Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
4. Apes


__ADS_3

"lahh Ndro? Kok Minggu depan lu pindah lagi? Emang udah berapa lama lu tinggal disana?" Tanya Gavin.


"Saat itu sih awal - awal semester 1 gua pindah kesana. Berarti udah sekitar 3 bulan gua pindah kesana" jawab Andro.


"3 bulan?!!" Ucap Gavin dan Louis berbarengan.


"Kok gua ga pernah tau sih. Gua juga ga nyadar kalau lu tinggal disana selama ini" jawab Gavin dan Louis hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Yaa itulah kalian. Ga bisa menyadari keadaan" ucap Andro.


"Kenapa lu tinggal disana?" Tanya Gavin.


"Ohh itu. Tujuan gua tinggal disana itu karena ayah gua ingin gua belajar tentang kepemimpinan gitu. Jadi dia serahin 1 tugas diperusahaannya" lanjut Andro.


"Tugas apa?" Tanya Louis.


"Kalian tahu gedung yang baru selesai di bangun dekat stasiun sunshine?" Tanya Andro. Dan diangguki oleh Gavin dan Louis.


"Gua disuruh mantau. Sejauh apa perkembangan pembangunan gedung itu. Gua juga disuruh ikut rapat pembangunan gedung yang baru itu. Intinya, gua jadi kayak mandor buat pembangunan gedung itu deh. Ga ngerti gua juga" jawab Andro.


"Terus? Mobil lu kemana? Kok lu ga pernah bawa mobil lagi Ndro?"


"Mobil gua ada dirumah, lagian kan sekolah kita sama apartemen gua Deket banget sama stasiun. Jadi, gua bisa hemat waktu gua. Naik kereta kan cepat" jawab Andro.


Gavin dan Louis hanya bisa menatap dan terperangah. Tak percaya. Sahabatnya ini sangat dewasa dan bisa menjadi beberapa pemimpin dalam waktu yang sama. Sedangkan mereka berdua? Hanya bisa mengikuti balap liar dan bolos sekolah. Gavin dan Louis pernah terancam tidak naik kelas gara - gara kegiatan tersebut.


"Kok lu mau sih sahabatan sama kita berdua yang hidupnya ga jelas gini?" Tanya Gavin.


"Hidup kalian belum dimulai. Jangan bilang ga jelas duluan. Kalian masih punya waktu sekitar 18 bulan lagi buat ngebenerin hidup kalian yang sekarang, sebelum kehidupan sebenarnya dimulai" ujar Andro dengan bijaksana. Gavin dan Louis hanya bisa terdiam tak bergeming.


"Kok diam?" Tanya Andro yang bingung melihat kedua sahabatnya.


"Ppffftt... Ahahahahahahaha. Lengkap sudah persahabatan kita, bukan?" Ucap Louis yang mulai memahami keadaan.


"Iya betul itu" ucap Gavin sambil tersenyum tipis.


"Betul. Yang satu bijak, yang satunya lagi gegabah, dan yang terakhir telmi" lanjut Gavin tersenyum sinis.


"Eeh? Siapa yang telmi?" Tanya Louis dengan polosnya.


"Hahahahahahaha... Ternyata dia ga nyadar Vin" ucap Andro.


"yaudah biarin aja" ujar Gavin.


"Maksud kalian itu, Kevin yang telmi?" Louis makin tidak mengerti. Gavin dan Andro juga semakin heran dengan apa yang dipikirkan oleh Louis.


"Perasaan tadi itu kita ga bahas Kevin" ucap Gavin yang mulai muak dengan jalan pikir Louis.


"Lalu? Yang telmi disini siapa?" Tanya Louis lagi.


"Lo!! Lo yang telmi" ucap Gavin dan Andro berbarengan dengan nada tinggi.


Louis langsung terkejut mendengar perkataan dari sahabatnya.


"Tega sekali kalian. Diriku selalu dibully. Ga di grup chat, ga di cafe, ga disekolah, sama aja kalian tuh" ucap Louis yang mulai pasrah.


"Hadeehhh. Mulai deh sifat manjanya keluar" ucap Andro sambil menopang dagunya menggunakan tangannya.


"Oh iya. Btw, kapan Kevin pulang dari Benehian?"


"Entahlah. Gua juga udah lama banget ga telpon dia. Terakhir yang gua denger sih, handphone nya hilang di sekolahnya. Gua jadi lupa minta kontaknya yang baru ke ayah gua" jawab Gavin.


"Ternyata Kevin bisa ceroboh juga ya. Seingat gua sih dia orangnya rapi. Jadi gua mikirnya, mungkin dia terlalu sibuk dengan belajarnya disana malah" ujar Andro.


"Huhhh... Gua jadi kangen Kevin. Pengen meluk Kevin" ucap Louis. Kedua sahabatnya hanya bisa menatap dan tersenyum terpaksa. Kasihan dengan sahabatnya yang selalu mereka bully. Sekali - kali, tersenyum bukanlah hal yang sulit, tapi berdampak besar.


"Iya gua juga kangen. Lu gimana Vin?" Tanya Andro.


"Yaa udah pastilah. Saat dia pergi itu, gua kayak kehilangan setengah semangat gua waktu itu. Tapi sekarang, gua fine aja" jawab Gavin tersenyum tipis. Gavin berdiri dan berniat untuk pamit pergi kepada sahabatnya.


"Oh iya, gua ga bisa lama - lama nih. Gua harus pergi ke supermarket. Beli beberapa barang" pamit Gavin.


"Mau gua antar Vin?" Tanya Louis.


"Ga usah Is"


"Vin, mau gua kasih beberapa saran ga?" Tanya Andro.


"Makasih Ndro. Gua bisa kok sendiri"


"Lo yakin? Karena gua rasa Lo bakalan nyesel kalau ga nanya sama gua" ucap Andro yang meyakinkan Gavin untuk bertanya satu pertanyaan saja.


"Ga usah Ndro. Nanti kalau gua bingung, baru gua nanya sama Lo. Inget ya, handphone Lo harus aktif terus. Takutnya gua nanya dadakan" jawab Gavin.


"Lo udah buat list belanjanya?" Kini Louis yang bertanya.


Louis semakin tak yakin dengan Gavin yang akan berbelanja bulanan di supermarket. Karena tempat itu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para ibu rumah tangga.


"Udah kok. Gua udah bikin. Lumayan panjang nih listโ€ ucap Gavin sambil menunjukkan list belanjaannya dihadapan Louis.


"Wow. Oke gua percaya" ucap louis


"Emang lu ga percaya sama gua?" Ucap Gavin.


"Yaa bukan gitu Vin. Aneh aja gitu kalau lu pergi belanja ditempat yang banyak ibu - ibunya" ujar Andro.


"Huhhh kalian tuh. Percaya dikit dong sama gua" ucap Gavin.


"Yaudah, gua jalan dulu ya" pamit Gavin.


"Bye Vin" ujar kedua sahabatnya.


"Bye - bye" jawab Gavin.


Gavin melambaikan tangannya dan pergi keluar dari cafe tersebut. Gavin langsung naik bus yang mengarah ke stasiun. Karena supermarketnya berada dekat dengan stasiun.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Sesampainya Gavin di sana, Gavin mengambil kereta dorongnya. Sepertinya Gavin akan belanja banyak hari ini.


Gavin melihat list belanjaan yang Ia buat semalam, lumayan banyak. Dan kalau tidak dicatat, dia akan lupa harus beli apa.


Things that I should buy :



Susu


Roti tawar


Selai strawberry, kacang dan coklat


Sereal


Air mineral


Beras


Nugget


Sosis


Mie instan


Kopi


Teh


Telur

__ADS_1


Tisu toilet


Tisu makan


Sabun mandi


Shampo


Pasta gigi


Sabun serbaguna


Bumbu instan masakan


Bumbu dapur



Lumayan banyak yaa... Ada yang mau tambahin? Siapa tahu Gavin melupakan sesuatu.


Gavin tak mengerti sistematis supermarket ini. Dia terus berputar-putar mengelilingi beberapa blok untuk menemukan apa yang akan Gavin beli.


Setelah Gavin menemukan 1 barang, Gavin akan memberi tanda centang di nomornya.


Sepertinya hanya itu belanjaan yang ia beli hari ini. Itupun juga sudah cukup banyak. Entah menghabiskan berapa kantong plastik untuk membawa barang sebanyak ini. Yaah walaupun ada yang tertinggal, dia bisa kembali lagi kesini, atau pergi ke minimarket didekat apartemennya.


Saat akan membayar belanjaannya di kasir, Gavin mulai menyadari ketika menoleh ke arah belakang. Yang benar saja, dibelakang Gavin, banyak ibu - ibu yang sedang mengantri dan menatap Gavin tak percaya.


Untung saja untuk saat ini, tak ada ibu - ibu yang bertanya pada Gavin. Kalau sampai terjadi, akan jawab apa Gavin nanti. Ini membingungkan.


Benar apa yang dikatakan oleh Louis. Tempat ini penuh dengan ibu - ibu rumah tangga. Kasirnya pun sempat bertanya 'untuk siapa belanjaan sebanyak ini kak?'.


Oke lupakan itu.


Gavin tak menjawab.


Itu... Terlalu memalukan. Seharusnya dia membayar seseorang untuk membelikan belanjaannya. Atau mungkin, ia bisa membelinya secara online. Hhhhmmm pemikiran yang bagus Vin.


Gavin lebih banyak memilih membeli makanan instan, dari pada dia harus membeli bahan masakan yang rumit. Apalagi bumbu dapur. Kalau masalah bumbu dapur, Gavin hanya mengerti garam dan gula saja


Gavin langsung mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar belanjaannya. Dan ternyata belanjaan yang Gavin beli menghabiskan 4 kantong plastik yang besar. Sulit sekali untuk membawa keempat kantong plastiknya. Sepertinya Gavin harus mulai harus mengurangi jumlah belanjaannya bulan depan.


Gavin menyesal. Seharusnya dia menerima tawaran Louis atau Andro. Atau mungkin seharusnya dia pulang terlebih dahulu untuk menaruh tasnya yang berat di rumah.


Gavin jadi teringat dengan Sena adiknya yang terkadang menggantikan ibunya berbelanja bulanan. Ibu Gavin terkadang suka pergi rapat dadakan dan harus menyerahkan beberapa tugas rumah kepada Sena yang tak bisa diserahkan kepada asisten rumah tangganya.


Umur Sena baru 14 tahun. Kini Ia menduduki bangku SMP kelas 2. Sena merupakan anak yang rajin, namun sangat manja jika sedang bersama kedua kakaknya.


Gavin rindu adiknya yang imut.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Sesampainya Gavin di rumah, Gavin menaruh bahan makanan di kulkas. Ah, akhirnya kulkas Gavin terisi makanan. Karena sebelumnya benar - benar kosong, hanya ada air mineral.


Gavin menata barang - barang lainnya di meja dapur dekat wastafel. Eh? Gavin sepertinya lupa beli spon. Bagaimana ia akan mencuci piringnya? Pantas saja, dari tadi Gavin sudah merasa ada yang tertinggal, ternyata ia lupa membeli spon untuk mencuci piringnya. Karena belum beli spon, dengan senang hati, Gavin akan menunda acara cuci piringnya. Sungguh pintar Gavin ini.


Gavin berencana untuk memakan nasi malam ini. Jadi Gavin menanak nasi di rice cooker. Dia masak tak banyak. Hanya ยฝ liter, karena memang hanya untuk dirinya sendiri.


Gavin telah bertanya terlebih dahulu pada adiknya cara menanak nasi. Dan hasilnya, tidak buruk juga untuk yang pertama kalinya menanak nasi. Yaa, walaupun nasinya akan jadi sedikit lembek, mungkin kebanyakan air. Tapi tetap masih bisa di makan kok.


Selagi menunggu nasinya matang, Gavin membuka ponselnya dan membuka aplikasi browser. Mencari tempat-tempat yang disukai para cewe kebanyakan memang susah susah gampang.


Setelah Gavin membaca beberapa artikel, Gavin bisa menarik kesimpulan. Para gadis senang jika dibawa ketempat yang indah dan yang pastinya nyaman bagi mereka dan dibelikan aksesoris.


Hhhhmm... Gavin bisa membelikannya 1 aksesoris saat mereka pergi nanti. Tiba - tiba, ada satu kata yang terlintas di dalam kepalanya, yaitu "kencan". Apakah ini kencan? Gavin rasa, tidak!


Hanya saja takutnya, Gavin mengecewakan Yuki. Kalau sampai Yuki kecewa, Yuki pasti akan memberi tahu kepada ayah Gavin, bahwa Gavin belum meminta maaf kepadanya. Memang serba salah.


Dasar wanita! Susah dimengerti.


30 menit kemudian, nasi yang dimasak oleh Gavin tadi akhirnya matang. Saat Gavin membuka tutup rice cookernya yang baru saja matang, uap panas yang keluar dari rice cooker berhasil membuat mata Gavin tertutup karena uapnya terlalu banyak mengepul di sekitaran wajahnya.


"Aww..."


Mau makan saja susah. Apa Gavin harus menelpon temannya, Andro? Apa tidak ngerepotin Andro?


Hhhmmm... Jangan deh.


Baiklah Gavin akan mencoba untuk lebih dewasa. Mencoba untuk tidak bergantung pada seseorang.


Gavin mengambil kotak P3k dan mencari salep luka terbakar. Gavin mulai kesal, karena tangannya mulai terasa perih.


Gavin mengeluarkan seluruh isi kotak P3k dan menghamburkannya diatas meja. Dia melihat satu persatu label obatnya. Tak ada yang bertuliskan salep luka bakar.


Hahh... Gavin pasrah dan hanya bisa menghela nafasnya. Gavin tak bisa menemukannya. Isi obat P3Knya hanya berisi beberapa antiseptik, kapas dan plester. Jarang sekali Gavin terkena luka bakar. Karena biasanya dia terluka sampai berdarah - darah karena berkelahi.


Oke, Gavin menyerah. Gavin mencari ponselnya di dalam tas dan mencoba menghubungi Andro. Setelah ketemu, Gavin membuka fitur kontak dan mencari kontak Andro lalu menekan tombol 'telpon' .


Niiiittt niiiittt....


"Halo Vin?" Akhirnya Andro mengangkat telponnya.


"Ndro, gua butuh bantuan Lo sekarang"


"Uhhuuk uhhuukk... Lo kenapa Vin? Apa yang terjadi?" Andro tersedak setelah mendengar Gavin meminta tolong padanya.


"Ga usah dramatis Ndro. Kasih tahu gua lantai berapa lu tinggal dan nomor apartemennya"


"Oke. Lantai 3, nomor 304"


"Thanks Ndro. Gua kesitu sekarang. Bye"


Tuuutt tuuutt


Gavin menutup teleponnya secara sepihak dan langsung pergi ketempat Andro.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong.


Gavin tak henti - hentinya membunyikan bel pintu Andro yang tak kunjung keluar dari pintu.


Gavin mulai kesal karena Andro yang tak kunjung membuka pintu. Dan tak lama kemudian, Andro pun keluar dari sana.


"Hehh Lo ngerjain gua banget yaa. Bertamu ke rumah orang tuh yang sopan dikit dong" ujar Andro kesal.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Andro, Gavin malah masuk kedalam dan duduk di sofa. Andro hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Gavin yang sudah duduk di sofa.


Kapan Gavin akan berubah?


Entahlah.


Mungkin kapan - kapan. Ga yakin author juga.


Andro menghampiri Gavin dan ikut duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Gavin.


"Ada urusan apa lu kesini?" Tanya Andro.


"Kok lu lama banget si buka pintunya. Gua cape tau ga nungguin lu di depan pintu" tanya Gavin tanpa menjawab pertanyaan dari Andro.


"Eet deh. Gua tadi lagi mandi. Pas lu telepon itu, gua masih mandi. Lu belom jawab pertanyaan dari gua. Ada urusan apa lu kesini?"


"Gua mau minta salep luka bakar"jawab Gavin dengan nada datar.


"Astaga viinnn, kenapa ga beli aja?"


"Ga bisa. Kan sekarang udah tengah malam"


"Hahh... Yaudah terserah. Tunggu disini, gua ambil dulu bentar" Andro langsung pergi ke kamarnya mencari kotak P3k.

__ADS_1


Tak lama kemudian Andro pun muncul dari balik pintu kamarnya sambil menenteng kotak P3k ditangannya. Kotaknya berukuran lumayan besar. Gavin berpikir untuk membeli kotak P3k persis seperti milik Andro.


Andro menyodorkan salep luka bakar kepada Gavin. Gavin tak menjawab, hanya menatap Andro lama. Ahh Andro mengerti. Gavin ingin Andro mengolesi salep ditangannya, begitu?


Andro hanya bisa menghela nafas berat. Lihat saja kelakuan sahabatnya ini. Membuat Andro menggelengkan kepalanya setiap saat melihat Gavin.


"Manja banget sih Lo" tukas Andro dan dia mengoleskan salep ditangan Gavin dengan kasar. Sengaja juga sih.


"Aww aww aww. Gila Lo Ndro. Astaga perih" Gavin mulai merintih kesakitan.


"Ga usah lebay. Kayak cewe aja lu" ujar Andro.


Hanya beberapa menit, Andro telah selesai mengobati tangan gavin. Andro merapikan kotak P3knya dan membawanya kembali ke kamarnya.


"I'm done Vin. Go home now. I'm tired" ujar Andro dengan bermaksud mengusir Gavin dari rumahnya.


"Shit. Lu ngusir gua hah?" Ucap Gavin.


"Gua cape Vin. Lu ngertiin Gue dikit dong" jawab Andro.


"Oh yaudah. Sorry. Gua balik deh. Bye Ndro"


"Hhhhmmm... Cepet sana pergi"


"Sorry Ndro"


"Yeah I know"


"Sorry bro"


"It's okay, Vin"


"Sorry again Ndro"


"Ck, shit. Ga usah minta maaf pergi sana" teriak Andro.


"Ahahahahh... Thanks Ndro"


Hah, sampai kapan Gavin akan bersikap seperti ini terus. Sikapnya berubah - ubah. Kadang dingin dan kadang konyol. Andro semakin tak mengerti. Gavin benci pada tingkah laku cewe. Tapi Gavinnya sendiri? Yaah kalian tahu lah. Dari tadi berubah - ubah mulu. Dalam sehari saja sudah berapa kali berubah. Jangan seperti power ranger ya Vin ๐Ÿ˜‚.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pagi ini Gavin telah berpakaian rapi dengan seragam sekolahnya dan sedang duduk di meja makannya. Meja makan di apartemennya hanya untuk 2 orang saja. Mungkin karena Gavin tinggal sendiri dan tak mungkin juga Andro mau datang pagi - pagi ke apartemennya hanya untuk makan bersama. Itu hanya akan membuang waktu saja.


Hari ini Gavin makan dengan nasi hangat buatannya sendiri. Semalam ia lupa. Saat pulang dari apartemen Andro, Gavin langsung tidur dan lupa untuk makan. Dan sekarang, perutnya keroncongan tak terkendali. Oke oke itu terlalu lebay๐Ÿ˜….


Gavin juga menggoreng beberapa sosis untuk dijadikan lauknya. Gavin sangat senang. Sudah beberapa hari ini, ia tak sarapan pagi dirumah. Yaah... Walaupun nasinya kurang enak, tapi Gavin tetap senang menikmati masakan buatannya sendiri. Oke pelajaran pertama.


"Selalu berusaha dan bersyukur dengan apa yang kita punya"


Tolong di Ingat ya...


Setelah Gavin melahap sarapannya, Gavin pun berdiri dan langsung membuka kulkas untuk mengambil susu dan menuangnya di gelas. Saat minum, mata Gavin melirik jam dinding yang ada didekat dispenser.


"Uhhuuk uhhuukk uhhuukk..." Gavin tersedak saat melihat jam dinding.


Ternyata sekarang sudah pukul 8.25 pagi. Itu berarti, sekitar 35 menit lagi, kelas akan dimulai. Gavin semakin panik saat dia ingat dengan tugas dari bu Ani si guru Killer. Gavin langsung menyambar tas ranselnya dan mengunci pintu dengan cepat.


Jika Gavin berangkat sekarang, apa dia akan sempat sampai sekolah lalu menyalin pr temannya tanpa diketahui oleh Bu Ani?


Ya mungkin saja.


Gavin melenggangkan kakinya menuju stasiun kereta. Berlari secepat mungkin. Dia terus berusaha menyerobot kerumunan manusia yang menurut Gavin jalannya sangat lamban.


Saat sampai diperon 1, ternyata keretanya sudah berangkat 2 menit yang lalu dan Gavin harus menungggu sekitar 10 menit lagi untuk keberangkatan selanjutnya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Saat sampai di stasiun tujuannya, Gavin berlari keluar. Tak peduli jika keringat membasahi tubuhnya, toh nanti juga bakalan kering dengan sendirinya.


Gavin akhirnya sampai didepan gerbang pada pukul 8.45. Pak satpam pun menyapa Gavin. Namun Gavin sendiri malah tak menyadari kalau ada yang menyapanya.


Gavin berlari ditengah lapangan dan menuju lift, karena kalau naik tangga itu akan membuang waktu Gavin. Sekalian juga, di lift kan ada AC, jadi Gavin bisa berteduh sejenak didalam lift


Cewe - cewe yang melihat Gavin berlari pun berteriak sangat histeris. Seperti melihat pemandangan baru dimuka bumi ini.


Wow... salah satu most wanted boy di sekolah Greehall sedang berlari dengan keringat yang membasahi tubuhnya dan itu membuatnya menjadi lebih tampan.


Oke. Abaikan itu. Tidak penting juga bagi Gavin.


Gavin benci jadi pusat perhatian para gadis ditempat ini. Bagaimana tidak, mereka terus berteriak dan terus saja membuat Gavin jengkel.


Saat Gavin akan sampai didepan pintu lift, seseorang sudah terlebih dahulu ada di dalam dan pintu lift tiba - tiba akan tertutup.


"Tahan liftnya" teriak Gavin.


Dengan spontan, orang yang ada di dalam lift tersebut pun menahan pintu lift dengan kakinya. Dan pintu lift kembali terbuka.


Gavin langsung masuk. Nafasnya terengah - engah seperti sesak nafas. Gavin menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan tapi pasti.


Lega rasanya.


"Thanks ya buat yang tadi" ujar Gavin.


"Hhhhmmm... Bisa bilang makasih juga Lo bro"


Gavin kaget setelah mendengar suara orang itu dan dia langsung menegakkan kepalanya dan menatap orang di sampingnya.


"Louis?" Ujar Gavin.


"Yup. This is me"


"Ngapain Lo disini?" Tanya Gavin.


"Yaa mau keatas lah Vin"


"Ohh"


"Lo hampir telat, bangun jam berapa Lo?" Ujar Louis.


"Gua bangun di jam seperti biasa. Cuman tadi itu gua keasikan sarapan. Jadi hampir telat gua"


"Hhhhmmm gitu"


Ting


Pintu lift terbuka di lantai 4.


"Eeehh? Ini bukan Lantai 5 vin" Louis terkejut karena ini bukanlah lantai tujuannya.


"Thanks Is. Ini lantai 4. Ahhaaha" ujar Gavin yang langsung keluar dari lift meninggalkan Louis.


"Sialan lu Vin" Louis kesal. Ingin rasanya berkata kasar.


Gavin langsung berlari lagi menuju kelasnya. Gavin Bersyukur karena bel masuk belum berbunyi.


Brak


"Woy! Gua nyontek pr matematika dong guys" seru Gavin hebohh didepan pintu kelasnya dan langsung masuk kedalam.


Gavin langsung menuju bangkunya dibelakang dan mencari buku matematika miliknya di dalam tas.


"Cepat Vin. Waktu lu ga banyak. Bu Ani keburu datang" ujar valeria yang duduk didepan Gavin.


"Mana buku lu?" Ujar Gavin kepada Valeria.


"Nih" jawab Valeria sambil menyodorkan bukunya. Dengan cepat, Gavin menerimanya dan langsung menjiplak tugasnya.


Ceklek

__ADS_1


"Selamat pagi anak - anak, silahkan duduk di kursi masing-masing" ucap Bu Ani yang berhasil membuat anak-anak dikelas ini menjadi senyap seketika.


"aduuh, Bu Ani udah masuk lagi. Gimana ini? Apes banget gua hari ini" batin Gavin.


__ADS_2