Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Satu


__ADS_3

Namaku Jovan. Aku adalah suami dari sosok perempuan cantik secara fisik maupun juga secara perilaku. Begitu cantiknya hingga hampir setiap kami jalan, aku harus menahan emosi karena begitu banyak mata laki laki yang terlalu fokus pada bagian tubuh tertentu istriku. Rhea memang benar benar memiliki body goal yang aku yakin menjadi idaman kaum perempuan.


"Bisa gak sih, jangan pakai baju yang terlalu menonjolkan lekuk tubuhmu. Kasihanilah hatiku ini." Kataku lembut sambil menatap wajah imut istriku. Usia Rhea memang sudah bukan usia muda lagi, tahun ini genap berusia 40.


"Ada hubungan apa antara lekuk tubuh dan hatimu, mas?" Tanyanya sambil terkikik geli. Suara manja di sertai tawa menggoda masih sukses membuat darahku berdesir, padahal usia pernikahan kami sudah bukan di angka 5 tahun kebawah.


Kini aku memeluk tubuh Rhea dari belakang, membenamkan wajahku di antara rambutnya yang berbau wangi. "Kamu gak bodoh. Kamu tau gimana tersiksanya aku setiap orang lain memandang mu dengan pandangan menggoda" Ucapku setengah berbisik.


"Baiklah, maafkan aku."


Sejak saat itu, Rhea memang mengubah gaya pakaiannya yang kini lebih mirip bangsawan Inggris. Tertutup namun elegan dan pastinya memiliki daya tarik sendiri. Putri Diana kata Rhea saat kuotanya dia ingin meniru cara berpakaian siapa.


Aku setuju setuju saja meskipun laporan pengeluaran bulanan jadi agak lebih tinggi dari beberapa bulan yang lalu. Toh, aku bekerja memang untuk mengurusi seluruh kebutuhan istriku. Dan tentu saja untuk membahagiakan nya.


Kami menikah sudah sepuluh tahun lamanya, namun rumah tangga kami belum di anugerahi keturunan. Pada saat usia pernikahan kami tiga tahun, ibu mertuaku tampak begitu cemas dan khawatir tentang keadaan kami yang belum memiliki anak. Namun, aku menenangkannya. Begitu juga keluarga besarku.


Diam diam aku memeriksakan diri ke dokter, mengecek apakah aku mandul atau tidak. Rasanya tidak nyaman jika justru masalahnya ada di aku.


"Selamat pak, kondisi anda prima dan baik baik saja." Dokter tersenyum padaku, lega rasanya mengetahui kenyataan ini.


Hingga tiba saatnya Rhea membawa bom yang meluluh lantakkan dunia kami yang bahagia.


Aku bertemu dengan Amanda, teman dekat Rhea sebelum kami menikah. Amanda membawa banyak sekali bukti bahwa ternyata yang menyebabkan Rhea susah sekali untuk hamil adalah perbuatannya di masa lalu. Di saat kami masih berstatus bos dan karyawan.


Rhea pernah menggugurkan kandungan untuk menutupi kesalahannya hanya karena Rhea belum siap menjadi seorang ibu. Dan entah hasil perbuatan dengan siapa.


Aku bukan pria super yang tidak merasakan nyeri di ulu hati saat mengetahui sisi kelam dari perempuan yang sangat aku cintai, prioritas utama dalam hidupku. Perempuan yang menjadi alasanku selalu tersenyum dan merasa bersyukur setiap bangun tidur dan menatap wajahnya.


Cintaku pada Rhea ternyata tak sebuta itu, sehingga aku masih mampu merasakan nyeri pada setiap kalimat penjelasan dari Amanda. Sakit dan kecewa.


Tubuhku mematung di depan Amanda, di depan semua bukti yang memperkuat semua cerita Amanda tentang perempuanku. Kekasih jiwaku. Masa bodoh tentang tanggapan Amanda setelah melihat reaksiku yang seperti orang linglung.


"Mas.. Mas.." Panggil Amanda sambil menggoyangkan lengan Jovan. Cemas. "Mas.. Tolong, jangan seperti ini. Mas.." Ucap Amanda terus berusaha menyadarkan Jovan kembali. "Ayolah, Mas. Jangan seperti ini."


"Sumpah demi apapun juga, Amanda. Seandainya dulu Rhea terbuka dan jujur tentang semua ini. Aku benar benar tidak akan keberatan. Cintaku pada Rhea terlalu penting." Ucapku lemah. Seperti seluruh energi yang aku miliki hilang begitu saja.


Rhea. Istriku yang selalu aku puja, ternyata menyembunyikan kisah sepenting ini di belakangku. Setega itu kah Rhea. Setidak percayakah Rhea selama ini terhadap semua yang sudah aku berikan. Cinta yang tak bersyarat sedikitpun.


Oh Tuhan.

__ADS_1


Salah apa diriku, hingga harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini.


Rhea yang lemah lembut ternyata tega membunuh paksa segumpal daging yang bernyawa. Hasil dari darah dan dagingnya sendiri. Padahal yang aku tahu selama ini, Rhea bahkan tidak mampu melukai seekor nyamuk pun justru memiliki masa lalu sekejam ini.


Kali ini aku diam saja, setuju saja semua perkataan yang Amanda ucapkan. Kepalaku masih penuh dengan suara Amanda tentang apa yang Rhea lakukan. Hatiku hancur lebur memikirkan apa yang Rhea sembunyikan selama ini.


Saat mobil sampai di depan rumah dan Amanda memapah tubuhku perlahan, aku diam saja. Padahal biasanya tidak ada yang aku izinkan untuk memegang tubuhku selain perempuan yang aku cintai. Rhea, pusat alam semestaku.


Aku takut jika ada hal hal yang tidak di inginkan terjadi saat perempuan lain memegang tubuhku, meski hanya sekedar salah paham. Sekecil apapun itu aku mencoba untuk menghindari. Hal yang aku yakini salah satu bukti cintaku pada Rhea. Menjaga perasaanya baik ketika Rhea melihat maupun di belakang Rhea. Namun, kali ini semua begitu kacau bagiku.


"Mbak.. Mbak Rhea!" Teriak Amanda setelah menuntunku duduk di sofa depan. Sedangkan aku masih mematung.


"Lelah.. Aku benar benar lelah, Amanda. Tolong, panggilan Parman" Bisikku pelan. Dijawab anggukan kepala Amanda yang kemudian berjalan setengah berlari ke arah belakang.


Aku tersenyum bodoh, menertawakan diriku sendiri saat menyadari lebih memilih parman yang ku minta mengantarku ke kamar dari pada Amanda. Sesakit ini masih saja memikirkan perasaan Rhea. Dasar bodoh!


Wangi semerbak yang selalu membuatku bergairah meski sudah bertahun tahun hidup bersama, semakin mendekat. Memaksaku membuka mata yang sedari tadi aku tutup.


Rhea,


Perempuan ini sekarang sedang memeluk tubuhku, menyandarkan kepalanya tepat di atas jantungku yang melemah.


"Kurang ajar. Bodoh sekali aku ini. Bagaimana aku tidak menyadari kehadirannya. Bukannya tadi aku sedang menunggu Amanda memanggil Parman" Pikirku kacau. "Sial. Aku tertidur." Batinku sambil berusaha menyingkirkan kepala Rhea dari dadaku.


"Jangan sekarang. Beri aku waktu untuk sendiri dulu, Rhea." Dadaku masih saja terasa nyeri saat melihat raut kesedihan di wajah wanita yang selalu aku utamakan kebahagiannya di atas kebahagiaanku sendiri. Bodoh.


"Mas.. Tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Suara Rhea yang memohon membuatku semakin terasa sedih. Sakit sekali rasanya.


Semua benar, ternyata semua yang di katakan Amanda siang tadi adalah kebenaran. Aku cukup paham hanya dengan melihat wajah perempuan ini. Bertahun tahun hidup bersama dengannya membuatku begitu mahir membaca wajah cantik ini.


Kenyataan ini terlalu pahit untuk ku lewati begitu saja. Dengan siapa sebenarnya Rhea melakukan semua ini.


"Cah bagus, besok kalau sudah besar. Jangan sampai tanganmu memukul perempuan. Sebesar apapun kesalahan mereka, jangan sampai kamu main tangan."


Nasehat bapak yang dulu beliau ucapkan masih terngiang jelas di ingatanku. Sekarang, di saat seperti ini tampak nyata suara banyak di telingaku.


"Kesalahan tidak akan selesai saat di balas dengan kesalahan juga, Le. Dalam kondisi apapun, seburuk apapun itu. Tetaplah jadi anak ibu yang membanggakan."


Kini wajah ibu yang terukir jelas di mataku. Rindu sekali. "Putramu ini sedang terluka, ibu." Ucapku pelan. Seolah olah ibu benar benar akan mendengar suaraku.

__ADS_1


Kepercayaan bagiku adalah hal utama. Prinsip hidup yang tidak bisa di ganggu gugat. Bukankah Rhea tahu betul. Tapi, mengapa dia harus menyembunyikan hal sepenting ini dariku.


Pada saat malam pertama kami, Rhea menceritakan semua hal yang berhubungan dengan kesuciannya. Dan yang aku lakukan setelah mendengar semua cerita Rhea adalah memeluk perempuan manis itu. Mencium ujung kepalanya. Menenangkan bahwa aku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru aku merasa lega karena Rhea mau jujur kepadaku. Dan buktinya, selama ini sikapku baik baik saja.


"Jangan melamun, Mas." Ucap Amanda mengagetkan ku. Memaksaku untuk kembali sadar.


"Kamu seperti nya hobi bikin aku kaget." Sahutku pelan. Berusaha tetap bersikap baik baik saja. Masa bodoh kemarin dia melihat sisi burukku.


Amanda tertawa pelan. "Aku sama Ela sengaja mampir kesini, Mas. Dan ternyata dugaanku benar. Mas Jovan tetap berangkat kerja seperti biasa."


Mendengar nama Daniela di sebut, kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok gadis mungil itu berada. "Lo.. Mana Daniela?"


"Lagi ke nyari cokelat di kantin. Susah banget buat ngelarang anak itu makan cokelat." Wajah Amanda cemberut.


Aku tertawa. Hambar. Sudah dua bulan sejak kejadian itu. Masih terasa menyakitkan.


"Aku bersyukur, Mas Jovan bisa tetap kuat seperti ini."


Suara Amanda terdengar melemah. Khas Amanda saat sedang menyesal.


"Gak sekuat dugaanmu, Sampai saat ini aku belum berbicara sedikitpun dengan Rhea." Aku menarik nafas berat. "Awalnya memang terasa begitu sulit. Kamu tau sendiri, bukan. Kalau aku dari A sampai Z yang ngurusin semuanya Rhea." Tawa kecil berhasil lolos dari mulutku. Menertawakan diriku sendiri.


"Makanya, Mas. Jangan terlalu percaya sama rasa nyaman." Amanda ikut tertawa.


Basa basi yang semakin membuat Amanda justru merasa kikuk.


"Mas, bisa tolong kasih mbak Rhea kesempatan untuk menjelaskan?" Pinta Amanda.


Suara Amanda kali ini benar benar membuatku terganggu. Tidak nyaman sama sekali. Terlebih ada air mata yang berusaha ia tahan.


"Gimana kalau kita susul, Ela ?" Tanyaku antusias. Berusaha mengalihkan pembicaraan tentang hubungan ku dengan Rhea.


Aku sudah berdiri dan beranjak menuju pintu ruangan ku saat suara isak tangis Amanda memenuhi pendengaran ku.


"Aku benar benar minta maaf, Mas. Tolong, beri mbak Rhea kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Tolong, mas. Kasih kesempatan."


Jantungku kembali terasa remuk berantakan.


"Semua akan baik baik saja, Amanda. Semua akan kembali seperti semula. Hanya saja, aku butuh sedikit waktu untuk mencerna semua ini."

__ADS_1


Kalimat terakhir yang ku ucapkan sebelum meninggalkan Amanda menangis.


Benarkah semua akan baik baik saja, aku justru takut jika harus mendengar kenyataan lainnya yang lebih pahit lagi.


__ADS_2