Love In The Darkness

Love In The Darkness
Episode 21


__ADS_3

"Jadi Alex apa ada sesuatu?" Tanya Zania.


"Hmmm ibu aku ingin bertanya?"


"Apa itu?"


"Itu apa ibu pernah mempunyai saudari?" Tanya Alex. Zania dan Nathan saling menatap, mengapa tiba-tiba Alex menanyakan hal itu.


"Mengapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Tanya Nathan.


"Emmmm aku hanya penasaran saja." Ucap Alex.


"Hmmm dulu pernah, ada dua orang." Ucap Zania.


"Apa mereka masih hidup?" Tanya Alex.


"Yang satu sudah mati dan satunya lagi ibu tak tahu karena dia sedang ada di pengasingan." Ucap Zania.


"Mengapa dia mati ibu? Apa penyebabnya?" Tanya Alex semakin penasaran.


"Ada apa Alex, mengapa tiba-tiba bertanya tentang itu?" Tanya Zania.


"Hmmm ibu tahu gadis yang bisa membuat obat penawar itu?" Ucap Alex.


"Tentu! Ada apa dengan nya?" Tanya Zania.


"Hmmm dia baru saja kerasukan, dan arwah yang merasukinya mengatakan bahwa dia adalah saudari ibu." Ucap Alex membuat Zania dan Nathan terkejut.


"Terus apa yang terjadi pada gadis itu, siapa namanya?" Tanya Zania.


"Namanya Ana ibu, dia baik-baik saja Alex sudah mengeluarkannya." Ucap Alex.


"Tapi dia berkata kalau ia akan kembali lagi untuk mengganggu." Ucap Alex.


Zania menghela nafas berat, ternyata masalah yang lalu masih belum terselesaikan.


"Hmmm ibu, ibu belum menjawab pertanyaan ku kenapa dia bisa mati?" Tanya Alex.


"Hmmm itu karena dia pernah berniat untuk membunuh ibumu jadi dia di hukum mati di sini." Ucap Nathan.


"Hmmm Alex, tetap lah waspada yah dan ingat jaga selalu gadis itu untuk ibu." Ucap Zania.


"Hmmm baiklah."


🌹🌹🌹🌹


Hari sudah berganti menjadi malam, di paviliun Ana kini tengah merenung melihat bintang-bintang yang berkelap-kelip indah di langit.


Krieeet


Suara pintu terbuka mengejutkan Ana, Ana membalikkan badannya dan melihat Alex yang baru saja masuk dan membuka topengnya lalu berbaring.


Hah, laki-laki itu selalu pulang dan masuk ke kamar ku, seolah-olah kami sudah menikah dan aku adalah istri yang tengah menunggu kepulangan nya" Gerutu Ana di dalam hati.


Ana kembali menatap keluar jendela dan mengabaikan Alex yang tengah berbaring.


Malam sudah cukup larut, mata Ana sudah sangat berat dan mengantuk.


Ana melirik ke arah ranjang yang ternyata sudah kosong.


Eh, kemana dia?


Hah mungkin saja dia sudah pergi.

__ADS_1


Ana berjalan ke arah ranjang dan mulai membaringkan tubuhnya. Wangi tubuh Alex melekat pada selimut membuat pipi Ana merona.


Ana mencoba memejamkan matanya tapi suara pintu terbuka membuat Ana membuka kembali matanya. Ternyata suara pintu kamar mandi.


Dan betapa terkejutnya Ana mendapatkan Alex yang tengah bertelanjang dada dengan handuk yang melilit sebatas pinggang.


Deg


Deg


Deg


Ana memalingkan wajahnya dan memilih menutup wajahnya dengan selimut.


Alex yang melihat itu tersenyum kecil, tingkah Ana seperti anak kecil saja.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Alex di sela memakai baju nya.


Tak ada jawaban.


Apa ia sudah tidur?


"Hei gadis bodoh, apa kau sudah makan malam? Jangan berpura-pura tidur" Ucap Alex.


Masih saja diam.


Alex menyeringai tipis lalu perlahan-lahan mendekat pada ranjang. Alex naik ke atas Ana dengan menekan ke dua lututnya di kasur agar tak menindih Ana.


Sedangkan Ana yang berpura-pura tidur membuka matanya di dalam selimut karena terkejut.


Apa yang akan dilakukan pria ini?


"Gadis bodoh, aku tahu kau pura-pura tidur. Bangunlah sebelum aku meniduri mu!" Ucap Alex sontak membuat Ana membuka selimutnya dan duduk menghadap Alex dengan mata melotot.


"Turun!!" Ucap Ana kesal.


"Turun apa maksudmu?" Ucap Alex pura-pura tak tahu.


"Aku bilang turun dari tubuh ku!" Ucap Ana benar-benar kesal.


"Kalau aku tak mau bagaimana?" Ucap Alex tersenyum licik.


"Aku akan membunuh mu." Ucap Ana membuat Alex tertawa terbahak bahak.


"Hahahaha membunuh ku? Membunuh seekor semut saja kau tak bisa" Ucap Alex mengelus kepala Ana.


Ana cemberut karena memang benar kalau ia tak mampu membunuh Alex jangan kan membunuh, melukai saja Ana tak mampu.


"Apa kau sudah makan hmmm?" Tanya Alex menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Ana seperti kakak dan adik.


"Belum." Ucap Ana.


"Kalau belum mengapa kau tidur dalam keadaan belum makan?" Ucap Alex mencubit pipi Ana.


Ana yang di perlakukan seperti itu kesal sekaligus malu. Pipinya merona karena malu.


"Karena tidak ada makanan." Ucap Ana polos.


"Hmmm kau ternyata memang sangat bodoh. Tidak ada makanan kau bilang tapi kaki mu belum melangkah ke dapur dan hanya sibuk tidur dan merenung." Ucap Alex menoel hidung Ana.


"Hei!!! Apa masalah mu ? Mengapa kau memegang-megang ku?" Ucap Ana kesal sekaligus malu.


"Apa salahnya? Lagi pula tidak lama lagi kau akan menikahi ku bukan, jadi tidak apa-apa kalau aku memegang mu sedikit." Ucap Alex menyeringai tipis.

__ADS_1


"Aku tidak akan menikahi mu, seharusnya laki-laki lah yang menikahi perempuan bukan perempuan yang menikahi laki-laki." Ucap Ana kesal.


"Hahaha alasan saja kau ini. Bilang saja kalau kau berharap untuk aku nikahi jadi kau selalu mengelak untuk menikahi ku." Ucap Alex seolah-olah ia adalah korban dari sebuah tindak kriminal.


Mengapa laki-laki ini sangat ingin aku nikahi, apa dia menyukai ku. Dan karena malu ia malah menyuruh ku untuk menikahinya" Pikir Ana.


"Hapus pikiran mu itu, aku tak menyukai mu tahu. Sudah ayo kita makan." Ucap Alex turun dan berlalu keluar kamar. Ana begitu terkejut, bagaimana Alex bisa tahu isi pikirannya.


Ana mengikuti langkah kaki Alex yang tegas, sesampainya di dapur ternyata makanan sudah terhidang dan tak ada siapa-siapa di situ. Sepertinya pelayan di sini mahluk halus semua.


"Duduk cepat dan habiskan!" Perintah Alex dan kemudian duduk.


Ana mengikuti Alex duduk dan mengambil makanannya karena memang ia sangat lapar.


Ana pun memakan makanannya dengan lahap, tanpa malu-malu seperti kemarin.


Setelah selesai makan, Alex mengajak Ana untuk duduk di balkon kamar, padahal malam sudah cukup larut tapi dua insan itu belum mengantuk.


Ana yang tadinya mengantuk pun sudah tak mengantuk lagi, karena perutnya yang kenyang.


"Apa kau tak menginginkan obat itu?" Tanya Ana memecah keheningan.


"Hmmm"


"Apa luka mu sakit?"


" Hmmm"


"Apa kau mau aku buatkan obat itu besok?" Ucap Ana.


"Hmmm"


"Haisss. Tak bisakah kau menjawab lebih dari hmmmm." Ucap Ana kesal.


Alex terkekeh geli melihat Ana yang kesal. Entah mengapa belakangan ini Alex sering senyum dan tertawa.


"Apa kau punya mimpi?" Tanya Alex menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip.


"Punya." Ucap Ana.


"Apa itu?" Tanya Alex penasaran.


Ana terlihat tengah berfikir, lalu ia tersenyum.


"Mimpiku adalah semoga di masa depan aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan." Ucap Ana dengan mata yang berkaca-kaca.


Deg


Deg


Deg


Jantung Alex berdetak tak karuan, Alex memikirkan kalau sebenarnya Alex lah yang menjauhkan gadis itu dari kebahagian dan memberikan sebuah penderitaan.


*****


Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah


Agar author makin semangat untuk update setiap hari nya.


Typo bertebaran dimana-mana harap tenang dan bijak dalam berkomentar yah.


tbc

__ADS_1


__ADS_2