
"Tentu Ana, apapun itu!"
"Dan, bolehkah aku memanggil mu ibu!" Tanya Ana hati-hati.
Viona sempat terkejut lalu tersenyum dan mengangguk.
Ana kembali memeluk Viona dan menangis dalam pelukan Viona. Ia sangat mengharapkan kehadiran seorang ibu sedari dulu dan sekarang ia mendapatkannya walau ibunya sudah menjadi ruh
Viona mengelus rambut Ana dengan pelan, tak terasa air matanya pun jatuh.
"Ibu!!!"
_____________________________________________
"Ibu!!!"
"Ibu!!!"
Ana membuka matanya tubuhnya berkeringat hebat.
Huffff ini hanya sebuah mimpi ternyata tapi rasanya begitu nyata.
Ana bangun dan melihat sekitarnya, air matanya jatuh tanpa izin.
Meski mimpi tapi Ana begitu bahagia, seandainya ia juga punya ibu.
Ana bangkit dan pergi membersihkan diri. Hari ini ia ingin berkelana, rasanya sangat bosan.
Ana keluar dari rumah dengan baju panjang sampai betis, baju berwarna putih yang di sertai dengan bintik-bintik hitam, wajah pucat dan rambut di ikat ekor kuda.
Wajahnya sangat pucat karena Ana belum makan selama 2 hari ini. Ia hanya meminum air hujan saja karena ia tak mendapatkan makanan apapun itu di hutan.
Ana melewati pasar dimana terdapat banyak makanan yang lezat dan menggugah selera, ia memandangi orang-orang yang tengah menikmati makanan itu.
Ana berjalan tanpa beralas kaki. Ia menelusuri desa melihat orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Ia terus berjalan hingga berjam-jam tak terasa ia sampai di desa dekat dengan letak istana Diamond.
Entah apa yang dipikirkannya hingga tanpa sadar ia berjalan sampai disini.
Ana memasuki desa itu dan melihat begitu banyak orang-orang yang tengah beraktivitas.
Ana menjadi bingung, apa yang harus ia lakukan? Ia pun memilih untuk duduk dan menatap kosong ke arah orang-orang yang berhalulalang.
"Pengumuman pengumuman hari ini raja Diamond mengadakan sebuah perlombaan, barang siapa yang bisa menemukan atau membuat sebuah obat penawar dari sebuah racun maka si pemenang akan mendapatkan hadiah yang besar.
Jika ada yang berminat, silahkan datang ke halaman istana kerajaan Diamond sekarang, karena raja akan langsung melihat perlombaan ini.
Dan untuk seluruh peserta yang ikut akan di beri hadiah meski ia tak menang.
Jika kalian tertarik silahkan daftarkan diri kalian di istana segera." Ucap salah seorang prajurit.
__ADS_1
Ana hanya diam dan tanpa minat sama sekali, tapi ia penasaran dengan perlombaan itu. Ia ingin melihat, bagaimana cara mereka membuat obat. Tapi ia tak berminat untuk mengikutinya.
"Permisi tuan, dimana jalan menuju halaman istana?" Tanya Ana kepada seorang pria paruh baya yang tengah berdagang.
"Oh, kau pasti ingin ikut lomba yah. Kau bisa mengikuti rombongan itu, mereka juga ingin mendaftar!" Ucap kakek itu menunjuk beberapa orang yang hendak berpergian.
"Terimakasih" Ucap Ana.
"Oh yah nak, ini untuk mu!" Ucap kakek itu memberi beberapa makanan untuk Ana.
"Tak perlu kek! Aku tak datang untuk meminta!" Ucap Ana tegas.
"Aku tahu, tapi kau pucat sekali, lebih baik kau makan saja dan pergilah ikut dengan mereka semoga kebahagiaan mu akan kau temukan di sana." Ucap kakek itu.
"Terimakasih, semoga dagangan mu selalu laris!" Ucap Ana terharu.
Ana menerima makanan itu dan pergi mengikuti rombongan itu, setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai.
Ana melihat halaman istana dengan kagum, sungguh besar dan megah.
Ana memilih duduk di sebuah kursi yang terdapat di sekitaran area perlombaan. Kursi itu berada di bawah pohon rindang dan membuat suasana menjadi sejuk.
Ana memperhatikan orang-orang yang sibuk untuk mendaftar, pasti mereka itu adalah ahli obat-obatan.
Ana melihat kesana-kemari ia menyadari sebenarnya ada yang kurang dan itu adalah kehadiran wanita itu.
Ana kembali mengingat mimpinya, jujur sekarang ia sangat merindukan wanita itu. Tapi wanita itu tak menampakkan wujudnya sedari pagi.
"Tidak paman, belum ada!"
"Cia yakin dia tak akan tertarik!" Ucap Cia.
Nathan hanya menghela nafas berat, tapi ini baru percobaan pertama saja.
Semua orang sudah selesai mendaftarkan diri, dan kini orang-orang tengah mendengarkan instruksi.
"Barang siapa yang bisa membuat obat penawar untuk racun langkah, yaitu racun bunga mawar hitam. Maka ia adalah pemenang dan berhak menerima hadiah utama." Ucap sang pemberi instruksi.
Alex melihat orang-orang mulai meracik obat-obat dengan bahan-bahan yang Alex tak tahu, ia sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan hal itu.
Alex menyebar pandangannya dan menangkap sesosok wanita yang tengah duduk di bawah pohon yang sedang mengunyah makanan dengan wajah pucat dan tatapan kosongnya.
Alex terus memperhatikan, sepertinya ia pernah melihat wanita itu. Tapi dimana?
Gadis itu? Apa gadis itu adalah gadis yang ada di hutan Viona saat itu. Ia seperti hantu saja, selalu ada dimana-mana dengan penampilan seperti mayat hidup.
Ana memperhatikan cara peserta-peserta itu meracik obat dengan terus mengunyah makanan nya.
Ana menghela nafas berat, melihat cara mereka membuat obat. Tapi ia tak peduli.
Ana memperhatikan sekitaran istana ia menelan ludah kasar melihat pemandangan yang baru saja ia sadari.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Lihatlah arwah-arwah itu bukan kah mereka sangat mengenaskan"
Ana bergidik ngeri melihat penampakan itu. Sepertinya kerajaan ini penuh dengan peristiwa berdarah.
Ana kembali memfokuskan perhatiannya pada para peserta, ia hanya bisa berteriak dalam hati melihat bagaimana orang-orang itu meracik obat-obatan.
"Waktu habis! Barang siapa yang telah membuat obat penawar itu, silahkan maju dan menunjukan serta menjelaskan bahan-bahannya!"
Para peserta maju dan mulai menjelaskan bahan dari obat-obatan itu dengan percaya diri.
Dari semua peserta hanya satu orang yang bisa membuat obat itu dengan sempurna tapi entah obat itu akan menyembuhkan atau malah memperparah.
"Apa kau yakin obat itu akan berhasil?" Tanya Nathan.
"Benar yang mulia! Saya sangat yakin!" Ucap orang itu percaya diri.
"Kalau begitu bawa kemari!"
Orang itu menyerahkan obatnya kepada Nathan dengan bangga. Ana yang melihat itu hanya bisa diam dan tak peduli sama sekali.
Nathan melihat obat itu dengan seksama dan memberinya pada tabib, kemudian tabib pun memeriksa.
"Bagaimana?" Tanya Nathan.
"Saya tak pernah melihat obat penawar semacam ini yang mulia jadi saya tak bisa memastikannya."
"Bagaimana cara memastikannya?"
"Yaitu dengan meminumnya langsung, baru kita tahu reaksinya nanti.!"
"Kalau begitu bawa obat ini pada Alex dan suruh dia meminumnya sampai habis!"
"Ba baik yang mulia!"
Ana yang melihat obat itu di ambil dan di berikan pada seseorang pun sudah tak tahan lagi, ia melihat pria yang di beri obat itu ingin meminumnya.
Ana berdiri dan berjalan mendekat, entah apa yang ia pikirkan tapi melihat orang mati karena tak kepedulian nya itu adalah salah.
Ia sangat menginginkan sebuah kematian dan sudah sangat kebal dengan hinaan.
Tapi ia juga ingin berbuat baik, meski ini yang terakhir.
Ana mulai mendekat dan terlihat pria itu ingin meminumnya.
Ana langsung berteriak dan menghentikan gerakan pria itu.
"TUNGGU!!! JANGAN DI MINUM!!!!!"
Sedangkan Nathan hanya tersenyum menyeringai.
tbc
__ADS_1