
"*Aku tak membutuhkan obat itu!" Ucap Alex mengulang kata-kata nya kembali.
"Lalu apa hang kau butuh kan?"
Alex tak menjawabnya dan memilih untuk diam sejenak.
"Kau!"
Eh, apa maksudnya?
"Kau yang ku butuhkan.!"
Deg
Deg
Deg*
______________________________________________
Ana masih terpaku dengan kata-kata Alex. Apa maksudnya?
Ana memilih untuk diam dan mencoba merenungi kata-kata itu.
Sedangkan Alex juga terdiam dan menatap arah depan. Suasana canggung tercipta diantara mereka.
"Dari mana kau mengetahui cara membuat obat itu?" Tanya Alex memecah keheningan.
Ana sejenak diam dan mulai memikirkan dari mana ia tahu cara mengobati orang.
"Hanya naluri!" Ucap Ana dan sukses membuat Alex menoleh kebingungan. Naluri? Maksudnya?.
"Aku bisa membuat obat itu hanya karena naluri ku saja. Ketika aku melihat sebuah penyakit pada tubuh orang lain naluri ku langsung mengatakan bahwa obatnya adalah ini ataupun itu." Terang Ana.
Sejenak keheningan kembali menimpa. Alex menatap lekat Ana yang tengah menatap lurus ke depan.
Wajah yang cantik dan menggemaskan!
Tanpa sadar Alex menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya tanpa di ketahui Ana.
"Apa yang terjadi bila luka ku ini tak di obati?" Tanya Alex sambil menatap lekat Ana.
Ana menoleh pada Alex dan tertegun melihat tatapan Alex yang tajam. Karena canggung Ana memilih memalingkan wajahnya dan menatap ke arah depan.
"Yang kutahu luka itu akan semakin membesar dan semakin buruk. Hal itu bisa mengakibatkan energi mu perlahan-lahan akan berkurang begitu juga dengan kekuatan sihirmu yang akan terhambat karena racun itu. Dan yang paling parah nya kau bisa saja mati dalam keadaan mengenaskan!" Ucap Ana tenang.
Alex mulai memikirkan perkataan Ana.
Yah, benar belakangan ini Alex mudah lelah dan kurang berkonsentrasi. Rasanya energi nya seperti terserap perlahan-lahan.
"Kalau kau mau aku akan membuat kan obat itu dan setelah kau sembuh kau harus membebaskan aku!" Ucap Ana.
"Hahahaha kau ingin mengatur ku heh?" Ucap Alex tertawa mengejek.
Ana hanya bisa diam, memang sulit bila kita berbicara dengan orang berotak batu.
"Sampai kapan pun aku tak akan melepaskan mu, baik aku mendapatkan obat itu maupun tidak!" Ucap Alex berdiri. Ana langsung berdiri dengan keberanian ia memegang tangan Alex.
"Apa salah ku padamu tuan? Aku akan mengobati mu dan aku bisa bebas dari mu! mengapa kau begitu keras kepala? Memangnya apa yang kau dapatkan dengan menahan ku di sini?" Ucap Ana kesal.
Alex menatap mata Ana yang memancarkan kekesalan.
"Sudah ku bilang aku membutuhkan mu!" Ucap Alex santai.
"Apa yang kau butuhkan dari ku?" Ucap Ana semakin kesal.
"Darah!" Ucap Alex menyeringai.
Ana tertegun mendengar ungkapan Alex.
"Ada apa dengan darah ku!" Ucap Ana bingung.
__ADS_1
"Hahaha sepertinya kau hilang ingatan yah.?" Ucap Alex tertawa mengejek.
"Apa maksudmu?" Tanya Ana bingung.
"Aku sudah pernah meminum darah mu nona dan itu membuat ku ketagihan. Aku mengurung mu di sini agar aku bisa menikmati darah mu yang manis itu."
"Akan ku hisap darah mu yang lezat itu sampai tetes terakhir. Bagiku darah mu lebih berharga dari pada obat itu hahaha!" Ucap Alex tertawa terbahak-bahak.
Deg
Deg
Deg
Ana meneteskan air matanya karena merasa terpukul. Baru saja ia mulai menganggap bahwa laki-laki itu tak terlalu jahat tapi ternyata ia salah! Laki-laki itu memang biadap.
Alex pun pergi meninggalkan Ana yang sedang merenungi nasibnya.
🔥🔥🔥🔥
Prang
Suara pecahan kaca terdengar lantang di sebuah ruangan remang-remang.
Hal itu membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu gemetaran ketakutan.
"Yang mulia! maaf bila lancang. Ada apa dengan anda yang mulia, apa saya bisa membantu!" Ucap Pria berjubah hitam.
"Aku tak apa-apa Marvin!" Ucap orang tersebut.
"Lalu mengapa anda terlihat begitu marah master?" Tanya Marvin selaku orang kepercayaan.
"Aku hanya sedang dalam suasana hati yang buruk!" Ucap orang tersebut
"Apa yang membuat suasana hati master menjadi buruk?" Tanya Marvin.
"Hahahah kau ini! makin lama makin banyak tanya saja Marvin!" Ucap orang itu.
"Hmmm. Bagaimana perkembangan laki-laki itu?"
"Saya dengar putra mahkota membawa gadis itu pergi jauh, dan belum ada yang tahu kemana putra mahkota membawa gadis itu!" Ucap Marvin.
"Cepat cari tahu keberadaan mereka!"
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui keberadaan mereka master?"
"Membiarkannya!" Ucap orang itu dengan seringaian liciknya.
"Apa maksudnya master?" Tanya Marvin bingung
"Kau akan tahu nanti!" Ucap Orang itu tersenyum miring.
🔥🔥🔥🔥
Hari sudah berganti menjadi gelap, kini Ana berada di kamarnya menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit dari jendela.
Ana hanya tinggal sendiri di situ karena ketika ia pulang dari taman ia sudah mendapati paviliun itu kosong dan berarti Alex sudah pergi.
Ia menghela nafas lega karena akhirnya ia bisa merasakan ketenangan sejenak.
Wushhhh
Tiba-tiba saja angin bertiup kencang masuk ke dalam kamar Ana. Seketika bulu kuduk Ana berdiri karena terpaan angin tersebut.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu kamar yang di ketuk.
__ADS_1
Siapa yang mengetuk?
Apa mungkin itu Alex?
Tapi kalau ia, itu sepertinya mustahil karena ia tahu Alex akan menerobos masuk tanpa mengetuk.
Ia jadi penasaran siapa yang mengetuk.
Ana mendekat pada pintu kamarnya, dan memegang gagang pintu itu.
Ia memberanikan diri untuk membuka pintu itu secara perlahan. Kalau yang mengetuk itu manusia atau bukan Ana harus siap untuk melihat nya.
Ceklek
Krieeet
Pintu terbuka dan
Kosong!
Tak ada siapapun di situ. Ana tadi jelas mendengarkan kalau pintunya di ketuk.
Ana kembali menutup pintunya dan berjalan menuju ranjang. Rasanya sepi sekali hanya sendiri dalam bangunan sebesar ini.
Ketika Ana baru saja beberapa langkah dari pintu Ana kembali mendengar suara ketukan itu.
Tok
Tok
Tok.
Ah, ini sudah jelas bukan manusia. Pikir Ana.
Ana kembali berbalik, ia mendekati pintu itu.
"Siapa di luar?" Tanya Ana namun tak ada respon, hanya ketukan pintu saja yang terdengar.
Ceklek
Ana kembali membuka pintunya dan
kosong!
Hah hantu nya pasti hantu usil.
Ana kembali menutup pintu dengan cepat. Ia berjalan menuju ranjang dan mulai membaringkan dirinya.
Ana menatap langit-langit kamar itu sembari merenung.
Tik
Satu tetes cairan jatuh di kening Ana ketika Ana menutup matanya. Ana memegangi cairan itu dan melihat cairan apa itu?
Seketika mata Ana terbelalak
Darah!
Ana terduduk dan melihat kesana-kemari. Tak ada orang!
Ana kemudian melihat ke arah langit-langit dengan pelan dan
"Akhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!"
♥️♥️
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah
Typo bertebaran dimana-mana harap tenang dan bijak dalam berkomentar yah
tbc
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥