
Memandang wajah gadis manis di depanku saat ini, sedikit banyak menghibur serpihan jantungku yang akhir akhir ini meledak tak karuan. Bukan karena debar cinta yang biasa aku rasakan saat memandang bola mata Rhea yang bulat besar, pelengkap wajahnya yang cantik. Bukan juga debar kencang karena gairah yang menggebu setiap akan berhubungan intim dengan pusat semestaku. Rhea.
"Om, mau?" Tawar Daniela padaku. Batang cokelat yang sisa separoh saja.
Aku tersenyum, menggelengkan kepala pelan.
"Daniela rindu sama papa, Om. Papa Daniela kenapa lama sekali ya gak pulang pulang. Papa lupa ya sama Daniela."
Gemas.
Suara merajuk yang menggemaskan. Lucu. Dan aku tertawa. Benar benar tertawa.
"Papa Daniela kan sedang kerja. Sebentar lagi juga pulang kok. Masih sering video call kan sama papa?" Tanyaku sambil berusaha menenangkan.
Gadis imut ini kembali menganggukkan kepala, meneruskan makan cokelat kesukaannya.
Dani, suami Amanda memang sedang bertugas ke luar kota selama tiga bulan ini. Satu bulan sebelum kejadian yang membuatku harus berusaha menata hatiku kembali.
Aku adalah pria yang memegang prinsip. Kesetiaan bagiku adalah hal utama. Seperti halnya kepercayaan. Meski kondisiku memang Mendukung untuk berbuat serong, namun aku masih teguh menjaga kesucian pernikahan ku dengan Rhea. Berusaha menjauhi segala hal yang bakal merusak kehormatan pernikahan. Baik di lakukan diam diam atau terang terangan.
Wajahku cukup tampan, menurut beberapa kawan dekatku justru semakin bertambah usia, aku semakin mempesona saja. Harta dan kekuasaan cukup mampu menarik perempuan manapun untuk mendekat.
Kenyataannya aku benar benar bersih dari perselingkuhan jenis apapun. Secuil pun tidak ada yang aku sembunyikan dari istriku. Jiwa dan ragaku seluruhnya mutlak milik Rhea.
"Om Jo" Bisik Deniela.
Kaget.
Akhir akhir ini aku mau sering asyik melamun. Mencintai perempuan secara berlebihan memang berhasil membuatku menjadi pria bodoh.
"Iya, sayang."
"Ela kemarin dengar mama nangis di kamar terus bilang katanya cinta itu bikin bodoh. Emang, cinta itu makanan apa sih om. Atau nama orang ya? Temennya mama gitu ya om?"
Kaget.
Hatiku kembali sesak.
"Ela mau gak ke ruangan om Jovan. Jemput mama Ela?" Tanyaku kelimpungan. Berusaha mengalihkan gadis kecil ini.
"Ayo, om! Jangan jangan mama lagi tidur ya om. Dari tadi kok gak nyusul Ela di sini. Duh, mama itu. Jadi ngantuk kan om. Mama itu sering banget berisik kalau malam lo om, bikin Ela susah tidur. Coba deh om, mama katanya pengen tidur sama Ela, tapi mama itu bikin Ela jadi gak bisa tidur nyenyak. Mama suka mimpi aneh, om. Nangis nangis gitu sambil merem. Duh, ribet deh om."
Dalam kondisi normal, sudah ku cubit kedua pipi montok Daniela. Tapi, sekarang ini justru membuatku semakin linglung. Ada apa sebenarnya. Kenapa jadi ribet seperti ini. Jika memang Amanda menyesal sedah memberi tahu aku semua informasi itu, tapi kenapa sampai sebegitu nya. Kenapa tidak Amanda pertimbangan terlebih dahulu sebelum bercerita padaku.
"Om.. Buka pintu. Kita sudah sampai. Ela gak bisa buka pintu. Oooom!"
"Oh iya iya, sayang. Sebentar."
Setelah pintu di buka. Amanda sudah duduk manis di sofa. Namun jelas sekali wajah dan rambutnya berantakan.
"Mama kenapa pakai kaca mata hitam di dalam ruangan, Ma?" Tanya Daniela sambil berusaha duduk di pangkuan Amanda.
Aduh, dasar anak si Doni. Cerewet nya kelewat cerdas.
__ADS_1
"Ela sayang, kita pulang yuk. Mama baru ingat mau buat brownies kesukaan kamu."
"Yeyeyeye.. Ayo ma!"
Aku tersenyum. Masih berdiri di samping pintu seperti satpam saja.
"Ela pamit dulu ya om Jo. Nanti Ela janji buat bagiin brownies kesukaan Ela biar om Jo tambah manis. Gak berantakan lagi."
Eh, reflek aku meraba wajahku. Berantakan apanya? Aduh ini anak, lama lama bikin senewen.
Setelah mereka pergi, aku pun berusaha membereskan semua sisa pekerjaanku dan pulang ke rumah. Rumah yang kini bagaikan neraka dunia. Bikin nyesek melulu.
"Sudah pulang, Ay. Aku ambilin air putih ya. Sini tasnya." Sapa Rhea begitu aku membuka pintu depan.
Aku masih diam saja, cara terbaik untuk menghukum istri adalah dengan cara mendiamkannya. Meskipun, itu artinya menyakiti diri sendiri juga. Bodoh.
"Aku masak kesukaan kamu lo, ay. Sana mandi. Habis itu kita makan bareng." Bujuk Rhea dengan suara nya yang mendayu dayu. Sempurna untuk menguji iman lelaki. Bajunya sangat mendukung.
Aku masih diam. Tas juga masih belum pindah ke tangan Rhea. Pokoknya mulut diam, mata juga gak perlu kontak dengan Rhea. Anggap saja angin lalu.
Setelah masuk kamar, aku langsung mengunci pintu. Antisipasi kalau kalau Rhea masuk dan gagal sudah usahaku. Biarlah kata kekanak kanakan.
Mandi, berendam dan ganti baju. Awal awal kaya gini, aku kebingungan mencari di mana letak celana dalamku. Sekarang, sudah mulai terbiasa.
Saat mataku baru saja terpejam, tiba tiba suara piring pecah menganggu pendengaran ku. Kebiasaan baru Rhea. Memecahkan piring. Dan hingga hari ini, dia belum nekat bunuh diri. Menyayat tangannya dengan pecahan piring itu. Syukur lah.
Jika ada yang bertanya mengapa aku menyakiti dirimu sendiri seperti ini, maka akupun tak tau jawabannya. Aku hanya butuh seperti ini hingga semuanya bisa aku terima dengan lapang dada.
"Mas.. Sayang. Tolong buka pintunya. Mas, aku mohon mas. Jangan seperti ini. Aku ikhlas, nurutin semua kemauan kamu asalkan kamu mau dengerin penjelasanku. Tolong mas. Kasih aku kesempatan untuk ngomong sama kamu."
Setelah piring pecah, kini gedoran pintu menggangguku.
"Aku rindu, mas. Aku benar benar rindu sama kamu, mas."
Isak tangi Rhea berhasil menghancurkan pertahanan ku untuk tidak menangis. Sakit jika harus mendengar wanita yang kita cintai meraung menangis penuh kesedihan.
Baiklah, sepertinya memang sudah cukup aku menghindar dari permasalahan ini. Aku harus jadi Glanteman.
"Mas.. " Bisik Rhea. Aku emang kalo tubuh Rhea yang langsung berhambur kearahku saat ku buka pintu kamar.
"Mas, maafin aku."
Kini, meskipun aku diam. Tanganku berusaha menenangkan Rhea dengan mengelus lembut rambut dan menepuk lembut punggung yang hanya di lapisi kain tipis.
Sial.
Pria dan gairahnya.
********************
Malam ini sepertinya banyak sekali kupu kupu kebahagiaan yang terbang setelah sekian lama bersemedi.
Mataku menatap ujung kepala Rhea yang kini terlelap di dadaku, dalam rengkuhan tangan kekar ku. Sepertinya, kami memang berpelukan setelah melampiaskan gairah yang terpendam selama dua bulan ini.
__ADS_1
Menyebalkan.
Aku lemah kalau harus berjuang menahan gairah yang menggebu tadi. Tubuh istriku bagaikan lempengan magnet yang menarik tanpa ampun. Tanpa bisa ditolak ketika sudah saling bersenggolan.
Aku bukan laki-laki murahan, walaupun kejadian tadi salah satu bukti betapa lemahnya aku jika menyangkut gairah. Tapi, demi apapun juga. Aku hanya mampu berdiri tegak menantang jika bersama Rhea. Pasangan yang di akui secara negara maupun agama. Mutlak satu satunya dalam hati angan maupun pikiran.
Aku ini tipe laki laki kuno yang menjaga kesetiaan dalam bentuk apapun juga. Jika tidak, dalam kondisi kacau seperti ini bisa saja aku sudah mencari penenang dengan jalan yang berlumpur.
Tidak.
Tidak pernah ada dalam cerita hidupku. Selama ini memang hidupku terlalu lempeng untuk ukuran lelaki. Begitu kata si Doni. Papanya Daniela.
Amanda.
Nama perempuan yang membuat tanganku saat ini berhenti mengelus rambut lembut licin milik Rhea.
Amanda.
Ah!
Oh, Tuhan.
Tolong.. Jangan biarkan aku memikirkan perempuan lain.
Aku memindahkan kepala Rhea di bantal sebelum meninggalkan nya ke kamar mandi. Saat ini aku butuh air dingin untuk menghapus semua kenangan kenangan beberapa bulan lalu. Biarlah, aku memberikan kesempatan pada Rhea, untuk menjelaskan sesuai versinya.
Air dingin malam ini benar benar dingin. Tubuhku mau terbiasa dengan sensasi dingin yang melegakan selama dua bulan ini. Begitulah, aku bukan hanya terluka dalam percintaan, seluruh jiwa raga ku benar benar merana.
"Untuk pertama kalinya, aku memikirkan perempuan lain selain Rhea." Bisikku di bawah pancuran air dingin.
Rasa bersalah perlahan menggerogoti hatiku. Aneh.
"Kok mandi sendiri, yang. Gak bangunin aku." Protes Rhea, melihatku keluar dari kamar mandi. Surat khas bangun tidur membuatku kembali merasa terganggu.
"Sebaiknya kamu bangun dan merapikan dirimu sendiri. Aku butuh mencerna semua ini dengan kepala dingin." Ucapku datar. Menahan gejolak yang kembali hidup saat melihat Rhea berjalan ke arahku tanpa sehelai benangpun.
"Maaf, mas. Aku kira." Suara Rhea tertahan. Sedangkan aku hanya fokus memakai pakaian dan meninggalkannya sendiri.
Tidak terlalu lama Rhea menyusul ku duduk di ruang keluarga rumah ini. Tempat yang biasanya kami gunakan untuk nonton film bersama.
"Mas.. "
"Langsung saja, Rhea. Katakan semuanya, aku tidak akan memotong pembicaraan."
Aku menguatkan diri. Mencoba memalingkan muka demi menghindari rasa sesak karena melihat wajah Rhea yang memelas. Aku yakin hati Rhea juga remuk, aku tidak pernah menggunakan kata aku setiap kalo kami berbicara. Selalu menyebut diriku sendiri menggunakan kata mas, bukan aku.
Rhea masih diam, tangisannya justru semakin menjadi jadi. Pedih rasanya hatiku. Kesedihan dan kepedihan begitu nyata. "Maaf mas, maafkan aku. Jadi, sebenarnya.. Sebenarnya.. Daniela adalah... putri kandung, mas Jovan."
Duh, Gusti.
Kalimat yang di ucapkan Rhea itu dengan putus putus itu membuat kepalaku benar benar sakit. Daniela, gadis mungil itu. Putriku ?
Lantas apa hubungannya dengan Rhea yang menggugurkan kandungan.
__ADS_1
Oh, Tuhan.
Kenapa hidupku penuh drama seperti ini.