
"Aduhh, Bu Ani udah masuk lagi! Gimana ini? Apes banget gua hari ini" batin Gavin.
🌸🌸🌸
"Maaf ibu masuk 10 menit lebih awal karena ibu ingin tahu, siapa yang mengerjakan tugas dengan on time hari ini" ujar Bu Ani.
Suasana menjadi tegang seketika setelah mendengar perkataan dari Bu Ani.
"Silahkan, buku tugasnya di kumpulkan. Bagi yang belum mengerjakan atau belum selesai menyalin tugas temannya, tolong berdiri di depan"
Semua murid bangun dari tempat duduknya dan membawa buku tugasnya. Tunggu, apakah hanya Gavin yang belum mengerjakan tugas hari ini? Sepertinya sih begitu.
Gavin semakin panik. Jantungnya berdetak lebih kencang dua kali lipat. Gavin terus melirik, siapa yang belum mengerjakan tugas. Hasilnya... Nihil. mereka semua telah mengerjakan tugas.
"Vale" panggil Gavin.
"Sorry Vin, I can't help you now" jawab Valeria.
Pasrah sudah. Gavin pasrah.
"Baiklah. Apakah semua sudah mengumpulkan tugas?" Tanya Bu Ani hanya untuk memastikan kejujuran anak muridnya. Tetapi Gavin hanya diam saja.
Bu Ani langsung duduk di kursinya dan memeriksanya satu persatu. Saat memeriksa buku - buku, Bu Ani merasa ada yang janggal. Bu Ani langsung berdiri dan menatap Gavin dengan tatapan marah.
"Gaviiinn!!!!" Teriak Bu Ani.
Ohhh tidak. Gavin tak akan selamat hari ini.
Bu Ani langsung berjalan ke arah belakang, tepatnya ke tempat duduk Gavin. Seluruh teman sekelasnya langsung menolehkan kepalanya ke arah Gavin.
"Ibu kan tadi sudah bilang Vin. Kamu tuli hah? Tadi ibu bilang, kalau belum mengerjakan tugas, berdiri didepan kelas. Apa kamu ga dengar hah?"
Gavin yang mendengar itu langsung merinding di sekujur tubuhnya.
"Berdiri kamu!" Perintah Bu Ani yang semakin marah dan Gavin langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Sekarang kamu keluar, lari keliling lapangan sebanyak 25 putaran" ujar Bu Ani.
"A apa Bu? Apa ga kebanyakan? Itu terlalu banyak Bu, nanti kalau saya pingsan gimana?" Tolak Gavin.
"Ga usah alasan kamu. Udah cepat sana kamu ke lapangan, lagian kan tugas dari ibu tuh jumlahnya 25 soal jadi imbang dong. Kalo kamu ga ngerjain tugas, kamu bisa lari keliling lapangan 25 putaran" ujar Bu Ani yang amarahnya sudah meluap.
Baiklah Gavin sepertinya kalah. Gavin pasrah saja dan menurut.
"Huhh... Baiklah Bu." Gavin berjalan melewati ibu Ani.
"Sebaiknya kamu benar-benar berlari sebanyak 25 putaran. Karena ibu sudah meminta pak Gema untuk mengawasimu" ujar Bu Ani.
Gavin langsung berlari keluar dengan kesal. Gavin sangat kesal. Sepertinya Bu Ani sudah merencanakan hal ini untuk menjebak Gavin. Pikirnya.
Dan benar saja, saat Gavin sudah ada di lapangan, ada pak Gema yang sudah siap untuk mengawasi Gavin dari pinggir lapangan.
Itu membuat Gavin semakin jengkel. Gavin langsung saja berlari mengelilingi lapangan
1 putaran
2 putaran
3 putaran
...
Dan akhirnya 25 putaran.
Nafas Gavin tersengal-sengal. Keringatnya bercucuran. Gavin merasa sedikit pusing. Mungkin karena ia sarapan terlalu banyak.
Gavin menjatuhkan dirinya dan berbaring di bawah pohon rindang yang berada di pinggir lapangan. Lelah rasanya. 25 putaran. Itu sangat gila. Rasanya seperti habis lari maraton.
Gavin memejamkan matanya sebentar kemudian menatap langit yang sangat cerah. Huhh sepertinya Gavin harus mengganti bajunya di ruang loker. Gavin memejamkan matanya lagi. Dia berpikir untuk meredakan pelunya di sini sebentar
Tiba - tiba, Gavin seperti merasa adanya pergerakan yang mulai mengarah padanya. Apa itu Bu Ani? Pak Gema? Atau Andro?
Gavin lantas membuka matanya dan melihat seorang gadis yang ia kenal. Gavin membelalakkan matanya. Terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Yuki?!!" Teriak Gavin tak percaya dan langsung bangun dari tidurnya.
"Hhhhmmm iya ini aku. Ga usah teriak juga kali Vin" ujar Yuki dan dia pun langsung jongkok agar bisa menyamai Gavin.
"Lo ngapain disini?" Tanya Gavin
"Seharusnya tuh aku yang nanya begitu. Ngapain kamu disini Vin? Jam pelajaran kan belum selesai"
"Jawab dulu pertanyaan gua"
"Huh... Oke oke aku jawab. Tadi itu aku habis dari ruang kepala sekolah" jawab Yuki.
"Ngapain lu disana?"
"Ukur baju. Baju ini terlalu besar. Jadi nanti seragam sekolahnya mau dibuat lagi"
"Ohh gitu"
"Kapan lu keluar dari rumah sakit?" Lanjut Gavin.
"Subuh tadi dong" jawab Yuki.
"Njirr gila. Cepet banget dia keluar dari rumah sakit" batin Gavin.
"Heh! Sinting lu"
"Ih... Seharusnya kamu itu ngucapin selamat sama aku karena udah sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit. Eh ini malah di bilang gila. Huhh parah banget sih" tukas Yuki.
"Hhhhmmm serah lu dah" balas Gavin.
"Vin" panggil Yuki.
"Apa?"
"Aku tebak, kamu ga ngerjain tugas hari ini dan dihukum disini ya?" Ujar Yuki.
"Tau dari mana lu?"
"Asal tebak aja" ucap Yuki sambil tersenyum.
"Nih... Aku tau, kamu pasti haus kan?" Ujar Yuki sambil menyodorkan minuman dingin.
Eehh? Kapan dia membelinya?
"Siapa bilang gua haus, ga usah sok perhatian deh" jawab Gavin.
"Ga mau ya? Yaudah. Aku simpan aja lagi"
"Eehh... Jangan! sini buat gua aja" ujar Gavin.
"Ppffftt... Ahahahahhahaahaah" tawa Yuki pecah.
"Jangan ketawa"
"Kenapa?"
"Ck, emang apa sih yang lucu?"
__ADS_1
"Kamu"
"Gua ga lucu"
"Kamu lucu. Kelakuan kamu tuh Ga usah malu-malu kucing, kan biasanya juga malu - maluin" jawab yuki
Gavin langsung menyambar minuman dingin yang ada di tangan Yuki tanpa membalasnya lagi. Yuki hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya. Jadi ini kelakuan Gavin.
Setelah Gavin menghabiskan minumannya, dia langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Yuki.
Yuki yang melihatnya, langsung menyusul ke belakang Gavin. Gavin yang tak mengucapkan terima kasih langsung melenggang pergi. Yuki dengan setia mengikuti kemana perginya Gavin.
"Ngapain lu ngikutin gua hah? Risih gua" ujar Gavin.
"Kamu kan mau ke kelas, aku juga mau ke sana" jawab Yuki dengan nada sombong.
"Emang lu tau jalannya?" Tanya Gavin yang mulai sinis.
"Tau lah. Aku juga ingat dengan kejadian waktu itu. Btw, setelah kamu buat aku masuk rumah sakit, kamu ga mau nanya kabar aku gimana?" Tanya Yuki.
"Ga mau, ga penting juga"
"Hhhhmmm up to you"
Saat sampai di depan pintu lift, Gavin langsung menekan tombolnya dan pintu langsung terbuka. Gavin dan Yuki pun masuk kedalam lift. Dan Gavin menekan tombol lantai 4.
"Kira - kira nanti setelah pulang sekolah, kamu mau ngajak aku kemana?" Tanya Yuki dengan semangat.
Gavin terkejut. Gavin benar - benar lupa. Dia sudah janji dengan Yuki, bahwa dia akan membawa Yuki jalan - jalan mengelilingi sekolah dan sekitaran kota saja. Arrhghh... Benar - benar lupa.
"Lihat saja nanti" jawab Gavin yang berusaha santai.
"Hhhm? Is there any surprise for me?" Mata Yuki mulai berbinar.
Ting
Pintu lift terbuka dan gavin langsung pergi keluar menuju kelasnya. Lagi - lagi, Yuki hanya berjalan dibelakang Gavin. Dan Gavin tak menjawab pertanyaan dari Yuki.
Yuki yang imut ini kecewa guys. Huhh....
🌸🌸🌸
Gavin masuk kelas dengan muka kesal. Pelajaran Bu Ani telah selesai. Dan Yuki, masih terdiam di depan pintu. Dan itu membuat Gavin berhenti dan membalikkan badannya.
"Kenapa berhenti? Ga bakalan ada yang gigit Lo disini" ujar Gavin
Seisi kelas menatap Gavin. Bertanya - tanya, dengan siapa Gavin berbicara. Yuki menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Oke Yuki siap. Hal ini terulang kembali seperti beberapa hari yang lalu. Yuki melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas dengan kepala yang sedikit menunduk. Lalu Yuki berhenti dihadapan Gavin, Yuki menatapnya dengan tatapan penuh keraguan dan agak canggung karena mereka berdiri di depan papan tulis.
Semua murid memperhatikannya. Lalu Gavin tersenyum tipis, itu membuat Yuki kaget. Karena ini merupakan pertama kalinya dia melihat Gavin tersenyum.
Apa dia segugup itu di depan kelas? Gua penasaran, gimana ekspresinya yang sebelumnya yang juga berdiri disini? Dia agak imut. Batin Gavin.
Gavin memegang kedua pundak Yuki dan memutar tubuh Yuki agar tidak menghadap kearahnya. Dan tangannya tetap berada disitu untuk meyakinkan Yuki bahwa tak ada yang perlu ditakuti.
"Ayo ngomong. Gua disini. Dibelakang lu. Ga ada yang perlu dikhawatirkan" ujar Gavin dengan pelan kepada Yuki. Jantung Yuki semakin berdebar kencang. Apa dia bisa?
"Hai guys. My name is Lucyana Yuki Arvie, aku lebih suka dipanggil Yuki. Aku harap, aku bisa berteman sama kalian semua disini. Dan aku ga pandai memahami situasi, jadi kalau ada apa-apa, tolong kasih tau yaa... Terimakasih semuanya. Aku senang bisa berada disini" ujar Yuki dengan sekali nafas.
Seluruh murid bertepuk tangan dengan ricuh. Yuki langsung tersenyum, ingin sekali rasanya dia menangis. Seperti ada beban berat yang baru saja terlepas. Dan Gavin melepaskan genggaman tangannya di pundak Yuki.
Andro yang sedari tadi melihat pergerakan mereka berdua, langsung tersenyum. Akhirnya Gavin bisa meyakinkan Yuki. Andro berdiri dan berjalan ke arah mereka berdua.
"Hai Yuki. Gua Andro ketua kelas di sini sekaligus ketua OSIS di sekolah Greehall ini. Ayo gua anter ke tempat duduk lu" ucap Andro.
Lalu Andro mengarahkan Yuki untuk berjalan ketempat duduknya. Tempat Yuki tepat berada di samping sebelah kanan Gavin dan dibelakang Andro. Dan Valeria langsung menghampiri Yuki dan Andro.
"Waahh... Senang bertemu dengan mu" ujar Yuki dengan semangat.
"Hhhhmmm me too" jawab Valeria.
"Vale, Can I be your best friend?" Tanya Yuki.
"Eh? Kenapa pake tanya? Of course. Sure honey. Come here!" Jawab Valeria sambil membuka tangannya, bermaksud akan memeluk Yuki. Yuki pun langsung berdiri dari duduknya, sedikit loncat dan akhirnya memeluk Valeria dengan erat.
Semua murid yang memerhatikan Yuki dari tadi pun tertawa terkekeh. Yuki sangat childish dan imut. Dan Valeria tidak feminim seperti gadis lainnya, namun tidak terlalu tomboy. Sepertinya, hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi kelas ini.
Tak lama kemudian, pak Gema masuk dan memulai pelajaran sejarahnya.
🌸🌸🌸
Kriiinggg
Bel istirahat akhirnya berbunyi.
Gavin dan Yuki berjalan menuju kantin sesuai kesepakatannya. Gavin akan mengajak Yuki berkeliling sekolah dan kota hari ini. Dan disusul Vale dan Andro dibelakang mereka. Banyak pasang mata yang memperhatikan Gavin dan Yuki berjalan bersama. Sangat jarang Gavin berjalan bersama seorang gadis.
"Vin, kayaknya dari tadi pada ngeliatin kita deh. Everything is fine right? Perasaan gua ga enak" ujar Yuki sambil meremas roknya.
"Abaikan aja. Anggap aja, lu lagi ngelewatin banyak patung" jawab Gavin dengan santai.
"Okay"
Mereka berempat duduk di sebelah ujung kantin, agar tak ada yang mengganggu. Dan Yuki langsung tersenyum ketika melihat papan menu dihadapannya. Vale mengajukan dirinya untuk pergi memesan dan bertanya pada Gavin, Andro dan Yuki ingin pesan apa.
"Oke! Spaghetti 3 sama jus jeruk 4. Yuki makannya pesan apa?" Tanya Vale.
"Aku mau baso" ujar Yuki.
"Ga ada baso! Vale pesan sup ayam aja!" Tukas Gavin
"What? Sup ayam? Ga mau!!" Tolak Yuki
"Heh! Lo baru aja keluar dari rumah sakit dan mau makan baso yang ga sehat?" tanya Gavin.
"Tapi aku pengen makan baso. Kalo sup ayam, aku udah makan itu setiap hari dirumah sakit"
"Ck. Dikasih taunya keras kepala. Terserah Lo deh. Semoga setelah lu makan baso, keselek terus mati" ujar Gavin jahat
"Yuki, aduh ngalah aja ya, kalo kalian berantem terus, kita ga bakalan makan nih" ujar Andro
"Yaudah iya aku ngalah. Vale, sup ayam aja"
"Oke. Sabar ya honey" ucap Vale sambil mengusap punggung Yuki dan pergi ke kasir pemesanan makanan.
Tak lama kemudian, makanan mereka sampai di antar oleh paman Sam. Pelayan di kantin sekolah. Dan mereka pun langsung memakan makanannya. Yuki merasa sedih. Karena tak bisa memakan baso hari ini.
"Hai guys. Gua cariin kalian di kelas, ternyata ada disini" ujar Louis yang tiba - tiba muncul dan duduk disamping Yuki.
"Waahh... Yuki... Udah masuk. Kapan pulang dari rumah sakit? Kok ga bilang sih sama gua. Kan gua bisa jemput. Oh iya gimana keadaan lu? Masih sakit ga kepalanya?" Ujar Louis yang bertanya bertubi-tubi.
"Wow wow... Tenang Louis. Aku baik. Kepala aku juga udah ga sakit" jawab Yuki sambil tersenyum lebar.
"Huhh akhirnya Yuki tersenyum. Semua udah pasti berkat kehadiran Louis di cowo konyol" ujar Valeria.
"Eeh? Emang kenapa si cantik ini murung? Pasti Gavin ya? Woy Vin! Sama pacar jangan kayak gitu dong. Kalau ga suka putusin aja" ujar Louis lalu ia menjitak kepala Gavin.
"*****.. siapa yang pacaran? Kata siapa hah? Sekali lagi lu jitak gua, gua bakalan bales 100 kali Is" ujar Gavin.
"Jangan salahin gua dong. Gua juga cuma denger dari anak cewe yang ngomongin lu berdua. Katanya sih lu berdua pacaran"
__ADS_1
"Ada yang bilang kayak gitu? Kira - kira kelas berapa Is?" Tanya Vale yang mulai penasaran.
"Kalau gua liat seragamnya sih kelas 11"
"Kelas 11? Tau dari mana?" Tanya Yuki bingung.
"Gini loh Ki, sekolah kita tuh seragam tiap angkatan berbeda. Untuk kelas 10 tuh kotak warna merah, kelas 11 kotak warna hitam, nah kelas 12 baru deh kotak warna abu-abu. Gitu loh" jawab Andro.
"Ohh gitu..." Yuki mulai paham.
"Hhhhmmm... Berarti kita harus waspada nih, karena fans Gavin lebih banyak dari pada Andro dan Louis. Bisa - bisa Yuki diserbu sama mereka." Ujar Vale yang mulai berpikir.
"Oh begitukah? Terus, apa Vale pernah diserbu oleh mereka?" Tanya Yuki.
"Ga pernah sih. Mungkin karena gua temenan sama Gavin dari kecil. Mungkin menurut mereka gua bisa dikatakan aman"
"Nama grup mereka itu GAL lovers. Gavin Andro Louis lovers gitu. Alay banget ahahahahahahaha" ujar Louis.
"Iya itu grup ilegal. Yang ga bisa gua berantas sampai saat ini. Anggotanya sih sekitar ada 25 orang, lumayan banyak untuk dikatakan grup ilegal. Karena pemimpin grup itu namanya Elise Renault. Elise ini keponakannya ketua kesiswaan, Herrera Renault. Gila emang tuh Tante sama keponakannya" ujar Andro.
"Wow kayaknya serem banget" ujar Yuki
"Okay, this is our new mission guys" ujar Vale dengan serius.
"Apa itu?"
"Jangan biarin Yuki jalan sendirian dengan seragam sekolahnya dimana pun dia berada" lanjut Vale.
"Oke ketua!" Ujar mereka berbarengan.
"Perasaan gua yang ketua disini. Kenapa Valeria yang dipanggil ketua sih" Andro kesal.
"Yaelah Ndro, jangan marah dong. Vale cuman ketua di misi ini doang" ucap Louis.
"Hhhhmmm okay"
"Thank you banget buat kalian. Padahal kan aku cuma orang luar yang baru masuk" ujar Yuki.
"Hei! Jangan ngomong kayak gitu. Kan tadi Lo yang bilang mau sahabatan sama gua. Secara otomatis Lo juga sahabat kita. Welcome to our friendship area!" Ujar Vale.
Yuki merasa sangat senang. Karena dalam sehari, dia bisa mendapatkan 4 orang sahabat sekaligus. Ini merupakan hari keberuntungan bagi Yuki.
Dari kejauhan, ada 2 orang gadis yang memperhatikan mereka dengan sinis.
"Heh. Sepertinya, kita harus bergerak, sebelum tuh cewe melangkah lebih maju" ucap salah satu dari mereka.
"Ayo kita pergi. Kita harus susun rencana buat hari ini"
🌸🌸🌸
Bel pulang yang ditunggu - tunggu pun akhirnya berbunyi. Yuki langsung merapihkan bukunya yang tadi berantakan di atas meja.
"Yuki?" Ujar Gavin dan dengan sigap Yuki menengok dengan tersenyum dan memiringkan kepalanya.
"Hari ini kita pergi ke taman kota aja ya."
"Kok cuma taman? Kita ga keliling kota?"
"Ga usah. Nanti Lo kecapean. Gua tau lu pasti belum istirahat lagi setelah dari rumah sakit. Mending habis dari taman, lu pulang terus tidur"
"Oke oke. Oh iya, Vale mau ikut ga ke taman kota?" Tanya Yuki.
"Kalau hari ini gua ga bisa. Gua harus jemput ibu gua di bandara sekarang. Gua pergi dulu ya. Bye honey" jawab Vale dan langsung pamit pergi pulang.
"Andro mau ikut?" Tanyanya lagi ke Andro.
"Maaf ya, gua harus rapat di ruang OSIS hari ini. Lain kali aja ya kalo gua ga sibuk" ujar Andro.
"Hhhhmmm it's okay. Bye Ndro"
Andro melambaikan tangannya dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Yuki kecewa. Sepertinya Yuki akan pergi berdua dengan Gavin.
"Ayo! Semakin cepet kita pergi, semakin cepet lu bisa istirahat dirumah" ujar Gavin dan diangguki oleh Yuki.
Mereka berdua berjalan berdampingan. Banyak orang yang memperhatikan mereka berdua. Pasalnya, Yuki terus mengoceh dan itu membuat Gavin tersenyum tipis. Gavin yang jarang tersenyum kepada seorang gadis, tiba tiba dia bisa tersenyum kepada Yuki seperti fenomena langka yang terjadi disekolah ini.
Yuki dan Gavin berjalan menuju halte bus sekolah. Letak Sekolah Greehall sangatlah strategis. Letaknya berada ditengah kota dan dekat dengan stasiun kereta dan didepan sekolahnya sudah pasti ada halte bus.
Mereka menaiki bus nomor 4 yang mengarah ke taman kota. Karena tujuannya ke taman kota, jadi tak banyak penumpang di bus ini. Yuki dengan antusias melihat semua hal yang ada di pinggir jalan dari jendela bus. Kota Greenedy sangat teratur dan menyenangkan bagi Yuki yang baru saja tinggal di kota ini.
Sekitar 15 menit kemudian, mereka pun sampai ditaman kota. Disini sangat sejuk, walaupun letaknya ada di tengah kota, namun tak mengurangi pasokan udara segar di sini.
🌸🌸🌸
Sepertinya Gavin membawa Yuki ketempat yang tepat. Yuki baru saja keluar dari rumah sakit, dengan membawanya ke tempat ini, mungkin bisa mengurangi kejenuhannya selama di rumah sakit.
Gavin memilih duduk di salah satu bangku dan hanya memperhatikan Yuki yang sedang melihat satu persatu bunga yang ada ditaman. Lihat saja, berapa lama ia akan melihat bunga - bunga yang sebegitu banyaknya. Setidaknya Gavin bisa memantaunya dari sini dengan santai.
Tapi, ada yang tak beres, Yuki terus jalan menjauh dari pekarangan bunga. Apa yang ia incar kali ini?
Sebenarnya Gavin malas untuk mengikutinya, tapi kalau tak diikuti, Gavin takut Yuki salah jalan dan hilang. Ohh tidak. Itu tak boleh terjadi.
Gavin berdiri dan berlari kecil untuk menyusul Yuki. Ternyata Yuki berjalan menuju stand makanan. Gavin mempercepat langkahnya dan cepat menghentikan Yuki dengan menahan bahunya secara tiba-tiba.
"Waahh..." Teriak Yuki terkejut karena Gavin yang tiba tiba menyentuh bahunya.
"Mau kemana Lo? Jangan pergi sendirian gitu. Kalo Lo hilang gimana? Masa iya gua harus ngasih tau ke stand info yang biasanya ngasih info hilangnya anak kecil. Lo udah gede Ki. Jangan bikin gua takut dong" tukas Gavin.
"Iya maaf"
"Lo laper?" Tanya Gavin dengan lembut dan Yuki hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma mau beli es krim. Itu aja kok" jawab Yuki dengan rasa bersalah.
"Yaudah. Hari ini gua yang beliin"
Akhirnya mereka berjalan bersama ke stand es krim. Yuki tersenyum kembali. Sangat mudah membuat Yuki tersenyum bagi Gavin.
Yuki memesan es krim coklat dan vanila dan Gavin memesan es krim alpukat.
"Berapa totalnya pak?" Tanya Gavin yang sedang berusaha mencari dompetnya.
"25.000 aja"
"Eh tunggu!"
"Kenapa Vin? Dompet kamu hilang ya? Apa disini ada pencopet?" Tanya Yuki panik
"Bukan Ki" Gavin langsung mengeluarkan dan membuka dompetnya lalu menatap isinya dengan tatapan terkejut.
"Terus apa dong? Jangan bikin takut"
"Gua lupa ngisi dompet gua. Sekarang dompet gua beneran kosong. Ga ada duitnya. Aduuh lupa banget" Gavin mulai panik juga
"Bisa bayar ga nih dek?"
"Bisa pakai kartu debit ga? kartu kredit deh" Tanya Gavin mulai pasrah.
"Ga! Ga bisa pakai kartu seperti itu di taman kota. Kan ada peraturannya"
"Apa?!!! Sejak kapan?"
__ADS_1