Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
14. kelalaian Gavin


__ADS_3

Yuki's POV


Sepertinya Gavin si kulkas berjalan ini sangat menginginkan mobil sportnya kembali. Sampai - sampai di meminta bantuanku untuk mengajarinya belajar. Dengan senang hati, aku pasti bantuin dia kok.


Aku tak ingin mengecewakan.


"Hei, pergilah duluan. Aku akan ke kelas mengambil buku dan menyusulmu nanti" kataku sambil memperhatikan Gavin yang hendak berdiri.


"Baiklah" Gavin beranjak pergi dan membayar makanan hari ini.


Tanpa menunggu Gavin, aku langsung berdiri dan meninggalkan kantin. Saat aku berjalan, tiba tiba aku merasa ingin buang air kecil. Aku jadi teringat dengan perkataan Vale, dia bilang di dekat lobby ada toilet. Aku pun langsung bergegas kesana.


Saat berjalan, aku merasa seperti ada yang mengikutiku dari belakang. Aku menghentikan langkahku dan membalikan tubuhku. Tak ada siapa pun disana. Lorong ini sepi.


Apa itu hantu?


Huh, masa bodo dengan hantu. Aku tak peduli. Hanya satu di pikiranku, aku harus ke toilet! Setelah menemukan tanda baca toilet di dinding lorong, aku langsung berlari mengikuti arah panahnya.


Ternyata toilet ini berada di ujung lorong setelah melewati lobby. Aku masuk ke toilet di bilik pertama disana.


Setelah selesai dengan urusanku ditoilet aku menghela nafas lega. Aku merapihkan sedikit seragamku dan membuka kunci pintu toilet lalu melangkah keluar.


"Ehh ternyata ada si ****** kecil disini" aku terkejut melihat Elise ada disini. Dia disini bersama dengan 5 orang temannya. Banyak sekali. Apa yang dia rencanakan kali ini?


"Apa yang kau rencanakan kali ini Elise?" Tanyaku sambil melirik ke berbagai arah.


"Kau takkan bisa lolos kali ini" ujarnya sinis.


"Lakukan girl's! Kita beri pelajaran sama ****** ini hingga Gavin membencinya" perintah Elise pada temannya.


Elise terus melangkah ke depan dan aku pun ikut mundur menghindar. Sampai akhirnya punggungku menabrak dinding. Jantungku berdegup kencang dan tubuhku mulai gemetar.


Aku benci perasaan ini!


BYUURRR....


Mereka menyiramiku dengan air seember yang membuat tubuh bagian depanku basah.


Air apa Ini? Bau banget. Mereka langsung tertawa terbahak-bahak melihatku.


"Ups, maaf. Kurang ya? Tambah lagi girls!"


Aku melihat di belakang Elise, seorang gadis memutar keran yang sudah terpasang dengan selang dan menyemprotkan air kepadaku. Kini aku sudah basah kuyup.


Elise langsung berjalan mendekatiku. Dia menatap tajam. Saat sudah dekat dia menendang kaki ku dan aku pun reflek membungkuk dan memegang kakiku. Rasanya sakit sekali. Elise menendang tubuhku hingga aku tersungkur ke lantai.


Dia menjalankan aksinya lagi. Elise menarik rambutku hingga aku berdiri lagi. Aku terus berusaha melepaskan diri, tapi temannya yang lain sudah memegangi kedua tanganku.


Akhirnya mereka mendorongku masuk kedalam toilet dan menguncinya dari luar.


"Bukakan pintunya!" Pekikku.


"Ga bakalan gua bukain sampai Gavin beneran benci sama Lo!" Jawabnya.


"Gila Lo! Stress!"


Tanpa merasa bersalah, Elise dan anak buahnya pergi meninggalkan ku. Aku terus berteriak dan memukul pintu. Air mataku terus mengalir begitu saja.


Hiks, ini menjijikan. Siapapun tolong aku. Apa salahku? Apa yang salah dengan mereka sampai mereka berbuat hal keji seperti ini?


Gavin, tolong aku.


Yuki's POV end๐Ÿ”–


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Disisi lain, Gavin yang sudah menunggu Yuki lama sekali, akhirnya memutuskan untuk pergi ke kelas untuk mencarinya.


Saat pintu lift terbuka di lantai 4, Gavin langsung berlari menuju kelasnya. Di dalam kelas, hanya ada beberapa orang disana. Tas Andro dan Vale juga sudah tidak ada. Gavin berjalan menghampiri meja Yuki. Barang bawaannya masih ada dan buku - buku yang hendak mereka pinjam tadi pun masih ada disana.


Tanpa berpikir panjang, Gavin mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Yuki. Ketika Gavin tengah menelpon Yuki, Gavin mendengar nada dering ponsel yang berasal dari tas Yuki. Gavin langsung membuka dan mencari ponselnya itu.


"Shit! Yuki ninggalin hpnya disini"


Gavin langsung berlarian menyusuri lorong mencari Yuki di semua tempat dan kesemua ruangan yang ada disekolah.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Seorang gadis yang tiba-tiba mendengar ada yang meminta tolong langsung berjalan memasuki toilet.


"Apa ada orang disini?" teriaknya.


Tapi ia tak mendapat jawaban. Suara itu malah menghilang. Dia langsung mendekati toilet paling ujung dan melihat ada sebuah tongkat yang disangkutkan di pintu. Lantas ia pun menarik tongkat itu dan pintu akhirnya terbuka.


"Eh? Yuki?!!!" Teriaknya terkejut melihat Yuki yang sudah kedinginan dengan baju yang basah dan wajahnya yang kini pucat. Yuki langsung menengadah ke atas, melihat siapa yang datang menolongnya.


"Olivia?" lirih Yuki tak jelas.


"Ayo sini ku bantu. Kau bisa berjalan?"


"Iya, tolong, kepalaku sakit sekali"


Gadis yang ternyata memiliki nama Olivia ini langsung memapah Yuki dan membantunya keluar dari sana. Tubuh Yuki sangat dingin dan sedikit menggigil.


Olivia sekarang malah berniat membawa Yuki ke parkiran mobilnya agar dia bisa membawa Yuki ke rumah sakit. Olivia tak tahan melihat Yuki meringis kesakitan.


Saat sampai di depan pintu keluar gedung sekolah, seorang pria dengan pakaian jas lengkap berlari menghampiri mereka.


"Yukiiii!!!" Teriaknya


"Maaf anda ini siapa?" Tanya Olivia pada pria itu.


"Yuki? Dia kenapa?" Pria tadi tak menjawab pertanyaan, tapi malah bertanya balik.


"Aku tak tahu, aku baru saja menemukan Yuki ditoilet yang terkunci"


Pria itu menegang dan membelalakkan matanya. Ia mengambil alih Yuki dan langsung menggendongnya. Pria itu memerintahkan kepada Olivia untuk mengikutinya dan membukakan pintu mobil yang sudah ada di depan gedung sekolah. Olivia hanya menurut.


"Bawa dia ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa" ujar Olivia.


"Jangan khawatir" ucapnya lalu pergi membawa Yuki.


Olivia menghela nafas lega. Sepertinya laki laki tadi merupakan salah satu keluarga Yuki. Benar apa yang dibilang Louis padanya, Yuki tak bisa ditinggal sendirian selama ia masih berada di sekolah. Tak perlu menyelidiki hal ini, pelakunya sudah pasti Elise si penggila Gavin.


"Cih, Elise si cewe gila"


"Sepertinya aku juga harus pulang. Sebentar lagi akan turun hujan" ujar Olivia dan langsung pergi menuju kelasnya. Ia berniat membawa tasnya dan pulang sekarang.


"Yukiiii!!!"


Olivia mendengar seseorang meneriakkan nama Yuki dari lorong. Suara itu menggema, sampai membuat Olivia merinding. Ia pun menghampiri orang yang berteriak itu. Dan yang berteriak tadi itu adalah.. Gavin?

__ADS_1


"Lo? Olivia pacarnya Louis kan?" Ujar Gavin sambil terengah-engah dan Olivia hanya mengangguk kikuk.


"Lo liat Yuki?"


"Lo telat!" Jawab Olivia.


"Yuki udah dibawa sama seorang pria tadi. Gua ga tau apa yang terjadi. Gua temukan Yuki di toilet dekat lobby dengan keadaan pintu terkunci dan tubuhnya basah kuyup. Sebenarnya apa yang terjadi? Yuki seperti dibully. Dan ada luka memar dikakinya" jelas Olivia dengan tegas.


Mendengar itu, Gavin merasa sakit. Seharusnya Gavin tak mengiyakan Yuki tadi di kantin. Dan dengan bodohnya, Gavin menunggunya lama.


Tadi dia bilang, seorang pria sudah membawanya? Apa itu Felix? Gavin merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia berniat menelpon Andro sekarang.


Niiiittt niiiittt


"Halo?" Jawab Andro dari seberang.


"Cepet ke sekolah sekarang!"


"Heh! Lo sengaja ya mau ganggu gua sama va--"


"Yuki di keroyok Elise barusan. Gua butuh bantuan Lo"


"Gua otw sekarang"


Tut Tut Tut


Gavin menutup teleponnya dan beralih menatap Olivia dibelakangnya.


"Bisa Lo kabarin Louis? Bilang aja plan A gagal" ujar Gavin datar dan pergi meninggalkan Olivia yang mematung disana.


"Wow, jadi itu yang mereka sebut dengan cold prince? Huh beibs, teman kamu aneh" ujar Olivia yang menatap kepergian Gavin.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Lo yakin ini rumah Yuki?" Tanya Gavin tak percaya sambil menatap sebuah rumah sederhana dihadapannya.


"Iya. Kan tadi Lo liat sendiri di alamatnya. Bener kok ini" jawab Andro.


Gavin terus memandang rumah ini. Rumah ini tidak mewah dan tidak terlalu besar. Bahkan bisa dikatakan sangat sederhana kalau untuk Yuki yang notabenenya sebagai anak orang kaya. Hanya ada 2 lantai dan jika melihat pintu garasinya, kemungkinan hanya muat untuk 2 mobil.


"Yaudah kita coba aja dulu. Vale payungnya mana?" Ujar Andro dan langsung menerima payung besar dari Vale.


Kini mereka bertiga sudah ada didepan pintu rumah Yuki. Vale mencari - cari tombol bel rumah. Tapi tak ditemukan. Apa rumah ini tak memiliki bel nya?


Tok tok tok


"Permisi!!" Gavin kesal karena dirumah ini tidak ada belnya.


"Jangan teriak kayak gitu Vin! Ga sopan!" Ketus Vale.


"Gua ga peduli" jawab Gavin.


cklek


Pintu akhirnya terbuka dan menampilkan seorang pria dengan kemeja panjang. Pria itu tersenyum tipis dan bertanya,


"apa kalian temannya Yuki? Gavin, Vale dan... Andro atau Louis ya ini?"


"Andro"


"Oke baiklah silahkan masuk"


"Siapa kau? Kau bukan Felix ataupun kak Zen" tanya Gavin.


"Ini pegang dulu" ucapnya sambil memberikan handuk. "Kau benar. Namaku Alvaro Siauw. Aku ini kakaknya Felix" lanjutnya.


"Bisa kita langsung lihat Yuki sekarang?" Tanya Vale.


"Tentu. Pergilah ke lantai dua. Kamarnya ada di pintu ke 3 setelah tangga" ujar Alvaro.


Vale yang tak tahan ingin melihat Yuki pun langsung bergegas naik ke atas diikuti Andro dan Gavin dibelakangnya. Saat sampai di depan pintu kamar, Vale memutar kenop pintu dengan perlahan dan masuk.


Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Yuki yang terbaring lemah disana. Apa separah itu? Kini di tangan Yuki ada jarum infus yang tertancap disana.


Vale rasanya ingin menangis, tapi ia tahan. Ia tak bisa melihat Yuki terbaring lemah seperti ini. Vale melangkahkan kakinya mendekati Yuki. Ia memegang keningnya, sangat panas. Huh, pantas saja. Yuki terkena demam tinggi.


"Kenapa kau tak membawa Yuki ke rumah sakit?" Tanya Vale pada Alvaro yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Untuk apa aku bawa dia ke rumah sakit? Ah, Untuk bertemu dokter? Tapi aku dokter tau" jawab Alvaro tanpa senyum lagi.


"Bisa kita bicara dibawah? Aku takut Yuki akan terbangun melihat kalian disini" ujar Alvaro.


Sekarang, mereka sudah ada di ruang tamu lagi. Suasana menjadi agak tegang. Alvaro membawakan mereka coklat panas dan sepiring biskuit.


"Gua ga ngerti sama hubungan keluarga Yuki. Sebenarnya siapa kau ini?" Tanya Andro.


"Aku? Alvaro Siauw, kakak dari Felix Siauw. Felix dan aku sebenarnya bukan kakak Yuki, tapi lebih tepatnya adalah kami ini seperti bawahan mereka. Hal itu sudah ada secara turun temurun dari generasi sebelumnya antara keluarga Cortez dengan keluarga Siauw. Tapi, bukannya dijadikan bawahan, Axel, Zen dan Yuki malah menjadikan kami berdua seperti saudara. Itu mungkin karena kami dibesarkan oleh ibuku sejak kecil.."


"Ibunya Yuki meninggal saat melahirkan Yuki. Ayahnya dan orangtuaku tewas dalam kecelakaan lalu lintas saat Yuki baru berumur 2 tahun. Bisa dibayangkan gimana keadaan kita waktu itu. Huh miris banget" jelas Alvaro.


"Aku ingin minta bantuan kalian" ujar Alvaro dengan serius.


"Apapun akan kulakukan untuk Yuki" jawab Vale dan diangguki oleh Andro.


"Jangan sampai Felix dengar cerita kalau Yuki dibully kayak tadi. Itu akan mengancam keberadaan Yuki disini"


"Maksudnya?" Gavin mulai bertanya.


"Yuki, dia pernah dibully dulu saat kelas 1 SD. Semenjak saat itu, Yuki tak pernah diizinkan masuk sekolah umum. Dan sekarang, ini pertama kalinya bagi Yuki"


"Jika Felix sampai tahu, dia takkan segan-segan untuk memberitahu pada Axel. Dan jika Axel sampai tahu, kemungkinan besar Yuki takkan bisa bersekolah lagi"


Gavin terkejut saat Alvaro selesai bicara. Jadi itu yang sebenarnya terjadi. Apa Yuki berbohong padanya? Atau memang sengaja ia sembunyikan?


"Apapun yang terjadi, kami akan tetap menjaga Yuki" ujar Vale menatap Alvaro dengan tajam.


"Baiklah. Sepertinya Yuki menemukan teman yang tepat baginya"


Setelah suasana tak tegang lagi, sekarang berubah menjadi keheningan. Sepertinya Gavin, Andro dan Vale terlalu terkejut dengan kelamnya hidup Yuki. Yuki berhasil mengelabui mereka dengan senyumnya yang lebar dan manis.


"Bisakah aku menginap di sini dan menjaga Yuki?" Tanya Vale.


"Tentu saja boleh. Kebetulan sekali, aku harus keluar untuk mengambil infus di rumah sakit dan beberapa obat untuknya." Sahut Alvaro dengan antusias.


"Kalau begitu, kami juga akan menginap!" Ujar Gavin.


"Eh? Tidak boleh. Kalian ini cowo. Jangan membuat Yuki lebih merasa tak enak. Pulanglah kerumah kalian" senyum Alvaro berubah seketika dan menjadi datar lagi.


"Baiklah kami pulang. Bye Vale. Aku bakalan balik lagi bawain baju kamu dari rumah" ujar Andro sedih dan kecewa.


"Sorry boys." Ujar Vale.

__ADS_1


Akhirnya dengan perasaan yang sangat kecewa, Andro dan Gavin pun pulang. Vale akan bolos besok untuk jagain Yuki seharian penuh.


"Vale, akan ku bawakan kau kasur lantai ke kamar Yuki. Maaf, kau tak bisa tidur dikamar kami karena kamar ini kamar cowo, tak baik kalau kau tidur disini" ujar Alvaro.


"Tak apa kak. Yang penting, aku bisa mengawasi Yuki sepuasnya" Vale tersenyum tipis. Ia juga sudah sangat lelah, ingin rasanya langsung beristirahat sekarang.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Matahari telah menyelinap masuk kedalam kamar dan membuat seorang gadis yang sedang bergulat dengan selimutnya akhirnya mengerjapkan matanya.


Ya, gadis itu adalah Valeria Geishani. Ia terbangun di kamar Yuki pagi ini. Semalam, Vale memutuskan untuk menginap di rumah Yuki dengan alasan menjaganya sepanjang malam. Tapi kenyataannya, Vale malah tidur nyenyak semalam.


Bahkan, saat ia terbangun dari tidurnya, Yuki sudah tidak ada di kasurnya. Infusnya juga sepertinya sudah dilepas. Apa Yuki ada di kamar mandi? Vale akhirnya berjalan lalu berdiri di depan pintu kamar mandi dan mengetuknya. Tak ada jawaban. Vale menuruni tangga dan mendapati Yuki yang sedang memasak di sana. Dan mukanya masih pucat.


"Yuki, apa yang kau lakukan?" Tanya Vale panik.


"Memasak. Hari ini aku mau masak nasi goreng loh" jawab Yuki.


"Ta-tapi kan, Lo harus pakai lagi infusnya?"


"Gapapa kok. Kata kak Al, infusnya sekarang bisa di lepas. Tenang Vale, nanti dipasang lagi kok" jawab Yuki.


"Hei Vale. Mandilah sana! Aku takkan membiarkan siapapun menyentuh makananku tanpa mandi terlebih dahulu" ujar Yuki.


"Baiklah. Aku akan mandi. Aku tak sabar untuk mencicipi nasi goreng hari ini" jawab Vale. Lalu ia naik lagi keatas dan mandi.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Kini, Gavin telah duduk di ruang OSIS bersama dengan Andro. Mereka sedang menunggu Louis dan Olivia kekasihnya.


Gavin terus terus saja mengetuk meja dengan jarinya. Ia tak tahan lagi, ingin rasanya mengamuk di depan Elise. Andro memegang tangan Gavin untuk menenangkannya, tapi ditepis oleh Gavin.


Tok tok tok


"Masuk!"


Louis dan Olivia muncul dari balik pintu dan langsung masuk dengan tergesa-gesa. Louis telah membawa beberapa bukti untuk membawa kasus ini ke BK.


"Lo berhasil?" Tanya Andro.


"Sorry, karena di toilet wanita ga ada cctv. Jadi gua cuma dapat rekaman sebagian cctv yang ada di lobby. Disini terlihat Elise awalnya masuk dengan 3 temannya. Lalu 2 orang menyusul di belakangnya sambil bawa selang dan ember. Apa ini cukup?"


"Ayo kita lakuin!"


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Sekarang Kasus pembullyan yang dilakukan oleh Elise kepada Yuki sedang diselesaikan dengan cara damai. Semua bukti sudah diberikan pada guru BK selaku penengah. Bahkan bisa dikatakan, Elise sudah terbukti bersalah tanpa memerlukan bukti rekaman cctv.


"Segini aja? Bisa jadi, itu bukan gua" ujar Elise dengan sombongnya. Elise berani dapat angkat bicara setelah tantenya datang. Herrera Renault.


"Yaiyalah. Mana ada maling ngaku secepat itu. Yang ada penjara kota penuh tuh" ujar Louis menantang.


"Jaga bicara kamu ya! Keponakan saya sudah tak terbukti bersalah dan kamu ini jangan sok tahu bocah ga tahu diri" pekik Herrera.


"Sebaiknya kasus ini ditutup!" Tukas Herrera.


"Kasus ini tak bisa ditutup begitu sa--" kalimat Andro terpotong.


"Ayo kita pergi! Percuma kita ngomong sama 3 orang gila" ujar Gavin sambil memancarkan mata tajam. Seketika udara di ruangan ini menjadi dingin setelah Gavin berbicara.


"Jaga bicara kamu Gavin! Atau saya akan laporkan pada ayah anda!" Ujar guru BK.


"Laporkan saja. Saya juga akan melaporkan anda yang sudah bekerja di bawah naungan si nyonya Herrera Renault untuk membela orang yang sudah terbukti bersalah" jawab Gavin sinis.


Guru BK itu pun tak bisa menjawab. Diam membisu dengan menundukkan kepalanya. Cih, dasar orang yang tak tahu malu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Louis melajukan mobilnya menuju rumah Yuki untuk menjenguknya. Hari ini hanya Louis yang membawa mobil. Jadi, sekarang didalam mobilnya ada Gavin, Andro dan tentu saja Olivia.


"Sebaiknya kita ke minimarket dulu. Kita bawakan beberapa makanan untuk Yuki" ujar Andro yang duduk dibelakang.


"Ga usah. Tadi Olivia udah beli kok. Tuh seplastik besar" jawab Louis sambil menunjuk kantong plastik yang dibawa Olivia. Olivia diam tak berkutik dan mengatakan apapun.


"Yaudah. Kita langsung aja ke sana. Gua kangen sama bebeb Vale" ujar Andro.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Sesampainya mereka di rumah Yuki, mereka langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke pekarangan rumah Yuki. Saat Gavin berniat untuk mengetuk pintu, Louis sudah terlebih dahulu membunyikan bel rumah.


Ting tong Ting tong


"Eh? Nemu bel dimana Lo? Perasaan semalam kita nyariin sampai Gedeg tahu" ujar Andro kaget saat mendengar Louis membunyikan bel.


"Ini. Ada kok. Cuman ketutupan sama guci ini" Louis menunjukkan tombol bel rumah yang ada di belakang guci. Sepertinya ini guci antik. Ukurannya sangat besar.


Cklek


Pintu terbuka dan menampilkan Vale yang menggunakan baju rumahannya. Vale tersenyum ketika melihat Andro dan langsung memeluknya.


"Aduh, bebeb jangan gitu dong. Malu nih ada yang lainnya juga" ujar Andro sambil berusaha melepas pelukannya.


"Eh iya maaf. Ayo masuk. Yuki baru aja bangun. Dia baru mau makan terus minum obat lagi" ujar Vale lalu ia menggandeng tangan Andro dengan semangat.


Louis, Olivia dan Gavin hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Teman mereka berubah menjadi bucin ternyata. Mereka hanya bisa mengikuti sepasang kekasih ini dari belakang. Huh, Gavin sudah jengah melihat pasangan ini. Lantas Gavin mempercepat langkahnya dan mendahului mereka berdua.


Tok tok tok


Gavin masuk ke dalam terlebih dahulu. Disana ada Yuki yang sedang terduduk di kasurnya. Rambutnya terurai dan sedikit berantakan. Tatapan kosong terus melekat di mata Yuki. Sepertinya gadis ini bosan.


Lantas, Gavin mendekat dan langsung menyentuh kepala Yuki. Yuki terlonjak kaget setelah merasakan ada yang menyentuhnya. Yuki memancarkan senyuman lebar setelah mengetahui bahwa Gavin yang menyentuhnya.


"Bagaimana keadaan lu?" Tanya Gavin.


"Wah, Gavin? Kau menanyakan keadaanku?" Ujar Yuki sambil terkekeh.


"Lo senang sekarang gua tanya begitu?" Ujar Gavin yang alisnya terangkat sebelah kanan.


"Tentu saja. Jangan hanya berdiri, duduklah. Sini" jawab Yuki sambil menepuk kasur agar Gavin duduk di hadapannya.


Gavin pun duduk di pinggir kasur sesuai keinginan Yuki. Gavin menatap Yuki yang terus saja tersenyum. Dan tiba - tiba, senyuman Yuki pun akhirnya turun.


"Maaf. Aku tak bisa menepati janjiku, kemarin. Kau pasti menunggu ku lama. Aku--"


Grep


Gavin memeluk erat tubuh Yuki. Gavin bisa menghirup aroma vanila dari rambut Yuki. Yuki berusaha melepaskan pelukannya, tapi Gavin malah semakin mengeratkan pelukan mereka.


"Jangan pernah minta maaf lagi sama gua. Disini gua yang salah. Gua ninggalin Lo sendirian. Sorry Ki" ujar Gavin lembut.


"Hei ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2