Love In The Darkness

Love In The Darkness
Episode 9


__ADS_3

Karena Ana masih terus diam, Cia memilih untuk pergi dan memohon pada kakaknya agar membiarkan Ana istirahat, dan jangan lagi menyiksanya.


Sedangkan Ana hanya tersenyum menyeringai.


_____________________________________________


Ketika Cia dan Alex hendak keluar, Ana mulai membuka suaranya.


"Satu kata yang ingin aku sampaikan padamu! Yaitu menyesal!" Ucap Ana.


Cia membalikkan badannya, apa maksud nya? Apa Ana menyesal dan ingin mengobati kakaknya?


"Apa maksud mu Ana? Apa kau sekarang berubah pikiran?" Ucap Cia semangat.


"Aku menyesal karena sudah peduli pada orang lain, karena dari kecil sampai sekarang sikap peduli ku pasti akan di balas dengan sebuah penghinaan dan siksaan. Begitu juga dengan mu! Aku menyesal sudah memperdulikan mu, seharusnya aku meninggalkan mu dan tak peduli akan diri mu, karena aku pasti akan mendapat imbalan yang sama. Itulah mengapa aku tak ingin peduli lagi meski darah ku terus mengalir dan rasa perih merayap di tubuhku." Ucap Ana panjang lebar.


Senyuman Cia langsung pudar mendengar kata-kata Ana, air matanya kembali menetes memikirkan perkataan Ana.


"Mengapa aku tak mau mengobati kakak mu? Karena aku tahu aku akan mendapat imbalan yang lebih perih dari pada ini meski kalian berjanji memberikan aku setengah dari dunia ini." Ucap Ana dengan tatapan kosongnya.


"Cia ayo kita keluar, percuma saja berbicara padanya!" Ucap Alex menarik Cia paksa. Ia sangat geram dengan ucapan gadis itu.


Sebelum pergi Alex memberi kode pada para algojo untuk melanjutkan siksaannya.


Ia tak peduli ia akan mendapatkan obat penawar itu ataupun tidak. Ingin rasanya ia langsung membunuh wanita itu sekarang, tapi ia harus menunggu waktu yang tepat.


*******


Di sisi lain.


Sebuah ruangan gelap uang hanya di terangi oleh beberapa lilin saja membuat suasana ruangan menjadi remang-remang dan menakutkan.


"Yang mulia!!" Ucap salah seorang pria.


"Hmmm" Ucap orang itu.


"Saya mendengar bahwa kerajaan Diamond telah menemukan seorang gadis yang bisa membuat obat penawar itu, dan putri Cassia telah berhasil ia sembuhkan waktu putri Cassia menghilang!" Ucap pria itu.


"Oh menarik! Apa ia sudah membuat obat penawar itu pada putra mahkota?" Tanya orang itu.


"Belum yang mulia!"


"Mengapa?"


"Saya dengar gadis itu menolak membuat ramuan apapun, karena ia sudah mengalami kejadian dimana ia akan mendapatkan penderitaan setelah membantu seseorang!"


"Lalu dimana gadis itu?"


"Menurut informasi, gadis itu sedang ada di ruang sel tahanan dan menjalani siksaan agar dia mau membuat kan putra mahkota obat!"


"Hahahaha benar-benar licik!"


"Selidiki lebih lanjut, dan jika ada sela menuju gadis itu maka bunuh dia langsung agar laki-laki itu tak bisa di sembuhkan dan menderita kesakitan dan akhirnya matiii!!! Hahahahaha"


"Baik yang mulia!"


********

__ADS_1


Di paviliun Alex


Hari sudah berganti malam, semua orang sudah tertidur pulas dan masuk ke alam bawah sadar masing-masing.


Alex berjalan menuju ruangan tahanan, ia ingin melakukan sesuatu malam ini.


Ketika ia masuk ruangan itu, ia tersenyum puas melihat seorang gadis yang tengah di cambuki tanpa henti.


"Cukup!!"


"Pergilah!" Perintah Alex.


Saat para algojo itu sudah pergi, Alex mendekat pada Ana dan berlutut agar lebih mudah berkomunikasi, ia mengangkat dagu Ana dan melihat wajah pucat dan tatapan kosong yang lemah.


"Kau tahu! Kau itu begitu keras kepala!" Ucap Alex.


Ana hanya terdiam dan menatap kosong ke depan.


Sebenarnya ia sangat merindukan kehadiran seseorang dan entah mengapa seseorang itu tak hadir lagi setelah ia bangun dari tidurnya, ia sampai tak memperdulikan ratusan cambukan yang terhantam di tubuhnya.


"Bagaimana kalau aku mempermudah Kematian mu?" Ucap Alex mengeluarkan belatinya.


"Kau tak takut mati bukan?"


Ana hanya diam dan tak tertarik untuk menjawab membuat Alex menjadi geram.


Alex menyayat lengan Ana hingga mengeluarkan darah, kemudian ia menghisap darah itu begitu lama.


Rasa perih menjalar di tubuh Ana tapi Ana hanya diam menikmati siksaan itu.


Setelah itu Alex melepaskan hisapannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ana dan mulai berbisik.


"Menjijikan!" Ucap Ana membuat Alex terkekeh geli.


"Kau tahu! jika kau tak takut mati, maka kau pasti punya satu ketakutan dan aku tahu apa itu!" Ucap Alex menyeringai licik.


"Aku tak peduli!" Ucap Ana cuek.


Alex tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha benarkah? Mau coba? Baiklah!"


Alex mendekatkan wajahnya menatap lekat mata Ana, dan.


Cup


Alex mencium bibir Ana membuat Ana terkejut dan berusaha untuk memberontak tapi tangannya terikat.


Alex terus memperdalam ciumannya dan mengigit bibir Ana hingga mengeluarkan darah dan menghisap darah itu dengan rakus, air mata Ana jatuh begitu saja.


Kapan?


Kapan semua ini berakhir?


Aku sudah tak tahan lagi!


Ana hanya bisa pasrah ketika ia mulai kehilangan oksigen. Ia mengingat perkataan wanita itu dalam mimpinya

__ADS_1


🌹🌹🌹


"Aku tau apa yang kau pikirkan Ana! Setiap kau keluar dari rumah kau pasti berniat membunuh diri mu sendiri, dan aku tak mau itu terjadi. Aku tak mau kau mati dengan cara yang sama seperti ku!" Ucap Viona sendu.


"Mengapa kau peduli dengan ku. Aku hanya ingin mengakhiri penderitaan ku ini saja, aku sudah lelah!" Ucap Ana sedih.


"Setiap kehidupan ada pahit dan ada juga manisnya, kau hanya perlu mensyukurinya dan saat semua kepahitan berakhir pasti rasa manis akan menghampiri mu!" Ucap Viona


"Aku sangat menyayangimu Ana. Jadi kau tak sendiri lagi, ada aku yang akan mendengar semua kisah mu dan menemani mu Ana!" Ucap Viona tersenyum.


Hiks hiks hiks aku merindukanmu!


Kau bilang akan menemaniku!


Walau itu hanya mimpi, tapi aku yakin itu pasti kau!


Mana janji mu?


Mengapa kau membiarkan aku sendiri lagi?


Kau bilang kau menyayangiku hiks hiks


Aku mohon!!!


Datanglah!!


Ibu!!!


Ana mulai merasakan kepalanya pusing dan berat, matanya yang tak bisa terkontrol lagi dan akhirnya Ana jatuh pingsan.


Alex melihat itu tersenyum puas, ia melihat bibir Ana yang membengkak karena ulahnya.


Jujur saja ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi ternyata itu menyenangkan dan ia akan melakukannya lagi, lagi, lagi dan lagi.


Alex memerintah kan para pelayan untuk membawa Ana ke salah satu kamar di paviliun. Ia juga memerintahkan agar Ana di bersihkan karena ia akan mulai bermain-main besok dan ia sudah tak sabar untuk menunggunya.


Alex meninggalkan kamar tempat Ana berada dan menuju kamarnya.


Sedangkan Ana masih menutup matanya dengan erat dan tengah bermimpi indah bersama dengan orang yang ia rindukan.


Meski hanya di mimpi, itu semua sudah cukup baginya, karena ia dapat mencurahkan isi hati dan cerita hari ini pada ibunya.


Aku mencintaimu Ibu!!


****


**Tetap sayangi ibu dan ayah mu meski kadang sikap mereka berlebihan. Karena semua itu sangatlah berharga dan akan kau sadari ketika mereka sudah tak ada lagi.


Meski mereka sudah di ganti dengan orang terhebat sekalipun, itu akan terasa berbeda dengan orang yang melahirkan dan menafkahi kita.


Jangan lupa selalu do'akan mereka dalam shalat mu (menurut kepercayaan masing-masing) agar mereka di beri kesehatan dan umur panjang.


Jangan hanya bisa berkoar-koar saja jika kamu mencintai kedua orang tua mu tapi buktikan dengan cara membuat mereka tersenyum bahagia karena mu.


Bukan tangis pilu karena kelakuan bejat mu.


Semoga keluargaku dan keluargamu selalu di beri kesehatan dan rezeki yang halal bagaikan air yang mengalir.

__ADS_1


Aamiin**


tbc


__ADS_2