobilnya.


"Ndro kok berhenti? Jangan berhenti dong, disini gelap. Perasaan aku ga enak"


"Ini tuh mau hujan lebat deh kayaknya. Soalnya dari tadi anginnya kencang banget" Andro mulai melirik ke luar dan membuka jendela mobil.


"Kok kita kayak masuk ke hutan ya?" Ujar Andro seperti tersadar akan sesuatu.

__ADS_1


"Maksudnya? Kita kesasar gitu?!!!" Yuki terkejut.


__ADS_2