Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
37. Meja Hijau


__ADS_3

Zen membuka pintu itu dan keluar dari kamar mandi. Setelah 2 hari demam, kini ia merasa lebih segar. Rencana yang kemarin mereka jalankan terdengar sangat berisik. Suara mereka bahkan terdengar sampai kamarnya yang berada di samping.


Zen menggosokkan handuk di kepalanya. Nancy datang dengan sebuah hairdryer dan mencolokkan kabelnya. Zen duduk dan Nancy mulai mengeringkan rambut Zen.


"Apa kemarin benar-benar heboh?" Tanya Zen.


"Lumayan"


"Jadi, kau kebagian apa kemarin?" Tanyanya lagi.


"Saya, sangat senang. Kemarin, inspektur Salacha mengizinkan saya untuk meninju wajah gadis itu"


"Hm, sekarang giliran ku untuk menghadiri pengadilan. Kurasa kepalaku sekarang sudah bisa ikut berdebat di pengadilan hari ini"


"Jika tidak kuat, sebaiknya jangan memaksakan diri. Alvaro bisa menggantikan anda. Tuan Axel bahkan tak bisa tidur semalam karena menunggu hari terang dan mendengar berita pengadilan itu" tutur Nancy.


"Hm, aku akan melakukan yang terbaik"


"Memang sudah seharusnya begitu. Bersikaplah selayaknya tuan muda pada umumnya. Semua orang kini mengandalkan mu" ujar Felix yang muncul dari balik pintu.


"Kau akan ikut bersama Ku?" Tanya Zen pada Felix.


"Tentu. Aku dan Alvaro akan ikut. Axel bilang, ia sudah jijik plus muak dengan orang itu. Dan Nancy harus menjaga Yuki" sahut Felix dengan senyuman.


"Tidak usah kau menyebut namaku. Tanpa kau bilang pun, aku sudah tahu tugasku" tukas Nancy yang mencabut kabel hairdryer itu. Zen berdiri kemudian menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.


"Hei! Kau ini! Aku hanya mengingatkan!" Balas Felix.


"Aku tidak suka. Kalau kau berani menyebut namaku lagi, aku pasti akan memukul mu lebih dulu" ketus Nancy.


Yah, mereka berdua bertengkar lagi. Zen sedang tidak ada mood untuk memisahkan keduanya. Ia bahkan berhasil keluar dengan mengendap-endap perlahan. Mereka kalau sudah berdebat, pasti lupa sama sekitarnya.


Zen masuk kedalam kamar inap Yuki dengan senang. Ia bisa melihat Gavin yang masih setia duduk disamping Yuki dan sambil menatapnya.


Manis sekali mereka.


"Hai Vin" sapa Zen.


"Sudah sembuh?"


"Sudah dong. Kau mau pulang? Aku bisa menjaga Yuki sekarang"


Gavin mengangguk dan bangkit dari duduknya. Zen mengambilkan mantel Gavin dan Gavin menerimanya, kemudian memakainya.


"Titip Yuki ya"


"Ga salah tuh lu ngomong gitu?" Ujar Zen.


Gavin mengacuhkannya dan berjalan keluar. Huh, Gavin tidak seru. Terkadang itu yang membuat Zen bingung. Bagaimana bisa Yuki jatuh cinta pada kulkas begitu?


🌸🌸🌸


12.57 p.m.


Zen dengan balutan jas berwarna coklat yang sangat senada dengan rambutnya hari ini. Sangat tampan. Ia berdiri tegak di depan sebuah pintu yang sangat tinggi. Pria ini mengaca pada kamera ponselnya dan sedikit merapihkan rambutnya.


Felix datang dengan sebuah berkas ditangannya. Felix dan Alvaro sedang kompak mengenakan jas berwarna hitam pekat dengan dasi berwarna maroon.


"3 menit lagi pengadilan akan dimulai. Kau sudah tampan, jadi berhentilah bercermin. Kau seperti seorang wanita" sindir Felix.


"Hm, terimakasih atas pujiannya" balas Zen dengan ramah.


Ia menaruh ponsel itu kedalam saku jasnya kemudian melirik Felix dan Alvaro bergantian. Mereka mengerti dan melangkah maju. Tangan mereka masing-masing memegang pegangan pintu itu dan mendorongnya bersamaan


Pintu pengadilan terbuka.


Hawa panas emosi bisa Zen rasakan dari tempat ini. Zen memasang wajah datar seperti yang selalu dilakukan oleh Axel. Tatapannya lurus menatap meja hakim agung yang masih belum terisi. Zen berjalan dengan didampingi Felix dan Alvaro di samping kanan dan kirinya.

__ADS_1


Mereka duduk di tempat yang sudah disediakan. Dibelakang mereka sudah ada banyak wartawan dan jurnalis yang memenuhi bangku belakang. Dan para korban pembullyan serta keluarga mereka.


Diseberang mereka sudah ada tuan Renault dengan tatapan tajam yang siap bertarung di meja hijau.


Hakim datang bersama dengan para jaksa dan anggota lainnya. Elise beserta tantenya pun dibawa masuk oleh anak buah Salacha.


"Pengadilan dimulai!"


Tok tok tok


Hakim telah memukul palunya dan pengadilan pun dimulai. Penerangan kasus dan perdebatan dari pengacara lawan berlangsung lama.


Namun tak butuh waktu sampai berjam-jam, karena bukti sudah jelas berada didepan mata dan para saksi mata sudah berkumpul. Jangan lupakan para korban pembullyan itu juga ikut menyuarakan keadilan untuk Yuki.


Jangan sampai ada korban lagi yang sampai merenggang nyawa. Cukup berakhir pada kejadian yang menimpa Yuki.


Usaha pengacara lawan mereka sangat sia-sia. Ia bahkan tak segan-segan mengeluarkan fakta bohongan yang dibuatnya sendiri. Dan dengan mudahnya kebohongan itu diputar balikkan oleh para saksi dan korban. Saking mudahnya itu seperti membalikkan telapak tangan sendiri.


Dan tanpa diminta pun, para rekan kerjasama dan para investor Axel juga ikut hadir dalam pengadilan kali ini. Kekalahan sudah didepan mata, tapi pengacara yang dimiliki oleh keluarga Renault ini pantang menyerah.


1 jam kemudian...


"Keputusan hakim sudah keluar. Herrera Renault akan dipenjara dan bekerja di bakti sosial dengan hukuman penjara seumur hidupnya" ujar hakim dengan lantang.


"Kemudian, untuk Elise Renault. Sesuai dengan permintaan penuntut yang telah kami izinkan. Elise Renault akan dihukum sesuai kehendak dari pihak Cortez, yaitu tuan Alvaro Siauw"


Sorak riuh kegembiraan dan tepuk tangan yang meriah mereka sampaikan untuk Yuki yang telah mendapatkan keadilan.


"Pengadilan ditutup!"


Tok tok tok


"TIDAAAAAKKK!!!!" jerit Herrera saat polisi berusaha menariknya dengan paksa.


Elise juga tak tahan menahan tangis sedihnya. Ia juga menjerit tidak terima saat hakim telah mengambil keputusan. Fillan pun sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia berdiri mematung menyaksikan istrinya dibawa oleh beberapa polisi.


Bahkan ia sudah dapat menjalin kerjasama dengan Axel, mimpinya kini hanya tinggal kenangan hanya karena ia tak becus mendidik istri dan keponakannya.


Zen, Felix dan Alvaro datang bersamaan menghampirinya. Zen mengulurkan tangannya dan menunduk, menatap pria yang sedang terpukul ini.


"Maaf jika kami terlalu kejam. Tapi inilah balasan yang harus kalian dapatkan. Bahkan kami lebih sakit hati sekarang. Adik kami yang sudah susah payah kami sembunyikan identitasnya kini terbaring lemah diambang Kematian" ujar Zen datar.


Fillan mengangguk mengerti. Ia juga paham bagaimana rasanya sakit hati pada orang yang telah menyakiti anggota keluarganya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Lalu ia menyambut baik jabatan tangan Zen.


"Maafkan aku yang tak bisa mendidik istri dan keponakan Ku. Aku sadar jika aku terlalu memanjakan mereka" ujarnya dengan penuh menyesal.


"Saat adikmu sembuh nanti, izinkan aku untuk meminta maaf yang sedalam-dalamnya"


"Tentu. Jika Axelerious mengizinkannya" jawab Zen.


Dan dilain tempat, Alvaro berjalan bersama 2 orang suruhannya dan 3 orang bodyguard. Alvaro menyuruh polisi itu pergi meninggalkan Elise seorang diri.


Gadis itu terduduk dilantai dengan tangisan yang kencang. Alvaro mengarahkan orang suruhannya untuk memasang borgol di kedua tangan Elise.


Setelah terpasang kuat, Alvaro baru melangkahkan kakinya untuk mendekat. Dengan ujung sepatunya, Alvaro menaikkan dagu Elise hingga gadis ini menenggak keatas dan dapat menatapnya.


"Welcome to my lab. You, little bastard"


🌸🌸🌸


Dan bukannya menyaksikan langsung, Valeria, Andro dan Olivia kini sedang menyaksikan acara persidangan Yuki yang disiarkan langsung oleh saluran televisi swasta.


Keberadaan Yuki yang tak diketahui banyak orang pun kini akhirnya terkuar dengan cara yang tidak seharusnya. Sepertinya acara berita dan koran akan dipenuhi dengan wajah cantik Yuki.


Dan sudah pasti, akan banyak agensi majalah yang akan menyinggung tentang permasalahan Yuki. Dan mungkin mereka akan menyinggung lebih banyak lagi siapa Yuki sebenarnya.


Valeria tak bisa berhenti tersenyum lebar ketika televisi menyorot wajah Elise yang memar dan terus menangis histeris.

__ADS_1


"Vale, kau menyeramkan" ujar Olivia.


"Kau takkan mengerti perasaanku kali ini"


Andro membawa Valeria kedalam pelukan hangatnya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Andro.


"Aku mengerti kok babe"


"Jadi iri deh. Sayang banget bebep gue lagi di tempat pengadilan sekarang" ujar Olivia yang iri ketika melihat romantisme di depan matanya.


"Eh, kalian penasaran ga? Si Elise kan diserahin ke pihak Cortez. Kira-kira mau diapain ya?" Tanya Olivia.


"Hhmm, gua harap sih dia bakalan jadi tukang bersihin toilet di kantor gedung utama perusahaan Cortez" tebak sekaligus harapan yang disampaikan oleh Valeria.


"Kayaknya bukan ituh deh" sahut Andro.


"Terus apa dong?"


"Terus apa dong?"


Kedua perempuan ini kompak mengatakan itu.


"Mungkin aja dia dijadiin budak oleh mereka. Bisa jadikan?"


"Sotoy Lo"


"Sotoy apaan?"


"Sok tau banget Lo" ujar Olivia.


"Hah, telminya pindah nih ke Andro" ujar Valeria memasang wajah jijik.


"Huuuuuuuu Andro telmi" sorak ledek Olivia.


"Kalian samain gue sama si telmi? Dih, ogah"


"Ngaku aja sih sudah banget"


🌸🌸🌸


"Saya, Fillan Renault merasa sangat sangat bersalah terhadap apa yang di alami oleh Lucyana Yuki Arvie Cortez. Penerus ketiga Cortez Corp. yang dengan disembunyikan identitas dihalayak publik demi keselamatannya. Atas kelalaian saya sendiri, istri serta keponakan saya telah melakukan hal keji tersebut. Saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya. Dan saya----"


Zip


Gavin mematikan televisi itu dan menaruh remotenya diatas nakas kecil. Axel menatap datar televisi itu dengan kepala yang sudah tersandar ke sofa.


Konferensi pers yang membosankan.


"Gantian. Malam ini aku yang akan menjaga Yuki" ujar Axel.


"Tentu. Lagian aku juga belum pulang kerumah" jawab Gavin sebelum akhirnya pulang.


Cklek.


Zen masuk bersama Alvaro yang membawa infusan baru. "Bagaimana aksiku hari ini? Apa ku sudah mirip denganmu? Yuki pasti senang" ujar Zen dengan senyum sumringah.


"Lumayan. Kau lebih mirip dengan ayah. Serius, tapi tak bisa menahan diri untuk meminta maaf. Padahal kau tidak salah sama sekali" jawab Axel seadanya.


"Aku hanya merasa tidak enak kak" Axel bangkit dan berjalan kearah ranjang Yuki. Alvaro kini sedang mengganti botol infus itu dengan telaten.


"Kalau begitu aku pamit pulang" Gavin mengambil tasnya dan pulang.


"Bye Vin" ujar Zen dengan melambaikan tangannya.


Axel kembali menatap Yuki dan menggenggam tangan mungil itu. Ia mengecup dahi Yuki lama sebelum melepasnya dan kembali menatap Alvaro.


"Varo, beritahu pilot, siapkan jet C03 besok sore. Kita akan bawa Yuki ke Florida. Disini tak aman. Penjagaan disana lebih terjamin dengan bodyguard dan alat keamanan milik Felix" perintah Axel.

__ADS_1


__ADS_2