Love In The Darkness

Love In The Darkness
Episode 8


__ADS_3

Ana mulai mendekat dan terlihat pria itu ingin meminumnya.


Ana langsung berteriak dan menghentikan gerakan pria itu.


"TUNGGU!!! JANGAN DI MINUM!!!!!"


Sedangkan Nathan hanya tersenyum menyeringai.


_____________________________________________


Semua orang menoleh pada sumber suara teriakan. Alex hanya mengerutkan keningnya, hah gadis itu lagi!


"Apa yang kau pikirkan nona? Kau tahu kau sudah tak sopan pada yang mulia" Ucap salah seorang petinggi.


"Aku hanya menghentikan dia untuk tidak meminum obat itu, karena itu akan memperparah lukanya." Ucap Ana santai.


Sedangkan di sisi lain


"Paman itu dia, gadis itu yang sudah mengobati ku!" Bisik Cia.


Nathan mengangguk senang, akhirnya umpan telah termakan.


"Apa hak mu hah? Kau hanya rakyat jelata yang tak tahu apa-apa dan beraninya kau mengatakan bahwa ramuan ku itu bisa memperparah luka putra mahkota!" Ucap Pria yang membuat ramuan itu marah.


"Aku hanya mengatakan saja! Jika kalian tak percaya yasudah, aku tak peduli!" Ucap Ana cuek.


Ana memutar balik langkah nya dan ingin pergi, namun Nathan langsung menghentikan nya.


"Tunggu!!"


Langkah kaki Ana berhenti dan ia menoleh ke belakang, melihat Nathan tengah berdiri dari singasananya.


"Kau tak bisa pergi begitu saja nona! Kau sudah mengatakan bahwa obat itu akan memperparah, jadi kau harus membuktikan nya! Jika tidak kau akan di tuduh sebagai pencemar nama baik orang lain dan berhak di hukum." Ucap Nathan tegas, sedangkan Cia hanya menepuk jidatnya saja.


Ana melihat ke arah Cia dan kemudian ia tersenyum smirk. Akan ia katakan sebenarnya dalam hatinya ia sangat menyesal telah menolong gadis itu, seandainya ia membiarkan gadis itu mati pasti ini tak akan terjadi.


Cia yang di perhatikan seperti itu merasa tidak enak hati, bukannya membalas Budi malah ia membuat orang yang menolongnya dalam masalah, tapi ini demi kakak nya.


"Aku hanya mengatakan bahwa obat itu akan memperparah lukanya, jika kalian tak percaya aku tak peduli. Soal hukuman aku juga tak peduli!" Ucap Ana cuek.


"Kau sangat keras kepala!!! dasar tak tahu diri!! Kau berhak mendapatkan hukuman mati!" Ucap salah satu petinggi geram.


"Aku tak peduli!" Ucap Ana cuek.

__ADS_1


Alex yang melihat Ana begitu keras kepala hanya tersenyum menyeringai.


Menarik!!


"Nona! Aku beri kau pilihan! buatkan obat penawar itu dan kau akan bebas dan mendapatkan hadiah, atau hukuman!" Ucap Nathan tegas.


"Aku tak peduli!" Ucap Ana


"Baiklah kau yang memilih, prajurit bawa wanita itu ke sel tahanan, siksa dia karena tak mematuhi perintah dari rajanya!" Ucap Nathan tegas.


"Tunggu, tunggu paman! Mengapa seperti itu?" Sela Cia.


"Itu semua terserah paman Cia, tak ada yang bisa membantah meski itu kau!" Ucap Nathan.


Cia hanya bisa terdiam, seandainya ia tak mengatakan hal itu mungkin Ana tak akan seperti ini.


Ia hanya meneteskan air matanya melihat orang yang telah menyelamatkan hidupnya akan di bawa dan di siksa.


"Kakak! Apa ini tak berlebihan?" Sela Lucy yang tak tega. Meski ia tak mengenal Ana tapi ia sangat berterimakasih pada gadis itu, karena gadis itu sudah menyelamatkan hidup anaknya.


"Benar suami ku, ini sangat berlebihan. Dan kita juga harus ingat bahwa gadis itu telah menyelamatkan Cia, apa ini balasan yang pantas bagi seseorang yang telah menyelamatkan keluarga kita!" Sela Zania tak setuju.


"Tak ada yang bisa membantah perintahku, titah ku sudah bulat dan tak dapat di gugat!"


"Bawa wanita itu ke paviliun putra mahkota, dan kurung dia di sel tahanan dan siksa!!!"


Mereka tahu paviliun itu mempunyai sel yang sangat mengerikan dan siksaan di luar batas akal.


Jika mereka jadi Ana mereka akan meminta ampun dan membuat obat penawar itu. Dari pada harus ke paviliun putra mahkota.


Ana di bawa oleh dua prajurit menuju paviliun putra mahkota. Sedangkan anggota kerajaan menyudahi acara dan memilih memasuki istana karena ada yang ingin di perbincangkan.


"Ayah harap kau sudah memikirkan semuanya ini matang-matang Nathan, kau tahu seperti cerita Cia gadis itu tak takut mati, tapi jika ia mati maka harapan kita akan pupus!" Ucap Ronald tegas.


Nathan menghela nafas berat.


"Iya ayah, aku sudah memikirkan nya!"


Cia hanya bisa terdiam memikirkan siksaan apa yang akan di dapat oleh Ana, ingin rasanya ia datang melihat dan meminta maaf, ia sangat menyesal.


"Alex, siksaan nya terserah kau saja. Kau harus bisa membuat gadis itu mau membuat obat penawar itu!" Ucap Nathan.


Alex hanya mengangguk setuju tanpa bersuara sedikit pun.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita istirahat!" Ucap Nathan.


Semuanya mulai berdiri dan pergi ketempat masing-masing, begitu juga dengan Alex yang akan pergi ke paviliun nya.


"Kakak! Boleh aku ikut!" Ucap Cia penuh harap.


"Untuk apa Cia? Sebaiknya kau istirahat saja!" Ucap Alex.


"Cia mohon kak, biarkan Cia ikut!" Ucap Cia menangis.


Alex menghela nafas berat dan akhirnya mengangguk setuju.


Alex dan Cia kini pergi ke paviliun nya.


Setelah sampai di sana, Alex dan Cia langsung pergi ke sel tahanan atas permintaan Cia.


Saat Cia hendak masuk, ia mendengar suara cambukan yang lantang dari ruangan siksaan.


Air matanya menetes ketika melihat Ana yang tengah berlutut dan tangan yang di ikat merentang dengan tatapan kosongnya yang kini tengah di cambuki secara bertubi-tubi.


"Hentikan!!!!" Teriak Cia.


Para algojo itu menghentikan aksi mereka dan menunduk hormat.


Cia berjalan mendekat pada Ana yang hanya berlutut lemah, tak ada teriakan tak ada air mata yang ada hanya darah yang mengalir.


"Maaf kan aku hiks hiks hiks!" Ucap Cia melepas ikatan di tangan Ana lalu memeluknya.


"Maafkan aku, seharusnya aku membalas budi mu dengan baik bukan malah membuat mu seperti ini hiks hiks!"


"Kalau saja kau mau mengobati kakak ku, pasti kau tak akan seperti ini!" Ucap Cia.


Ana hanya tersenyum menyeringai mendengar perkataan Cia.


Perkataan ini adalah perkataan maaf atau perkataan mengancam.


Sungguh lucu.


"Ana tolong obati saja kakak ku dan setelah itu kau akan bebas, kau akan mendapatkan imbalan besar Ana aku janji!" Ucap Cia memohon, tapi tak ada respon sama sekali.


Cia terus berbicara berharap Ana akan merubah pikirannya, Alex sendiri geram melihat kebisuaan Ana yang tak merespon ucapan adiknya. Ia akan membuat gadis itu menyesal karena mengabaikan adiknya.


Karena Ana masih terus diam, Cia memilih untuk pergi dan memohon pada kakaknya agar membiarkan Ana istirahat, dan jangan lagi menyiksanya.

__ADS_1


Sedangkan Ana hanya tersenyum menyeringai.


tbc


__ADS_2