
Alex masih saja memandangi pohon tinggi yang ada di hadapannya itu, perasaan ia tadi mendengar percakapan antara dua orang dan itu percakapan itu membuat Alex terkejut. Siapa orang yang tadi ada di atas pohon itu.?
"Yang mulia." Panggil Felix menghampiri Alex.
"Hmmm."
"Semua sudah selsai, para tabib sudah di kirim ke wilayah blok timur dan para perusak itu sudah di ringkus." Ucap Felix.
"Baiklah ayo kita ke kerajaan Hunter terlebih dahulu untuk berpamitan pulang. Aku sangat lelah." Ucap Alex berjalan menuju kereta kuda.
"Baik yang mulia."
Felix dan Alex pergi menuju istana Hunter untuk berpamitan pulang. Alex merasa sangat lelah padahal belum satu hari ia melakukan kegiatan, rasanya kejadian-kejadian aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Sesampainya di istana, Alex disambut oleh petinggi kerajaan dengan sopan dan hormat. Alex memilih cuek dengan para penjilat itu yang bersikap ramah di hadapannya dan bersikap seperti orang yang paling suci di belakangnya.
"Dimana raja kalian.?" Tanya Alex sembari duduk di singgasana yang di siapkan khusus untuknya.
"Aku disini." Ucap Arsley yang tiba-tiba muncul di iringi angin yang lembut.
"Hmmm aku ingin pulang." Ucap Alex cuek.
"Yah pulang saja." Dengan santai Arsley menjawab dan duduk di hadapan Alex.
"Cih."
"Apa anda akan pulang sekarang.?" Ucap Arsley kembali sopan ketika melihat para petinggi kerajaan masuk ke ruangan.
"Hmmm." Pertanda iya dari Alex Arsley pun mengangguk paham.
"Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku sangat lelah dan aku ingin segera kembali karena masih banyak urusan."
"Jangan lupa untuk mengirim para pembuat onar itu ke istana karena aku sendiri yang akan menghukum mereka." Seraya berdiri Alex memberikan sebuah belati sebagai hadiah pertemuan pada Arsley.
"Tunggu sebentar yang mulia." Cegah Arsley menghentikan langkah Alex yang ingin keluar ruangan.
"Hmmm.?"
"Ada yang ingin saya katakan pada anda hanya berdua saja." Ucap Arsley penuh permohonan.
"Aku tak punya waktu, lain kali saja." Alex tak mendengarkan permohonan Ars Dan memilih melanjutkan langkah kakinya.
"Apa anda tidak akan menyesal.?" Tanya Ars masih belum menghentikan langkah kaki Alex yang semakin menjauh. Dengan cepat Ars mengejar Alex, ini adalah satu-satunya kesempatan ia menebus kesalahannya karena telah berbohong selama bertahun-tahun dan membuat sebuah keluarga hidup tanpa ayah dan suami. " Ini tentang permaisuri." Teriak Arsley menggema di ruangan membuat langkah kaki Alex terhenti seketika dan menoleh menatap tajam ke arah Arsley.
"Biarkan saya bicara sebentar jika anda memang masih peduli dengan istri anda."
Deg
__ADS_1
Alex memutar langkah kakinya mendekat pada Arsley dengan cepat ia memukul Arsley dengan satu kepalan tangan nya membuat semua orang yang ada di ruangan terkejut dan memilih menunduk.
"Apa yang kau sembunyikan.?" Tanya Alex mencengkeram kerah baju Arsley dengan kuat, tak ada perlawanan maupun luapan amarah dari Ars yang ada hanya seulas senyuman sakit terpancar dari raut wajahnya yang menandakan informasi yang akan ia sampaikan akan membuatnya sakit melebihi satu pukulan Alex.
"Aku sudah bilang untuk berbicara berdua saja, tapi kau tak mendengarkannya." Ucap Arsley pelan. Dengan kasar Alex melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Arsley dan membantu Arsley berdiri.
"Kosong kan tempat ini dalam waktu 5 detik." Bentak Alex yang membuat seisi ruangan panik berlomba berlari bahkan ada yang sampai terjatuh karena saling bersenggolan." Felix kau juga.!" Ucap Alex.
"Baik yang mulia." Ucap Felix berjalan keluar dan menutup pintu lalu berjaga agar tak ada yang masuk ke dalam.
Tinggal lah Alex dan Arsley saja di dalam dengan sebuah kesenyapan dan tekanan. " Katakan.!" Ucap Alex dengan nada datarnya.
"Maafkan aku.!" Ucap Arsley penuh permohonan.
"Kalau kau hanya ingin berbasa-basi lebih baik mati saja kau sekarang." Ucap Alex kesal.
"Alex."
"Ayah." Panggil seorang anak perempuan yang keluar dari sebuah ruangan, dengan langkah kecilnya ia berlari meynunu Alex dan memeluk kaki Alex dengan manja.
Deg
Flashback on.
"Paman akan menahan nya." Ucap Arsley berusaha menyakinkan Denise.
"Baiklah."
"Kalau bukan aku siapa lagi.?"
"Delisa."
"Tidak boleh kalau nanti ayah tak menerima kami lalu ia melukai Delisa bagaimana.?" Ucap Denise yang tak setuju dengan ide Arsley.
"Dia tak sekejam itu, maafkan paman yang terlalu melebih-lebihkan." Ucap Arsley merasa bersalah.
"Sudah ku duga paman terlalu banyak membohongi kami." Ucap Denise.
"Maaf.!"
"Apa paman menyukai ibu.?"
Deg
"Denise."
"Kalau paman menyukai ibu aku tak masalah, hanya saja ibu masih punya suami dan kami butuh ayah yang sesungguhnya, tapi jika nanti ayah menolak kami aku akan dengan senang hati menerima paman sebagai ayah kami." Ucap Denise dengan bijak membuat hati Arsley menghangat.
__ADS_1
Sayangnya Alex pasti tidak akan menolak kalian.
"Yasudah ayo kita bawa Delisa." Ucap Arsley.
"Mengapa bukan aku saja?" Tanya Denise.
"Karena kau tak mirip dengan ibu ku, kau mirip dengan ayah mu." Ucap Arsley.
"Apa salahnya.?" Tanya Denise tak suka.
"Salahnya adalah Alex kurang suka melihat seseorang yang mirip dengannya, tapi kalau mirip dengan ibu mu dia paling suka." Ucap Arsley.
"Ck, menyebalkan." Gerutu Denise.
"Ayo jangan buang waktu lagi, kalau terlambat ayah mu akan pulang dan sangat sulit untuk menemuinya kalau sudah berada di istana."
"Baiklah."
Arsley dan Denise pun pergi kembali kerumah menemui Isti dan Delisa, rapatnya ingin membawa Delisa. Sesampainya di rumah, Denise dan Arsley dapat melihat Isti tengah duduk di depan rumah bersama Delisa.
"Denise." Panggil Isti memeluk anak laki-laki nya dengan khawatir.
"Ibu aku harus membawa Delisa untuk bertemu ayah." Ucap Denise membuat Isti tampak tak setuju.
"Tidak boleh, lupakan ayahmu dia itu jahat." Ucap Isti.
"Ibu, ayah tidak jahat. Kita bahkan belum pernah bertemu dengan nya, tapi mengapa ibu mengatakan ayah jahat.?" Ucap Denise.
"Ars katakan pada Denise kalau ini semua berbahaya." Ucap Isti memohon.
"Sebaiknya kau mengizinkan kami untuk membawa Delisa karena dengan Delisa Alex pasti akan mendengarkan ku." Ucap Arsley.
"Tidak, aku tidak mengizinkan nya." Ucap Isti memeluk erat tubuh Delisa.
"Ibu aku ingin bertemu ayah." Ucap Delisa di dalam pelukan.
"Tidak ada ayah nak, itu semua tak benar." Ucap Isti.
"Cukup, sampai kapan kau mengatakan kalau ayah mereka tak ada sedangkan kau sudah tahu kalau mereka masih punya ayah. Jika nanti Alex menolak kalian ada aku yang akan menerima kalian ada aku yang akan melindungi kalian. Percayalah " Ucap Arsley memohon.
"Baiklah." Ucap Isti yang akhirnya pasrah memberikan Delisa pada Arsley.
"Denise kau di sini saja temani ibu mu. Biar Delisa paman yang urus." Ucap Arsley menggendong Delisa dan kemudian pergi.
Semoga ayah menerima kami.
tbc
__ADS_1