
Tiba-tiba Han-na menjerit kesakitan ketika tiba-tiba sesuatu masuk ke dalam Miss**** Han-na.
Ryan memompa dengan kasar, sehingga Han-na merasakan kesakitan, Han-na terus menjerit, sampai pada puncak *******, Ryan dengan sengaja mengeluarkan cairannya di dalam Miss*** Han-na.
Ryan pun tersenyum, lalu mencium kening Han-na, dengan tubuh yang masih tel***ang dan posisi tubuh masih menindih Han-na, kemudian Ryan pun tertidur, namun Han-na terus saja menangis, entah apa yang harus dia rasakan sekarang, senang, sedih, marah, benci, tapi dia pun mencintai Ryan, tapi kenapa Ryan harus melakukan itu dengan kasar, jika pun Ryan meminta, dia pun akan memberikan nya, tapi tidak seperti ini, begitu pikir Han-na.
Dengan sesekali memandang wajah Ryan, Han-na kembali menangis, mengingat semua yang telah Ryan katakan sebelumnya, jika Ryan harus mengakhiri hubungan ini, dan Ryan melakukan ini karena dendam nya pada Albert, Han-na menangis kembali, kemudian Han-na membanting tubuh Ryan yang sedang tertidur itu, kemudian Han-na mengambil pakaian lalu masuk ke kamar mandi.
Han-na terduduk lemas di bawah percikan air, sambil menangis dengan sesekali menyeka rambut nya yang basah karena guyuran air.
Percikan air kecil itu seperti sebuah saksi kehancuran Han-na, yang telah di hancurkan oleh laki-laki yang selama ini dia kagumi, yang dia cintai.
Telah Han-na jaga sekuat mungkin, bertahun-tahun berhubungan dengan Albert, tapi Albert sama sekali tidak pernah berani menyentuh tubuh Han-na, sekalipun dia mabuk, meskipun kasar tapi dia tidak pernah mau melakukan hal itu, sementara Ryan yang selama ini Han-na pikir adalah orang yang lembut dan baik, bahkan menjadi idaman semua wanita, ternyata sangat lah busuk.
Sampai berjam-jam Han-na masih tetap di tempat sebelumnya, masih dengan suara percikan air, seakan Han-na tidak terima dengan perlakuan Ryan terhadap nya.
Han-na masih menangis.
Sementara Ryan yang sudah bangun.
"Ah dimana ini, kenapa kepalaku sakit sekali"
Ucap Ryan sambil melihat ke sana kemari, sambil memegang kepalanya, Ryan mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
Apa yang terjadi, bagaimana aku bisa di sini.
Ryan mencoba mengingat lagi.
Aku meminta seseorang mengantarkan ku lalu, aku mengetuk pintu.
Tiba-tiba Ryan melihat ke arah tubuh nya yang tanpa sehelai benang pun.
"Ya Tuhan, apa ini, kenapa tubuhku telanjang"
Ryan mencoba mengingat lagi semua kejadian sebelumnya.
Setelah Ryan mengingat semua nya Ryan terkejut.
Tidak mungkin, a aku melakukan hal yang mustahil, a aku menodai kesucian Han-na? No ini tidak mungkin.
Kemudian Ryan melihat bercak merah pada seprai tempat tidur, lalu meraba nya.
Apa ini darah? Aiiishh siaaaall, itu artinya Han-na belum tersentuh siapa pun, Albert, dia tidak pernah menyentuh Han-na selama ini, itu artinya aku telah salah menilai Han-na, aku termakan omongan Aldi, aku pikir memang benar jika Han-na sudah tidak suci lagi, tapi ternyata Han-na belum tersentuh sama sekali.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus pergi, atau aku bertanggung jawab, aaarrghh.
Tiba-tiba Ryan mengingat jika Albert adalah pelaku pembunuhan Olivia.
"Aaaarrgghhh, Albeeeerrtt"
Kemudian Ryan berdiri, lalu memakai pakaian nya, setelah itu membanting semua barang-barang yang ada di kamar itu.
"Aaaarghh, Albeeeerrtt, kenapaaaaaa kau lakukan iniiii aaarrrgghhh"
Ryan memukul kaca yang terpajang di dinding hingga pecah, Ryan mendengar suara percikan air di kamar mandi dan Ryan tau jika Han-na sedang membersihkan diri nya yang sudah kotor karena ulah Ryan.
Ryan ingin mencoba mengetuk pintu, namun terhenti, Ryan malah pergi begitu saja.
Sementara, Han-na yang mendengar suara teriakan Ryan, pecahan kaca dan barang-barang jatuh, hanya bisa menangis dengan kencang, dan mempererat pelukannya pada kedua lutut nya.
__ADS_1
***
Ryan masuk kamarnya, lalu memesan tiket pesawat untuk pulang ke Jakarta, Ryan membereskan semua barang nya, lalu mengobati lukanya, kemudian mengabari orang yang membantu Ryan membangun bisnis restoran nya.
***
Sementara Han-na yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi, Han-na tidak terkejut melihat kamar nya yang begitu berantakan, Han-na justru terkejut melihat darah yang berceceran dimana-mana, melihat semua itu membuat Han-na semakin hancur.
Han-na kembali menangis, terduduk kembali di lantai.
"hiks...hiks...hiks...hiks, why Ryan, why"
***
Ryan yang sedang menuju bandara.
Di dalam taxi.
*Dalam telepon*
"Aku akan pulang, jemput aku di bandara"
"Hahaha, akhirnya kau menye......"
Tut..tut..tut
Ryan langsung mematikan telpon nya.
Hancur berkeping-keping, perasaan ku saat ini, semua kejadian ini membuat ku hancur, membuat aku tidak berdaya, tolong maafkan aku Han-na, aku berjanji akan menemui mu suatu saat nanti dan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan.
Tidak terasa air mata Ryan pun menetes.
***
Tok...tok...tok
Sudah beberapa kali Han-na mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
Han-na mulai gelisah, kembali mengetuk namun tetap tidak ada jawaban.
Han-na mencoba menarik nafas dalam-dalam lalu mencoba tenang, kemudian kembali ke kamarnya lagi.
Begitu rumit apa yang sedang Han-na jalani sekarang, hingga Han-na sudah tidak ingin bicara apapun, memikirkan semua itu membuat Han-na kelelahan, akhirnya dia tertidur.
***
Siang hari di Jakarta.
"Atas dasar apa kau kembali ?"
Ucap Ayah Ryan Syakip Ibrahim.
"Kau tidak perlu tau, sudah bagus aku kembali"
"Hahaha, kau lihat, kau tidak ada apa-apanya tanpa Ayah mu sendiri"
Ryan kesal mendengar itu, tapi mencoba tenang.
"Tidak perlu basa basi, apa yang kau inginkan sekarang, aku akan melakukan nya"
__ADS_1
"Waaw, santai Ryan, aku ini Ayah mu, aku tidak akan sekejam orang lain, duduklah"
Kemudian Ryan duduk, lalu mereka membicarakan tentang kesepakatan antara Ryan dan Ayah nya.
***
Sementara Han-na.
Han-na terbangun tapi tiba-tiba kepala nya pusing.
"Ouchh, why is my head so dizzy"
(Ouch, kenapa kepalaku sangat pusing)
Han-na mencoba berdiri sambil memegang kepalanya.
Han-na keluar kamar, lalu menghampiri kamar Ryan dan mengetuk nya.
Tok...tok...tok.
Tidak ada jawaban.
Han-na kembali gelisah, kemudian akan menanyakan Ryan kepada receptionis.
"Ahm, Excuse me miss, have you seen the person next to my room with number 10, his name is Ryan, he's from Jakarta, and since yesterday he didn't come home, I've knocked on his door several times, but no answer"
(Ahm, permisi nona, apa kau melihat orang yang di sebelah kamarku dengan nomor 10, namanya Ryan, dia dari Jakarta, dan sejak kemarin dia tidak pulang,aku sudah beberapa kali mengetuk pintu nya, tapi tidak ada jawaban)
"Oh yes, you mean Mr. Ryan who left his room key yesterday"
(Oh ya, maksud mu, Tuan Ryan yang menitipkan kunci kemarin)
"Ah ye yeah, do you know where he is?"
(Ah ye yeah, apa kau tau dia kemana?)
"Yes of course, he said he went to Jakarta, but sorry, who are you?"
(Iya tentu, dia bilang dia pergi ke Jakarta, tapi maaf anda siapa?)
"I'm his close friend, I forgot to leave something, but maybe he forgot to tell me to go"
(Aku teman dekat nya, aku lupa menitipkan sesuatu, tapi mungkin dia lupa memberi tau ku pergi)
"Oh I see"
(Oh begitu)
"Yes, then I'll excuse myself, thank you"
(Iya, kalau begitu aku permisi, terimakasih)
Setelah itu Han-na pun Masuk kamar, dengan perasaan kecewa Han-na menangis sejadi-jadinya, Han-na menjerit, mengacak-acak rambutnya dan tempat tidur nya.
"You're rotten Ryan, you're so rotten , you bastard Ryan"
(Kau busuk Ryan, kau sangat busuk, kau bajingan Ryan hikss... hikss...)
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG