
Alex kini tengah duduk di ruangan pribadinya bersama asisten bayangan nya.
"Felix apa ada pegerakan dari Samuel?" Tanya Alex melihat berkas-berkas yang harus ia kerjakan.
"Untuk sekarang tidak ada master, saya melihat Samuel hanya duduk diam di sebuah bangunan tanpa ada orang lain selain dia di sana." Terang Felix.
"Benarkah? Bukankah itu aneh?" Tanya Alex bingung, tidak mungkin Samuel tidak membalaskan dendamnya dan memilih galau di tempat tak berpenghuni.
"Dari yang saya lihat seperti itu master." Ucap Felix.
"Hmmm awasi terus aku yakin dia pasti punya rencana, aku sangat mengenalnya. Meski ia murah senyum tapi orang seperti Samuel sangat sulit untuk memaafkan secara tulus dan akan memendam rasa benci hingga ia membalaskan dendam nya." Ucap Alex menatap Felix.
"Baik master." Ucap Felix menghilang.
Alex tersenyum kecil tak kala memikirkan rencana apa yang sedang di rencanakan mantan sahabat nya itu. Ia begitu penasaran.
*****
Setelah adanya pertempuran lisan tadi Ana dan Mery pergi pindah tempat ke tempat yang lebih tenang untuk mengobrol.
"Mery apa menurut mu kata-kata ku tadi tidak berlebihan.?" Tanya Ana.
"Hahaha tentu saja yang mulia, kata-kata anda masih di bawah standar untuk menyakiti hati seseorang." Ucap Mery tertawa.
"Hmmm tak bisakah kau memanggilku dengan nama saja, rasanya sangat risih ketika kau memanggilku seperti itu." Tak bisa yang mulia." Ucap Mery cepat.
Saya masih menyayangi kepala saya yang mulia, apa lagi saya belum menikah hohoho. Gumam Mery dalam hati.
"Setidaknya panggil lah dengan yang lebih biasa Mery, sungguh aku merasa tak nyaman sekali." Ucap Ana memohon.
"Baiklah bagaimana kalau Nona?" Tanya Mery.
"Emmmm tidak buruk." Ucap Ana tersenyum.
"Tapi saya akan memanggil anda dengan sebutan nona kalau kita hanya berdua saja, kalau ada yang mulia putra mahkota saya tidak berani." Ucap Mery.
"Hmmm tak apa itu saja sudah cukup." Ucap Ana.
Ana dan Mery tengah asyik berbincang, Ana sesekali tertawa lepas karena mendapat lawan bicara yang bagus. Sedangkan Mery matanya mulai celingak-celinguk karena merasa ada yang aneh di sekitaran nya.
"Mery ada apa? Apa kau tak nyaman?" Tanya Ana.
"Tidak apa-apa, saya hanya merasa kalau tempat ini bagus sekali dan nyaman." Ucap Mery mengelak.
"Yah kau benar." Ucap Ana.
__ADS_1
Seeetttttt
Hap
Sebuah anak panah terbang dari balik pohon tepat dai jantung Ana dan beruntungnya Mery dengan siaga menangkap anak panah tersebut.
"Mery ada apa?" Tanya Ana syok.
"Nona, sebaiknya cari tempat berlindung." Ucap Mery menarik tangan Ana menuju tiang bangunan yang besar.
Di saat mereka lari anak panah terus menghujani ke arah mereka dan untungnya Mery itu orang yang sigap.
Setelah membawa Ana ke dekat tiang bangunan, Mery menyuruh Ana tetap bersembunyi di balik dinding tiang yang lebar tersebut.
"Mery." Panggil Ana
"Nona, sebaiknya nona di sini saja jangan menoleh ke arah mana pun, tutup mata nona dengan rapat, tuli kan pendengaran nona okeh." Ucap Mery tersenyum.
"Sebenarnya ada apa ini Mery?" Tanya Ana khawatir.
"Nanti akan saya jelaskan." Ucap Mery.
Ana langsung menutup matanya memeluk lututnya dan menutup telinganya seperti perintah Mery, ia tak tahu apa yang terjadi tapi ia berharap Mery akan baik-baik saja.
Anak panah masih menghujan ke arah Mery dengan sigap Mery menghindar dan berlari menuju arah panah tersebut.
"Keluar kau pengecut.!" Ucap Mery dingin.
Seorang pria berjubah hitam keluar di iringi dengan kabut hitam, seringai licik tampak terukir di bibir pria tersebut.
"Ck, ck, aku tak menyangka ternyata pelayan permaisuri adalah seorang ksatria." Ucap pria tersebut.
"Cih, siapa kau?" Tanya Mery.
"Apa perlu berkenalan di saat seperti ini?" Tanya pria itu tersenyum mengejek.
Mery tersenyum miring dan tanpa basa basi langsung menyerang dan disambut oleh pria itu, pria itu mengeluarkan pedangnya dan mulai membalas serangan dari pedang Mery.
Terjadilah pertempuran pedang yang sengit dimana satu sama lain sama-sama imbang. Untungnya tempat itu lumayan jauh dari istana jadi jarang orang datang ke tempat tersebut.
Tampak pria itu dan Mery sama-sama berhenti dan menarik nafas karena lelah. Tak ada yang terluka namun tenaga mereka terasa berkurang.
"Hahaha rupanya kau hebat juga yah." Ucap pria itu tertawa.
Tak membuang waktu lagi Mery dan pria itu memulai kembali pertarungan mereka, tampak Mery kelelahan karena tubuhnya adalah seorang wanita berbeda dengan kekuatan seorang pria.
__ADS_1
Saat Mery sedikit lalai pria itu menggunakan sihirnya menyerang bagian perut Mery hingga membuat Mery terjatuh, pria itu mendekat dan siap menancapkan pedang nya namun sebuah sihir datang dan menghantam bagian dadanya membuat pria itu terhempas.
Mery langsung bangun dan melihat sihir siapa itu tadi.
"Felix." Ucap Mery tersenyum.
Felix tampak memasang wajah datar dan dingin membuat Mery cemberut.
Felix mengeluarkan kembali sihirnya dan kembali menyerang pria itu yang belum siap siaga hingga membuat pria itu jatuh pingsan dan menghilang di telan kabut.
"Ck, lolos." Umpat Felix.
Felix berbalik dan menatap dingin ke arah Mery lalu mendekat dan memegang kepala Mery. Wajah Mery pun seketika merona karena sentuhan tangan Felix.
"Jangan mati, kita belum menikah." Ucap Felix menghilang dengan tatapan dingin nya.
Mery menggerutu kesal melihat kekasih nya itu, bukannya menanyakan kabar malah berpesan jangan mati.
"Nona." Ucap Mery baru teringat pada Ana. Mery langsung mengubah pakaian nya dan berlari menuju posisi Ana.
Di sana Ana masih memeluk lutut nya dan menutup telinga nya, Mery menghela nafas lega mengetahui nona nya baik-baik saja.
"Nona." Ucap Mery lembut sambil memegang tangan Ana.
Ana mengangkat wajahnya an menghela nafas lega melihat Mery yang ada di hadapan nya baik-baik saja.
"Mery ada apa?" Tanya Ana.
Mery mengarahkan telapak tangannya di kening Ana dan menutup matanya, sebuah cahaya keluar dari telapak tangan Mery.
"Maafkan saya nona, tapi saya harap ini yang pertama dan terakhir." Ucap Mery menggunakan sihir nya untuk membuat Ana melupakan apa yang barusan terjadi.
Ana terjatuh pingsan dengan sigap Mery langsung mengangkat tubuh Ana. Mery itu memang seorang wanita tepatnya pelayan pribadi Ana. Ia di tugaskan untuk melindungi Ana sebagai pelayan nya. Mery punya kekuatan khusus yaitu membuat orang melupakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Itulah mengapa Alex memilih Mery untuk menjadi pelindung bayangan Ana.
_
_
_
_
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah agar Author makin semangat untuk update setiap hari nya.
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc