
Yuki mencoba membuka matanya saat dirasa ia cukup tidur. Yuki kemudian duduk dari berbaringnya dengan masih mengucak matanya.
"Hooaaamm.. jam berapa sekarang"
Yuki menguap dan merentangkan kedua tangannya ke atas. Keadaan kamarnya gelap. Tak ada gorden yang terbuka. Bahkan kamarnya jadi sedikit dingin.
Tanpa pikir panjang, Yuki bangun dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi untuk mandi. Sepertinya mandi dapat menyegarkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Yuki mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya di depan cermin. Yuki beralih melirik gorden kamarnya yang masih tertutup rapat. Ia berjalan dan membuka gorden itu.
Ahh, betapa terang matahari menerangi dunia ini.
"Sepertinya ini sudah sangat siang" ujar Yuki.
Yuki jadi bertanya-tanya, berapa lama ia tertidur?
Karena penasaran, Yuki memutuiskan untuk turun kebawah tanpa ada niatan untuk melihat jam. Yuki menuruni tangga tanpa tergesa-gesa.
Saat sampai dibawah, dia mendapati Gavin sedang main PS di depan tv. Tumben. Yuki berjalan menghampiri Gavin disana. Tapi tiba-tiba Yuki jadi mengurungkan niatnya itu. Dan berpikir sejenak.
Ehh, tunggu! Itu Gavin apa Kevin?
"Yuki?"
Yuki menoleh kebelakang, mencari siapa yang memanggilnya barusan. Ternyata itu Axel. Axel yang terlihat sangat tampan dengan balutan kemeja kantorannya tampak membawa sesuatu, apa itu untuk Yuki? Dan tentu saja, Yuki melirik apa yang dibawa oleh kakaknya.
"Kakak bawa apa?" Tanya Yuki.
"Apa tak ada pertanyaan lain, sweety?" Axel malah menjawab dengan pertanyaan lagi.
"Baiklah, akan ku ganti. Kakak ku ganteng banget, mau pergi kemana?" Tanya Yuki polos. Axel menepuk dahinya sendiri dan menggelengkan kepalanya.
Apa ini efek tidur terlalu lama? apa dia baru saja mengira kalau ini pagi? Batin Axel.
"Sweety, kakak baru pulang. Aku sudah berada di kantor dari pagi. Apa kau baru bangun?" Axel kembali bertanya. Yuki memasang wajah bingung dan memiringkan kepalanya. Tiba-tiba Gavin muncul dari dapur dengan 2 gelas air di tangannya.
"Dia baru bangun" ujar Gavin. Yuki tersentak karena Gavin tiba-tiba berbicara di belakangnya.
"Gavin atau Kevin?" Tanya Yuki. Gavin memutar bola matanya.
"Ga usah disamain sama Kevin. Jijik gua" kemudian Gavin meninggalkan Yuki dan Axel, Gavin lebih memilih melanjutkan permainannya yang tertunda bersama Kevin.
Yuki memutar otaknya sebentar.
"Berapa lama aku tertidur?" Tanya Yuki tiba-tiba.
"Hhmm... Sebentar... Mungkin sekitar 15 jam" jawab Axel.
"Apa!?" Yuki sangat terkejut. Apa ia akan menjadi seekor kukang yang suka tidur sekarang? Tidak. Tidak mungkin. Oh ayolah, Yuki pikirannya jadi ngawur kemana saja.
"Aku tidur selama itu?" Ujarnya lagi dengan penuh keterkejutan. Berarti sekarang sudah akan sore? Ya itu benar.
"Yuki, ayo makan dulu. Ratatouillenya enak loh. Kau baru saja melewatkan sarapan dan makan siang" ujar Alvaro dengan membawa nampan di tangannya dan ditaruhnya di atas meja makan.
"Eh, oh, iya kak Al. Aku kesana sekarang"
Axel terus menatap Yuki yang berlari ke meja makan. Dia menatap dengan khawatir. Kerjaan kantor dan kehidupan remajanya kini sudah mengikis waktu istirahat Yuki. Apa Axel harus mencari direktur keuangan yang baru?
Tapi Axel lebih khawatir jika ia tak bisa menemukan pengganti sebaik Yuki. Pekerjaan Yuki sangatlah jujur, teliti, rapih dan bahkan Yuki juga sangat pandai menganalisa. Yuki takkan sembarangan menandatangani kontrak dengan mudah. Ia akan dengan sepenuhnya mencari seluk beluknya dengan rinci.
Bingung lagi kan?
"Kak Axel mikirin apa?" Ujar Kevin yang kini sudah di belakang Axel. Dan Axel pun berbalik.
"Tak ada. Kembali lagi sana. Gavin jadi berhenti bermain karena kau"
Kevin terkejut mendengar pernyataan Axel. Mengapa dia bisa membedakan mereka berdua. Padahal kan Kevin sedang tak memakai kacamata. Yup, Kevin sedang memakai softlens hari ini.
"Loh kok, kak Axel bisa bedain kita berdua?" Tanya Kevin.
"Gavin ga bakalan tebar senyuman kayak gitu" jawab Axel singkat dan itu memperjelas semuanya.
Eh?
"Apa aku selalu tebar senyuman kemana-mana?" Ujar Kevin sendiri seraya memegangi bibirnya.
🌸🌸🌸
"Aku sudah selesai"
Yuki telah menyelesaikan makannya dan mencuci piringnya. Yuki bersenandung kecil. Tidur dengan waktu yang lama, membuatnya merasa lebih sehat. Yuki juga sudah makan banyak. Senang rasanya.
"Kenapa kau yang mencuci piringnya?" Ujar Alvaro yang tiba-tiba muncul.
"Ah, tak apa kak. Sekalian saja" jawab Yuki dengan senyum sumringah.
"Pergilah. Temanmu berkunjung. Sapalah mereka"
"Iya iya. Lagian, aku juga sudah selesai kok"
Yuki mencuci tangannya kemudian mengeringkannya di mesin pengering tangan. Yuki menepuk-nepuk tangannya di paha kemudian melenggangkan kakinya keluar dari dapur. Yuki berjalan menuju ruang keluarga, dimana Gavin dan Kevin sedang bermain.
__ADS_1
Yuki menghampiri si kembar ini. Mereka sedang bermain PS dan duduk di atas karpet. Yuki menyapa mereka, tetapi mereka tak ada satupun yang menengok padanya. Akhirnya Yuki hanya memperhatikan mereka yang sedang bermain.
"Kau mau ikut main?" Tanya Kevin.
"Eh? Tapi aku tak pernah main PS" jawab Yuki.
"Mainnya go kart aja. Kayaknya gampangan"
Kevin mengeluarkan CD permainan sebelumnya dan menggantinya dengan permainan go kart.
"Stik PS nya ada lagi ga?" Tanya Kevin lagi.
"Uhm, ga tau deh"
"Cari dong. Cepet!" Ketus Gavin.
"Gav! Jangan kasar dong" omel Kevin
"Iya iya, aku cari. Jangan berantem dong"
Yuki akhirnya mencari di dalam lemari buffet di bawah tv. Didalam sini, banyak sekali film action milik Zen dan ada beberapa CD permainan PS.
"Ahh ketemu!" Yuki menjunjung tinggi stik PS berwarna biru yang baru saja ia temukan.
"Oke, kita langsung main. Sini, gua ajarin"
Kemudian Kevin mengajari Yuki cara bermain game sampai Yuki akhirnya dapat bermain bersama mereka. Ini sangat seru. Yuki sampai tak bisa berhenti mengoceh dan berteriak jika ia berbuat kesalahan.
Mereka terus bermain. Sampai waktu yang lama. Mereka tak kunjung berhenti. Dan berakhir dengan kekalahan Yuki.
Yuki kalah.
You lose!
"Ini ga adil!" Pekik Yuki.
"Apa yang ga adil?" Tanya Gavin dingin.
"Tadi kamu kan nyenggol mobil aku. Gavin pasti sengaja! Ayo ngaku" Yuki malah menyalahi Gavin yang telah menyenggol mobilnya.
"Ngapain gua yang ngaku? Kalau ga bisa main tuh, ga usah main" jawab Gavin.
"Iihh Gavin nyebelin!"
"Berhenti bermain!" Pekik Zen yang ternyata sudah pulang dari kantor. Zen datang dengan dasi yang sudah tak terpasang dan jas yang tersampir di bahunya.
Hening seketika.
"Hhmm, bener juga. Gimana kalo kita balapan mobil beneran?" Ujar Kevin dengan bodohnya.
"****!"
Pletak!
Gavin menjitak kepala kembarannya ini, kemudian berdiri menghadap Zen.
"Maaf kak. Kita bakalan pulang sekarang. Ayo Kev!" Gavin menyeret Kevin dengan menarik bagian belakang hoodienya. Dan Kevin terus meronta-ronta, minta dilepaskan.
"Uwaaahhh.. Gavin! Gua jangan diseret gitu dong!" Pekik Kevin.
Kemudian mereka pulang kerumah.
Yuki beralih menatap Zen dengan kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dan pergi. Yuki mendengus kesal ketika ia melewati Zen yang sudah mengakhiri acara bermainnya bersama teman-temannya.
"Loh, Yuki kenapa?"
Yuki membelalakkan matanya. Sangat terkejut melihat seseorang yang baru saja memasuki rumah.
"Felix!?" Ujar Yuki tak percaya.
"Aku pulang. Biasa aja sih" jawab Felix.
"Kenapa Felix juga ikutan kesini?" Tanya Yuki karena penasaran.
"Aku tak bisa meninggalkan tuanku yang terus saja membuat masalah" jawabnya lagi.
"Maksud Lo apa, hah!?" Zen jadi marah lagi karena merasa tersinggung.
"Memang itu kenyataannya. Sudahlah. Aku keatas dulu. Mau mandi"
Kemudian Felix naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.
Yuki beralih menatap Zen dengan tajam. Itu membuat Zen meremang seketika. Bukankah kemarin Yuki baru saja memaafkannya?
Yuki mengalihkan pandangannya dan berlalu meninggalkan Zen yang terdiam disana.
🌸🌸🌸
9.44 p.m.
Kini keluarga Cortez sedang berkumpul di kamar Axel. Mereka akan membahas suatu hal yang lumayan cukup penting untuk dipertimbangkan.
__ADS_1
Sudah lama sekali mereka tak berkumpul seperti ini.
Axel kini duduk di atas kursi, Alvaro dan Felix sudah duduk di tepi kasur. Zen duduk di atas karpet. Dan Yuki duduk di atas kursi kerja Axel yang terdapat roda di bawahnya dan itu membuat Yuki terus berputar-putar terus di atas kursinya.
"Hentikan sweety. Kita akan serius kali ini" ujar Axel.
Yuki langsung menghentikan aksinya berputar-putar dengan kursi dan duduk dengan tenang.
"Apa yang akan kau dibahas sampai mengharuskan aku untuk ikut kumpul." Ujar Felix.
"Ini tentang Yuki" ujar Alvaro.
"Eh? Kenapa aku? Aku kan sudah memaafkan kak Zen." Ujar Yuki membela dirinya.
Axel memejamkan matanya dan menarik nafas dengan perlahan. Kemudian beralih menatap Yuki dengan serius. Ini semakin membuat Yuki bingung.
"Kami berniat untuk mencari direktur keuangan yang baru untuk menggantikan mu" ujar Axel dengan mantap.
Yuki membulatkan matanya. Apa maksudnya ini?
"A-apa maksud kakak? Aku ga ngerti!" Yuki berusaha mencari apa maksud kakaknya ini.
"Menjadi direktur keuangan itu telah mengganggu kehidupan pribadimu" Alvaro kini ikut berbicara.
"Kehidupan ku selama ini baik-baik saja kak. Aku--" ucapan Yuki terpotong.
"Ini tidak wajar sweety. Kehidupan mu ini kurang normal" ujar Axel.
"Apanya yang tidak normal!?" Yuki mulai kesal.
"Kau sudah menjadi direktur keuangan di usiamu yang ke-12 tahun. Aku tahu, kau bahkan sering menggantikan Zen hampir di semua rapat yang seharusnya di hadiri oleh Zen!" Axel kini beralih menatap Zen dengan tajam hingga rasanya menusuk ke dalam hati terdalam.
"A-aku?" Zen mulai gelagapan karena dituduh sebagai tersangka selanjutnya oleh Axel.
"Iya kau! Kau juga sering bolos kuliah dulu saat kau sedang mengejar gelar S1 mu. Dan ketika akan melanjutkan studi S2, kau juga sudah diangkat menjadi direktur di kantor cabang dan sering menyuruh Yuki untuk membantu mu dalam urusan kantor. Sedangkan kau? Hanya berkumpul dengan teman-teman yang entah apa tujuan mu itu untuk berkumpul tidak jelas seperti itu!" Axel mulai memarahi Zen dan ia pun tertunduk.
"Kau tak memikirkan Yuki? Setiap akhir bulan, Yuki harus mengelola data keuangan di seluruh perusahaan cabang dan itu harus selesai di setiap tanggal 1. Ditambah lagi, Yuki sekarang bersekolah di sekolah formal. Yuki harus mengikuti pembelajaran sesuai jadwal pemerintah. Dia bahkan jadi sering begadang karena Yuki juga harus menghandle pekerjaan mu juga!" Lanjut Axel.
"A-aku tak pernah begadang kok" elak Yuki.
"Hm, oh ya? Lalu, untuk apa kau menyetok masker mata dan kopi yang banyak sekali?"
Yuki terdiam.
"Lalu, anemia yang selalu kambuh? Sudahlah Yuki. Jangan mengelak" Alvaro juga ikut berbicara.
"Ta-tapi, kak Axel juga kehidupannya tidak normal kan? Kakak juga sudah menjadi CEO di usia kakak yang ke-14, sama sepertiku. Itu curang kak, jika aku terus saja diperlakukan seperti tuan putri tanpa harus melakukan apapun. Aku hanya membantu. Tidak lebih" Yuki mulai memberanikan diri untuk berbicara lebih.
"Huft, itu berbeda sweety. Aku melakukannya karena itu adalah tanggung jawab sebagai kakak tertua. Aku harus melindungi keluarga. Dan ada ratusan keluarga yang bergantung pada perusahaan kita" tutur Axel dengan lembut.
"Aku baik-baik saja kak. Tak usah dirisaukan" Yuki mulai meyakinkan kakaknya lagi.
Axel tetap diam.
Felix ingin membantu, tetapi dia tak tahu harus mengatakan apa. Begitu juga dengan Alvaro, dia memilih untuk diam untuk mengetahui keputusan dari Axel.
"Tolong dipertimbangkan lagi kak" Yuki akhirnya mengatakan apa yang ia mau.
"Baiklah, kembali ke kamarmu, Yuki" ujar Axel lagi.
Yuki bangkit dari duduknya. Berjalan menuju pintu dengan kepala yang tertunduk. Ketika sampai diambang pintu, Yuki berbalik kembali.
"Ada apa lagi? Semua hal yang sudah menjadi keputusan ku, harus kau laksanakan nantinya" Axel kini tak berbicara dengan lembut. Ketegasan dan penuh kewibawaan lah yang keluar dari lisannya.
Yuki kembali menunduk dan keluar dari kamar Axel. Ia menutup pintu dengan pelan. Kemudian Yuki berjalan dan masuk kedalam kamarnya.
Dikamar Axel, ketegangan semakin terasa ketika Yuki keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Uh, rasanya Zen ingin kabur. Ia tak tahan jika Axel terus-menerus mengeluarkan aura membunuh seperti ini.
"Jadi, apa keputusan mu kali ini?" Ujar Alvaro memecah keheningan.
"Ini semakin rumit. Aku tak bisa meninggalkan Zen dan Yuki di tempat yang sama. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan pekerjaan ku disana" Axel mulai kebingungan mencari solusinya kali ini.
"Bi-bisakah aku keluar sekarang?" ujar Zen dengan keraguan.
Tak ada yang menjawab.
'oh, ayolah. Katakan sesuatu'. Batin Zen mulai ketakutan melihat Axel yang terus berpikir.
"Alvaro" ujar Axel tiba-tiba.
"Ya?"
"Hubungi Nancy sekarang. Suruh dia untuk mengemasi barang-barangnya dan tinggal disini. Aku akan memberitahu pilot kita untuk menjemputnya"
"Eh!? Kenapa harus si Nancy itu sihh?" Ujar Felix.
"Ahh, ya. Itu juga bisa melatih mu untuk mempertahankan diri agar tak bertengkar dengannya" ujar Alvaro dengan nada meledek.
"Selama Nancy disini, dia akan mengatur semua keperluan kalian, terutama Yuki. Dan selama Nancy ada disini, jangan harap kalian bisa meminta bantuan Yuki lagi. Sekian" Axel telah mengucapkan keputusannya dan itu membuat Zen dan Felix tak dapat berkata apapun lagi.
"Runding selesai. Silahkan keluar dari kamarku"
__ADS_1
Alvaro berdiri dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Nancy. Felix dan Zen keluar bersamaan dengan perasaan yang sama setelah keputusan rapat dibuat. Merasa tidak menang itu tak menyenangkan rupanya. Mereka baru menyadarinya.