
Detik demi detik di lewati dengan tawa bahagia bermain layaknya ibu dan Anak balita. Ana tertawa lepas saat ia berlari ketika ibunya mengejar. Melakukan apa yang tidak pernah Ana lakukan sewaktu kecil.
"Aku lelah." Ucap Ana terduduk di atas rumput lalu membaringkan tubuhnya. Viona yang melihat Ana kelelahan pun ikut berbaring, baginya yang seorang arwah tidak pernah merasa lelah.
"Aku sangat senang ibu." Ucap Ana memeluk Viona yang sudah berbaring di samping nya, angin sepoi-sepoi meniup membuat keduanya nyaman seakan tak ingin pulang.
"Ibu juga."
"Ibu coba ceritakan mengapa ibu bisa seperti ini.?" Tanya Ana menatap raut wajah sendu dari ibunya. " Kalau tidak bisa tidak apa-apa."Ucap Ana, mungkin saja ada hal yang tak bisa di ceritakan.
"Akan ibu ceritakan." Ucap Viona menutup matanya.
"Nama ku yang sebenarnya adalah Reina, bukan Viona. Aku adalah putri ke tigadari kerajaan Belian. Seorang putri yang di hukum bukan karena kesalahan ku melainkan karena kesalahan saudari keduaku yang bernama Nesya yang sudah mencelakakan saudari pertama Zania dan berniat membunuhnya."
Deg
Flashback on.
Hari itu aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, setelah mendapatkan hukuman dari sang raja kalau aku, ibu dan ayah harus pergi ke pengasingan. Aku melihat sendiri ketika kepala Nesya terpenggal dan melayang di udara. Masih bersyukur karena hukuman yang di berikan pada kami hanya sekedar pengasingan saja.
Aku dan ibu serta ayah pun langsung pergi ke pengasingan tepatnya ke arah seberang hutan ini yaitu tempat desa di mana kau kulahirkan dan besar sendirian.
Sebelum sampai di desa kami harus melewati hutan ini, hutan yang belum mempunyai nama.
Sial!
Itulah nasib, sudah melarat dan pergi ke pengasingan aku malah menemukan sesuatu hal yang lebih menyedihkan. Di perjalanan kami di hadang oleh para perampok, kami melawan mereka dengan alat dan sihir yang kami punya tapi ternyata mereka lebih kuat karena jumlah mereka yang banyak.
Ayah yang terluka di ikat tangan dan kakinya, aku pikir mereka hanya ingin mengambil uang saja ternyata aku salah. Mereka juga menginginkan sebuah kenikmatan.
Aku yang lemah melihat ketika ibu ku di ikat dan lucuti pakaian nya dengan kasar, mereka memperlakukan ibu dengan mengerikan. Meski ibu sudah berteriak tapi mereka seolah tuli akan keadaan.
__ADS_1
"Lari Reina, lari.!" Ibu menyuruh ku lari, aku bingung apa aku harus lari dan meninggalkan kedua orang tua ku.
"Lari.!"Sekarang ayah. Ayah berteriak dengan sisa tenaganya menyuruh aku berlari. Tanpa pikir panjang lagi aku pun berlari namun memang sudah takdir ku mengalami hal yang mengerikan.
Mereka itu banyak lebih sepuluh orang dan badan mereka sangat besar. Jadi sangat mudah bagi mereka menangkap aku yang bertubuh kecil dan lemah ini.
Mereka menangkap ku, aku mencoba melawan tapi tetap saja tak bisa. Aku melihat ibu yang sudah terkulai lemas setelah di perlakukan layaknya binatang dengan cara bergantian.
"Mau lari kemana kau gadis kecil.?" Aku ingin berteriak meminta tolong tapi apa daya suara ku sudah habis dan percuma saja aku berteriak di tengah hutan yang tak ada penghuninya.
"Jangan sentuh putri ku." Ayah mencoba memberontak namun itu membuat aku semakin sedih tak kala melihat sebuah pedang menembus dari arah belakang tepat di jantung ayah.
"Ayah.!!" Aku berteriak, aku takut. Mereka mulai mendekat pada ku dan secara kasar melucuti baju ku. Aku hanya bisa berteriak namun mereka seakan tuli. Mereka secara bersamaan meraba bahkan menggigit tubuhku bagaikan hewan yang kelaparan.
"Jauhi anak ku.!" Ibu sekali lagi berteriak, tapi itu hanyalah hal sia-sia karena mereka berhasil. Mereka berhasil membuat sebuah luka di luar tubuh dan di dalam hati ku.
Setelah semuanya selesai, bukannya membunuh kami, mereka malah meninggalkan kami yang bertubuh telanjang terkapar di atas tanah. Ibu mendekat, aku bisa melihat itu. Dengan susah payah ibu mendekat untuk meraih aku yang sudah terkapar lemas setelah di gerogoti dengan ganas secara bergantian.
Sakit.
Kami tak menyiksa kakak pertama, kami hanya diam dan mungkin itu lah hal yang paling salah. Tapi ganjaran pengasingan itu sudah lah tepat lalu apa ini?
Ibu berusaha membongkar barang bawaan kami, mengeluarkan pakaian untuk menyelimuti tubuh ku. Dia tak memikirkan tubuh nya sendiri yang sudah babak belur dan juga menyedihkan.
Aku menyayangimu ibu.
Ibu berusaha membangkitkan tubuh ku memakai kan aku baju. Aku melihat mayat ayah yang terkapar tak bernyawa, air mata ku jatuh karena ini adalah hal yang paling menyedihkan.
"Ibu hiks hiks aku sudah tak ingin hidup lagi." Ibu terkejut namun ia tak bisa berkata-kata dan hanya memeluk tubuh ku kalau ikut menangis.
"Kau harus hidup." Itulah yang aku dengan untuk terakhir kali sebelum tubuh ibu berhambur menimpa ku. Apa yang terjadi, aku memeriksa nafas ibu yang sudah tak ada dan juga denyut nadi yang sudah tak berdetak.
__ADS_1
Tidak boleh, ini tidak boleh.
"Ibu jangan tinggalkan aku hiks hiks. Ibu!!!!"
*
Waktu berlalu dengan aku yang terus tinggal di hutan tanpa pergi ke desa. Aku menatap 2 kuburan tempat orang yang aku cintai di kuburkan. Jangan tanya lagi siapa yang mengubur, tentu saja aku.
Aku bahkan sudah menggali kubur ku sendiri, nanti jika aku mati aku berharap aku mendapat pertanda agar aku bisa menguburkan diri ku sendiri.
Sial
Ini sangat sial, ternyata para penjahat itu meninggal kan benih dalam perut ku yang kini sudah mulai membengkak. Aku sudah bersusah payah untuk membunuh anak itu, tapi tetap saja anak itu tak mau gugur.
Apa yang harus aku lakukan? Aku tak punya apa-apa, tak mungkin bagiku untuk membesarkan anak ini.
Semua usaha sudah aku lakukan, tapi yang aku dapat adalah perut ku semakin membesar. Bagaimana ini? Apa aku harus meminta bantuan kakak pertama? Tapi melihat tak ada yang mencari kami karena tak mengirimkan kabar, sepertinya mereka tak akan peduli.
Ini lah yang terjadi aku melahirkan anak itu, anak perempuan yang cantik, tapi tetap saja aku tak bisa menghidupi nya karena aku tak punya apa-apa.
"Kau berhak untuk bahagia. Hiduplah demi aku." Aku menangis menciumi kepala anak ku yang masih berlumuran darah. Dengan tertatih aku berjalan, rasa perih dari ************ ku tak membuat tekad ku pudar.
Aku membawa anak ku pergi ke bibir hutan, di sana aku melihat ada penampungan anak jadi aku menaruh anak ku di sana. Aku bahkan melihat sendiri saat anak ku di bawa masuk kedalam.
"Maafkan aku." Aku kembali ke hutan, membawa sebuah tali lalu aku mengikatnya di pohon. Aku ingin semuanya berakhir. Aku ingin mengawasi anak ku.
Sakit. Ini sangat sakit, ketika tali itu perlahan-lahan menarik kepala ku yang bergelantungan.
Aku mati.
Dan aku bahagia karena bisa melihat anak ku berkembang dengan arwah ku yang akan selalu mengikutinya.
__ADS_1
tbc