Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
41. please, open your eyes


__ADS_3

"Silahkan duduk di meja makan. Makan malam akan kami sajikan sekarang" ucap Nancy yang mengarahkan mereka untuk duduk dimeja makan.


Meja makan ini memiliki kapasitas untuk 20 orang. Mereka para laki-laki duduk berhadapan dengan para perempuan. Dan tak lama kemudian, akhirnya Axel terlihat berjalan menuruni tangga, lalu duduk ikut dihadapan mereka semua.


"Selamat datang. Apa perjalanan kalian menyenangkan?" Ucap Axel yang berusaha ramah sebagai pemilik mansion.


"Kami sudah biasa pergi bersama, jadi rasanya biasa saja. Iya kan teman-teman?" Sahut Andro.


"Iyap betul. Ya, mungkin pegal dan bosan selama perjalanan itu wajar" Kevin ikut berbicara, namun tanpa kehebohan yang biasa.


Axel mengangguk seraya memejamkan matanya. Matanya kembali melirik Nancy yang ada diujung sana. Tangannya terangkat lalu ia menjentikkan jarinya. Suara jentikkan jarinya bahkan terdengar nyaring. Dan seketika itu juga, para pelayan masuk dengan membawa lauk pauk untuk makan malam hari ini.


Mereka menjamu tamu mereka dengan sangat baik. Mungkin mereka terlatih memang untuk hal ini. Para pelayan satu persatu mempersiapkan makanan mereka di piring masing-masing.


Felix dan Alvaro datang bersamaan tetapi dari arah yang berlawanan. Keduanya duduk berhadapan dan langsung makan. Axel menghentikan makannya dan menatap Felix.


"Felix, kau tak bersama Zen?" Tanyanya.


"Dia sedang berada di kamarnya. Ah, itu dia!"


Belum selesai Felix menjelaskan, Zen sudah muncul terlebih dahulu. Ia langsung duduk dan makan.


"Tumben sekali kau mencari diriku" ucap Zen sebelum ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kalau kau sakit lagi, aku takkan peduli" jawab Axel sarkasme.


Zen mendengus dan melanjutkan melahap makanannya. Semua orang hanya memperhatikan tingkah kedua adik kakak ini. Mereka seperti akan bertengkar, tapi Zen tak membalas perkataan Axel lagi. Pertengkaran yang Gagal terjadi.


Setelah makan malam selesai, Axel mengarahkan mereka ke kamar mereka masing-masing. Kamar tamu di mansion ini berada di lantai 3, jadi mereka harus turun kebawah. Masing-masing orang mendapat kamar satu persatu.


Kamar mereka bahkan berderetan, mulai dari Andro, Louis, Kevin, Gavin, Sena, Olivia, dan yang paling ujung adalah Valeria.


"Terimakasih kak sudah mengantarku sampai depan kamar" ucap Valeria pada Axel.


"Tak apa. Lagian kalau kau nyasar juga akan repot"


"Ahahahaha.. iya kau benar kak" Valeria tertawa sambil menutupi bibirnya dengan tangan.


Namun tangan Axel terulur dan menyentuh kepala Valeria. "jika tak ingin tersenyum, jangan dilakukan"


Valeria tertegun. Senyuman luntur begitu saja diwajahnya yang tadi berseri cantik. Gadis ini mengalihkan pandangannya dan berkata "jika itu membuat orang lain senang, akan kulakukan, selalu. Mungkin itu yang Yuki pikirkan"


Valeria berbalik kemudian memegang kenop pintu. Axel lagi-lagi menghela nafas berat, entah sudah berapa ratus kali ia lakukan.


"Sebaiknya jangan kau lakukan. Kau takkan kuat menahan rasa sakit" Axel juga berbalik dan pergi meninggalkan Valeria yang masih mematung didepan pintu.


Axel memasukkan tangannya ke dalam saku celananya sambil berjalan. Mansion mulai sepi karena hari yang semakin larut. Axel naik ke lantai 5. Tujuannya sekarang adalah kamar Yuki.


Ketika sampai didepan pintu kamar Yuki, Axel memberi kode pada kedua bodyguard yang tengah berdiri di depan pintu untuk membukakannya pintu.


Ia memang menempatkan beberapa bodyguard di sekitar kamar adik tercintanya. Seperti di depan pintu masuk, depan pintu kamar mandi, di balkon dan di taman yang menghadap langsung dengan balkon kamar Yuki. Penjagaan sangat ketat. Axel akan lakukan apapun untuk adik-adiknya, terutama Yuki.


Ruangan ini begitu sepi. Tak ada kehangatan dari sang pemilik kamar. Axel berbaring di samping Yuki. Tangannya terus mengelus rambut panjang milik Yuki. Kepalanya mulai tersandar di atas bantal.


"Buka matamu sweety. Aku merindukanmu. Kau ingat kita akan menghabiskan waktu bersama selama sebulan penuh? Aku sangat menantikannya saat kau membuka matamu kembali"


🌸🌸🌸


"Hari ini kita ke pantai yuk" ajak Zen.

__ADS_1


Andro beralih menatap Zen dan tersenyum. "terdengar biasa" ucapnya.


"Biasa? Bagaimana kalau kita naik sepeda?" Tawar Zen.


"Sepeda?" Kevin langsung berbinar matanya ketika mendengar sepeda.


"Aku ingin ke pantai" ujar Sena gembira.


"Valeria bagaimana?" Tanya Zen.


Alis Valeria terangkat dan mengalihkan matanya. "Aku... Aku ingin menemui Yuki" ujarnya yang terdengar lebih tenang dari biasanya.


"Gav--"


"Gua nyusul nanti sama Valeria" potong Gavin dengan dingin.


Zen tersenyum kikuk melihat Gavin yang tak pernah berubah. Zen melirik salah satu maid di ujung sana kemudian mengedipkan matanya. Maid itu mengerti, ia mengangguk dan langsung pergi.


"Kalian nyusul bawa makanan ya" ucap Zen yang diangguki oleh Gavin.


"Ayo berangkat..."


Tiba-tiba Olivia muncul dan datang menghampiri mereka yang akan berangkat. "Kalian mau kemana?" Tanyanya bingung.


"Jalan-jalan ayo ikut" Louis menarik Olivia dengan merangkulnya.


Saat mereka sampai diluar mansion, 5 buah sepeda telah berjejer rapi dan siap untuk digunakan. Kevin, Zen, Andro dan Louis telah mengambil sepeda yang akan digunakan. Tersisa 1. Sena yang langsung duduk dibelakang Kevin membuat Olivia jadi malas mengayuh sepeda.


Zen dan Louis mengayuh sepeda mereka bersamaan. Kevin terkejut dan ikutan mengayuh sepedanya. Cepat-cepat Olivia menahan Andro yang belum jalan dan menatapnya dengan tatapan memohon.


"Lo males ngayuh sepeda. Mau nebeng sama gue?" Tanya Andro malas lalu diangguki cepat oleh Olivia.


Tanpa bertanya Olivia naik kesepeda itu dan Andro mulai mengayuh sepedanya.


"Kak Zen! Pelan sedikit!" Louis ikut memekik ketika ia tertinggal dibelakang.


Wushhhh..


Zen terkejut ketika sebuah sepeda melewatinya dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat darinya. Andro dan Olivia. Iya, itu bukan Louis dan Olivia. Kok kebalik?


Karena beban sepeda yang lebih berat dari pada yang lainnya, sepeda yang Andro kayuh kini melaju sangat kencang ketika menuruni bukit. Zen lebih semangat mengayuh sepedanya saat melihat Andro yang melaju lebih cepat darinya. Dan Louis yang bahkan tak mengayuh sepedanya sama sekali terus berjalan menuruni bukit dengan cepat juga.


"Anginnya kenceng banget!" Teriak Olivia yang berdiri di atas dudukan sepeda. Bahaya. Tapi tetap dilakukan oleh gadis ini. Rambutnya yang panjang terus terbang ke berbagai arah karena lupa ia ikat.


"Kita berhenti di tikungan depan" pinta Zen.


Setibanya di tikungan yang Zen maksud, akhirnya mereka berhenti sejenak. Zen memincingkan matanya kebelakang. Tak lama kemudian, sebuah sepeda muncul dengan kecepatan sedang.


"Lama banget sih" ketus Zen.


"Takut tauu" rengek Sena yang duduk dibelakang Kevin sambil memeluk pinggang kakaknya.


"Pindah sana Liv. Berat juga" gerutu Andro. Tatapannya tajam pada Louis, tapi ucapannya tadi jelas mengarah pada Olivia.


Olivia mendengus dan pindah duduk di sepeda yang Louis bawa. Tangannya melingkar di pinggang Louis. Bukannya senang, Louis malah merasa terkejut dan ingin melepasnya.


"Geli babe" ucap Louis sambil memegangi tangan Olivia yang melingkar di pinggangnya.


"Ih, romantis dikit kek" ketus gadis ini.

__ADS_1


"Setelah ini ada jalan raya, jadi kita lewat trotoar. Hati-hati. Santai aja ya. Just stay behind me. Kalau nyasar kan repot" ujar Zen dengan serangkaian tutorial bersepeda di pinggiran kota.


"Okee!!" Sahut Sena dengan mengacungkan jempolnya.


Zen mulai mengayuh kembali sepedanya duluan, diikuti Louis dan Olivia, lalu Andro dan paling belakang ada Kevin bersama Sena.


Setelah melewati pinggiran kota yang lumayan ramai, mereka akhirnya sampai di parkiran pantai. Sena langsung berbinar ketika melihat ombak pantai dan pantai yang sepi.


"Aaaaa.... Aku mau berenang kak!" Rengeknya.


"Eh!? Kita ga bawa baju" ucap Kevin.


"Terus, untuk apa toko pakaian renang dibangun di dekat pantai" ujar Zen sambil menunjuk toko pakaian renang diujung sana.


"Hehehehe... Pinter juga Lo kak"


🌸🌸🌸


Sudah tiga jam lamanya, Gavin terus duduk disamping Yuki sambil terus mengajaknya bicara. Walau tak mendapat balasan dari setiap pertanyaan, Gavin terus berbicara pada Yuki yang terbaring lemah.


Seperti menaruh harapan. Mungkin jika ia terus berbicara, siapa tahu Yuki akan bosan mendengarnya dan menyahutinya. Itulah yang Gavin pikirkan saat ini.


"Gua kangen sama Lo Ki"


"Buka mata Lo"


"Kita sudah berjanji, bukan? Kita akan liburan ke Hawaii"


"Gua rindu sama ocehan Lo yang ga jelas, Ki"


"Kalau lo ga mau pergi juga gapapa. Tetaplah disini. Gua akan menunggu"


Cklek.


Pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Nancy dengan balutan jas formal dan rambutnya yang terikat kebelakang. Ia berjalan menghampiri Gavin. Suara hentakan heels yang Nancy kenakan kini memenuhi ruangan yang luas ini. Dan dibelakangnya ada beberapa pelayan wanita yang memakai seragam yang sama.


Tangannya meraih bahu Gavin. Sontak Gavin menghentikan ocehannya dan menoleh. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Nancy.


"Tidakkah kau lihat sendiri?" Sahut Gavin dingin.


Nancy merogoh sapu tangan dari dalam jasnya dan memberikannya kepada Gavin. Bukannya menerima, Gavin malah menaikkan satu alisnya dan menatap Nancy heran.


"Entah kau sadar atau tidak, tapi air matamu sudah mengalir sejak tadi" ucap Nancy.


Gavin tersentak. Tangannya terangkat dan menyentuh pipinya sendiri. Basah dan terasa ada air mata yang masih mengalir. Gavin menangis saat sedang mengobrol dengan Yuki. Hanya air matanya yang menetes dan tak ada isakan sedikit pun, hal inilah yang membuat Gavin sendiri pun tak menyadarinya.


Namun, ada satu hal yang terus ia pikirkan saat ini.


Sejak kapan ia menangis seperti ini?


Gavin buru-buru menerima sapu tangan itu dan mengeringkan air mata yang ada di wajahnya. Matanya kembali menatap Yuki dan mengelus rambut poni Yuki.


"Bisa kau keluar sebentar? Kami harus membersihkan tubuh nona sekarang" ucap Nancy.


"Bagaimana jika aku tak mau keluar?" Jawab Gavin dengan pertanyaan.


"Kami akan melepas pakaiannya dan membersihkan tubuhnya. Kau yakin ingin melihatnya?"


Blush!

__ADS_1


Wajah Gavin memerah. Ia langsung berdiri dengan tatapan menunduk. Tanpa bicara lagi, Gavin melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari ruangan.


Ini memalukan baginya.


__ADS_2