Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
29. takut kangen


__ADS_3

4.55 p.m.


Kini keadaan semakin damai. Tidak seperti tadi, Gavin dan Kevin terus saja bertengkar masalah belajar. Apapun mereka permasalahkan.


Mereka sedang duduk di lantai. Karena Gavin dan Kevin juga mempermasalahkan tentang siapa yang akan duduk di samping Yuki. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk lesehan dan sedikit berjauhan. Untung meja besar di kamar Gavin tak tinggi. Jadi sangat nyaman digunakan saat duduk seperti ini.


Yuki sibuk membaca buku dengan tenang. Gavin sedang mengerjakan soal yang di berikan Yuki. Dan Kevin sedang membaca sebuah novel. Lumayan tenang bukan? Jika dibandingkan dengan sebelumnya.


Namun saat sedang serius belajar, ada sebuah pemikiran yang terlintas di otak Gavin. Matanya melirik pada Yuki yang tengah serius membaca buku.


PHAK


Kevin menutup buku tebal itu dengan keras dan menaruhnya di atas meja. Dan karena itu juga, Yuki jadi terlonjak kaget.


"Pelan-pelan dong Kev" ketus Yuki karena kesal.


"Kalian terlalu semangat belajar. Ga takut encok gara-gara kelamaan belajar apa?" Ujar Kevin.


Yuki menatapnya tajam dan kesal. Udah gangguin, ngagetin, sekarang dikatain encok. Kevin ini minta di tendang keluar.


"Ga pernah ada sejarahnya belajar bikin encok" ujar Yuki.


"Hiiiiiyy... Dibilanginnya ngeyel" balas Kevin.


"Keluar atau gua seret lu ke bawah" ujar Gavin dingin.


"Iya iya, gua keluar" Kevin bangkit dari duduknya dan memegangi pinggangnya.


"Adududuhhh pegel" akhirnya si pembawa masalah ini keluar dan meninggalkan Yuki dan Gavin sendirian.


Brak.


Kevin menutup pintu dengan keras. Yuki menghembuskan nafas berat dan kembali membaca bukunya.


Tapi Gavin, ia masih saja menatap Yuki sedari tadi. Hingga tangan kanannya terulur dan menakup pipi chubby Yuki yang berada di seberangnya.


Yuki mengabaikan tindakan Gavin dan lebih fokus pada bukunya. Tangannya tak kunjung lepas dari pipi Yuki dan malah mengelusnya dengan lembut.


"Kenapa sih Gav?" Yuki akhirnya membuka suaranya tanpa menatap balik Gavin.


"Makasih karena udah kembali" jawabnya.


"Hah?" Yuki menenggakkan kepalanya menatap balik Gavin. Yuki terkejut ketika melihat Gavin.


Kemana perginya tatapan tajam itu?


"Gua kira Lo ga bakalan balik lagi ke sini" ujar Gavin.


Yuki tersenyum manis dan tangannya juga terulur untuk mencubit pipi Gavin. "Aduuhh... Takut kangen ya?" Ledek Yuki.


"Iya" jawab Gavin dengan pelan dan tatapannya berubah sendu. Yuki terkekeh geli dan melepaskan tangannya dari pipi Gavin.


"Makanya belajar yang bener. Pokoknya nanti kalau nilai rata-ratanya di atas target kita, aku kasih hadiah deh" tawar Yuki.


"Yakin?"


Yuki mengangguk dengan cepat. Lalu Gavin malah menurunkan tangannya, beralih menyentuh bibir ranum milik Yuki dan menatapnya lembut.


"Gua mau ini sebagai hadiahnya" ujar Gavin.


Degh degh!


Jantung Yuki berdebar dengan cepat. Terkejut. Dan wajahnya bersemu merah. Tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gavin barusan.


He want your kiss, Kiii... Batin Yuki.


Yuki langsung memegang lengan Gavin dan menurunkan tangannya agar tak menyentuh bibirnya.


"Ka-kamu ngomong apa sih?" Ujar Yuki yang berusaha bersikap biasa. Tapi Yuki malah tersenyum malu.


"Mau gua ulangi?" Ujar Gavin yang membuat Yuki semakin gelagapan.


Yuki membuang mukanya karena tak berani menatap Gavin. Tetapi perhatiannya teralih pada jam dinding di ujung ruangan ini.

__ADS_1


"Ah! Sudah jam 5" ujar Yuki. Kemudian ia mengambil ponselnya dan mencari kontak Felix.


"Halo Felix, jemput aku sekarang. Cepat yah"


...


"Oke. Aku akan keluar sekarang"


BIP.


Yuki menaruh ponsel di tasnya. Ia merapihkan buku-buku yang berserakan di atas meja dengan cekatan. Setelah selesai, Yuki langsung berdiri. Gavin juga sontak berdiri mengikuti Yuki.


"Yuki, maksud gua tadi--"


"Eh? Ah.. anu... Ehm... Itu.. besok, aku ada urusan. Akan ku kirimkan rangkuman materi selanjutnya. Sampai ketemu hari Senin. Dah!"


Yuki dengan cepat berbalik dan berlari cepat keluar dari kamar gavin. Gavin hendak menyusulnya berlari, tapi Yuki sudah menutup pintu terlebih dahulu.


Gavin paham. Yuki tak mau diikuti. Ia menghela nafas berat. Gavin berjalan menuju jendela dan menyingkap gorden tipi itu.


Ia memperhatikan Yuki dari atas. Perempuan ini berlari tergesa-gesa. Dan tak lama kemudian, sebuah mobil memasuki pekarangan mansion dan Yuki langsung masuk ke dalam mobil itu.


"Apa tadi gua ngomongnya kurang jelas?" Gumamnya.


🌸🌸🌸


"Loh!? Kenapa Nancy ada dirumah ini!?" Yuki terkejut ketika ia melihat Nancy yang sedang menghidangkan kopi untuk Axel dan Alvaro.


"Duduk dulu sini" ujar Axel yang menepuk-nepuk kursi kosong disampingnya.


Yuki pun duduk.


"Jadi begini, Nancy akan mengurus semua keperluanmu dan juga mengawasi Zen agar dia tak menyuruh mu lagi untuk membantunya selama masa ujian sekolah mu" tutur Axel dengan lembut.


"Kau juga tak perlu memasak dan mengerjakan pekerjaan kantor. Karena Felix yang akan menggantikan mu untuk sementara. Bisa kau lakukan dengan baik?" Lanjutnya.


"Jadi aku hanya cuti sementara dan Felix akan menggantikan ku?" Tanya Yuki


Axel mengangguk. Yuki tersenyum lebar dan langsung memeluk kakaknya ini dengan manja.


Axel membalas pelukan adiknya dengan erat. Cukup lama mereka berpelukan, itu membuat Alvaro jadi iri.


"Hei hei, Yuki..."


"Apa?" Yuki melonggarkan pelukannya dan menoleh pada Alvaro.


"Aku juga mau dipeluk"


"Besok saja... Aku masih mau sama kak Axel"


"Yuki, lepas dulu yah... Mandi dan belajar sana. Nanti kupanggil untuk makan malam" ujar Axel.


Axel yang melerai pelukan mereka. Yuki pun ikut melepas pelukannya dan naik ke atas menuju kamarnya.


Axel kembali menyeruput kopi yang tadi dibuat Nancy.


"Xel,"


"Apa?"


"Gua rasa lu harus cari calon istri sebelum Lo terkena sindrom siscon deh" ujar Alvaro serius.


"Siscon apaan?" Ujar Axel bingung.


"Sister complex.. wahahahahaaaa" jawab Alvaro.


Geplak!


"Sakiit!" Alvaro memegangi kepalanya yang baru saja dipukul Axel.


Axel berdiri dan berjalan meninggalkan Alvaro yang sedang duduk disana sendirian. Kemudian ia menoleh kebelakang.


"Gua serius Xel!!!" Pekik Alvaro.

__ADS_1


Axel mengabaikannya.


"Ngerjain gua nih orang" gumam Axel.


🌸🌸🌸


Gavin berjalan santai di trotoar jalan kota. Tujuannya hari ini adalah menuju kafe tempat biasa untuk berkumpul dengan teman-temannya.


Kling


Pintu kafe berbunyi ketika Gavin membuka pintunya. Terlihat Andro, Valeria, Louis serta Olivia sudah duduk bersama dan Gavin berjalan menghampiri mereka.


"Kevin mana?" Tanya Andro.


"Nemenin Sena ke mall"


"Yuki mana?" Kini Olivia yang bertanya.


"Yuki sibuk di kantor karena besok kan udah mulai ujiannya"


Seorang pelayan datang dengan segelas capuccino di atas nampannya. Kemudian menaruhnya di depan Gavin dan pergi tanpa mengatakan apapun.


"Oh iya, btw, kemarin si Kevin bilang, Yuki keluar dari rumah kalian, buru-buru terus mukanya merah gitu. Kenapa tuh Vin?" Tanya Andro.


"APAAAAAAAAAAA!?.... Astaga Gavin! Yuki gua.. my honey Yuki lu apain!?" Pekik Valeria histeris kemudian menarik kerah baju Gavin dan menatapnya horor.


"Santai dong Vale. Bisa mati nih gua lu cekik" ujar Gavin yang berusaha melepaskan tangan Valeria dan di bantu oleh Andro. Lalu cengkraman tangan itu pun terlepas.


"Astaga Vale, Yuki ga gua apa-apain!" Elak Gavin. Tapi Valeria masih menatapnya tajam, seolah mengintimidasi Gavin untuk berbicara jujur.


Valeria melepas cengkramannya pada kerah baju Gavin dan mulai duduk dengan tenang. Gavin melirik ke arah Louis dan juga Andro. Entah apa tujuannya, tapi Andro dan Louis tiba-tiba mengangguk bersamaan seperti memberi jawaban. Gavin menghela nafas dan kembali menatap Valeria.


"Kemarin kita itu cuman ngomongin tentang hadiah yang bakal dia kasih nanti setelah ujian" ujar Gavin.


"Terus?" Tanya Valeria lagi, seolah tak puas dengan jawaban Gavin.


Gavin meneguk salivanya dengan sulit dan jantungnya berdebar. Seperti sedang diintrogasi oleh ibu mertua. Wah, ibu mertua?


"Te-terus... Gua megang bibirnya dan bilang kalau gua mau itu. Terus entah kenapa Yuki jadi salah tingkah terus pulang" lanjut Gavin.


PRAK!


Valeria membanting piring salad yang sudah dihabiskannya tadi. Untung piringnya gak pecah.


"Sebelum Yuki pulang, Lo bilang apa lagi?" Kali ini Valeria lebih menyeramkan.


"Gu-gua bilang, 'mau gua ulangi?' begitu" kini Gavin tersenyum kikuk.


Valeria menghela nafas dan terhuyung kebelakang, bersender di sofa. Olivia yang mendengar Gavin bercerita pun hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Jangan pernah meminta ciuman disaat kau tak pernah menyatakan perasaan mu padanya" Olivia kini ikut bersuara.


"Ohh astaga......... Jadi selama ini Gavin jatuh cinta sama Yuki, tapi Gavinnya ga ngerti!?" Ujar Louis dengan histeris.


"Hahh, telminya keluar tuh bocah"


"Jadi, gua harus gimana?" Tanya Gavin yang semakin bingung.


Hening seketika. Semuanya nampak berpikir keras. Kecuali Gavin yang sudah pasrah dengan keputusan teman-temannya.


"Ahh, gua punya ide!" Pekik Andro secara tiba-tiba.


"Karena Gavin sudah terlanjur bilang minta 'itu' sama Yuki, kenapa Lo ga berusaha keras di ujian itu dan dapet nilai di atas target" lanjut Andro.


"Nah betul tuh! Nanti sebelum lu minta 'itu', lu tembak dulu Yukinya. Jadi kan fair kalau Lo mau minta kiss sama dia" sahut Louis.


"Iya! Lagian kan kemungkinan itu first kiss buat Yuki. Jadi harus romantis dikit gitu loh" Olivia menambahi.


Gavin mulai berpikir. Memperkirakan apa yang akan terjadi jika Gavin mengikuti rencana ini. Dan, bagaimana reaksi Yuki nanti?


Gavin tersenyum tipis.


"Boleh juga" ujarnya lalu meneguk minumannya.

__ADS_1


"Kok gua berasa ga rela mau nyerahin Yuki ke Gavin ya?" Ujar Valeria lemas.


"Yahh, emak mertua Lo ga setuju Vin" ledek Louis sambil menyenggol lengan Gavin dengan sikunya.


__ADS_2