
Di ruangan yang remang seorang pria tengah duduk dan meminum wine nya dengan tenang sambil menunggu informasi yang akan datang. Sebuah seringaian licik terbentuk di bibirnya.
Brak
Suara pintu terbuka paksa membuat pria itu menoleh tak senang pada seorang pria berjubah hitam yang tengah kesakitan, pria itu adalah Marvin.
"Tu tuan." Ucap Marvin.
"Untuk apa kau tampak kan di depan ku tampang mu yang tak berguna itu ha?" Tanya Pria itu dingin.
"Ma maaf kan saya tuan, saya tidak tahu kalau wanita itu di jaga oleh para ksatria bayangan." Ucap Marvin menunduk takut, takutnya lebih besar dari pada rasa sakit yang ia rasakan di bagian dada dan perutnya.
"Hanya anak buah Alex saja kau tak bisa lawan, apalagi kalau itu Alex. Bisa-bisa kau akan menjadi debu dalam kedipan mata." Ucap pria itu sinis.
"Dan satu lagi, aku tak menyuruh mu untuk melukai wanita itu. Mengapa kau malah ingin melukainya ha? Dasar tidak berguna.!" Bentak pria itu
"Ma maaf kan saya tuan." Ucap Marvin.
"Kau pikir kata maaf bisa mengubah semuanya ha?Dasar bodoh."Ucap pria itu menyeruput wine nya.
"Pergi! " Ucap pria itu dingin.
"Terimakasih tuan."Ucap Marvin menghilang.
******
Wushhhh
Semilir angin bertiup membuat anak-anak rambut wanita yang tengah duduk di sebuah ayunan terhembus kesana-kemari.
"Hmmmm hmmmm hmmm hmmm" Suara nyanyian dari bibir mungil wanita itu sembari menutup matanya menikmati indahnya pemandangan dan aroma khas bunga-bunga.
"Ana." Panggil seorang wanita yang tiba-tiba muncul. Gaun putih dan rambut panjang serta wajah yang cantik jelita.
Ana menoleh pada wanita itu ada sedikit rasa senang bercampur kecewa di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Maafkan aku." Ucap wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu." Panggil Ana tersenyum pada wanita yang ia panggil ibu tak lain adalah Viona.
"Maafkan ibu." Ucap Viona lirih dengan air mata yang membasahi pipinya.
Ana berdiri dan menghampiri viona, diusapnya air mata itu dan memeluk erat tubuh orang yang selama ini ia rindukan.
Entah ini mimpi atau bukan, Ana berharap waktu berjalan dengan lambat agar ia dapat lebih lama dengan wanita yang ia rindukan baik di dunia nyata maupun di dalam mimpi.
"Aku merindukanmu." Ucap Ana di sela pelukannya.
"Ibu juga." Ucap Viona membalas hangat pelukan Ana.
"Ibu, mengapa ibu tak pernah muncul.?" Tanya Ana melepas pelukannya dan menarik tangan Viona agar duduk serta di ayunan.
__ADS_1
"Maafkan ibu sayang, tapi semua itu ibu punya alasannya." Ucap Viona tersenyum sendu.
"Apa alasan nya ibu?" Tanya Ana.
"Hmmm belum waktunya kau tahu Ana." Ucap Viona memalingkan wajahnya.
"Baiklah, tapi ibu berjanji bukan untuk hadir kembali setelah ini?" Tanya Ana penuh harap.
Viona tersenyum hangat sembari mengelus kepala Ana dengan sayang.
"Untuk sekarang ibu tidak bisa. Tunggulah beberapa waktu lagi." Ucap Viona.
"Tapi mengapa? Apa ibu tak ingin menyaksikan aku bahagia." Ucap Ana sedih.
"Ibu sangat senang kalau kau bahagia Ana, tapi untuk sekarang ibu tak bisa berada di sisi mu." Ucap Viona sendu.
"Hmmm baiklah, aku akan selalu menantinya." Ucap Ana tersenyum.
"Ibu, apa ibu tahu kalau aku sudah menikah.?" Tanya Ana.
"Ibu tahu." Ucap viona. Tampak guratan tak suka dari wajah Viona hanya saja Ana tak bisa melihatnya karena sibuk dengan pandangan di depannya.
"Aku sangat bahagia ibu. Aku sangat mencintainya. Aku ingin hidup dan mempunyai anak-anak nanti bersama Alex, memiliki keluarga kecil yang bahagia." Ucap Ana tersenyum senang, namun berbeda dengan Viona yang menatap sendu gadis kecil yang di hadapannya yang kini telah beranjak dewasa.
"Ibu turut bahagia." Ucap Viona mengelus kepala Ana.
"Ibu tahu, dulu aku sangat menginginkan sebuah kematian agar semua penderitaan ku ini terselesaikan. Tapi sekarang aku berharap umurku akan panjang agar bisa melalui suka duka bersama Alex dan anak-anak kami kelak." Ucap Ana menatap senang pada Viona dan di balas senyuman hangat.
"Ibu akan datang." Ucap Viona.
"Terimakasih sudah menjadi ibu ku." Ucap Ana memeluk erat tubuh Viona.
"Terimakasih juga karena sudah menerima ku." Batin viona sedih.
Ana memeluk erat karena merasa nyaman, rasanya ingin ia tidur selamanya agar bisa bersama dengan ibunya.
Ketika Ana sedang merasakan nyamannya pelukan seorang ibu. Suara tangisan dan teriakan terdengar membuat Ana membuka kedua matanya.
Ia melihat kesana-kemari yang tadi nya ada pemandangan bunga kini hanyalah bunga yang layu dan di penuhi darah.
Ia melihat ke samping dimana ibunya berada, tapi ia tak menemukan siapa-siapa di sana.
"Ibu!" Panggil Ana ketakutan ketika melihat suasana tempatnya semakin menyeramkan.
"Akhhhhhhhhhhhhhhhh" Teriakan histeris membuat Ana gemetar karena adanya dara yang terus mengalir di pepohonan.
Ana merasakan sakit di bagian dadanya, ia memegangi dadanya yang sakit an terkejut ketika darah keluar dari dalam bajunya yang berwarna putih.
Ada apa ini?
Aku sama sekali tidak terluka, tapi dari mana darah ini berasal? Apa yang terjadi? Dimana ibu?
__ADS_1
"Akkhhhhh hiks hiks tolong tolong" Suara teriakan minta tolong yang membuat Ana tersadar kalau itu suara ibunya.
Ana berlari ke arah suara itu tepatnya menuju tengah hutan yang gelap dan mengerikan.
Air mata Ana jatuh karena rasa sakit di dada dan kepalanya, ditambah lagi dengan rasa khawatir akan ibunya.
"Ibu!"Teriak Ana di tengah hutan.
"Tolongggg!!!!! Akkhhhhh hiks hiks siapapun tolong aku." Teriakan ibu Ana membuat Ana semakin ketakutan. Sebenarnya apa yang terjadi?
Ana terus berlari hingga tenaganya habis dan rasa sakit yang terus menjalar, Ana berusaha untuk berjalan karena rasa khawatir pada ibunya.
"Ibu!!!" Panggil Ana lirih dengan air matanya, baru saja ia memeluk tubuh ibu nya dengan hangat. Tapi mengapa tiba-tiba menjadi seperti ini.
Ana menguatkan dirinya dan terus berjalan hingga tepat di tengah hutan.
Ana mencari kesana-kemari dan tatapan nya jatuh pada sesosok tubuh wanita yang tengah tergantung dengan leher yang hampir putus, tak lupa pula bola mata yang sudah keluar dan darah yang mengalir dari leher wanita itu.
"Hiks hiks hiks" Ana menutup mulutnya tak percaya apa yang baru saja ia lihat.
Ini tak mungkin. Ini tak mungkin
"Ibuuuuuuuuu!!!!!!" Teriak Ana.
"Akkhhhhh ibuuuuuuuuu.!"Teriak Ana membuka matanya dan terduduk.
Ia melihat kesana-kemari dan ternyata ia sedang berada di kamar.
Itu hanya mimpi.
Air mata Ana mengalir deras di dalam kesunyian, penampakan yang baru saja ia lihat terasa nyata dan terus terbayang.
Rasa sakit di kepala dan dadanya terasa sangat menyiksa, sama ketika ia masih di dalam alam bawah sadar.
Ceklek.
"Sayang!."
_
_
_
_
_
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah agar Author makin semangat untuk update setiap hari nya.
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc