Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
11. Begin The Planning


__ADS_3

Gavin mengerjapkan matanya saat matahari yang menyelinap masuk lewat jendela mengganggu tidur nyenyaknya.


Jam berapa sekarang?


Diliriknya jam dinding di kamarnya. Karena terlalu jauh, Gavin sampai harus mengerutkan keningnya. Hm? Jam 9 pagi ternyata.


Eh? Jam 9? Gavin langsung terkejut. Gavin telat bangun ternyata. Gavin janji pada Yuki bahwa mereka akan berangkat jam 9. Apa Yuki sudah ada di depan apartemen?


Ting Ting ting


Hp Gavin berdering dan yang benar saja, ada pesan masuk ternyata.


Yuki Nyebelin:


Vin?


Ayo berangkat sekarang!


Aku sudah dibawah


me:


Sorry Ki


Gua lupa bangun pagi, jam waker gua ga bunyi.


Naik aja sini


PINnya 1111


Yuki Nyebelin :


Oke, otw


Huhh... Gavin lega. Gavin langsung menyambar handuknya dan masuk kedalam kamar mandi. Tak lama kemudian, terdengar orang yang sedang memasukan nomor pin pintu apartemennya. Sepertinya Yuki sudah masuk ke dalam apartemen Gavin.


"Viiiinnnn!" Pekik Yuki. Tak ada jawaban. Karena penasaran, Yuki membuka pintu kamar Gavin dan berdiri didepan pintunya.


"Vin? Lagi mandi ya!?" Teriak Yuki lagi


"Iya gua lagi mandi. Jangan masuk kamar! Keluar Lo!" Ujar Gavin dari dalam kamar mandi. Yuki juga hanya menurut saja.


🌸🌸🌸


"Ayo kita berangkat Ki!" Teriak Gavin setelah ia selesai bersiap. Butuh waktu 15 menit untuk Gavin bersiap - siap.


"Lo ngapain di dapur gua?"


"Buat sandwich. Aku tahu, kamu baru bangun belum sarapan. Makanya aku bikinin." Ujar Yuki sambil menenteng kotak makan.


"Mana hadiah buat Sena?" Tanya Yuki.


"Ada nih!" Gavin menunjukkan kotak besar. Yuki membelalakkan matanya, bukankah itu terlalu besar?


"Biar ku tebak, pasti isinya Tedy bear seukuran sama bocah 10 tahun. Benar tidak?" Tebak Yuki.


"Kok Lo tahu?" Gavin tak percaya. Bagaimana caranya Yuki bisa tahu isi dari hadiahnya?


"Gampang aja. Karena 3 tahun yang lalu, kakakku memberiku hadiah sebesar itu, dan isinya boneka yang besar"


"Wow, hm, ayo! Ntar kita telat" ujar Gavin.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berangkat. Saat mereka memasuki lift, Gavin menekan angka 0 untuk menuju basemen tempat Yuki memarkirkan mobilnya.


"Mana kunci Lo? Gua yang nyetir" ujar Gavin.


"Jangan! Mending Gavin makan aja nih sandwichnya. Nanti pingsan loh kalau belum makan. Biar aku aja yang nyetir. Nanti Gavin tinggal arahin jalannya" ujar Yuki.


"Hm? Yakin banget Lo? Yaa up to you sih" ucap Gavin.


Akhirnya Gavin memasuki pintu mobil samping kemudi dan diikuti oleh Yuki yang duduk di depan kemudi. Mobil Yuki lumayan normal. Awalnya Gavin kira, mobil Yuki akan berwarna pink atau peach gitu. Ternyata mobilnya berwarna putih. Wajar lah. Tanpa berlama-lama, Yuki langsung menancapkan gasnya dan Gavin yang mengarahkan jalannya sambil makan.


"Ki, Lo siapin gua sarapan. Tapi ga ada minumnya. Haus nih gua"


"Coba cari di dashboard mobil. Kayaknya aku pernah ninggalin air disana"


Gavin pun membukanya dan ditemukan juga air yang sedari tadi di carinya. Tanpa berterimakasih, Gavin langsung meminum air mineral itu.


"Ahaha sama - sama Vin!" Kekeh Yuki.


"thanks" ujar Gavin tanpa merasa bersalah.


🌸🌸🌸


"Berhenti disini!" Pekik Gavin yang berhasil membuat telinga Yuki pengang.


Mereka berhenti di pinggir jalan sebelum tikungan dekat rumah Gavin. Dengan sigap, Yuki juga jadi menginjak rem mendadak. Untung dibelakang mereka tak ada mobil lain. Coba kalau ada, bisa habis mereka.


"Ihh Vin! Jangan teriak dong!" Ucap Yuki.


"Iya sorry"


"Kita tunggu disini sebentar sampai Vale kasih aba - aba"


"Oke"


🌸🌸🌸


Disisi lain...


Ting tong Ting tong Ting tong...


Vale, Andro dan Louis sudah ada didepan pintu rumah Gavin. Mereka sudah membunyikan bel, tapi tak ada yang membukakan pintu. Akhirnya Vale membunyikan belnya lagi.


Ting tong Ting tong...


Cklek


Ah, akhirnya ada juga yang membukakan mereka pintu. Pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis kecil yang memakai dress putih.


"Senaaaa... Happy birthday!" Ujar mereka bersamaan. Louis dan Andro juga sambil memegang buket bunga yang besar.


"Uwahh... Terimakasih kakak - kakakku... Aku suka banget bunganya. Wahh bunganya wangi banget!" Ujar Sena, adik Gavin.


"Sama - sama sayang" ujar Valeria sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


"Eh? Kak Gavin mana? Kok kak Gavin ga ada?" Sena mulai sadar tak ada Gavin diantara mereka.

__ADS_1


"Uhm, maaf Sena" ujar Louis pura pura sedih.


"Huh, begitu ya. Sepertinya kak Gavin masih marah sama aku karena aku ga nolongin dia waktu itu" ujar Sena merasa sangat bersalah.


"Ssttt.. udah jangan sedih. Mungkin Gavin masih marah. Tapi Sena tenang aja, kan kakak kamu masih ada 3 lagi. Masih banyak kok" ujar Andro.


Sena mengangguk dan menyunggingkan senyumnya manis. Manis banget malah. Dia terlalu memaklumi keadaan yang ada. Hm, bagus sekali akting mereka hari ini.


"Baiklah... Ayo kita pergi bersenang-senang seharian penuh. Sena akan lupain kak Gavin. Ga penting juga Sena sedih, kan Sena lagi ulang tahun, ga mungkin sedih kan?!" Ujar Sena.


Tanpa dipancing, Sena dengan sendirinya meminta untuk di ajak pergi. Sebenarnya tuh, mereka berencana untuk memancing Sena agar dapat di ajak keluar dan berjalan - jalan seharian selagi Gavin dan Yuki mempersiapkan segala hal dirumahnya. Tapi.. ya sudahlah.


"Kak Vale, kak Andro, kak Louis, tunggu disini ya. Sena mau izin sebentar sama ibu" ujarnya.


"Oke sayang. Pakai baju yang bagus yaa" ujar Valeria.


Sena langsung berlari kedalam rumah, menaiki anak tangga dan meneriaki ibunya, ia memberi tahu kepada ibunya, bahwa ia akan pergi dengan teman kakaknya.


"Sena berangkat ya buu..." Pamit Sena.


"Hati hati dijalan nak!" Ibu nya mengantar Sena sampai depan pintu dan melambaikan tangan padanya.


Sena langsung masuk kedalam mobil. Didalam sudah ada Louis yang siap untuk menancapkan gasnya dan Andro disampingnya.


"Oke Sena cantik, seatbeltnya dipakai ya" ujar Andro.


"Oke kak. Kita mau kemana nih" tanya Sena dengan mata berbinar.


"Kita akan ke pantai!" Pekik Louis.


"Yeaayy...." Sorak ria Sena.


"Eits, masih ada lagi loh.." ujar Vale menggantung.


"Apalagi kak?" Sena semakin bersemangat.


"Kita akan ke aquarium!"


"Waaahh.... Aku mau berenang sama lumba lumba kak!"


"Oke kita kepantai!"


Selagi yang lain mengalihkan perhatian Sena, Andro mulai mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan aba aba untuk Gavin bergerak.


🌸🌸🌸


Ting Ting


Gavin dengan sigap membuka ponselnya saat terasa berdering.


Andro Lirenshi :


Vin, Sena udah kita bawa keluar. Cepet masuk kerumah! Ibu Lo udah siap!


Gavin Gerald :


Oke


"Jalan Ki!" Perintah Gavin.


Yuki pun menjalankan mobilnya. Dan akhirnya mereka pun sampai didepan pagar rumah Gavin. Sebenarnya, ini bukan rumah, tapi mansion. Karena ukurannya yang sangat besar. Satpam rumah Gavin pun langsung berlari membukakan pagar setelah Gavin menurunkan kaca mobil dan mengisyaratkan untuk membukakannya.


"Thanks pak!" Ujar Yuki.


"Sama - sama nona" jawabnya.


Yuki pun memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah Gavin. Dan Gavin mengarahkannya untuk menyembunyikan mobilnya di garasi mobil. Yuki nurut saja. Gavin turun dari mobil dan membukakan pintu garasinya.


"Masukin Ki!" Teriaknya.


Yuki memajukan mobilnya kedalam garasi. Garasinya cukup luas. Mungkin ada sekitar 20 mobil berjejer rapi didalam sini. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Ada satu mobil yang bannya sepertinya sengaja di kempeskan. Dan mobil ini dirantai ke tiang.


"Vin!" Panggil Yuki. Lalu Gavin menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


"Mobil ini kenapa? Kok diikat rantai?" Tanya Yuki.


"Ini mobil kesayangan gua yang disita ayah gua" ujar Gavin lemas seketika.


"Ups, sorry Vin" ujar Yuki merasa bersalah karena sudah bertanya.


"Ga usah dipikirin. Ayo masuk! Lewat sini aja. Nanggung kita udah di garasi"


Mereka masuk kedalam rumah lewat pintu di garasi. Mereka seperti sedang mengendap - endap masuk kedalam rumah. Atau lebih tepatnya seperti pencuri yang sedang masuk kedalam rumah yang ditargetkannya.


"Vin?" Panggil wanita paruh baya dibelakang mereka.


"Ibu?!" Gavin terkejut, ia berlari ke arah ibunya dan memeluk erat ibunya.


"Gimana hukumannya? Enak ga?" Sindir ibunya ditengah pelukan mereka. Gavin langsung melepaskan pelukannya dan memasang muka datar.


"Ibu senang?" Tanya Gavin


"Ahhahah... Kau marah pada ibumu ini? Kamu ini harusnya berubah. Jangan jadi kulkas berjalan terus" ujar ibu Gavin dengan penuh kehangatan.


"Eh? Siapa ini? Eh tunggu, ibu seperti mengenal perempuan ini?" Ibu Gavin mulai mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan Yuki. Dan Yuki tersenyum lebar tak bersuara. Ia sangat senang bertemu lagi dengan ibunya Gavin dan sepertinya beliau ingat dengan dirinya.


"Ah, iya. Ibu ingat! Kau! Nona Cortez!" Pekik ibunya Gavin. Yuki mengangguk dengan semangat dan gak lupa pula senyumnya yang tak luntur.


"Nona Cortez? Apa maksudnya? Dia ini namanya Lucyana Yuki Arvie. Tak ada nama Cortez dibelakang namanya" jelas Gavin.


"Namaku memang 'Lucyana Yuki Arvie Cortez' kok Vin" ujar Yuki.


"Gua makin ga ngerti"


"Jadi gini, itu ulah kakakku yang tak mau namaku dicantumkan 'cortez' disekolah. Hanya disekolah. Biar aku ga digerumunin orang banyak. Hanya itu" ujar Yuki.


"Gila kakak Lo"


Sepertinya Yuki membohongi Gavin lagi. Yuki jadi merasa bersalah. Tak ada yang tahu jika dulu Yuki pernah dibully.


"Oh iya, tante, kita langsung aja masak ya" ujar Yuki


"Baiklah. Gavin, hias tempat ini secantik mungkin!" Perintah ibunya. Gavin menganggukkan kepalanya dan pergi ke ruang tamu.


🌸🌸🌸


Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya Louis berhasil mengendarai mobil sampai ke pantai. Sena langsung hendak ingin membuka pintu ketika Louis mematikan mesin mobil, tapi dicegah oleh Valeria.

__ADS_1


"Sabar sayang. Pakai sunscreen dulu ya. Kakak pakaikan" ujar Vale sambil mengeluarkan botol sunscreen di dalam tasnya.


"Oh iya, karena ini sudah siang, gimana kalau kita makan seafood di restoran itu?" Tunjuk Andro ke arah samping.


"Enak tuh kayaknya. Gua juga laper. Sena mau makan apa?" Tanya Vale.


"Aku mau makan udang crispy kak" sahut Sena.


"Oke. Ayo! Kak Louis yang traktir nih" ujar Louis.


"Ayo keluar sekarang. Kak Vale udah dong. Sunscreennya tebal banget sih" ujar Sena


"Udah selesai kok. Yuk, kita keluar!"


Mereka keluar dari mobil secara bersamaan dan Sena langsung berlarian kesana - kemari. Sena sangat bersemangat. Mereka langsung menuju restoran seafood di dekat parkiran pantai.


Mereka memilih duduk dekat jendela agar bisa melihat cantiknya pantai dan laut. Sena terus mengayunkan kakinya dan bersenandung ketika duduk di bangku. Sepertinya mereka berhasil membuat Sena lupa dengan Gavin.


Setelah mereka selesai makan siang, sena merengek minta bermain sebentar di pantai dan berenang sebentar. Louis juga tergoda untuk berenang. Vale jadi terpaksa membelikan pakaian renang untuk Sena dan Louis.


"Lo mau berenang juga ga? Sekalian nih gua bayarin" tanya Vale pada Andro ketika mereka berdua berjalan ke kasir.


"Ga deh. Gua mau duduk berdua aja sama Lo" ujar Andro yang membuat Vale kaget.


Namun Vale terus berpura - pura tenang. Menyembunyikan detak jantungnya yang sedang berdisko di sana. Apa ini? Apa Vale suka Andro? Atau sebaliknya? Tidak mungkin kan? Mereka berdua sahabat. Aduuhh ini semakin membuat Vale bingung.


"Tumben banget lu mau sama gua" ucap Vale sambil memalingkan wajahnya.


"Ya gapapa sih" jawabnya.


"Kak Vale! Cepat sedikit dong. Aku mau cepat - cepat berenang" ujar Sena dari luar toko. Vale mengangguk dan langsung membayar di kasir.


Vale dan Andro akhirnya keluar dari toko. Louis langsung menyambar paperbag yang dibawa Andro dan membawanya ke ruang ganti bersama Sena. Setelah selesai berganti pakaian, Louis dan Sena langsung berlari ke pantai. Sedangkan Vale dan Andro menggelar kain untuk alas mereka duduk dibawah pohon kelapa yang lumayan besar untuk menutupi mereka dari sengatan matahari. Untung hari ini cerah.


"Berenangnya jangan lama - lama! Kita kan mau ke aquarium!" Pekik Andro yang berhasil membuat banyak orang menengok ke arah mereka. Aduh, ini membuat Vale malu saja.


Tanpa merasa bersalah, Andro malah menjadikan paha Valeria sebagai bantal dan ia pun memejamkan matanya. Kelakuan Andro berhasil membuat jantung Vale berdetak 2 kali lebih cepat.


"Heh, ngapain Lo tidur disitu? Lo kira gua bantal Lo apa?" Tukas Vale.


"Tapi Lo suka gua kan?" Ujar Andro membuka matanya dan menatap Vale.


"A-apan sih? Ga jelas banget" balas Vale.


"Jelas kok. Gua suka sama Lo" Vale langsung terlonjak kaget saat Andro mengatakan suka padanya.


"Diam kan Lo? Liat tuh muka lo merah banget." Ledek Andro.


"I-ini tuh karena cuacanya panas. Aduh" Vale mengipas - kipaskan wajahnya menggunakan tangannya. Vale kini jadi salah tingkah.


"Karena cuacanya panas atau emang karena gua bilang suka Lo?" Tanya Andro. Oke. Skakmat. Vale tak bisa menghindar.


"Iya! puas Lo!?" Tukas Vale dan wajahnya semakin memerah. Andro tersenyum puas dengan jawaban dari Vale.


Tiba - tiba Louis datang dengan keadaan Shirtless dan basah kuyup. Wah, Louis penyelamat Vale hari ini.


"Vale mau minum dong gua" ujar louis.


"Ah iya gua ambilin. Ndro ih bangun!" Ujar Vale. Akhirnya Andro langsung bangun dari berbaringnya dan mendengus kesal.


"Nih Is! Oh ya bilangin Sena, udahan gitu renangnya kita kan mau ke aquarium" ujar Vale sambil menyodorkan botol minum.


"Oke! Gua bilangin dulu. Trus kayaknya gua harus bilas nih. Beliin sampo dan sabun sana ndro! Malah molor disini! Enak banget Lo! Ntar mah Lo aja yang nyetir mobilnya" Sindir Louis.


"Iya iya" Andro semakin kesal karena kedatangan Louis.


🌸🌸🌸


Disisi lain. Gavin tengah bingung memilih kue ulangtahun untuk Sena. Karena tak mau berlama-lama di sini, Gavin mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Yuki.


"Halo?"


"Hai Vin? Ada masalah?" Ujar Yuki diseberang sana.


"Nyerah gua!"


"Eh? Kok gitu? Jangan gitu dong. Emang kenapa sih?"


"Gua ga ngerti nih, kuenya tartnya banyak banget."


"Aduh Vin. Beli aja yang lebar. Jangan beli kue yang bertingkat. Dan pastinya strawberry ya"


"Nah gitu dong. Gua kan Jadi punya tujuan. Daripada gua yang bingung pilih kuenya banyak banget disini"


Gavin memutuskan telponnya sepihak tanpa berterimakasih pada Yuki.


"Pesan kue yang ini satu tapi rasa strawberry, ada tidak?" Tanya Gavin pada penjaga toko kue.


"Ada. Tapi belum dikasih krim. Apakah anda mau menunggu sebentar?"


"Baiklah saya akan tunggu disini dan cepatlah"


"Ingin dituliskan apa di kuenya?


"Tulis aja happy birthday senalish Ligeo Gerald"


"Baik kak, silahkan ditunggu pesanannya"


Gavin menyesal harus menunggu disini. Seharusnya ia pergi ke toko kue dulu sebelum ia pergi membeli udang tadi.


🌸🌸🌸


"Eh? Tak mau ke aquarium?!" Pekik Vale.


"I-ya. Dia ga mau. Sena bilang mau main di pantai aja dan ia juga janji bakalan bilas nanti kalau sudah jam 4 sore" ujar louis


"Yaudah sih Vale. Biarin aja. Namanya juga bocah puber, labilnya ga bisa di prediksi" ujar Andro menenangkan Valeria.


"Oke, kita habiskan waktu di pantai. Tapi harus terus liat jam ya Is?"


"Siap madam!"


"Kita bakalan pulang jam 5. Dan kira - kira sampai rumah jam 7 malam. Ingat itu!"


Terpaksa mereka harus menyusun ulang rencana mereka yang sudah tersusun dengan sempurna. Vale hanya bisa menghela nafas. Sebelumnya Vale memperkirakan bahwa mereka akan sampai rumah Gavin jam 8. Tapi sepertinya jadi dipercepat.


Apa Yuki sudah selesai masak?"

__ADS_1


__ADS_2