Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
7. Hindari Si Cabe


__ADS_3

8.45 am.


Yuki duduk didalam mobil sambil memakan sandwich kesukaannya. Melihat pemandangan kota di pagi hari, sangat menyenangkan bagi Yuki. Untung saja di kota ini, orang - orang lebih memilih menggunakan angkutan umum dibandingkan mengendarai mobil pribadinya. Jadi, mobil yang ditumpangi Yuki, dapat berjalan dengan mulus, tanpa hambatan.


"Felix?" Ujar Yuki mencoba memulai percakapan.


"Ada apa?" Jawab Felix.


"Kapan kak Zen sendiri yang mengantarku ke sekolah?"


"Sabar... Zen juga sedang sibuk mengurus proyek dan skripsinya yang tak kunjung selesai" Felix menghela nafas.


"Huh... Iya iya" jawab Yuki.


Zen? Siapa Zen? Dia adalah kakak kedua yang Yuki miliki. Alexzandar Arvie Cortez. Sedang sibuk menyelesaikan proyek pembukaan cabang perusahaannya dan sibuk mengurus skripsi S2 nya yang sudah lama terbengkalai. Umur Zen baru 22 tahun, hanya beda 5 tahun dengan Yuki.


Kalau bertanya - tanya tentang Kaka pertama Yuki, dia adalah Axel. Axelerious Arvie Cortez. Umurnya juga baru 25 tahun. Axel kini bekerja menjadi CEO di perusahaannya. Sejak SMA, Axel sudah menjabat menjadi CEO di Cortez Company. Dia dikenal sebagai CEO yang dingin dan kejam. Axel tak akan berpikir dua kali untuk memecat karyawannya yang tak serius bekerja. Axel tak pernah tersenyum kepada siapapun, terkecuali dengan Yuki. Saat melihat Yuki, Axel dengan otomatis akan langsung tersenyum.


Kedua orang tua mereka, kini sudah tiada. Ibu mereka meninggal saat melahirkan Yuki. Sedangkan ayah mereka, tewas dalam kecelakaan saat Yuki berumur 2 tahun. Hal ini membuat Yuki jadi tak punya sedikitpun kenangan terindah dari ayah dan ibunya. Jangankan mengingat, Yuki saja tak pernah bertemu dengan mereka. Sangat menyedihkan. Saat mereka merayakan ulang tahun untuk Yuki, mereka juga harus datang ke pemakaman untuk memperingati hari kematian ibunya.


Axel, Yuki dan ibunya sama - sama memiliki mata biru langit yang indah. Hanya warna rambut mereka yang mengikuti warna rambut ayahnya, yaitu blonde. Sedangkan Zen? Dia beruntung mendapatkan rambut coklat pekat milik ibunya dan tentu saja matanya biru langit seperti kedua saudaranya.


Saat Yuki berada di kelas 1 sekolah dasar, dia pernah di bully. Karena Yuki tak punya orangtua. Tak ada yang datang untuk Yuki saat acara pembacaan puisi yang dihadiri oleh orangtua masing - masing. Hal itu membuat Axel geram.


Semenjak saat itu, Yuki tak pernah diizinkan untuk bersekolah di sekolah umum. Dia hanya diizinkan untuk homeschooling oleh Axel. Bagi Axel, Yuki adalah segalanya.


Akibatnya, Yuki tak pernah mendapatkan teman sebaya. Terkadang, kalau Yuki merasa bosan, dia akan berkunjung ke gedung kantor kakaknya. Dan pada akhirnya, Yuki juga ikut serta dalam hal pekerjaan kantoran kakaknya itu. Mulai dari ikut rapat, pesta pertemuan, perjamuan klien, dan masih banyak lagi. Yuki cukup terampil dalam hal pekerjaan kantoran, tapi Yuki kurang terampil dalam hal berteman dengan baik.


Belum lama ini, perusahaan sudah memutuskan untuk membuka cabang di Greenedy. Zen lah yang memegang kendali karena dia sangat pandai di bidang IT. Yuki memanfaatkan keadaan ini dengan memohon pada kakaknya, Axel. Yuki bilang sangat ingin pergi ke sekolah. Dia takkan pergi ke sekolah di Florentine, melainkan di Greenedy, ikut tinggal disana bersama dengan Zen. Yuki melakukan banyak cara agar Axel mengizinkannya.


Dan akhirnya, Axel setuju. Yuki hanya ingin sekolah, jangan sampai dia menyesal karena telah melarang Yuki untuk pergi sekolah. Lagipula, Yuki sudah remaja. Tak ada yang bisa menghalangi keinginan terbesar Yuki untuk sekolah di sekolah umum.


Dan takdir membawa Axel untuk mendaftarkan Yuki di salah satu sekolah milik teman bisnisnya. Yaitu Edward Evan Gerald, ayah Gavin.


Dan sekarang, Yuki sangat bahagia. Akibat perbuatan Gavin waktu itu, Yuki jadi bisa mendapatkan 4 orang sahabat sekaligus. Apalagi bisa berteman dengan Valeria si cewe cantik, tomboy yang pemberani. Kini, Vale merupakan panutan bagi Yuki.


Yahh... Jalan hidup Yuki memang panjang. Banyak suka dan duka. Itulah kehidupan.


Akhirnya Yuki sampai disekolah. Felix memberhentikan mobilnya didepan gerbang sekolah. Mata Yuki langsung berbinar saat melihat Gavin dari kejauhan.


"Apa itu temanmu?" Tanya Felix.


"Iya. Dia teman ku. Aku akan menyapanya. Dah Felix!" Ujar Yuki yang langsung membuka pintu mobil dan turun dari mobil.


"Hei, tunggu dulu" ujar Felix yang mampu mengehentikan pergerakan Yuki.


"Ada apa lagi?" Tanya Yuki kesal


"Jangan memasang wajah seperti itu, atau aku akan mengadukannya pada Axel" ancam Felix dan Yuki hanya memutar bola matanya malas.


"Cepatlah. Takutnya Gavin keburu hilang" ujar Yuki.


"Setelah pulang sekolah, jangan kemana-mana oke? Ini perintah Axel."


"Apa yang harus kulakukan nanti?"


"Ada teman bisnisnya yang tinggal disekitar sini dan Axel menyuruhmu untuk menemuinya. Dia akan mengirim prosedurnya nanti di emailmu. Kau paham?"


"Apa kak Axel takkan ke Greenedy? Apa dia tidak rindu denganku?" Tanya Yuki.


"Kau baru sebulan disini. Axel takkan merindukanmu secepat itu. Dia bahkan pernah meninggalkanmu selama beberapa bulan untuk urusan bisnis" jawab Felix.


Yuki tak menjawab, karena sudah kesal dengan Felix. Yuki langsung keluar dari mobil dan membanting pintu mobil. Yuki berjalan dengan cepat, saat melihat Gavin sudah melewati mobilnya.


"Gaviiiinnnn!" Teriak Yuki.


Gavin terkejut ada yang meneriaki namanya. Tak pernah ada yang berani meneriaki Gavin di pagi hari. Hanya Yuki seorang yang bertindak begitu pada Gavin. Gavin menolehkan kepalanya sebentar dan tak memperdulikan Yuki yang berusaha mengejarnya. Gavin langsung melanjutkan jalannya.


Melihat Yuki yang mengejar Gavin, banyak pasang mata yang merasa iri dan benci pada Yuki. Mungkin mereka mengira keduanya telah menjadi sepasang kekasih.


"Vin, Gavin tunggu!" Teriak Yuki lagi. Dan dengan terpaksa, Gavin pun berhenti.


"Apa?!" Ketus Gavin.


"Gavin? Ada apa?" Tanya Yuki heran. Gavin melanjutkan jalannya lagi dan Yuki juga berjalan berdampingan dengan Gavin.


"Ini masih pagi. Ga usah heboh" ujar Gavin.


"Pasti Gavin belum sarapan. Sandwich aku masih ada dua nih. Mau ga?" Yuki mengeluarkan kotak bekal dari tas ranselnya.


"Nanti aja dikelas"


🌸🌸🌸


"Yuki..." Ujar Vale saat Yuki hendak duduk di kursinya sambil memeluknya. Dan Yuki membalas pelukannya. Akhirnya Valeria mempunyai teman perempuan.


"Kok Lo pakai kemeja lengan panjang? Sekarang kan sudah masuk musim panas?" Tanya Valeria.


"E eh? Aku? Baik. Bajuku belum selesai dijahit oleh penjahit sekolah, jadi hanya ini yang sudah selesai. Begitu" jawabnya.


"Hm? Begitukah?" Tanya Vale. Yuki pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Btw, waktu itu kan Lo berdua ke taman kota, terus kalian ketemu sama Elise ga disana?" Tanya Andro.


"Eh? Ga kok" jawab Yuki ragu.


Dan Vale memasang wajah datar. Tak percaya dengan yang dikatakan Yuki. Vale langsung bertanya dan memastikannya.


"Kau tak pandai berbohong padaku" ujar Vale menjauhi Yuki dan berbalik menghadap Gavin.


"Gavin! Jelaskan semuanya! Atau gua akan cari tahu sendiri" teriak Vale.


"Harus banget ya gua ngomong?" Ujar Gavin sinis.


Bugh


"Sakit ****!" Teriak Gavin meringis kesakitan karena Andro yang memukul kepala Gavin.


"Apa susahnya sih ngomong, hah? Hajar aja Vale" perintah Andro. Vale menyeringai dan merenggang otot tangannya. Bersiap untuk menghajar Gavin.


"Wow wow tenang Vale. Iya iya gua ngomong" ucap Gavin yang sudah ketakutan dengan Vale.


"Jadi gini, waktu itu, Elise muncul dan hampir aj..."


"Apa?!!!" Ucap Andro dan Vale berbarengan.


"Jadi tuh cabe keganjenan nongol? Lo diapain sama dia Ki?" Ujar Andro.


"Ini ga bisa dibiarin. Kalo dia berurusan sama Yuki, dia juga berurusan sama gue!" ucap Vale


"Tenang guys. Oke?" Ujar Gavin. Andro dan Valeria kembali duduk di tempatnya masing-masing.


"Gua lanjut. Jadi pas Yuki mau melarikan diri, tuh cewe kayaknya malah nahan Yuki sampai berdarah dan inilah hasilnya" jelas Gavin menunjukkan bekas luka ditangan Yuki. Vale langsung berdiri.


"Gua ga bisa lihat Yuki kayak gini. Harus ditegur tuh cabe" ujar Vale.

__ADS_1


"Hm! Gua setuju. Ayo Vale!" Ujar Andro. Mereka berdua langsung berjalan ke luar kelas. Dan pak Hendra tiba - tiba masuk ke kelas. Sepertinya, bel masuk sudah berbunyi. Tapi mereka tak mendengar.


"Mau kemana kamu Andro dan Vale?" Tanya pak Hendra


"Saya ada urusan sebentar pak. Mohon izin keluar" ujar Andro.


"Urusan? Dengan Valeria?" Tanyanya lagi dan dijawab anggukkan kepala oleh Andro.


"Urusannya tunda dulu. Ada beberapa materi penting yang harus saya sampaikan. kalau kamu melewatkannya, kamu takkan bisa mengerjakan soal ulangan harian Minggu depan"


Andro dan Vale hanya bisa pasrah. Pak Hendra mungkin memang pengertian. Tapi jika ia sudah berkata tidak, ya tidak.


"Baiklah"


"Oke anak - anak, kita akan mulai pembelajarannya. Harap tenang semuanya"


Dan pelajaran pak Hendra pun dimulai. Sepertinya Andro dan Vale harus bisa menahan amarahnya sampai istirahat makan siang nanti.


Ditengah pembelajaran, Yuki melemparkan kertas yang sudah ia gulung kepada Gavin, didalamnya terdapat surat.


'Sepertinya kita harus menghalangi Andro dan Vale. Aku takut kalau sampai mereka bertengkar dan dipanggil guru'


Gavin membacanya. Jadi ini keinginan Yuki? Baiklah akan Gavin bantu. Lalu Gavin membalas surat Yuki.


'oke'


🌸🌸🌸


Kriiinggg


Bel istirahat akhirnya berbunyi.


"Oke. Saya mau kalian selesaikan dulu tugas ini. Kumpulkan sekarang. Saya tak mau tugas ini dijadikan pr. Baik anak-anak, sampai bertemu pekan depan"


Pak Hendra langsung keluar meninggalkan kelas. Vale dengan sigap mengerjakan tugasnya, begitu juga dengan Andro. Mereka masih ingat harus memberi pelajaran kepada Elise.


Ting ting Ting Ting


Bel speaker sekolah berbunyi. Sepertinya akan ada pengumuman. Sekolah pun menjadi...


Hening seketika.


"Panggilan kepada Lucyana Yuki Arvie kelas 11 A. Ditunggu kepala sekolah diruangannya. Sekian terimakasih"


"Ah itu namaku. Kira - kira, ada apa ya?" Gavin langsung menengok kepada Yuki dan tahu apa yang harus dilakukan.


"Vale! Mending Lo antar Yuki ke ruang kepsek" ujar Gavin.


"Ga! Gua harus kasih pelajaran sama si cabe" ujar Vale.


"Siapa tahu pas Lo jalan sama Yuki, terus ketemu dah tuh sama cabe. Terserah Lo mau ngomong apa juga" ujar Gavin berhasil memutar otak Vale lagi. Ini membingungkan.


"Iya juga ya. Oke Yuki ayo! Gua juga lapar. Berarti Gavin sama Andro ke kantin duluan aja. Pesankan kita makanan. Gimana? Pinter kan gua?" Ujar Vale.


"Yaudah oke"


Akhirnya mereka berempat pun terpecah jadi dua. Vale dan Yuki akan pergi ke ruang kepsek. Sedangkan Gavin dan Andro langsung ke kantin untuk memesan makanan mereka.


🌸🌸🌸


Yuki dan Vale berjalan menuju ke ruang kepsek sambil bercanda ria.


"Kayaknya Lo suka banget sama gaya rambut ponytale" ujar Valeria.


"Iya. Aku suka. Ya walaupun rambut aku ga begitu panjang. Hanya sebahu pas diikat" jawab Yuki.


"Hm, maybe. Aku ga ngerti juga"


"Eh? Itu bukannya si Elise" ujar Vale.


Yuki terlonjak kaget saat Vale menunjuk gadis yang berada jauh dengan mereka. Iya, itu Elise yang sedang mengobrol dengan temannya. Aduh. Apa yang harus Yuki lakukan kali ini?


Oke. Yuki harus bertindak sebelum Vale menghampiri Elise disana. Yuki lantas berlari ke arah lift dan langsung memencet tombolnya. Dan untungnya, pintu lift langsung terbuka.


"Vale! Cepat! Liftnya akan tertutup!" Teriak Yuki dan Vale langsung berlari masuk ke dalam lift. Sepertinya Vale lupa atau bagaimana.


Oke Yuki berhasil!


Dengan sigap, Yuki menekan tombol lantai 7 untuk menuju ruang kepala sekolah.


"Tadi gua lihat Elise, beneran ga sih?" Tanya Vale. Yuki langsung menarik nafas dalam-dalam tanpa diketahui oleh Vale agar Yuki dapat berbohong.


"Mungkin kamu salah orang" jawab Yuki berusaha santai dan tenang.


"Benar juga ya" balas Vale.


Ting


Pintu lift terbuka. Yuki dan Vale melanjutkan perjalanan lagi. Dan sampailah mereka didepan pintu ruang kepala sekolah.


tok tok tok


"Masuk!"


Cklek


"Bapak manggil saya?" Tanya Yuki.


"Iya, saya yang manggil. Oh hai Valeria. Lama tak jumpa. Ada apa Vale?" ujar kepsek, ayah Gavin.


"Hai juga om. Aku cuman antar Yuki nih. Emangnya ada perlu apa dengan Yuki?" Sapa dan tanya Vale.


"Kemari nak. Mendekat. Ini baju seragamnya sudah selesai di jahit. Ada 2 kemeja panjang, 2 rok, mantel, jas sekolah, 2 kemeja pendek, rompi, sweater. Dan tentunya baju olahraga beserta sepatunya. Apa lagi ya yang kurang?" Tanya ayah Gavin bingung karena terlalu banyak barang sekarang.


"Bukunya?" Tanya Vale.


"Ah iya itu. Terimakasih Vale. Bukunya nanti kamu bisa ambil di perpus setelah pulang sekolah" jawabnya.


"Oke terimakasih pak"


"Sama - sama nona Cortez."


"Oh iya, tentang masalah Gavin, bagaimana?"


"Aku sudah memaafkannya kok. Lagi pula, kita juga sudah berteman. Jadi, tak ada salahnya untuk memaafkannya" ujar Yuki.


"Oke baiklah. Kalian bisa pergi. Dan terimakasih Yuki"


"Sama - sama pak"


"Karena kamu sudah jadi teman Gavin, kamu bisa panggil saya 'om', oke?"


Senyum Yuki mengembang berseri. Yuki sangat senang. "Baik om. Kalau gitu, kita berdua pamit. Dah om".


Yuki membawa paper bag berisi pakaian sekolahnya dan meninggalkan ruangan.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Disisi lain, ada Gavin yang sedang berjaga - jaga agar Andro tidak berpapasan dengan si cabe Elise. Gavin terus berjalan di belakang Andro dan melirik ke berbagai arah sepanjang jalan. Sepertinya mereka aman.


"Lis!" Seseorang berteriak dari belakang mereka. Gavin menoleh kebelakang dan ternyata disana ada Elise yang sedang bersama temannya. Jaraknya lumayan jauh dari Gavin dan Andro. Dan sepertinya, Andro mulai menyadarinya. Gavin harus bertindak juga.


"Eh Ndro. Bukannya lu bilang mau ambil laptop di ruang OSIS? Mumpung kita di lantai 1 nih" ujar Gavin mengalihkan pandangan Andro.


"Kan kita mau makan. Ngapain gua ambil laptop. Kan bisa nanti aja kalau kita udah makan" jawab Andro.


'shit. Harus ngomong apa lagi gua, arrhghh...' batin Gavin.


"I-ini loh Ndro. Itu, kenapa Lo ga ngelanjutin proposal Lo di kantin sambil nungguin vale sama Yuki. Gimana?" Sepertinya Gavin ragu kalau Andro akan setuju dengannya. Jantung Gavin berdetak kencang karena Andro tetap diam.


"Hm, boleh juga tuh. Oke lu tunggu sini ya" akhirnya Andro pun menjawab pertanyaan Gavin. Huh, lega rasanya.


Elise yang menyadari keberadaan Gavin, terus menatapnya lama. Dan dibalas dengan tatapan mata sinis oleh Gavin. Elise menunduk lalu pergi.


'huh, aman gua' batin Gavin.


"Vin!"


"Uwaahhh... Andro? Bikin gua kaget aja lu" Gavin terkejut karena Andro yang tiba - tiba menepuk punggung Gavin dengan keras. Andro ini sepertinya sangat suka muncul tiba-tiba seperti setan dan suka memukul Gavin.


"Wahahahah... Astaga Vin. Ngelamun aja kerjaannya"


"Berisik lu. Udah ayo cepetan. Takutnya Vale sama Yuki sampai duluan di kantin, kita belum pesan makanannya"


"Hm, oke oke"


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kantin. Sesampainya di sana, kantin memang sangat ramai. Tapi tenang saja, Gavin dan Andro sudah memiliki tempat sendiri di kantin ini. Karena Gavin yang memintanya sendiri pada ayahnya. Tempat ini Khusus untuk Gavin, Andro, Louis dan Vale juga ikut duduk disini. Kini, Yuki juga tergabung dalam pertemanan mereka. Satu kursi telah bertambah dimeja mereka.


🌸🌸🌸


Yuki dan Vale kini sudah memasuki pintu kantin. Sangat ramai. Sepertinya seluruh murid disekolah ini datang kesini semua. Lihat saja, sampai - sampai penjaga kantin kualahan. Vale langsung menghampiri Andro yang sedang duduk dan berkutat dengan laptopnya. Apa dia sesibuk itu?


"Ndro?" Tanya Vale.


"A-apa? Ada apa?"


"Mana makanannya? Gua laper banget. Yuki apalagi, kasian dia" ujar Valeria.


"Ih! Kok jadi aku? Ya ampun Vale... Kalau lapar tuh jujur aja" ujar Yuki menahan tawa.


"Ahahahahahahaha" tawa Andro pecah.


"Gavin mana?" Tanya Yuki.


"Tadi sih lagi pesan makanan, oh itu dia sama Louis" jawab Andro. Gavin dan Louis datang beriringan membawa nampan berisi makanan.


"Hai Louis! Ketemu Gavin dimana?" Tanya Vale.


"Ya di sana lah" Louis menunjuk tempat pemesanan.


"Nih... Hari ini Louis yang bayar. Besok itu seharusnya Yuki yang bayar" ujar Gavin.


"Eh? Bukannya lu yang bayar besok?" Tanya Andro untuk memastikan.


"Yuki kan ga pernah dapat giliran"


"Hm, oke tak masalah. Aku selalu siap! Kalau kalian bisa, kenapa aku ngga?" ujar Yuki dengan senyum melebar.


"Oke guys. Ini bakso punya Andro, spaghetti punya Gavin, siomay punya gua, paket lunch 1 punya Vale dan terakhir... Um, sorry Ki, today is sop kentang" ujar Louis.


"Soup lagi? Gavin? Kau jahat!" Senyuman Yuki yang tadinya melebar, kini telah memudar.


"Gua tau obat anemia Lo belum habis kan? Ga usah ngelawan! Makan yang bener" ketus Gavin.


"Vin! Perhatian sih boleh. Tapi jangan kasar dong!" Ujar Louis.


"Yaudah gapapa. Gavin tuh cuma perhatian sama Yuki, tapi ga tau caranya. Udah kita makan aja ya Ki. Andro, tutup laptopnya!" Ujar Valeria yang mengendalikan keadaan.


Mereka pun mulai melahap makanannya. Karena setelah ini, masih ada jam pelajaran matematika yang lumayan menguras otak, jadi mereka harus mengisi kekosongan tenaga terlebih dahulu.


"Eh? Tunggu!" Ujar Andro menghentikan aktivitas makan mereka.


"Kita dari tadi makan, minumnya mana Louis. Lo kebangetan ya!" Ketus Andro Karena sudah merasa haus setelah memakan bakso, dan ini sedikit pedas.


"Upss, sorry guys. I'll be right back" ujar Louis sambil berdiri dan pergi memesan minuman yang tertinggal.


Karena tak mau pusing, Louis memilih minuman botol yang ada di vending machine. Itu lebih cepat, mudah dan murah. Dibandingkan harus membeli jus jeruk, dia harus mengantri, baru bisa memesan dan menunggu pesanannya selesai. Itu membuang waktu saja. Dan Louis membeli 5 botol minuman teh hijau dari sana. Dan langsung membawanya pergi.


"I'm back!" Louis langsung membagikan minumannya dan duduk kembali, melanjutkan makannya yang tempat tertunda.


"Is?"


"Kenapa lagi Vale? Lo kan suka banget tuh sama teh hijau" jawab Louis.


"Bukan itu. Ini Yuki ga bisa minum obat kalau minumnya pake teh hijau malah" ujar Vale.


"Eh? Emang Yuki minum obat untuk apa?" Tanya Louis tanpa merasa bersalah.


"Ck, Karena dokternya ga bisa mantau dari kejauhan, dokternya tuh kasih Yuki obat anemia yang lebih banyak." Jelas Gavin.


"Ahh... Begitukah? Baiklah cepat habiskan makanannya dan aku akan segera kembali lagi dengan sebotol air mineral. Apa itu cukup?" ujar Louis.


"Iya. Terimakasih" jawab Yuki.


Yang lainnya melanjutkan makan mereka dan Louis pergi lagi untuk membeli air mineral. Tanpa mereka ketahui, ada segelintir orang yang cemburu terhadap Yuki yang dapat masuk kedalam geng most wanted school dengan mudahnya.


Hm, memang mengejutkan. Karena Gavin dan kawan-kawan tak pernah bisa mempercayai orang lain untuk bergabung dengan mereka. Entah Yuki punya pesona apa sampai mereka menerimanya dengan cuma - cuma. Dan hal inilah yang membuat para fans GAL's menggila ingin menyingkirkan Yuki dari muka bumi.


Oke. itu terlalu sadis. Tapi memang itu yang mereka rasakan saat melihatnya.


🌸🌸🌸


Setelah selesai makan, mereka pun bergegas untuk kembali ke kelas. Yuki sangat senang bersekolah disini. Memiliki teman - teman yang tulus padanya itu seperti impian mustahil yang terkabul dengan ajaib.


"Bisa kelantai 5 dulu ga? Biar gua ga sendirian di lift" tanya Louis.


"Oke"


"Ah! Biasanya juga sendiri lu. Bilang aja lu mau dekat sama Yuki lebih lama" ledek Andro.


"Heh! Diam deh loh. Berisik! Lagian itu kan hak gua mau dekat sama teman sendiri" Balas Louis.


"Ga usah bawa - bawa Yuki bisa ga Lo" tukas Gavin.


"Bilang aja lu cemburu kan Vin?" Ledek Andro yang berpindah ke Gavin sekarang.


"Kok jadi gua? Gua ka..."


Tak tak tak!


Valeria menjitak kepala Gavin, Andro dan Louis secara bergantian untuk menghentikan pertengkaran mereka. Yuki hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya saat melihat pertengkaran itu. Seperti anak kecil.

__ADS_1


Jadi, inikah yang satu sekolah katakan dengan geng most wanted di sekolah ini?


__ADS_2