
Setelah masuk.
Terlihat Olivia terbaring di ranjang rumah sakit dengan kain putih yang menutup seluruh tubuh nya, hanya wajah nya yang terlihat, dengan wajah putih pucat, mata tertutup, dan seluruh tubuh nya kaku.
Ryan terkejut dengan apa yang dia lihat, begitu juga Han-na.
"Tidak, ini tidak mungkin"
Ucap Ryan tidak percaya dengan mata yang mulai memerah.
Mendekati Dokter laluuu..
"Apa yang kau lakukan hah, kenapa kau menutup wajahnya dengan kain putih itu"
Ucap Ryan mencengkram kerah Dokter itu.
"Maaf Tuan anda siapa?"
"Katakan saja kenapa kau menutup wajahnya dengan kain itu hah, kau ingin main-main dengan ku"
"Maaf Tuan, jaga perilaku anda, ini adalah Rumah sakit, jadi kami mohon anda tidak membuat keributan, dan lebih baik anda keluar"
Ucap Dokter melepas cengkraman Ryan.
"Apa kau bilang, kau menyuruh aku keluar, sementara yang berbaring itu adalah kekasih ku"
"Jika anda ingin tetap di sini, kami mohon hargai kami di sini sebagai penanggung jawab rumah sakit ini, untuk orang yang sudah meninggal, itu di luar kendali kami, jadi kami mohon anda untuk bisa mengontrol emosi anda, dan tidak menghalangi kami ketika sedang bekerja"
Dokter itu pun pergi dan menyuruh Suster untuk menutup wajah Olivia, dan suster pun menuruti apa yang Dokter itu suruh.
Ryan merasa tidak berdaya, lemas dan hampir tidak bisa untuk menahan tubuhnya.
Melihat Ryan seperti itu, kemudian Han-na langsung membantu Ryan dan menenangkan nya.
"Ryan calm down"
Ryan tidak menghiraukan Han-na, namun langsung menghampiri Oliv yang terkujur kaku.
"Oliv, kenapa kau datang jika akan pergi lagi, kau menyakitiku untuk yang kedua kalinya, kau membuatku hancur berkeping-keping sekarang, Aldi memang benar, jika semua ini adalah salah ku, tapi ku mohon maafkan aku, aku berjanji jika kau bangun aku akan selalu ada di samping mu, aku akan membahagiakan mu, ku mohon bangun Oliv, jangan membuatku semakin terpuruk"
Ucap Ryan bergetar menahan tangis.
"Ryan, i'm so sorry for this, but please Don't blame yourself, this is all destiny that we can't avoid"
(Ryan aku turut berdukacita untuk ini, tapi ku mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini semua adalah takdir yang tidak bisa untuk kita hindari)
Ryan menengok ke arah Han-na, dengan ke adaan yang seperti ini, Ryan hampir lupa bahwa dia sedang bersama Han-na.
Dengan lesu Ryan berkata.
"Suster, urus semua kebutuhan yang di butuhkan, biar aku yang urus semua administrasi nya"
"Baik Tuan"
Kemudian Ryan pergi dengan menarik tangan.
Setelah menyelesaikan administrasi, Ryan kemudian membawa Han-na masuk ke dalam mobil.
Tidak ada percakapan, semua terasa canggung, apalagi keadaan Ryan yang seperti ini membuat Han-na enggan berbicara kepada Ryan.
Ryan mencoba untuk tegar, namun di dalam pikiran Ryan terbayang semua masa-masa bersama Oliv, tentang semua kenangan yang telah dia lakukan ketika sedang bersama Oliv, Bahkan hari terakhir itu, hari dimana Ryan mencium Oliv dan ingin selalu bersama Oliv.
Apa itu semua pertanda jika kau akan pergi Oliv ?.
Ryan masih merasa tidak percaya jika Oliv akan meninggalkan nya secepat ini, Ryan merasa tidak terima dengan semua yang terjadi, apalagi memang semua adalah salah nya, jika saja waktu itu Ryan menjemput Oliv tepat waktu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi begitu pikir Ryan, Ryan menyesali semua yang telah dia lakukan.
Terlintas dipikiran Ryan untuk menyalahkan Han-na, karena memang Han-na adalah alasan Ryan lupa untuk menjemput Oliv, tapi Ryan menepis nya, karena benar, semua ini sudah menjadi takdir yang sudah di tetapkan.
Han-na bingung kemana Ryan akan membawanya, tapi setelah tau jalan yang Ryan lewati adalah jalan menuju hotel Han-na pun tenang.
Setelah beberapa menit kemudian, sampai di hotel, Ryan menarik tangan Han-na dengan lesu, lalu berjalan menuju kamar Han-na.
Awalnya Ryan akan langsung pergi, namun Han-na memaksa Ryan untuk minum terlebih dahulu dan menenangkan diri nya.
"please drink it"
Ryan tidak menjawab tapi meminum air itu.
__ADS_1
Ryan menatap Han-na sendu lalu berkata.
"let's break up now"
(mari kita putus sekarang)
Han-na terkejut.
"What? what do you mean ?"
(apa? apa maksud mu?)
"I know, i'm not a good man Han-na, i've hurt your feelings many times, but i beg you, give me time to forget all this, because Olivia's death made me very shocked and devastated, i'm at fault in this matter, so I hope you can understand"
(Aku tau, aku memang bukan pria yang baik Han-na, aku sudah sering melukai perasaan mu, tapi kumohon beri aku waktu untuk melupakan semua ini, karena kematian Olivia membuatku sangat terkejut dan terpukul, aku bersalah dalam masalah ini, jadi ku harap kau bisa mengerti)
Han-na memalingkan wajahnya, lalu air mata nya terjatuh.
"forgive me"
(maafkan aku)
Han-na hanya menangis.
"I'll be back, when I can forget all this, please"
(aku akan kembali setelah aku bisa melupakan ini semua, ku mohon)
Han-na terus menangis lalu berkata.
"Go away, you don't need to come back, you always think my heart is a toy Ryan"
(Pergilah, kau tidak perlu kembali, kau selalu menganggap hatiku ini adalah sebuah mainan Ryan)
"Please Han-na"
"Go away"
"Han-na"
"Please get out of here"
Ryan pun pergi, lalu Han-na pun menutup pintu nya dengan keras.
Ryan sebenarnya tidak tega dengan berkata seperti itu, tapi dengan kejadian ini membuat hati Ryan menjadi hancur dan tidak karuan.
Ryan memasuki kamarnya, setelah melihat ke dalam, terlihat ada yang aneh, semua barang Aldi tidak ada, lalu Ryan berpikir untuk membuka lemari pakaian, dan benar saja tidak ada satu pun pakaian Aldi yang tersimpan.
Ryan terkejut.
"Aaaarghh, shiitt, you bastrad, hah..hah..hah"
"aaaarghh"
Dengan amarah yang tak terbendung Ryan pun memukul kaca lemari yang ada di hadapan nya,
"Kenapaaaaa!!!"
Ryan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapaaaa Tuhaaan, KENAPAAA kau mengambil orang-orang yang seharusnya ada di sisi ku saat ini"
Setelah lama menangis dan membalut luka di tangannya, Ryan pun segera bergegas menuju Rumah sakit.
***
Di Rumah sakit.
Terlihat Orang tua Oliv sedang menangisi kepergian Oliv, Aldi pun terlihat di sana, sedang menenangkan kedua orang tua Oliv, kemudian Ayah Oliv pun bertanya kepada Aldi bagaimana kronologis kejadian itu, lalu Aldi menceritakan semua nya, bahkan tentang Ryan yang lupa untuk menjemput Oliv.
Ayah Oliv, Tuan Tirta Wijaya dia pun geram karena kelalaian Ryan yang tidak becus untuk menjaga putri nya.
Setelah melihat Ryan, Tuan Tirta pun langsung memukul Ryan dengan sangat keras.
Bhuuukk...
"Aaaa"
__ADS_1
Ryan hanya diam, menerima pukulan Tuan Tirta begitu saja, karena mungkin saja Aldi sudah menceritakan semua kejadian ny, dan Ryan pantas mendapatkan itu, pikir Ryan.
"Kau tau, kenapa aku memukul mu hah?"
Ryan hanya menunduk, lalu Tuan Tirta pun mencengkram kerah baju Ryan.
"Aku telah melakukan kesalahan dengan mempercayakan mu untuk putri ku, kesalahan ku yang kedua, aku mengijinkan nya untuk mencari mu dan menyusul mu dimana pun kau berada, kau dan Ayah mu sama saja, aku menghindari Ayahmu agar keluarga ku tidak dia sakiti, tapi sekarang kau, kau bahkan lebih dari menyakitinya, kau telah membuat dia tiada, hah..hah kau tau, dia begitu yakin jika kau akan menjadi takdir nya yang akan hidup bersama nya selamanya, tapi kau yang membuat harapannya hancur seketika, aku bersumpah kelak, kau akan kehilangan orang yang kau cintai juga seperti aku, ingat itu"
Ucap Tuan Tirta kepada Ryan dengan penuh amarah.
Lagi-lagi Ryan hanya diam, dan sesekali meneteskan air mata.
"Satu lagi, jangan pernah menyentuh putri ku meskipun untuk yang terakhir kali, lebih baik kau pergi, sebelum aku menghabisi mu"
"Ku mohon ijinkan aku melihat Oliv, untuk yang terakhir kalinya Tuan"
"Tidaak !! sudah ku bilang kau pergi saja dari sini"
"Tapi Tuan"
Tuan Tirta akan memukul Ryan kembali, namun di tahan oleh Aldi.
"Tenang paman, aku yang akan menghandle nya"
Ucap Aldi, kemudian menghampiri Ryan.
"Pergilah, semua orang tidak membutuhkan mu di sini"
Kemudian Aldi pun mengajak kedua orang tua Oliv pergi dari tempat itu.
Hancur berkeping-keping perasaan Ryan saat ini, melihat kejadian yang sedang terjadi membuat Ryan sangat terpuruk.
Ryan pergi ke suatu tempat yang sepi, meratapi semua yang telah terjadi, sesekali mengarahkan pandangannya yang kosong pada langit-langit di atas.
Percuma untuk menangis saat ini, semua orang menyalahkan ku, semua orang pergi dari ku, aku sendiri sekarang, hahaha menyedihkan bukan.
Ucap Ryan sendu.
Tiba-tiba terlintas dipikiran Ryan tentang kejadian yang menimpa Oliv.
Kemudian Ryan bergegas pergi untuk menuju ke lokasi dimana Oliv tertembak.
***
Lokasi penembakan.
Ada beberapa polisi yang sedang menyelidiki kasus yang terjadi pada Oliv, Lalu Ryan menghampiri polisi itu.
"Maaf pak, perkenalkan, aku adalah teman dekat dari korban, bisa kah aku ikut menyelidiki kasus ini ?"
Ucap Ryan dengan yakin.
"Maaf, kami tidak bisa begitu saja percaya pada anda, untuk mencampuri penyelidikan ini, terkecuali jika anda memiliki bukti kedekatan anda dengan korban"
Ucap Polisi.
"Oh tentu saja, aku akan memperlihatkan nya"
Ryan pun segera mengambil ponselnya, lalu memperlihatkan Poto-poto nya saat bersama Oliv.
"Baiklah, anda bisa kami percaya"
Ryan tersenyum mendengar itu.
"Terimakasih"
Tiga hari penyelidikan kasus Oliv, polisi sudah menemukan beberapa informasi dan bukti-bukti dari pelaku penembakan Oliv.
Kemudian polisi pun menelpon Ryan, dan Ryan pun bergegas pergi ke kantor polisi.
***
Kantor polisi.
"Bagaimana perkembangan nya sekarang pak ?"
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG