
Aku yang sudah mati mulai berterbangan kesana-kemari mencari anak ku yang aku titip kan di penampungan. Aku melihat dengan mata ku ketika mereka memperlakukan anak ku dengan tak baik. Mereka membiarkan anak ku kelaparan dan juga sakit.
Bisa di bilang aku menyesal karena sudah meletakkan anak ku di sana dan malah mengakhiri nyawa ku setelah melihat realita yang sebenarnya.
Aku datang manatap dia yang sedang tercengang, entah anak ku ini bisa melihat arwah seperti ku tapi aku senang ketika melihat senyuman manis dari bibir mungil nya. Aku menghiburnya dengan terus berada di sisinya hingga suatu hari ketika anak ku berumur 5 tahun ia di campakkan karena tak memiliki kekuatan sihir.
Aku ingin marah tapi tak bisa, aku selalu berada di dekat anak ku di hutan tempat aku pernah tinggal. Anak ku memakan apa saja yang dapat di makan, baik itu tumbuh-tumbuhan maupun hewan kecil.
Hingga pada suatu hari ada wanita tua yang mencari kayu bakar di hutan dan bertemu dengan Ana. Yah nama anakku Deana Sistina. Mereka yang memberi nama itu pada anak ku yang aku sendiri tak tahu artinya.
Wanita tua itu tampak mendekat pada Ana lalu bertanya " Mengapa kau ada di hutan sendirian.? Apa kau tersesat? Dimana rumah mu.?" Tanya wanita tua itu dan Ana hanya diam.
"Apa kau tidak punya keluarga.?" Tampak Ana mengangguk kan kepalanya, aku melihat wanita tua itu membawa Ana pergi dari hutan menuju sebuah gubuk. Ternyata itu tempat tinggal wanita tua itu.
Aku senang karena sekarang Ana bisa hidup dengan baik walau wanita tua itu sering sakit dan Ana harus pergi mencari makanan.
Sewaktu kecil Ana tidak terganggu akan kehadiran ku, tapi entah mengapa beberapa hari ini ia sangat terganggu melihat ku. Aku tak peduli, yang terpenting bagiku adalah aku bisa mengawasi anak ku walau dari alam yang berbeda.
Hingga suatu hari wanita tua itu meninggal karena sakit, yah kalau sudah ajal mau bagaimana lagi. Ana begitu terpukul ketika keluarga satu-satunya pergi meninggalkan nya. Ingin rasanya aku berkata "Aku disini, aku ibu mu, aku keluarga mu. Jangan bersedih." Tapi itu semua hanyalah keinginan karena bisa saja anak ku akan membenci ku karena sudah menelantarkan nya.
Hingga bertahun-tahun Ana hidup sendirian tak ada teman atau apalah itu. Aku melihat ternyata anak ku bisa membuat obat, aku sangat senang setidaknya kalau ia sakit ia bisa mengobati diri nya sendiri.
Namun sepertinya hanya aku yang senang, tampak anak ku tak senang karena ia di perlakukan tak baik oleh masyarakat meski ia bisa mengobati orang lain. Aku melihat dia yang ingin mengakhiri hidupnya aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Bagaimana pun anak ku harus hidup dan mati sewajarnya bukan seperti aku yang mati mendahului kehendak pencipta.
Aku selalu menakutinya ketika ia pergi dari rumah dengan niatan bunuh diri. Aku mengubah wujud ku menjadi mengerikan, tapi Ana tidak takut. Aku terus berusaha semampu ku ketika ia terjun dari dari tebing aku menggunakan sihir yang tersisa untuk menolongnya meski aku tahu akibatnya adalah tubuh ku akan perlahan-lahan menghilang.
__ADS_1
Aku melihat dia marah pada ku tapi aku tak peduli karena aku lebih peduli dengan kehidupan nya.
Sampai pada suatu hari aku dengar dia sudah menikah, aku mendatangi mimpinya jujur padanya siapa aku sebenarnya. Aku senang karena dia bahagia meski bahagianya bersama dengan anak dari kakak pertaman. Aku tak membenci mereka hanya saja ada perasaan sakit ketika mengingat mereka.
Aku tak bisa melihat anak ku bahagia atau tidak karena ku tak bisa pergi terlalu jauh dari hutan, tapi dengan bertemu anak ku di mimpi aku dapat mengetahui kalau anak ku bahagia.
Flashback off
Ana memeluk tubuh Viona dengan erat sambil terisak membayangkan betapa mengerikannya hidup yang di jalani oleh ibunya. Ia tak benci pada ibu nya yang sudah membuang nya, ia memahami maksud perlakuan ibu nya.
"Aku menyayangimu ibu." Ucap Ana.
"Aku juga, semoga kau bahagia selamanya bersama anak dan keluarga baru mu." Ucap Viona mengecup kening Ana.
"Itu karena ibu yang menguasai hutan ini, bunga-bunga yang langkah itu adalah tempat ibu dan keluarga ibu mati. Hanya orang-orang yang ibu kehendak yang boleh memetik bunga itu. Jika ada yang memaksa untuk memetik bunga itu ibu akan membawanya mati bersama ibu dan menggemakan nama Viona. Dari situlah para warga dan lainnya mulai menyebut hitam ini dengan hutan Viona." Jelas Viona.
"Hehehe ibu kau sangat cantik." Ucap Ana mengelus pipi dingin Viona.
"Kau juga."
********
Di kehidupan nyata sudah berhari-hari Ana belum bangun dari pingsannya, semua orang panik karena tak ada tabib yang bisa membangunkannya. Denise dan Delisa tak berhenti menangis hingga membuat orang istana kewalahan.
"Ibu hiks hiks bangun, Lisa janji nanti kalau ibu bangun Lisa akan sering mandi." Ucap Delisa terisak-isak, mata nya sudah membengkak karena terus menangis. Sedangkan Denise tak kalah terisak nya juga karena bagaimanapun ia adalah anak kecil yang tak sanggup kalau orang tuanya kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Ana bangun lah, mengapa kau bisa seperti ini.?" Tanya Alex dengan lirih.
"Hahahaha hahahaha hai semuanya."
Suara tawa menggelegar di dalam kamar Alex membuat semuanya terbangun dari duduknya dan mencari tahu suara siapa itu.
Wushhhh.
"Hai."
Semua orang membulatkan matanya melihat sesosok wanita yang merayap di dinding dengan belatung yang jatuh di lantai. Alex bahkan menutup mata Delisa agar tidak ketakutan.
"Nesya."
_
_
_
_
_
tbc
__ADS_1