
"Denise.?"
"Ada apa.?" Tanya Arsley mendekat dan berjongkok menatap wajah anak laki-laki berumur 4 tahun 2 bulan itu yang sedang memasang wajah sangat khawatir.
"Paman tolong ibu.!" Ucap Denise.
"Ada apa? Apa yang terjadi.?" Tanya Arsley pelan, ia tak mau kalau Alex melihat Denise dan tahu siapa orang yang sedang ada di hadapannya ini.
"Ibu kerasukan." Ucap Denise membuat Arsley menjadi ikut panik.
"Yang mulia, maaf kan saya tapi ada sesuatu yang harus saya urus. Saya mohon kerendahan hati anda untuk bisa mengizinkan saya pergi." Ucap Arsley memohon.
"Sesuatu apa itu.?" Tanya Alex menatap tajam ke arah Arsley lalu bergantian pada anak kecil yang ada di belakang Alex, Alex tak bisa melihatnya dengan jelas karena Arsley menyembunyikan anak itu di belakangnya.
"Tolong lah paman, saya mohon izin kan paman Ars untuk pergi." Ucap Denise keluar dari persembunyiannya dan memohon di depan Alex dengan berlutut.
Deg
"Ibu ku sedang sakit, aku mohon izinkan paman Ars untuk pergi bersama ku." Ucap Denise penuh harap.
"Denise apa yang kau lakukan.?" Ucap Arsley mengangkat tubuh Denise agar kembali berdiri.
"Baiklah." Ucap Alex memalingkan wajahnya.
"Terimakasih." Ucap Denise.
"Sebagai gantinya biar Marquez yang menemani anda yang mulia. Saya meminta maaf sebesar-besarnya karena tak bisa menemani anda." Ucap Arsley yang terus-menerus meminta maaf, jujur sebelumnya Arsley tidak pernah meminta maaf baru kali ini Arsley merasa tak enak hati dan hanya bisa meminta maaf.
"Sebaiknya kau cepat pergi, bukannya malah meminta maaf seperti itu. Ibu dan anak itu memerlukan dirimu." Ucap Alex dingin dan sekali lagi menatap kedua bola mata Denise yang membuat hatinya bergetar.
"Ayo Denise." Ucap Arsley menggendong Denise dan naik ke atas kuda. Dengan cepat Arsley langsung pergi meninggalkan Alex dan rombongannya, sedangkan Alex tatapannya masih saja tak luput dari punggung Arsley yang perlahan menjauh. Entah mengapa ada rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di dalam hatinya.
"Siapa anak tadi.?" Tanya Alex.
"Yang mulia silahkan." Ucap Marquez.
********
Sesampainya di rumah Denise, Ars Dan Denise Langsung masuk ke dalam rumah. Sebelum itu Denise terlebih dahulu membuka dinding sihir dengan kekuatannya yang ia pasang karena takut ibunya akan kabur.
Itulah kehebatan Denise, di usianya yang masih terbilang muda itu ia sudah bisa menguasai berbagai macam sihir tanpa pelatihan terlebih dahulu.
Setelah sihir di buka, Ars langsung masuk dan melihat ke dalam rumah yang sudah berantakan.
"Isti.!" Panggil Ars ketika melihat Isti yang sedang duduk manis di kursi goyang memangku Delisa.
"Jangan mendekat.!" Ucap Isti pelan menghentikan langkah kaki Ars.
"Ibu." Ucap Denise.
"Menjauh lah dari pria jahat itu nak." Ucap Isti dengan sorot mata kosongnya.
__ADS_1
" Apa yang kau maksud? Siapa kau.?" Tanya Ars.
"Hmm siapa aku itu tak penting, tapi yang terpenting menjauh lah dari keluarga ku dan berhenti berpura-pura baik." Ucap Isti.
"Ibu, ini paman Ars. Dia adalah orang yang menolong kita." Ucap Denise.
"Tapi di juga membohongi kalian" Ucap Isti.
"Ibu lepaskan Delisa." Ucap Denise ketika melihat Delisa yang tertidur di pangkuan Isti.
"Dia sedang tertidur." Ucap Isti mengelus lembut kepala Delisa.
"Nak kau mau tahu siapa ayah mu. Hehehehe" Ucap Isti terkekeh.
Deg
"Ibu apa yang ibu katakan? Bukankah ibu tak mengingat apapun.?" Tanya Denise.
"Aku bukan ibu mu nak, aku ini nenek mu hehehe." Ucap Isti membuat kedua orang itu terkejut.
"Nenek.?" Tanya Denise.
"Pria yang ada di samping mu itu sudah membohongi kalian. Sebenarnya ia tahu siapa ayah kalian, hanya saja ia tak mau memberitahu nya pada kalian." Ucap Isti.
"Paman apa itu benar.?" Tanya Denise.
"Jangan percaya Denise, orang yang kerasukan biasanya banyak berbohong jika ia mengatakan sesuatu." Elak Arsley.
"Apa yang paman lakukan." Teriak Denise memancarkan aura hitam yang memberikan tekanan yang hebat.
"Kalau terus di biarkan, roh itu tidak akan keluar dari tubuh ibu mu." Ucap Ars mencari alasan.
"Ibu." Panggil Denise mengguncang-guncang tubuh Isti.
"Akkhhhhh sakit." Gumam Isti memegang kepalanya dan pelan-pelan membuka matanya.
"Apa yang terjadi.?" Tanya Isti ketika melihat wajah panik Ars dan Denise. Tak lupa pula Delisa yang masih ada di pangkuan nya.
"Delisa, bangun." Ucap Isti panik karena Delisa yang sedari tadi tidak bangun.
"Tenanglah Isti, Delisa hanya tertidur." Ucap Ars berusaha menenangkan Isti.
"Tidur? Tapi mengapa ia tak bangun walau aku mengguncang tubuhnya.?" Tanya Isti panik.
"Dia sedang di bawah pengaruh sihir. Denise yang membuat Delisa tertidur agar ia tak takut dengan mu."
"Memangnya apa yang terjadi.?" Tanya Isti.
"Ibu kerasukan roh lagi." Ucap Denise.
" Dan katanya roh itu adalah nenek." Ucap Denise.
__ADS_1
"Apa? Nenek?"Tanya Isti bingung.
"Kata nenek dia tahu siapa ayah Denise dan Delisa." Ucap Denise." Dan paman Ars juga tahu siapa ayah kami Bu."
"Tuan Ars.?" Ucap Isti menatap lekat mata Arsley, berharap kalau yang di katakan Denise itu benar.
"Apa.?" Tanya Ars.
"Apa itu benar? Apa kau tahu siapa suami ku.?" Tanya Isti.
"Tidak, aku tidak tahu." Ucap Ars.
"Kau berbohong." Ucap Isti dengan raut wajah kecewa.
"Apa maksud mu.?"
"Kau berbohong pada kami, kau membohongi ku dan juga anak-anak ku. 5 tahun aku terus menanyakan pada mu siapa suami ku tapi kau tetap mengatakan kalau kau tak tahu." Ucap Isti dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tak bisa mengatakan nya." Ucap Arsley.
"Tapi mengapa? Apa kau tak ingin melihat kami bahagia.?" Tanya Isti terisak.
"Bukan begitu Isti. Ada hal yang tak bisa aku katakan." Ucap Arsley semakin kacau.
"Apa yang tak bisa kau katakan.?" Tanya Isti semakin mendesak.
Kalau aku mencintai mu. Tak mungkin aku mengatakan itu pada mu. Batin Arsley.
"Katakan." Desak Isti dengan air mata yang mengalir di pipi mulusnya. Sungguh ia sangat kecewa mendapati orang yang ia percaya malah membohonginya.
Aku sangat mempercayai mu, bahkan bisa di katakan perlahan-lahan aku mempunyai perasaan padamu. Aku tahu aku memang wanita yang tak pantas untuk mu, tapi kau sudah menghancurkan kepercayaan ku dengan membiarkan anak ku hidup tanpa seorang ayah. Batin Isti menangis.
"Karena suami mu tak mengharapkan kalian." Ucap Ars yang membuat hati Isti terasa di timpa sebuah batu.
"Apa.?"
"Dia tak menginginkan kalian, itulah sebabnya dia tak mencari kalian dan aku tak memberitahu kalian." Ucap Arsley.
Maafkan aku Alex, tapi belum saatnya aku mengatakan kalau kau adalah ayah dan suami dari orang yang aku cintai. Anggap saja ini adalah karma bagimu yang tidak berusaha mencari istri mu dan malah mengklaim bahwa Ana sudah meninggal.
Aku berjanji, jika kau mencari istri mu maka aku akan memberitahu kan kalian yang sebenarnya walau aku yang harus menanggung semua rasa sakit nanti.
Maafkan aku.
_
_
_
_
__ADS_1
tbc