
Valeria terus menangis tak bersuara di pelukan Andro. Keduanya berdiri di depan pintu sambil melirik kedalam lewat jendela yang ada di pintu. Setelah mendengar pengakuan Axel tentang Yuki, ia tak mampu lagi menahan tangisnya. Ia terus memukul dada Andro untuk menahan kekesalannya.
Andro pun tak masalah ia dijadikan pelampiasan pacarnya. Daripada Valeria ngamuk dan membahayakan banyak orang, menangis seperti ini akan memudahkannya untuk meredam Isak tangis Valeria
Louis pun ikut bungkam. Ia baru saja sadar dari pingsannya dan langsung kesini. Tapi apa yang baru saja ia dengar, ini benar-benar diluar nalar. Ia tak percaya Yuki bisa melakukan itu selama hidupnya.
"Ndro... Gua harus gimana?" Cicit Valeria.
"Sssttt... Diam dulu yah. Kita tunggu ibu Gavin selesai ngobrol" jawabnya tanpa melepas pelukan itu.
Louis kini sudah tak berdiri di depan pintu. Dia sudah duduk di lorong rumah sakit sambil menutupi wajahnya. Disaat seperti ini, ia bahkan tak tahu harus melakukan apa? Louis sangat ingin membantu. Tapi apa?
Terlihat dari kaca pintu, Axel berusaha menghapus semua air matanya. Cukup lama ia menangis. Hingga akhirnya berhenti. Setelah dirasa tenang, Axel pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya lagi. Ibu Gavin bangkit dari duduknya. Ia hendak pergi melihat Yuki lagi, namun pengelihatannya jatuh pada 2 orang yang berada di depan pintu sambil berpelukan.
"Hei, sedang apa kalian? Valeria kenapa?" Tanyanya.
" Uhm, itu sebenarnya kami mau masuk. Cuma tadi, kami tak sengaja mendengar perkataan kak Axel, jadi," Andro menggantung perkataannya setelah melihat wajah ibu Gavin.
"Bisa kau rahasiakan?" Ujar ibu Gavin dengan lembut.
"Tentu. Itu sudah pasti. Iya kan Vale" Andro sedikit tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Valeria.
"Kalian bersama Louis?"
"Iya. Itu dia, lagi duduk di dekat jendela yang ada pepohonan"
"Hm, terimakasih"
Ibu Gavin berjalan pelan mendekati Louis yang sedang melamun. Kepala laki-laki ini tertunduk dengan kedua tangan yang memegangi dahinya.
"Hai Louis. Pagi boys. Bisa Tante minta tolong padamu?"
🌸🌸🌸
"Hai Yuki, selamat pagi honey. Hei, aku ingin berbicara dengan mu. Kapan kau akan membuka matamu?" Ujar Valeria yang duduk disamping Yuki yang terbaring.
"Maaf kami tak mengajakmu pulang kemarin. Apa kau begitu marah hingga tak mau membuka matamu?" Ucap Andro yang berdiri di samping Valeria.
Valeria terus menatap Yuki yang tertidur tenang. Tubuh Yuki dipenuhi dengan perban dan gips. Yuki terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang kini menopang kehidupannya.
"Ah, kalian disini?" Ucap Axel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Hai kak. Maaf, kami masuk tanpa izin" sahut Andro enggan sedikit tersenyum.
"Kalian belum pulang kerumah?"
Melihat keduanya membuat Axel tertegun. Pasalnya sepasang kekasih ini masih mengenakan seragam sekolah mereka, tanpa kurang 1 atribut pun. Andro dan Valeria setia menunggu Yuki yang belum sadar sejak operasi selesai.
"Belum. Tapi nanti. Kami akan pulang ketika Gavin datang nanti. Aku tak mau Yuki kesepian. Ia tak punya teman mengobrol" jawab Valeria sendu.
"Iya betul. Kak Axel istirahat aja dulu. Semalam kan kakak baru sampai, terus habis tranfusi darah lagi. Pasti capek banget" Andro terus membujuk Axel agar pria itu bisa beristirahat sejenak.
"Ini masih terlalu pagi. Tidur saja lagi kak. Jangan sampai kakak sakit juga. Mungkin sebentar lagi Yuki akan membuka matanya" Valeria ikut membujuk Axel agar mau menurutinya.
Melihat kedua orang sahabat adiknya yang perhatian terhadapnya membuatnya sedikit senang. Ternyata benar apa yang dikatakan Nyonya Gerald tadi, bahwa ia tak sendirian. Ia memang membutuhkan bantuan orang lain.
"Baiklah. Tolong jaga Yuki yah. Aku harus mengurus Zen dan Felix dulu"
"Serahkan pada kami" Andro mengacungkan jempolnya dan Axel sedikit tersenyum.
Axel pergi meninggalkan ruangan Yuki meninggalkan kedua orang ini. Ia harus membangunkan Zen dan Felix. Kedua pria ini kalau sudah tidur, pasti sudah untuk dibangunkan.
Hah, Axel jadi penasaran dengan Yuki yang setiap hari membangunkan dua kebo sekaligus. Belum lagi kalau keduanya kehilangan barang-barang mereka yang berbentuk kecil seperti jam tangan, ponsel, ataupun dasi.
Eh, tuh kan. Axel jadi memikirkan Yuki lagi. Axel mengusap kasar wajahnya dan meletakkan tangannya didahi. Menahan sakit di kepalanya memang tak enak.
Ia masuk keruangan sebelah. Dilihatnya kedua pria yang itu masih bergelut dalam selimut tebal mereka. Ditambah dengan ruangan yang gelap membuat tidur mereka akan semakin nyenyak.
__ADS_1
Klik
Axel menyalakan lampu. Keduanya kompak langsung menyembunyikan kepala mereka ke dalam selimut. Axel hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan mereka.
Ayolah, bersikap dewasa sedikit.
"Bangun hei kalian berdua!" Pekik Axel marah.
Felix terlihat menggeliat, namun tak ada tanda-tanda ia akan bangun. Zen sendiri malah merasa tidak terganggu sedikit pun.
Axel jadi teringat Yuki lagi. Yuki biasanya membangunkan keduanya dengan membuka jendela. Hm, Axel akan mencobanya.
Axel membuka jendela itu. Angin disertai dengan tetesan air masuk kedalam ruangan. Dingin. Sangat dingin. Dilihatnya ke atas, awan hitam dan Sambaran petir. Persis seperti pada hari itu, hari dimana ia menemukan adiknya yang sempat kabur.
"Yukiiiiiiiii.... Kebiasaan banget sih kamu" ujar Felix yang masih setengah sadar. Tapi tiba-tiba matanya terbuka membulat dan langsung bangkit dari tidurnya. Seperti menyadari sesuatu.
"YUKI!? DIA UDAH SADAR!? AXEL! YUKI GIMANA!?" ucap Felix dengan suara keras.
Axel menghela nafas berat. Lalu ia berjalan dan duduk diatas ranjang. Ditariknya telinga Zen hingga sang pemilik telinga itu terbangun. Namun ada perasaan aneh lainnya, telinga Zen terasa panas. Axel buru-buru memindahkan tangannya ke dahi Zen lalu menyentuhnya. Dan panas yang dirasakan olehnya.
Zen demam.
"Hah, Zen. Kau demam? Sudah kubilang untuk merilekskan pikiran itu. Yuki akan baik-baik saja! Apa kau paham?" Ujar Axel kesal.
"Kepalaku terasa berat" ucapnya sambil memegangi kepala.
"Akan ku panggil Alvaro atau siapapun untuk membantu" Felix berinisiatif untuk melakukan itu tanpa disuruh. Axel jadi merasa lega.
"Maaf kak" Zen akhirnya merasa bersalah sebab telah terkena demam.
Tangannya terulur, kemudian mendarat di puncak kepala Zen. Lalu mengelusnya sedikit kasar, membuat rambut Zen yang lebat itu jadi acak-acakan.
"Jangan sakit, okay? Kita harus mencari si pembunuh itu, ingat?"
Zen mengangguk, menurut. Axel melepas tangannya dan bangun dari duduknya diatas ranjang.
Nancy masuk dengan troli kecil dan beberapa piring makanan yang dibawanya.
"Tuan, sarapan sudah siap. Aku akan menyiapkannya di meja makan. Maaf jika mejanya kecil" ujar Nancy.
"Tak apa. Oh ya, bisa kau bawakan bubur juga? Beli saja jika tak ingin buat"
"Bubur? Untuk apa? ... Oh! Apa nona sudah sadar!?" Nancy tiba-tiba bersemangat saat mengingat nonanya.
"Tidak. Yuki masih belum sadar. Bubur itu untuk Zen. Dia demam"
Nancy langsung merubah ekspresinya dengan tatapan tidak suka pada Zen. "Tuan Zen, anda sungguh menyebalkan sama seperti Felix"
Zen diam tak memperdulikan Nancy.
"Apa kau bilang!? Jangan samakan aku dengan Zen!" Ujar Felix yang ternyata sudah datang dengan Alvaro di belakangnya.
Alvaro mendecak dan memutar bola matanya kesal. "Jika kalian ingin bertengkar, jangan disini. Zen perlu istirahat. Keluar kalian berdua!!" Alvaro jadi ikutan marah.
Nancy dan Felix sama-sama saling menatap dengan tatapan kesal. Jika dibiarkan, mereka akan terus berperang disini. Alvaro buru-buru menarik keduanya keluar dan langsung menutup pintu.
"Hah, Masalah selesai" Alvaro berbalik dan berjalan mendekat "Zen, apa kepalamu sakit?"
Zen mengangguk.
"Baiklah. Akan ku periksa. Setelah itu aku harus mencari Nancy agar ia bisa merawatmu hari ini"
"Jangan Nancy. Nanti aku di maki seperti tadi gimana?" Zen malah mengeluarkan nada manja.
"Baiklah. Siapapun yang akan menjagamu, kau tidak boleh menolak"
"Iya iya aku janji" jawab Zen cepat.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Gavin mempercepat langkah ketika ia sudah sadar. Menuruni tangga ke lantai dasar. Kevin terkejut ketika melihat Gavin berlarian.
Seharusnya setelah Gavin meminum obat tidur pemberian ibunya, ia kemungkinan akan bangun jam 6 sore. Tapi sekarang jam 4 sore dan Gavin sudah terlihat rapih mengenakan pakaiannya.
"Gavin! Lo mau kemana!?" Teriak Kevin.
Sena langsung bergegas mendekati mereka ketika mendengar suara kakaknya yang menggema di seluruh mansion ini.
"Kak Gavin! Kakak udah bangun?" Ujarnya dengan senang.
Gavin mengacuhkan mereka. Namun langkah Gavin tercekat oleh Kevin yang berusaha menahannya.
"Lo mau kemana? Hei, makan dulu yah. Lo udah tidur seharian"
"Iya kak. Kak Kev benar. Makan dulu yah. Lagian jangan keluar dengan pakaian tipis. Bawa mantelmu"
"Gua mau ketemu Yuki! Jangan halangi gua. Tolong" ini pertama kalinya Gavin memasang wajah memohon. Matanya menunjukan kepedihan yang dalam.
Kevin tak tahan melihatnya.
"Baik. Kita kesana sekarang" ujar Kevin dingin.
Gavin dengan semangat menggenggam lengan Kevin dan menariknya. Tapi Sena menjawabnya lagi.
"Sambil makan dijalan yah. Aku tadi buat sandwich. Tunggu disini!"
Sena berlari ke dapur untuk mengambil sandwich yang dimaksudnya tadi. Kemudian ia memasukkannya kedalam wadah dan membawanya.
Kevin dan Gavin sudah menunggu di mobil. Sena datang dengan sebuah kotak makan dan mantel untuk Gavin. Lalu ia masuk dan mobil itu pun melaju.
"Kak Gavin, ini makan. Tapi pakai dulu mantelnya. Diluar sudah sangat dingin dan kemungkinan akan turun salju besok"
Gavin mengambil mantel itu dan memakainya. Kemudian ia menerima kotak makan itu dan membukanya. Ia memakannya sambil menatap keluar jendela. Melamun lagi.
Tak lama kemudian, mobil mereka akhirnya sampai di parkiran rumah sakit. Gavin langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk Sena.
"Kakak jangan terlalu tergesa-gesa. Ini rumah sakit tahu" Sena berusaha menasihati kakaknya ini dengan sederetan kalimat pendek.
Gavin tak mendengarkan perkataan adiknya dan malah menariknya. Sena bahkan sampai hampir terjatuh karena Gavin tak memelankan langkahnya.
Yaps, Kevin tertinggal sangat jauh dibelakang mereka. Kacamata yang ia gunakan ini cukup menyebalkan di cuaca dingin. Setiap kali ia bernafas dengan mulut, pasti selalu berembun di kacamatanya. Menyebalkan.
"Ah, akhirnya kalian datang. Aku dan Valeria akan pulang sekarang. Kalian keluarga Gerald jadi sangat kompak ya" ujar Andro yang nampak pucat dengan senyuman yang dipaksakan.
"Kompak?" Tanya Sena.
"Hei, kalian belum pulang sejak kemarin? Setidaknya ganti baju kek" ucap Kevin sambil melirik keduanya dari atas kebawah.
"Iya. Di dalam ada ayah kalian. Kami pulang yah. Ayo Vale" jawab Andro.
Andro mengajak Valeria untuk pulang. Valeria terus melamun, seperti tidak punya semangat hidup. Tubuhnya lemas, matanya bengkak. Akhirnya tangan itu terangkat dan melingkar di lengan Andro. Valeria bangkit dan mereka mulai berjalan menjauh. Kevin, Gavin dan Sena mematung di depan pintu. Melihat ke dalam ruangan dari kaca pintu.
Mereka nampak panik?
Gavin langsung memegang kenop pintu itu, namun Kevin menahannya. Wajah Sena semakin memucat dan tubuhnya gemetar. Gavin berusaha melepas cekalan tangan Kevin, dan ia tak mau lepas.
"LEPAS KEV! LEPAS!" Teriaknya. Gavin menarik Kevin secara paksa hingga cekalan tangan itu terlepas.
Gavin berlari ke dalam dengan cepat. Ada Axel yang terduduk dilantai dengan tangisan. Ayahnya pun nampak sangat terkejut. Alvaro yang sedang merapikan alat medisnya. Dan Nancy yang tak kuasa menahan tangisnya.
"TIDAK YUKI! TIDAK! BUKA MATAMU! SWEETY BUKA MATAMU. AKU JANJI, AKU AKAN SELALU PULANG KERUMAH! AKU JANJI AKAN SELALU MENEMANIMU! ... Kumohon" Axel berteriak histeris dan berakhir dengan isakan pelan.
Ada apa? Apa yang terjadi!?
Alvaro mendekati Gavin yang mematung disana. Ia memeluk erat tubuh itu dan menjatuhkan tas medisnya. Pundak Gavin mulai basah akibat air mata yang terus berjatuhan.
__ADS_1
"Hiks, hiks, Yuki Vin, hiks. Dia .... Koma" bisiknya lirih.