Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
20. Berusaha menghilang


__ADS_3

"mom! Vale is home" pekik Valeria saat memasuki rumahnya.


"Aduh, anaknya mom udah pulang" ibu Vale dan Vale saling berpelukan hingga ibunya sadar dengan kehadiran Yuki.


"Eh? Siapa ini?"


"Ini teman aku yang namanya Yuki loh mom. Aku kan pernah kasih lihat fotonya, mom ingat tidak?"


"Halo Tante" ujar Yuki dengan ramah.


"Kamu sopan banget sih. Iya mom ingat sama Yuki kok"


"Yuki bakalan nginep disini mom" ujar Valeria dengan gembira.


"Nah, gitu dong. Mom setuju banget! Pokoknya kita harus makan malam yang enak! Kalau begitu, mom ke supermarket dulu ya sekarang"


"Ehh, Tante tidak usah repot-repot" ujar Yuki yang merasa tidak enak.


"Tak apa sayang. Jarang sekali loh Vale membawa teman wanitanya ke rumah, nginep lagi. Yaudah mom berangkat dulu. Baik - baik kalian di rumah yah" pamit ibu Valeria.


"Vale, aku jadi ga enak deh sama mom kamu" Yuki tertunduk.


"It's okay Ki. Ga usah merasa begitu. Santai aja"


"Thanks Valeria"


"Ke atas yuk, gerah nih gua pengen tiduran sambil kipasan" Vale menarik tangan Yuki agar Yuki mengikuti langkahnya menuju kamarnya sendiri.


Kamar Vale sama sekali tidak mencerminkan kepribadian seorang gadis. Semua hiasan dan barang - barang vale tak ada yang berwarna cerah. Semua warna di kamar ini gelap. Hitam putih dan abu-abu. Warnanya monoton sekali.


Valeria berbaring di kasur ukuran queen size miliknya dengan AC serta kipas yang menyala. Apa Vale tidak takut masuk angin?


"Vale, ac-nya matikan saja. Ganti dengan membuka balkon itu lebih segar loh" ujar Yuki.


"Aduh, ini terlalu panas Ki" gerutu Valeria.


Tanpa mematikan AC, Yuki membuka lebar pintu balkon kamar Vale dan angin segar pun berhembus masuk dengan lembut. Ahh, sumpah, ini segar banget.


"Yuki.." panggil Valeria.


"Hm?"


"Kata Gavin, kamu berantem sama kak Zen? Kenapa?" Tanya Valeria. Tiba tiba jantung Yuki berdegup kencang.


Aduuhh, kenapa Vale harus bertanya sih? Jujur ga ya? Batin Yuki berkecamuk.


"Ehhmm, bagaimana ceritanya ya.." Yuki berusaha mengulur waktu.


"Susah cerita ya?" Tanya Valeria dengan lembut, lalu diangguki oleh Yuki.


"Apa yang bikin kamu sama kak Zen sampai pisah begitu kemarin malam?" Tanyanya lagi. Jujur, kini Valeria sangat penasaran.


Biasanya, Yuki selalu menyelesaikan masalah dengan cepat, tapi ini? Dia bahkan sampai melarikan diri. Ini cukup membuat Valeria bertanya-tanya.


"Sebenarnya hanya masalah sepele. Tapi, orang itu tak mau minta maaf. Aku berniat meminta maaf duluan, walaupun orang itu yang salah" jawab Yuki spontan.


"Kau menyebut kakakmu sendiri dengan 'orang itu'? Lucu sekali. Lalu, apa yang dia lakukan?"


Yuki diam sejenak. Ragu untuk mengatakannya. Tapi, kalau dia tak jujur, dia sudah banyak berbohong. Sebaiknya dia berkata sedikit jujur. Tak akan jadi masalah jika jujur, bukan?


"Orang itu tak mau mendengarkan aku berbicara dan menyuruhku pergi. Lalu ku bilang gak mau, sebaiknya aku menunggu. Tapi, dia malah mengusirku dan menamparku sambil berucap bahwa aku keras kepala"


Air mata yang sedari tadi di tahan Yuki, kini sudah membasahi pipi manisnya. Bahkan, sekarang telah membasahi wajahnya. Valeria tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa memeluk Yuki sambil menenangkannya adalah hal yang terbaik untuk ia lakukan sekarang.


Menurut Valeria, Zen kini sudah keterlaluan.


🌸🌸🌸


7.48 p.m.


"Yuki, ayo kita ke bawah. Makan malam sudah siap!" Pekik Valeria saat menaiki tangga menuju kamarnya.


Tanpa menjawab, Yuki keluar dari kamar Vale dan langsung menghampiri Valeria. Mereka pun turun bersama.


Di meja makan, sudah ada ibu dan ayah Valeria serta para maid yang sedang menata makanan. Vale menggandeng tangan Yuki dengan erat tanpa mau melepasnya. Semangat sekali Vale kali ini.


"Duduklah girls" ujar daddy Vale tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel pintarnya.


"Hai Tante dan om" sapa Yuki.


"Hai Yuki. Kau ingin makan apa?" Tanya ibu Vale


"Apapun, asal jangan seafood" jawab Yuki dengan senyum lebar khas miliknya.


"Of course. Daddy, simpan ponselnya dong. Kita akan makan" tegur ibu Vale.


"Iya mom betul!" Vale bersuara membela mommynya.


"Fine ladies, you win!" Ayah Gavin menaruh ponselnya dan membalik piringnya.


"Oh iya Vale, daddy penas--" mata ayah Valeria membulat sempurna. Terkejut saat melihat Yuki. Mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.


"A-arshi? Apa itu kau?" Ujarnya tanpa berkedip mata.

__ADS_1


"Arshi? Oh, itu bundaku! Lucyana Arshi!" Ujar Yuki dengan semangat.


"Apa!?" Kini ayah Valeria yang terkejut untuk yang kedua kalinya. Valeria yang mendengarkan sedari tadi, jadi sangat bingung.


Hening seketika.


"Heh, dunia memang sempit ya mom" ujarnya sambil tertawa pelan.


"Iya dan tunggu dulu. Arshi memiliki anak, dan siapa suaminya?" Tanya ibu Vale.


"Maksud kalian ayahku?" Tanya Yuki untuk memastikan.


"Tentu saja honey, memangnya siapa lagi?" Ujar Valeria yang mengelus puncak kepala Yuki.


"Hm, nama ayahku Victor Cortez"


"Bruuuusssshhhhhh...." Ayah Vale memuncratkan minuman yang hendak ditelannya begitu saja.


"Ewwhh dad jorok!" Pekik Vale memundurkan wajahnya.


"Cortez!!??" Pekik ayah dan ibu Vale bersamaan


"Haahh, kumohon jangan terkejut sampai segitunya" Yuki menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kau! Lucyana Yuki Arvie Cortez!!?" Ujar ibu Valeria yang tak henti-hentinya terkejut.


"Iya ini aku, hentikan Tante. Kau membuatku malu untuk mengakuinya" Yuki masih tetap menutup wajahnya.


"Oh ayolah, sebenarnya ada apa sih? Aku tak mengerti! Ayah! Jelaskan!" Ujar Valeria kesal.


"Ekhem, jadi gini, ibu Yuki ini, Arshi adalah teman baik kami. Kami tak pernah bertemu lagi sejak lulus SMA" Ujar ayah Vale.


"Lalu, apa hubungannya dengan keluarga Cortez?" Valeria semakin tak mengerti.


"Cortez adalah keluarga yang sangat terpandang di dunia perbisnisan! Yang ibu tahu, keturunan Cortez tak akan sembarangan membuka siapa saja anggota keluarganya di publik luas. Karena itu membahayakan keselamatan"


"Ya, dan kini sudah di ketahui publik, perusahaan raksasa milik keluarga Cortez di pimpin oleh anak tertua mereka. Axelerious Arvie Cortez"


Hm? Kak Axel sepertinya terlalu dipandang tinggi. Batin Yuki.


"Bukankah perusahaan keluarga Cortez bersaing dengan perusahaan keluarganya Gavin? Gerald company?" Tanya Vale memastikan sesuatu.


"Tidak. Bahkan kami sedang bekerjasama di bidang pendidikan. Kakakku kini sedang membuat TK dan SD dengan nama sekolah kita" tutur Yuki.


"Iya! Dan kalian tahu? Arshi sangat populer dulu di sekolah. Mata biru laut, kulit putih, rambut coklat dan imut. Dia sangat cantik. Mom sebagai perempuan pun tak malu untuk mengakui dia cantik. Dia bahkan sangat pintar dan punya banyak penggemar" tutur ibu Vale.


"Biasanya dia akan melakukan apapun dengan sempurna. Tapi satu kelemahannya, itu terkadang dia sangat tidak peka terhadap perasaan orang lain. Dia takkan minta maaf jika kesalahan yang dia perbuat ini ia anggap benar, padahal sudah jelas salah. Tapi ia tetap pada pendiriannya. Hanya itu kelemahannya." Lanjutnya.


Ahh, Yuki mengerti. Inilah sifat bundanya yang sebenarnya mirip sekali dengan Zen. Zen sepertinya memang mewarisi sifat bundanya juga. Tapi fisiknya? Tentu saja mengikuti ayahnya.


"Apa ibu ku secantik dan sehebat itu?" Tanya Yuki mulai penasaran.


"Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Bunda sudah tiada. Aku tak pernah melihatnya. Bahkan hanya sekedar melihat fotonya pun tak di perbolehkan. Hanya lukisan yang seperti foto blur" Yuki tertunduk.


"Astaga! Siapa yang melarangmu!?" Pekik Valeria.


"Siapa lagi kalau bukan kak Axel" dengus Yuki.


"Aduhh, sudah sudah! Kita makan sekarang. Aku sudah lapar" ujar Yuki mengalihkan perhatian.


"Let's eat!" Valeria bersemangat.


🌸🌸🌸


9.12 a.m.


Kini malam telah berganti dengan pagi. Walau pagi ini mendung dan sedikit bergemuruh, tapi tak bisa mematahkan semangat Valeria untuk jogging pagi berkeliling disekitar rumahnya.


Yuki? Dia masih tertidur di kasur king size milik Valeria semalam itu benar - benar seperti bongkar muatan masa lalu bagi Yuki. Banyak hal yang tak diketahui oleh Yuki tentang bunda yang selama ini ia rindukan. Padahal Yuki tak pernah bertemu dan tak tahu rupanya seperti apa.


Yuki akhirnya membuka mata dan terbangun dari tidurnya. Mengingat pertengkarannya dengan Zen membuatnya bangun dan langsung mandi. Yuki takut jika Zen datang dan menariknya pulang. Padahal yuki masih tak ingin bertemu dengan Zen.


Hari ini, Yuki berencana untuk keluar dari rumah Valeria dengan alasan Zen sudah pulang dan akan menjemputnya. Tapi dimana? Yuki masih memikirkannya. Takut salah langkah yang akhirnya dia di curigai.


Yuki memakai rok sekolahnya dan ditambah dengan kaos ungu polos milik Valeria. Dia pun turun untuk berpamitan dengan keluarga Valeria.


"Morning Yuki" sapa ibu Valeria.


"Morning too aunty. Vale kemana?"


"Vale? Sudahlah jangan di cari, dia sedang jogging dengan bebebnya kali ini. Sepertinya mereka akan lama, apa kau mau sarapan duluan?" Tanya ibu Vale.


"Eh? Tidak usah. Tadi kakakku sudah menelepon dan dia akan menjemputku di halte bus jam 10 pagi. Jam berapa ya sekarang" bohong Yuki.


Astaga. Ya Tuhan. Aku membohongi aunty. Sorry aunty. Batin Yuki menyesal kembali.


"Jam 10? Tapi ini sudah jam 10.15. astaga Yuki. Kau terlambat!" Pekik ibu Vale.


"Oh astaga. Aku harus pergi sekarang! Kalau begitu aku pamit Tante. Bilang pada Vale ya" Yuki buru buru membawa tasnya dan berpamitan. Kemudian berlari keluar.


"Hati - hati Yuki!"

__ADS_1


Perasaanku tak enak. Semoga Arshi selalu mengawasi Yuki dari atas sana. Batin ibu Vale.


🌸🌸🌸


Yuki terus berlari, lagi, dan lari lagi. Akhirnya Yuki mencapai halte bus. Nafasnya kini memburu dan keringat terus berkucuran di dahinya. Hah, Yuki benci jika terus berlarian terus seperti ini.


Kemudian Yuki duduk di bangku halte bus sambil menunggu bus selanjutnya datang. Disini lumayan sepi. Bahkan hanya Yuki seorang yang berdiri disini. Aneh sekali.


Beberapa menit kemudian, bis yang ditunggu Yuki pun tiba. Tanpa menunggu apapun, Yuki langsung naik ke dalam bis. Dan saat akan melakukan pembayaran, Yuki hampir saja lupa. Dia hampir saja menggunakan kartu kredit miliknya.


Fiuhhh... Hampir saja. Ujar Yuki sambil mengelus dadanya.


Kali ini, Yuki berniat untuk mengambil mobilnya yang berada di parkiran sekolah. Tapi sebelum itu, ia harus mencari alat GPS yang di pasang oleh kak Axel. Entah dimana ia memasangnya. Semoga saja bisa ketemu.


Saat sampai di depan gerbang sekolah, Yuki harus menjumpai satpam sekolah, agar ia dapat membuka pintu pagarnya. Karena sekarang hari Sabtu, sekolah libur. Jadi hari ini tak ada yang berada di sekolah. Selain pak satpam ini.


"Permisi.. pak satpam.." panggil Yuki dari depan pagar sekolah.


"Eh? Ada apa non? Sekolah tutup non. Sekarang kan Sabtu" jawab pak satpam.


"Aku mau ambil mobil. Kemarin, saya lupa kalau saya bawa mobil. Pas teman saya ajak pulang bareng malah saya iya-in. Mobil saya ketinggalan di parkiran" tutur Yuki.


"Aduuh non. Ada ada saja non ini. Yaudah ayo masuk" pak satpam membukakan pintu untuk Yuki.


"Makasih loh pak"


"Eh tunggu dulu," langkah Yuki terhenti.


Aduh, aku ketahuan ya!?


"Non bawa kunci mobilnya ga? Nanti lupa lagi" ujar satpam itu.


"Aduuh.. saya kira apaan! Ya bawalah. Kalau ga bawa kunci mobil, saya bawa mobilnya gimana? Masa iya di dorong!?" Yuki sedikit kesal.


"Ahahahahaha.. maaf non. Saya hanya bercanda"


Yuki berjalan menuju parkiran mobil. Tempat ia memarkirkan mobilnya di tempat yang khusus dan beda dari yang lainnya. Dan tempatnya agak sedikit jauh dari gerbang sekolah. Tapi, tempat parkirannya juga tak kalah bagusnya.


Yuki langsung menyetir mobilnya keluar sekolah dan tak lupa pula berterimakasih kepada pak satpam yang telah membuka gerbang dengan lebar untuk Yuki.


Untunglah bensin mobilnya full. Karena Yuki terus menyusuri jalan sedari tadi. Ia mencari jalan yang sepi dan dapat parkir di sana dengan aman.


Setelah ia memastikan jalanan ini aman. Ia akhirnya turun dari mobil dan membuka bagasinya. Yuki mencari kotak perkakas mesin yang mungkin saja akan di gunakan.


"Oke! Kita mulai pencaharian!" Ujar Yuki semangat.


Yuki mulai dari membuka dashboard mobil. Tidak ketemu. Lalu membuka bagasi. Tidak ketemu juga. Yuki sepertinya curiga dengan kap mobilnya, lantas Yuki membuka kap mobilnya dan memperhatikan hal-hal apa saja yang ada disitu.


Dan, ketemu!


GPS itu berbentuk persegi panjang dan kecil. Ada lampu yang terus terus berkedip. Sepertinya itu untuk menandakan bahwa GPS ini menyala. Yuki kemudian mencoba mencocokkan semua obeng set yang ada untuk membuka GPS ini. Tapi, tak ada yang cocok.


"Aarrrghhh!!!... Ga ada yang cocok!" Pekik Yuki kesal.


Yuki berjalan dan membuka bagasi mobil lagi. Disana ada bor listrik. Yuki membawanya dan mencobanya. Ternyata cocok dengan bautnya. Tapi, ini bor listrik, tak ada colokan listrik di sini.


"Haaahhh, rasanya ingin menyerah" Yuki mulai mengeluh.


Yuki berniat menyerah, tapi tidak jadi setelah ia mengingat perkataan Zen, kakaknya. Ingin sekali ia menangis dengan keras. Yuki takkan menyerah begitu saja!


Yuki berjalan menyusuri trotoar jalan dan dia memperhatikan tiang lampu jalan. Dibagian bawahnya, ada kotak besi yang cukup membuat Yuki penasaran. Yuki membuka kotak itu dan terkejut dengan isinya. Ternyata ada colokan listrik disana. Dengan cepat, Yuki berlari dan langsung memajukan mobilnya mendekati tempat tadi.


Yuki langsung mencoba mencolokkan bor listrik itu untuk membuka GPS-nya. Dan akhirnya GPS itu terbuka dan terlepas dari mobilnya.


Yuki memperhatikan sekeliling tempatnya berdiri. enaknya dibuang kemana ya GPS ini? tanpa buang-buang waktu, Yuki menaruhnya di trotoar jalan begitu saja dan meninggalkannya.


"Yes! It’s time to disappeared from Zen life!"


🌸🌸🌸


11.42 p.m.


Vale yang telah selesai dengan urusan joggingnya pun datang menghampiri ibunya untuk menanyakan keberadaan Yuki.


"Mom? Yuki mana?" Tanya Vale sambil mengibaskan tangannya pada wajahnya.


"Udah pulang. Tadi katanya sih udah di jemput kakaknya"


"Mereka udah baikkan?"


"Memangnya Yuki sedang bertengkar?" Ibu Vale penasaran.


"Mom, Yuki menginap itu karena dia sedang marahan sama kakaknya. Kakaknya tuh sampai ga pulang ke rumah karena pertengkaran mereka"


"Terus apa yang terjadi selanjutnya?"


"Iya, daripada Yuki menginap di apartemennya Gavin lagi, mending nginap di rumah kita. Bener ga mom?"


"Nginap rumah Gavin!? Aduh Vale. Terus Yuki di kasih makan apa sama Gavin?!" Ibu Vale malah semakin penasaran.


"Ramen instan" jawab Vale enteng.


"Huh, Untung kakaknya sudah menjemputnya. Mom ga tahan kalau sampai dengar Gavin masakin ramen instan buat Yuki"

__ADS_1


Hanya sebatas itu mereka mengetahui keadaan Yuki sekarang. Hanya kebohongan belaka yang Yuki buat.


__ADS_2