
Tik
Tik
Tik
Suara rintikan hujan di siang hari. Ana kini masih berada di kamar nya melihat rintikan hujan dari balik jendela.
Ia melihat sekitaran paviliun yang sangat indah jika orang normal yang melihatnya tapi sangat mengerikan jika orang seperti Ana yang melihatnya.
Bagaimana tidak?
Sekitaran paviliun itu banyak sekali arwah-arwah yang berterbangan dengan wujud yang mengerikan.
Ana memperhatikan satu persatu roh-roh itu. Ia menatap satu roh yang memang sangat mengerikan.
Roh wanita yang lehernya penuh dengan bekas tusukan, di tambah lagi mulut yang tersobek lebar. Tubuh yang hangus seperti di bakar.
Entah apa yang telah terjadi?
Ana menghela nafas berat, ia berharap ia bisa kabur dari sini. Seandainya ia mempunyai kekuatan seperti mereka, pasti ia dengan mudah bisa lari dari tempat ini.
Ana sedari tadi hanya bisa merenung tanpa menyadari kehadiran sesosok yang ada di belakangnya.
Sebuah tangan menjulur memegang pundak Ana, Ana sangat terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya.
Ana menatap seorang wanita yang ada di hadapannya, wanita berwajah pucat dan ada bekas luka melingkar di bagian lehernya.
"Si siapa kau?" Tanya Ana gugup.
"Namaku Nesya!" Ucap Wanita itu.
"Mengapa kau bisa ada di sini?" Tanya Ana yang mencoba untuk tenang.
"Aku akan menunjukan jalan keluarnya untuk mu!" Ucap wanita itu tersenyum.
"Bagaimana aku bisa percaya?"
"Aku hanya ingin membantumu saja jika kau tak mau ya sudah aku akan pergi"
"Tunggu dulu!! Aku mohon bantu aku keluar dari sini!" Ucap Ana.
"Ikuti Aku!!"
Wanita itu membimbing Ana mendekat kembali pada jendela itu, ia mencoba membuka jendela itu dan akhirnya terbuka dengan mudah.
Ana sedikit bingung, mengapa waktu ia mencoba untuk membukanya tidak bisa, tapi wanita itu sangat mudah membuka jendela itu.
"Meloncat lah!" Ucap wanita itu.
"Apa! Itu sangat tinggi, kau ingin membunuh ku?"
"Kau kan tak takut mati! kalau pun kau mati itu lebih baik bukan?"
Ana melihat ke arah bawah yang terdapat sebuah kolam, ia menelan ludahnya kasar. Belum pernah ia se gugup ini ketika ingin bunuh diri tapi sekarang dia sangat gemetaran.
"Apa kau yakin aku akan selamat?" Tanya Ana kembali.
"Coba saja dulu!" Ucap wanita itu.
Ana mencoba memberanikan diri, ia mulai melakukan aba-aba ingin meloncat.
Dalam hitungan detik.
Satu
-
-
__ADS_1
-
Dua
-
-
-
Tiga
"Aku berharap setelah ini aku tak akan membuka mata lagi. Aku berharap setelah ini semuanya akan berakhir, penderitaan, air mata, hinaan. Selamat tinggal dunia"
Byurr
Ana terjatuh ke dalam sebuah kolam yang sangat dalam. Sedangkan wanita tadi hanya tersenyum menyeringai dan kemudian menghilang.
Di dalam Air, Ana mencoba membenamkan diri agar hidupnya segera berakhir.
Ana membuang semua nafasnya dan mulai meminum air, ia sekarang sudah sangat sesak karena oksigen yang sudah habis, matanya mulai mengabur dan dadanya sudah sangat berat.
Senyuman manis terukir di wajahnya, tanda bahwa ia sangat puas karena akhirnya semuanya telah berakhir.
Ana kini mulai menutup matanya.
Byurr
Suara orang yang memasuki air, terlihat seorang pria memasuki air untuk mengambil sesuatu.
Pria itu menarik tangan Ana ke permukaan dan mencoba menekan dada Ana. Karena tak berhasil ia membawa tubuh Ana pergi dari situ.
Sesampainya di sebuah ruangan, pria itu berusaha menyadarkan Ana karena nadi Ana yang masih berdenyut lemah. Ia melakukan semua usaha dan akhirnya membuahkan hasil yang bagus.
Uhuk
uhuk
uhuk
Apa ini? Apa aku tak jadi mati?
Mengapa? Padahal tadi aku sudah sangat senang!
Ana menatap pria yang ada di hadapannya, pria dengan wajah tampan dan mempesona.
"Si siapa kau?" Tanya Ana.
Pria itu tersenyum lalu menjawab.
"Namaku Samuel! Dan kau?" Ucap pria itu yang ternyata adalah Samuel.
"Aku Ana! Mengapa kau menyelamatkan ku?" Tanya Ana tak suka.
"Aku melihat kau meloncat dari jendela dan berfikir kalau kau ingin bunuh diri jadi aku menolong mu. Asal kau tahu bunuh diri itu bukan lah jalan yang baik dan bisa menyelesaikan masalah."
"Kau mengatakan itu karena kau tak mengalami hidup seperti hidup ku!"
"Aku tahu, tapi cobalah untuk berfikir jernih sejenak, apa yang akan kau dapat setelah kau mati.?"
"Oh ya, aku belum pernah melihat mu. Kau meloncat dari jendela paviliun putra mahkota Alex, mengapa kau bisa ada di situ?"
"Aku aku tahanan!" Ucap Ana gugup.
"Apa!!"
"Aku mohon tolong keluarkan aku dari sini!" Ucap Ana.
"Mengapa kau bisa jadi tahanan?"
__ADS_1
"Karena aku tidak mematuhi perintah mereka!"
"Perintah apa itu?"
"Mengobati laki-laki ******** itu!" Ucap Ana marah.
Oh ini kah gadis yang di maksud Alex, hmmm dia memang cantik tapi sayang gadis ini sangat malang.
"Hmmm ini sulit.!"
"Aku mohon bantulah aku!! hiks hiks hiks" Ucap Ana menangis.
Samuel yang melihat Ana menangis menjadi serba salah, di satu sisi ada sahabat dan di lain sisi ada gadis yang malang.
"Baiklah aku akan membantumu!" Ucap Samuel.
"Benarkah?"
"Yah."
"Terimakasih!"
"Nanti saja ucap terimakasih nya setelah kau berhasil kabur dari sini. Karena kabur dari istana ini sangat lah sulit.!"
"Baiklah"
"Untuk sekarang beristirahat dulu. Aku harus menghadiri acara terlebih dahulu, dan setelah selesai baru aku akan membantu mu?" Ucap Samuel.
Ana langsung menahan tangan Samuel, ketika Samuel ingin pergi.
"Kau berjanji kan?" Ucap Ana sendu.
Samuel tersenyum lalu mengelus kepala Ana dengan lembut.
"Aku berjanji!"
******
Alex kini masih ada di paviliun nya untuk membersihkan diri, ia harus menghadiri acara sebentar lagi. Ketika ia sedang membersihkan diri, Alex menatap pantulan wajahnya di permukaan air. Ia memegang luka yang ada di wajahnya, ia tersenyum menyeringai karena ketika ia melihat luka itu ia teringat dengan gadis kecilnya.
Setelah memakai pakaian, Alex pergi menuju kamar Ana, karena ia ingin melihat gadis itu sebelum pergi ke acara.
Alex membuka pintu kamar Ana dan melihat kamar itu kosong, ia mencari kesana-kemari di setiap sisi kamar. Ia melihat jendela yang sedikit terbuka.
Ia membuka jendela itu dan melihat ke arah bawah.
Alex mengepal tangannya erat, ia sangat marah! Matanya berubah menjadi merah.
Apa gadis itu meloncat dari sini?
Kalau ia akan ia habisi gadis itu ketika ia menemukannya meskipun sudah menjadi mayat akan ia habisi sampai menjadi debu.
Alex segera turun ke bawah untuk melihat apakah Ana ada di dalam kolam itu. Ia menyuruh beberapa pengawal untuk memeriksa.
"Maaf yang mulia, kolam ini kosong!" Ucap prajurit itu.
Alex menatap tajam prajurit itu yang membuat prajurit itu ketakutan karena mendapat tatapan itu, Alex pergi meninggalkan kolam itu dengan keadaan marah dan memerintahkan pada para prajurit untuk mencari keberadaan Ana.
"Beraninya kau!!! Akan ku pastikan penderitaan mu semakin bertambah jika aku menemukan mu gadis kecil! Kau tak bisa lari dari ku?"
Sedangkan di sebuah pohon ada seseorang yang tengah duduk manis melihat Alex yang tengah berjalan sambil menahan emosi.
Ia tersenyum menyeringai melihat kemarahan Alex.
"Ini sangat menarik hahaha!"
*****
Typo bertebaran dimana-mana harap tenang dan bijak dalam berkomentar.
__ADS_1
Terimakasih
tbc