Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Sebelas


__ADS_3

POV Dhea


"Bapak kenapa gak bareng aja sama bu Amanda?" Tanya ku, sambil menatap wajah pria yang kini jauh lebih segar dan bersinar.


"Gak tau, di bilang gak bersama... Buktinya dia ngurusin semua keperluan aku. Di bilang bersama... Kita memang gak bersama."


Wajah kami saling memandang, lama.


"Saya tipe pria yang memang selalu membutuhkan wanita. Dan kamu.. Tipe perempuan yang menuntut untuk di cintai."


Hahaha, aku tertawa. Mengalihkan pandangan ke arah langit yang malam ini sangat cerah, banyak sekali bintang di sana.


"Kamu dan Rhea benar benar hampir sama. Rhea juga menuntut untuk di cintai. Tapi-- yah.. Begitulah."


Mungkin, akan ada bagian di mana aku menjadi perbandingan perempuan itu. Setidaknya, bukan selalu menjadi bayang bayang.


"Kamu kenapa sama isa?"


Mendengar nama isa di sebut pria ini, aku menoleh sambil berusaha mengeratkan jas yang bos pinjamkan.


"Selingkuh, hahaha. Kembali sama Keke." Getir. Jelas suaraku getir.


"Keke yang dulu katanya nikah sama orang lain?"


Aku mengerutkan dahi, "Bos masih ingat?" Tanya ku kagum.


Pria ini kembali tertawa ringan, "Untuk pertama kali aku melihat kamu menangis. Iya kan? Saat Isa justru menemani Keke di saat kalian harusnya dinner aniversary."


"Aduh, pak. Kok bapak ingat ya. Hahaha. Dulu bapak justru beliin aku se kantong besar cokelat kan. Nyuruh aku nangis sambil makan cokelat. Konyol, hahaha. Tapi asyik."


"Kalau sekarang mau minta apa, Dhe?" Tanya big bos dengan tatapan lembut.


"Kalau minta bapak aja gimana? Boleh?" Pintaku setengah sadar. Terlalu terpesona dengan kembalinya senyum serta tawa di wajah pria ini.


Melihat wajah bos yang mengeras kaget, sebetulnya aku sendiri juga kaget. Bagaimana bisa, pertanyaan konyol itu keluar dari mulutku.


"Efek terlalu berharap dapat cinta untuk dari Isa, Pak. Jadi ketika gak dapat apa yang di inginkan, jadi gini kan. Ngaco hehehe" Buru buru menyambung apa yang baru saja keluar dari mulut ini. Berusaha mengembalikan sikap cairnya bos.


"Wanita mana si pak, yang gak pingin gitu di cintai oleh bapak. Yaaa... Bukan soal harta bapak, atau wajah bapak. Tapi, kesetiaan bapak yang amazing itu. Sisinya sih bonus, Pak. Hahaha" Aku mulai tertawa saat melihat wajah bos kembali mencair. Syukurlah. Batin ku mulai tenang.


"Kalau gitu, kenapa Amanda justru balikan sama suaminya. Padahal kita bisa kan, menyatu. Lagi pula ada Daniela."


Glek,

__ADS_1


Aku seperti sedang terserang biji kedondong. Aiiishh... Mana aku bakalan tau kalau si bos justru bakalan ngomong seperti ini.


Tatapan bos yang menerawang jauh, meyakinkan aku bahwa bos benar benar serius.


"Bos suka ya sama Bu Amanda?" Tanya ku pelan.


Walaupun sudah biasa melihat interaksi mereka berdua, tetap saja aku sekaget ini. Rasanya seperti baru saja terbang tinggi mengkhayal hal yang indah, kemudian... Jatuh, ke banting pula. Sial! Hormon patah hati memang menyebalkan.


"Sebenarnya, aku memikirkan kemungkinan untuk bersama dengan Amanda. Mengingat, yaah.. Gitu kan, kamu tahu. Semua sudah di bawah kendali Amanda. Well, kenapa gak sekalian aja kita jadi suami istri."


Ahhhh, sakiiit!


Andaikan aku dari tadi tidak terbawa suasana.


Andaikan aku tetap harus menyadari batas diriku.


Mengapa harus terasa sesak, padahal... Aku sudah terbiasa melihat mereka berdua bersama. Interaksi yang menurutku... Intim. Lebih dari sekedar sahabat atau friendzone.


Sepertinya, aku benar-benar memiliki masalah rasa nyaman dengan sosok manusia beda jenis kelamin. Kenapa harus selalu kecewa pas lagi begitu merasa nyaman seperti ini.


POV Jovan


"Yang aku katakan itu apa adanya kok!" Belaku kekeh. Berdebat dengan perempuan ini, selalu berhasil membuat urat leherku menegang.


"Aku tahu!"


Aah, nikmatnya. Pening di kepala mulai menghilang perlahan. Bahu dan leher juga mulai rileks kembali.


"Kamu gak perlu mendobrak hatiku hanya untuk memasukkan orang lain." Pijatan di pelipisku terhenti, bikin nanggung.


"Aku selama ini diam karena menurutku ini gak penting! Dia bukan bagian penting dari hidupku! Tapi, akhir akhir ini--" Suaraku terhenti saat mendengar suara lain di ruang ini.


"Maaf, Pak. Saya mengganggu! Bapak sudah di tunggu sama Pak Mario."


Eh!


Mataku yang tadinya terpejam karena pijatan Amanda, sekarang terbuka dan reflek menggeser tubuhku menjauh dari Amanda yang tumben sekali hanya diam mematung, dengan senyum manis tanpa cela itu.


Sedangkan perempuan yang di depanku, salah tingkah dan menundukkan kepala.


"Oke. Terima kasih, Dhe." Jawabku pelan, mengabaikan beban di hatiku saat melihat wajah sendunya. Selintas terlihat saat dia pamit keluar.


"Fix! Jelaaas sekali! Aku berhasil!"

__ADS_1


"Apanya?" Tanyaku bingung.


"Dhea benar benar tertarik sama kamu, Jo. Bukan sekedar nyaman sama kamu." Berseri-seri, wajah perempuan ini begitu berseri-seri, bahagia. Lega lebih tepatnya.


"Kalau kamu menyimpulkan hal ini karena melihat wajah Dhea yang suram, kamu jelas keliru! Dhea kan baru putus lagi dengan pacar empat tahunnya itu. Pria bodoh! Mau maunya kembali sama sampah! Benar benar tidak punya prinsip yang berkelas. Ciih, menjijikan." Amarahku tiba-tiba tersulut begitu saja saat terbayang wajah Isa di otakku. Pria yang---


"Cerai... Sebentar lagi aku gugat Doni." Lemah, terdengar jelas di telingaku suara lemah Amanda yang kini berada di samping pintu.


"Eh, sejak kapan kamu di situ!" Gugup, salah tingkah dan konyol. "Kita jadi keluar kan?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan, yah... Meskipun telingaku berdengung mendengar Amanda akan menceriakan Doni.


"Sorry, Jo. Jika selama ini aku begitu menjijikan."


Blum!


Kali pertama Amanda membanting pintu. Aaaah! Bodoooh! Bagaimana bisa keluar kalimat seperti itu. Kalimat yang sama persis saat aku mencoba menenangkan Dhea yang melamun, kosong.


Cerai?


Kenapa? Sial! Aku benar benar tidak tahu sedikitpun tentang dia dan pria iblis itu.


"Pak! Mau saya batalin saja pertemuan dengan pak Mario? Atau mas Satria yang menggantikan bapak?"


Aku menoleh ke arah sumber suara yang entah sudah berada sejak lama si situ. Berdiri dengan tatapan dingin yang menyebalkan.


"Kamu hubungi Satria saja, maaf."


Pusing. Kepala ku lebih pusing dari pada saat membahas perempuan ini dengan Amanda.


"Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?"


Yap!


Tepat!


"Setelah menghubungi Satria, kamu bisa temani saya makan?" ajak ku yakin.


"Sekalian curhat gitu, Pak? Duh... Saya emang alat pembersih susana suram bapak ya. Hahaha"


Dhea tertawa sebelum meninggalkan ruanganku. Tawa yang membuatku semakin diam mematung.


Rumit.


Perasaanku jadi rumit seperti anak baru gede yang dalam kondisi labil.

__ADS_1


__ADS_2