
Yuki meneguk air minum yang tadi disediakan oleh Gavin hingga tandas. Ia kehausan Karena terus berbicara untuk menerangkan pelajaran. Bukan hanya Gavin, kini pasiennya bertambah dua orang, yaitu Olivia dan Louis.
Cklek
Kevin masuk dengan 2 orang pelayan yang membawakan makanan untuk mereka.
"Hei hei yuuhuuu... Ciee yang pada lagi belajar. Eh, siapa nih, cantik banget" Kevin mendekati Olivia yang sedang serius membaca buku dan memegang dagunya. Olivia terkejut saat melihat Kevin yang sudah mendekatkan wajahnya dan tentu saja Louis sudah emosi.
"Keviiiiinnnn!!!!! Jauh-jauh dari pacar gua!" pekik Louis saat melihat kekasihnya didekati Kevin.
Kevin melepaskan tangannya dan menegang saking terkejutnya. "Jadi ini cewek lu!? Kok bisa"
"Kalau mau bikin kehebohan, cepet keluar sana kalian!" Gavin ikut marah karena merasa terganggu.
"Ck, ck, ck, cinta memang buta. Si telmi punya pacar, tapi kok gua belum dapat yah" ujar Kevin sambil terus memperhatikan Olivia. Kemudian Kevin berjalan mendekati Yuki dan menepuk pundaknya. Yuki menoleh dengan tatapan bingung. Mau apa lagi sih?
"Yuki, jadi pacar gua yuk" ajak Kevin dengan senyuman lebar.
Yuki tak menjawab dan malah semakin bingung. Bukan debaran yang ia rasakan, tapi malah perasaan jijik. Yuki seperti melihat Gavin versi fakboi. Uh, Gavinnya bahkan lebih keren daripada Kevin.
"Kevin!" Pekik Gavin
Gavin bangkit dari kursinya, ingin menghampiri Yuki. Tapi Nancy jauh lebih cekatan. Wanita itu berhasil mendorong Kevin untuk menjauh dan berdiri didepan Yuki, seperti melindunginya.
"Menjauh dari nona. Kau terlihat berbahaya"
"Si-siapa ini?" Tanya Kevin.
"Kepala pelayan Cortez yang sedang menjelma jadi bodyguard" ujar Gavin yang kembali duduk.
"Lu Dateng kesini cuma bikin heboh doang. Keluar!" Pekik Gavin.
Kevin pasrah jika Gavin kembarannya sudah marah seperti tadi. Dengan wajah yang ditekuk Kevin berjalan ke arah pintu dan berhenti lagi.
"Lupa ngasih pesan. Kata ibu, Yuki harus makan malam disini" ujarnya dengan sedih, lalu keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Mereka menghela nafas bersamaan. Akhirnya si pembuat kehebohan pergi juga. Louis kembali duduk tenang, namun tangannya terulur dan menggenggam tangan Olivia. Olivia tersenyum dan membalas genggaman tangan itu.
"Kalau mau mesra-mesraan jangan didepan Yuki. Tuh bocah masih polos" sindir Gavin setelah melihat aksi mereka berdua dan melihat Yuki yang memerah karena aksi Louis dengan Olivia.
Olivia dengan cepat melepas tangan itu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia harus menutupi wajahnya yang sudah merah juga.
Sepertinya Gavin tak bisa membiarkan mereka berdua belajar bersama. Lihat saja bagaimana mereka bermesraan yang berakhir tidak fokus dan berakibat gagal di ujian. Itu tidak bisa dibiarkan. Mereka sudah membuat Yuki membuang tenaganya sia-sia karena mengajarkan mereka yang lebih memilih bermesraan.
"Besok, salah satu dari kalian ikut belajar aja sama Valeria dan Andro" ujar Gavin.
"Eh? Tapi kenapa?"
"Lo ga bakalan fokus Is" jawab Gavin dengan tegas.
Louis menatap dengan tatapan memohon. Tapi ya, yang ia hadapi adalah Gavin, tentu saja itu takkan mempan. Hanya lewat tatapan saja, Louis sudah menyerah. Ia menoleh pada Olivia dan menggenggam kedua tangan Olivia dengan erat.
"Besok, kita akan berpisah. Berjanjilah kau takkan berpaling dengan yang lain" ujar Louis dengan alis yang mengkerut.
"Tidak, itu takkan pernah terjadi" balas Olivia dengan penghayatan. Namun gadis ini merubah ekspresinya seketika dan melepas tangan Louis dengan kasar.
"Iyuuhhh.... Apa yang barusan gua bilang? Ih jijik" ucap Olivia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan kejadian barusan dari kepalanya.
"Kalian ini kenapa sih?" Tanya Yuki dengan polosnya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Yuki memandangi dirinya sendiri di depan kaca dengan sedih. Malam ini ia harus bersiap untuk mengantar Axel serta Alvaro ke bandara karena harus pulang ke Florida.
"Nona, apa anda sudah selesai? Perlu saya bantu?" Ujar Nancy di depan pintu.
Yuki mendengus kesal dan akhirnya membuka pintu itu. Nancy tersenyum ketika melihat nonanya yang sudah cantik, namun Yuki mengacuhkannya dan berjalan melewatinya.
"Felix mau kemana?" Tanya Yuki yang melihat Felix dengan sebuah koper.
"Mau ke Moskow dong... Mau ikut?" Jawab Felix dengan bangga. Yuki kembali memasang wajah cemberut, bukannya jelek, Yuki malah terlihat imut.
"Kenapa semua orang meninggalkan ku?" Cicit Yuki dengan menundukkan kepalanya.
Felix mendekat dan memeluknya. "Kami tak meninggalkan mu selamanya. Ini hanya sementara. Karena biasanya, setelah ujian, akan ada liburan yang panjang. Kita akan berkumpul sepanjang waktu. Bukan sekarang, tapi nanti"
"Wow, Felix. Sejak kapan kau jadi bijaksana begini" ledek Alvaro sambil menuruni tangga bersama Axel.
"Harus ku akui jika yang Felix katakan memang benar" sahut Axel.
"Tapi tetap saja, kalian akan pergi meninggalkan ku. Tetaplah disini sampai aku pergi juga" rengek Yuki.
"Hei hei. Apa yang kau katakan? Kau disini dengan Zen dan ada Nancy juga. Memang sudah dari awal sejak kau pindah kesini dengan Zen, bukan?" ujar Alvaro.
Axel diam. Ia seperti merasa ada yang mengganjal di kalimat Yuki tadi dan ia harus bertanya. "Tadi kau bilang, sampai kau pergi juga. Memangnya kau mau kemana?"
"Tentu saja untuk menyusul" jawab Yuki dengan cepat.
"Menyusul siapa?" Tanya Felix.
Yuki malah diam dan nampak berpikir. "Entahlah. Kalimat itu keluar begitu saja di pikiranku" jawab Yuki.
Semua orang diam. Axel lebih tercengang dengan kalimat Yuki yang seperti memiliki tujuan, Yuki seperti berusaha untuk mengatakan sesuatu, tapi entah apa itu. Apa hanya Axel yang merasakannya?
Axel mengelus punggung Yuki dan mengecup lama puncak kepala Yuki. Hah, kini pikirannya bisa sedikit tenang.
"Aku berjanji. Aku akan menyelesaikan semua pekerjaan ku hingga jadwal yang ku miliki akan kosong sebulan penuh. Akan ku luangkan waktu untuk mu. Kita akan pergi ketempat yang kau mau" ujar Axel dengan semangat.
" Itu ide bagus! Akan kubuat jadwal mu jadi super duper padat" sahut Alvaro yang tak kalah semangat.
"Oke! Aku juga akan mengerjakan pekerjaan double itu dengan penuh semangat juga!" Teriak Felix yang paling semangat.
Zen datang dengan wajah bingung. Ada apa dengan orang-orang di rumah ini?
"Ada apa sih?" Tanya Zen.
"Jadi, bagaimana, sweety? Apa kau akan semangat juga untuk ujian?" Tanya Axel.
"Uuhhh... Aku sayang kalian"
Yuki kini memeluk Axel dan Alvaro bersamaan. Felix juga ikut memeluk Yuki. Mereka berempat berpelukan layaknya Teletubbies. Lucu, gemess.
Oke, kalian melupakan Zen yang terabaikan.
"Woy! Kalian kenapa sih!?"
"Oh, sejak kapan kau berdiri disana?" Felix ternyata baru sadar akan kehadiran Zen disana.
Shit you all. Umpat Zen.
🌸🌸🌸
10.00 p.m.
__ADS_1
Seorang gadis bersurai panjang berjalan menuruni tangga rumahnya dengan cepat. Rumah dengan penerangan yang minim membuatnya lebih mempercepat langkahnya.
BRAK
"Nancy!!!!"
Nancy yang sudah akan terlelap tidur pun mengerjat kaget dan langsung bangkit dari tempat tidurnya. Yuki masuk dengan nafas yang memburu dan mukanya yang sedikit pucat.
"Nona, kau membuatku terkejut. Ada apa?"
"Temani aku tidur" pinta Yuki dengan manja.
Yah, bagaimana tidak, 3 kamar yang biasanya memiliki penghuninya didalamnya, kini sedang tak ada di rumah. Axel dan Alvaro sedang ke Florida, sedangkan Felix sedang pergi ke Moskow. Zen? Dia sedang menginap dirumah temannya.
Sendirian di lantai 2 dengan 3 kamar yang kosong itu cukup menakutkan. Yuki yang berniat untuk belajar hingga tengah malam pun tidak jadi ia lakukan karena keheningan malam yang membuatnya merinding.
"Ayolah Nancy....." Yuki mengeluarkan puppy eyesnya sebagai jurus andalannya.
Yuki memanggilnya dengan 'jurus andalan' karena memang tak pernah ada yang tidak luluh dengan mata itu. Terutama Gavin si kulkas itu. Bahkan Gavin tak bisa melihat Yuki dengan mode puppy eyesnya selama 5 detik, tidak lebih.
"Baiklah. Saya akan menemani anda hingga anda terlelap" ujar Nancy setelah Yuki memasang puppy eyes itu selama 2 menit. Hehe, Nancy hanya bisa bertahan 2 menit.
"Tidak! Kau harus tidur denganku malam ini! Ayo" Yuki memeluk lengan Nancy dengan erat dan menyeret wanita ini keluar dari kamarnya.
"Nona, anda tidak bisa terus-terusa----"
"Berhenti bersikap formal. Kita keluarga. Saat kau berbicara formal, rasanya tidak enak didengar" keluh Yuki dengan menyela perkataan Nancy.
Nancy mendesah pelan. Sepelan mungkin hingga Yuki sendiri pun tak mendengarnya. Nonanya ini sudah sering berkata seperti itu. Tak ada bosan-bosannya Yuki berkata seperti itu, Nancy membosankan lah, Nancy menjengkelkan lah, Nancy inilah, Nancy itulah.
Tapi Nancy, tetaplah Nancy. Ia sudah berjanji pada tuannya, Axel, agar menjadi kepala pelayan yang baik dan profesional untuk menggantikan Alvaro.
Masuklah mereka ke dalam kamar Yuki. Setelah menutup pintu, Yuki baru melepaskan tangannya dan berjalan dengan santai dan tenang ke tempat tidurnya. Tempat tidur queen size miliknya memang cukup untuk 2 orang.
"Here, come here" ujar Yuki sambil menepuk-nepuk kasur karena itu tempat kosong di sampingnya.
Dengan jengah, mau tak mau Nancy harus menuruti kemauan nona besarnya. Nancy membaringkan tubuhnya di samping Yuki. Ia menarik selimut tebal itu dan menyelimuti nonanya dan dirinya.
"Aku senang kau disini. Tetaplah berada di rumah ini" ujar Yuki yang sudah memejamkan matanya. Dan lama kelamaan, terdengar deru nafas beraturan darinya.
Yuki tertidur dengan damai dan tenang. Nancy memberanikan dirinya untuk mengelus kepala Yuki dengan lembut. Yah, kehidupan nonanya bahkan lebih menyedihkan darinya.
Walau nancy berada di panti asuhan, tapi Nancy baru kehilangan kedua orang tuanya saat ia berusia 7 tahun. Waktu 7 tahun itu cukup untuk mengenang kedua orang tuanya. Namun nonanya berbeda, bunda Yuki bahkan tak sempat menyentuh dan melihat putrinya. Ayahnya meninggal saat Yuki berusia 2 tahun.
Oh ayolah, apa yang diingat manusia saat berusia 2 tahun? Sudah jelas tak ada. Hanya ada lukisan kedua orangtuanya di pintu masuk mansion utama. Lukisan cantik yang bahkan terlihat seperti foto yang sengaja dibuat sedikit blur.
Hanya sebatas itu saja Yuki mengenal orang tuanya. Harta berlimpah yang jumlahnya tak bisa terhitung itu bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehilangan orang tua.
Bahkan sejak masuk ke dalam keluarga ini, Nancy merasa aneh. Tak ada orang dewasa yang menjadi pemilik tempat besar ini. Melihat perjuangan tuannya, Axel, Nancy merasa sangat takjub. Axel dengan susah payah menjadi ibu untuk Yuki dan ayah yang mencari nafkah bagi mereka.
Dan disisi lain, ia juga harus menjadi CEO di perusahaan besar yang memiliki cabang diberbagai negara sempat membuatnya terpuruk. Axel sempat diremehkan dunia bisnis yang ternyata lebih kejam dari kelihatannya. Dan semenjak saat itulah, Axel menghentikan senyuman itu.
Sikap dingin dan kejam yang lebih dominan sudah membuatnya naik daun begitu saja ketika dunia mengetahui betapa cerdas dan jenius Axel itu. Tapi tetap saja, Axel tak bisa bersikap dingin di hadapan adik manisnya. Bagi Axel, Yuki sudah menjadi sumber hidupnya, hanya kepada Yuki lah Axel bisa bersikap lembut.
Dan tanpa di nasihati pun, Yuki dengan cekatan bersikap lebih dewasa saat umurnya masih belia, walau terkadang sifat manja nan imut itu sering kali keluar. Itu membuat Axel semakin yakin dan percaya jika Yuki memang benar sumber semangat hidupnya.
Ia hidup untuk Yuki. Axel takkan segan-segan untuk membuat siapa saja yang mengganggu adiknya ini jadi menderita setengah mati. Axel bahkan tak mengizinkan media untuk menyebarkan kepribadian Yuki yang terlihat sempurna.
Ini memang fakta terjadi. Karena nancy sendiri yang mengalaminya. Nancy melihat dan memperhatikan keluarga ini. Kesedihan, kepedihan, kebahagiaan, dan masalah, mereka hadapi dengan bersatu.
"Semoga nonaku selalu bahagia selamanya"
__ADS_1