Love In The Darkness

Love In The Darkness
Episode 37


__ADS_3

"Tuan Albert."Panggil Marvin.


"Hmmm ada apa?" Tanya pria tersebut.


"Sepertinya Alex dan lainnya sudah menyadari kalau kita di balik semua ini." Ucap Marvin.


"Lalu." Ucap Pria itu.


"Apa kita tak langsung melaksanakan rencana B.?" Tanya Marvin.


"Ide bagus, baiklah ayo kita ke kamar Ana." Ucap pria itu berdiri dari tempat duduk nya dan menghilang menuju kamar Ana.


Ana yang sedari tadi belum juga bangun karena pengaruh bius yang di berikan Marvin cukup besar.


Sesampainya di kamar Ana, pria itu tersenyum smirk Dan mendekat lalu memegang tangan Ana. Ia perlahan-lahan membuka cincin pernikahan Ana dan memusnahkan cincin itu menjadi debu.


"Tenanglah sayang, nanti setelah kita menikah aku akan mengganti kan cincin murahan itu dengan cincin yang istimewa." Ucap pria itu mencium punggung tangan Ana.


"Baiklah kumpulkan semuanya.!" Perintah Alex.


"Baik tuan." Ucap Marvin menutup matanya lalu membaca mantra. Beberapa detik kemudian segerombolan pria berjubah hitam muncul dan menunduk di hadapan pria tersebut.


"Lakukan tugas kalian.!" Ucap Pria itu.


"Baik yang mulia." Ucap mereka serentak.


Mulailah pria itu dan beberapa orang tadi membaca mantra, pria itu tampak memegang kepala Ana yang sudah di kelilingi kabut hitam.


Sekeliling kamar di penuhi kabut dan rapalan mantra, membuat tubuh Ana bergetar dengan hebat.


Wushhhh


Kabut menghilang tandanya ritual sudah berjalan lancar, pria itu tersenyum puas melihat wanita yang terbaring di hadapannya.


"Bagaimana cara membuktikan nya?" Tanya pria tersebut.


"Kita bisa membangunkannya tuan." Ucap Marvin.


"Hmmm tidak perlu, biarkan saja aku yakin sihirnya berhasil." Ucap pria itu.


"Baik tuan." Ucap Marvin dan kemudian para pria berjubah hitam itu pun menghilang kecuali Marvin.


"Siapkan upacara pernikahannya sekarang, nanti setelah Ana sadar perintahkan para dayang untuk mendandani nya dengan cantik." Ucap pria itu.


"Baik tuan." Ucap Marvin kemudian menghilang di telan kabut.


"Kau akan menjadi milik ku sayang, akan menjadi milik ku. Ingatan mu mulai sekarang hanya ada aku saja, Aku mencintaimu." Ucap pria itu mencium kening Ana.


********


Wushhhh wushhhh


Angin bertiup sepoi-sepoi membuat rambut Alex berantakan namun Alex malah semakin tampan. Wajah tenang namun di dalam hatinya penuh akan ke khawatiran.


"Master." Ucap Felix yang baru saja datang.

__ADS_1


"Bagaimana Felix?" Tanya Alex tak sabaran.


Felix pun menganggukkan kepalanya pertanda semua berjalan lancar. Seulas senyuman lega terukir dari bibir Alex.


"Kapan kita akan bergerak ?" Tanya Nathan.


"Sekarang, kita harus bergerak sekarang. Samuel begitu terobsesi pada Ana jadi dia tak akan membuang waktu untuk melakukan hal aneh." Ucap Alex.


"Paman maafkan Alex, jika nanti.." Ucap Alex berlutut di hadapan Darian ayah Samuel.


Darian nampak tersenyum sendu sembari menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Alex, paman mengerti. Apapun nanti hasilnya paman akan terima." Ucap Darian tegas.


"Terimakasih paman." Ucap Alex berdiri dan dengan mantap memberi kode pada Felix sebagai perintah untuk segera bersiap.


********


Di sebuah hutan sekelompok pemburu tengah berkumpul dan beristirahat dengan hasil buruannya.


Gerombolan itu di pimpin oleh pangeran Arsley, tepatnya di bagian selatan daerah kerajaan Hunter.


"Yang mulia apa kita langsung kembali ke istana?" Tanya salah satu prajurit.


"Hmmm kalian semua pulang saja kecuali Marques." Ucap Arsley.


" Baik yang mulia." Ucap para prajurit itu.


Arsley dan Marquez orang kepercayaan Arsley pun pergi mengitari hutan tersebut untuk memeriksa apa ada sesuatu yang janggal atau tidak.


"Benarkah?" Tanya Arsley tak percaya, bagaimana bisa seorang wanita yang mempunyai suami yang hebat dan peka akan keadaaan bisa menghilang.


"Benar yang mulia dan terduga nya itu adalah pangeran Samuel." Ucap Marquez.


"Hmmm menarik, wanita itu memang sudah banyak yang mengincarnya ketika aku melihat nya. Banyak orang yang menginginkan dia mati." Ucap Arsley melanjutkan perjalanan nya.


"Menurut anda apa kita harus membantu.?" Tanya Marquez.


"Entahlah, tapi kalau mereka meminta bantuan baru kita akan membantu, kalau tidak yah kita jangan terlalu ikut campur dengan urusan mereka." Ucap Arsley.


"Baik yang mulia." Ucap Marquez.


"Marquez pulang lah, aku ingin melanjutkan patroli ku sendiri, bilang pada ayah aku akan pulang terlambat jadi jangan menunggu ku untuk makan malam." Ucap Arsley menghilang.


Marquez hanya bisa menurut dan memandangi dedaunan yang terbang tertiup angin, banyak sekali tanda tanya dalam pikirannya tentang tuan nya itu.


Saya harap anda bahagia yang mulia, saya tahu anda khawatir dengan wanita itu, tapi anda tak memperlihatkan nya pada saya. Saya harap anda akan mendapatkan yang lebih baik. Batin Marquez.


*****


"Tuan hari sudah mau menjelang malam, apa kita langsung kan saja acara pernikahannya.?" Tanya Marvin.


"Lalu Ana?" Tanya pria itu.


"Nona Ana belum sadar tuan." Ucap Marvin.

__ADS_1


"Haiizz mengapa begitu lama ha?" Ucap pria itu marah.


"Mungkin karena kodisi tubuh nona yang lemah dan sedang sakit jadi pengaruh bius itu sangat lah panjang." Ucap Marvin.


"Baiklah, perintahkan para dayang untuk mendadani Ana." Ucap pria itu.


"Baik tuan." Ucap Marvin.


Selang beberapa menit akhirnya Ana sudah di dandani dan sudah memakai gaun pengantin yang cantik.


Pria itu tersenyum saat melihat wajah imut yang tengah berbaring di atas ranjang itu, ingin rasanya ia segera memiliki wanita itu dan memiliki keluarga kecil dengan wanita itu dan semua keinginannya akan terwujud hari ini juga, tak akan ada yang bisa menghentikannya.


"Tuan kita mulai?" Tanya Marvin.


"Baiklah panggil semuanya kemari.!" Perintah pria itu.


Seorang pria tua sebagai orang yang akan menikahi pria itu dan dan Ana pun di seret masuk ke dalam ruangan.


"Ini keterlaluan, bagaimana bisa pernikahan akan sah kalau mempelai wanita belum setuju." Ucap pria tuan itu.


"Diam."Bentak Marvin.


"Ck,ck, Marvin jangan kasar. Kau tahu hari ini adalah hari yang bahagia untuk ku jadi jaga sikap mu." Ucap pria itu memperingati Marvin.


"Baik tuan, maafkan saya." Ucap Marvin.


"Dan kau, sebaiknya kau nikah kan aku dengan bidadari ku, itu kalau kau masih ingin melihat anak cucumu hidup dengan tenang." Ancam pria itu dengan nada santai.


Pria tua itu tampak menelan ludah kasar dengan wajah ketakutan.


"Ba baik yang mulia." Ucap pria tua itu ketakutan.


"Hmmm jadi mari kita mulai.!" Ucap Pria itu.


"Baik yang mulia." Ucap mereka serentak.


Pria itu pun mengambil posisi dimana ia akan berada di samping tubuh Ana yang di bantu berdiri dengan kekuatan sihir.


Pria itu tampak bahagia dengan senyuman manis yang selalu tercipta di wajahnya karena hari ini adalah hari yang tak bisa ia lupakan.


Hari ini adalah hari di mana kebahagiaan akan terukir di kehidupan pria itu.


"Baiklah Yang mulia Samuel Albert dan nona Deana Sistina. Mari kita mulai."


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.

__ADS_1


__ADS_2