Love In The Darkness

Love In The Darkness
Episode 22


__ADS_3

Hai READERS.


Jangan lupa untuk mampir ke novel terbaru Author. Baru rilis tadi sore.


Judulnya "Berpindah ke masa depan." Genre romantis, Action dan time travel yah baru 2 episode dan besok akan up lagi 2 episode.


Kali ini author buat novel time travel ke masa depan yah biar beda aja gitu..


Selebihnya silahkan klik profil author untuk membaca novelnya.


Jangan lupa tinggalin jejak kalian yah..


Author tunggu!!!


Happy reading


💞💞💞💞💞


Apa kau punya mimpi?" Tanya Alex menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip.


"Punya." Ucap Ana.


"Apa itu?" Tanya Alex penasaran.


Ana terlihat tengah berfikir, lalu ia tersenyum.


"Mimpiku adalah semoga di masa depan aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan." Ucap Ana dengan mata yang berkaca-kaca.


Deg


Deg


Deg


Jantung Alex berdetak tak karuan, Alex memikirkan kalau sebenarnya Alex lah yang menjauhkan gadis itu dari kebahagian dan memberikan sebuah penderitaan.


"Kalau kau?" Tanya Ana balik.


"Entahlah."


Ana mengerutkan keningnya, apa pria ini tak punya mimpi?


"Aku mengantuk, aku ingin tidur." Ucap Ana mengucek matanya.


"Ya sudah tidur saja sana, mengapa harus meminta izin." Ucap Alex membuat Ana cemberut dan pergi meninggalkan Alex.


Ana membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tak berapa lama Ana pun tertidur dan tak menyadari kalau Alex sudah naik ke atas ranjang dan tidur di samping Ana.


Alex menatap wajah tenang Ana yang tengah tertidur, ia tersenyum entah mengapa sekarang ia lebih senang melihat senyuman Ana.


Alex merangkul Ana ke dalam pelukannya, ia mengelus-elus kepala Ana. Ana tampak menggeliat dan membalas pelukan hangat Alex.


"Aku akan membuat mu bahagia, aku janji."


💞💞💞💞


Malam sudah berganti menjadi pagi yang sejuk nan indah. Ana membuka matanya dan begitu terkejut mendapati tangan Alex melingkar sempurna di perutnya.


Ana menoleh pada Alex dan menatap wajah Alex yang tenang, dengan nafas teratur.


Ana mencoba memegang luka Alex dengan perlahan-lahan agar tak membangunkan singa jantan itu.

__ADS_1


Ana memegang dan menyimpulkan bahwa luka Alex semakin parah. Tangan Ana terus berkeliaran dan malah meraja lela.


Ana menyentuh mata Alex yang tertutup rapat, ia memegang bulu mata Alex yang indah. Tangannya pun beralih pada hidung Alex yang mancung dan berakhir pada bibir Alex yang begitu menggoda.


Ana melihat seperti ada pergerakan pada bola mata Alex, Ana langsung menarik tangannya dan reflek memeluk Alex.


Aku pasti sudah gila. pikir Ana.


Alex membuka matanya dan tersenyum sambil mengeratkan pelukannya yang membuat Ana tak bisa bergerak.


"Apa sudah puas menyentuh ku hmmmm?" Tanya Alex membuat Ana bergetar.


"A apa maksud mu?" Tanya Ana di sela dekapan Alex.


"Hahaha jangan pura-pura lupa, aku tahu sedari tadi jari kecil mu itu menelusuri wajah ku." Ucap Alex.


Kali ini Ana benar-benar malu, ia sudah tertangkap basah. Entah apa yang ia pikir kan tadi.


"Itu itu aku hanya ingin melihat luka mu saja, dan ternyata luka mu sudah sangat parah dan harus segera di obati." Ucap Ana mengalihkan pembicaraan.


Alex merenggangkan pelukannya dan memegang wajah Ana agar Ana menatapnya.


"Tapi luka ku itu di sini bukan di mata, hidung apalagi di bibir." Ucap Alex menyeringai tipis.


Ana tak bisa lagi berkutik dia memang sudah tertangkap basah.


"Hehehe maaf kan aku." Ucap Ana dengan pipi merahnya.


"Hmmm"


Alex kemudian berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di atas ranjang Ana merutuki kebodohannya.


Setelah membersihkan diri Alex dan Ana turun untuk sarapan pagi dan lagi-lagi makanan sudah tersedia di meja makan.


Setelah selesai makan. Alex mengatakan kalau dia akan pergi ke istana dan diangguki oleh Ana.


Setelah kepergian Alex. Ana pergi ke taman dekat paviliun. Ana melihat jenis-jenis tumbuhan di taman itu.


Itu dia.


Ana melihat beberapa tanaman bunga mawar hitam dan segera mendekat, Ana tak ragu untuk memetik beberapa tangkai bunga itu dan membawa bunga itu ke dalam paviliun.


Ana kemudian mengolah bunga itu dengan bahan-bahan yang sudah ia dapatkan. Ana berencana ingin membuat obat penawar untuk Alex diam-diam dan memberikannya kalau sudah jadi nanti.


Beberapa menit telah dilalui dengan tenang satu obat penawar telah selesai di buatkan dan Ana meletakkan nya di meja dekat tempat tidur Alex.


Ana kemudian membersihkan semua peralatan membuat obatnya, dan berjalan menuju taman untuk sekedar mencari udara segar.


Entah mengapa belakangan ini suasana hatinya sedikit membaik dengan perubahan sikap Alex.


Ana mendekat pada air terjun yang ada di taman itu dan mencelupkan kakinya ke air yang sejuk itu.


"Suittt suitt" Suara suitan seseorang membuat Ana berdiri dan mencari letak suara tersebut.


Kresek kresek


Ana menoleh pada sesemak yang bergoyang.


"Siapa?" Tanya Ana waspada.


"Ana!" Panggil seseorang dari belakang Ana. Ana pun membalik tubuhnya dan terkejut melihat pria yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Samuel?"


Samuel tersenyum pada Ana dan di balas senyuman juga oleh Ana.


"Akhirnya aku menemukan mu." Ucap Samuel senang.


"Dari mana kau tahu aku di sini Sam?" Tanya Ana bingung.


"Aku sudah berjanji untuk membebaskan mu dari Alex dan membawa mu pergi menjauh dari mereka. Karena aku adalah Samuel jadi aku tak pernah melupakan janji ku." Ucap Samuel memegang tangan Ana.


Ada rasa terharu dalam hati Ana karena kepedulian Samuel tapi ada rasa perih juga di hatinya entah mengapa ia enggan untuk pergi dari sini.


"Ayo Ana kita pergi sebelum Alex kembali." Ucap Samuel menarik tangan Ana.


"Tunggu Sam!" Ucap Ana, rasanya begitu berat melangkah.


"Ada apa lagi Ana ? kita harus cepat sebelum Alex datang dan kau tak bisa lagi pergi dari sini." Ucap Samuel.


"Ta tapi ada yang ingin aku lakukan sebentar, kau tunggu di sini dulu." Ucap Ana berlari menuju paviliun.


"Baiklah"


Ana berlari memasuki kamar dan melihat obat penawar itu, Ana mulai menuliskan sebuah surat agar nanti Alex membacanya dan meminum obat itu.


Setelah selesai Ana pun beranjak keluar dari kamar, ia memandangi ranjang yang biasanya mereka tempati bersama.


Hati Ana terasa berat dan ia pun melangkahkan kakinya menuju Samuel.


"Ayo Ana!" Ucap Samuel.


"Sam sepertinya aku tak bisa pergi." Ucap Ana tak enak hati, bagaimana pun Samuel telah bersusah payah menemukannya di sini.


"Mengapa begitu? bukannya kau menginginkan sebuah kebebasan?" Tanya Samuel bingung.


"Iya tapi sekarang aku hanya ingin berada di sini Sam, terimakasih sudah mencari ku dan maaf telah menyusahkan mu." Ucap Ana berbalik.


"Ana"


Ketika Ana berjalan Samuel langsung mengejar Ana dan membekap mulut Ana dengan selembar kain, Seketika mata Ana terpejam dan tak berdaya.


Samuel menyeringai licik dan mulai menggendong Ana pergi dari paviliun itu.


"Tak ada penolakan bagi Samuel. Hahahah"


💞💞💞💞


penasaran


jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah


Agar author makin semangat untuk update setiap hari nya


Dan jangan lupa untuk mampir ke novel baru Author. Berpindah ke masa depan.


Gentar Action, Romantis Dan time travel.


Di tunggu!!!


Typo bertebaran dimana-mana harap tenang dan bijak dalam berkomentar


tbc

__ADS_1


__ADS_2