
Beberapa tahun kemudian
POV Dea
"Saya bikinkan kopi hitam, Pak ?" Tanyaku hati hati. Berusaha tidak menyinggung bos besar ku yang hanya mau tersenyum kepada beberapa orang tertentu saja.
Jantung di dalam dadaku berdetak sangat kencang, Grogi dan juga takut. Bos besar walaupun tidak pernah marah marah tanpa sebab, tapi matanya benar benar menakutkan.
Kalimat yang keluar dari mulut tipis tipis itu sering kali menyakitkan, sadis dan juga kasar. Untung saja, hatiku dan perasaan ku memiliki stok rasa pengertian yang seperti nya unlimited edition. Tidak terbatas. Membuatku akhirnya terbiasa dan kenal dari perasaan termehek mehek nyeri ulu hati. Tapi, tetap saja aku takut. Terbiasa bukan berarti tidak takut. Hanya kebal dari rasa kecewa.
"Gak perlu berusaha terlalu baik seperti itu. Kembali ke tempatmu dan bereskan semua kekacauan yang belum kamu kerjakan." Sentak Bos dengan suara meninggi. Menggelegar.
Aku yang sudah terlanjur takut, badanku jadi semakin bergetar menahan rasa takut. Tanpa mengucapkan apapun, aku langsung mundur dan keluar ruangan. Menenangkan diri di mejaku yang berada tepat di luar ruang bos besar.
"Andaikan aku sedang tidak membutuhkan uang. Sudi rasanya kerja dengan monster seperti itu." Bisik ku pelan. Sepenuhnya berbicara dengan diriku sendiri.
"Ngomel lagi dia?"
Aku yang masih ketakutan jadi melonjak kaget saat mendengar suara lembut di depan ku. Busyet dah. Yang satu menakutkan, yang satu suka mengagetkan.
"Sabar ya sama sikap dia sekarang, lagian sayang kalau mau mengundurkan diri. Di luar sana tentu tidak akan mudah mendapatkan gaji sebesar disini. Dan Terima kasih, kamu sudah mau membereskan semua kekacauan yang dia perbuat akhir akhir ini. Tanpa kamu, bisa bisa perusahaan sudah bangkrut."
Aaah.. Wanita ini memang pandai betul membuatku kaget sekaligus kikuk tak berdaya. Pujiannya memang selalu setinggi langit.
"Maaf, Bu. Tadi saya tidak sadar kalau ada Bu Amanda. Dan soal pujian Bu Amanda, saya rasa terlalu berlebihan." Kataku pelan. Sambil menerbitkan senyum semanis mungkin di wajahku.
Perempuan ini, yang sedang menatapku penuh kasih sayang sambil menggandeng gadis manis yang juga memiliki senyum melelehkan siapapun yang melihat, namanya Amanda. Aku bingung harus menyebut mereka ini siapanya Big Boss. Terlalu rumit. Mungkin lebih enak kalau menyebut mereka ini keluarga big bos. Walaupun sebenarnya aku pribadi berharap mereka jadi keluarga kecil, suami istri dan putri kesayangan. Bagus kan, setelah semua yang terjadi di antara mereka.
"Ma.. Kasih bekal makan siangnya ke tante Dhea, buruan gih. Ela sudah pengen ketemu sama Daddy. Mama sih gitu sukanya, ngobrol dulu sama tante Dhea. Ngobrolnya kan bisa nanti ma, atau biar mama puas ngobrol sama tante Dhe, mama ajak deh buat pulang ke rumah kita."
Gadis kecil ini, kalau sekali berbicara seperti tidak kekurangan kosa kata. Ide ide yang ada di kepala mungilnya benar benar bikin geleng kepala. Aku selalu menikmati saat melihat gadis kecil ini merajuk manja.
"Iya iya, duh kamu ini. Sanaa deh, masuk duluan. Mama bentar, belum selesai sama tante Dhea." Ujar Bu Amanda pura pura marah.
Mana mungkin bisa benar benar marah sama gadis kecil yang kini sudah berlari membuka pintu ruangan bos besar sambil berteriak memanggil Daddy.
"Pokoknya, tolong bersabar dengan semua sikap Jovan. Sudah satu tahun lebih kan, ini sudah lewat dari kondisi krisis. Jadi kamu pasti kuat."
Bu Amanda selalu seperti ini, berusaha menenangkan dan juga menguatkan. Padahal, aku tahu betul. Mereka berdua sama sama hancur.
"Di makan ya, Dhe. Biar kuat menghadapi kenyataan. Hahaha"
Perempuan cantik ini juga pandai menularkan tawa nya. Aku ikut tertawa lirih setelah menganggukkan kepala.
Tepatnya sudah hampir dua tahun, big bos berubah jadi menakutkan sekaligus mematikan. Sungguh! Aku mengkhawatirkan kondisi jantungku sejak beliau seperti itu.
Jika dulu beliau bersikap profesional dan sangat sopan. Kini justru pantas jika di sebut penyihir es versi laki laki. Bukannya seperti orang berkuasa kebanyakan, tua tua keladi. Ini malah tua tua kesepian.
Bau harum langsung tercium begitu aku membuka kotak bekal makan siang dari Bu Amanda.
Aku penasaran, mengapa mereka berdua justru tidak memilih untuk bersama. Atau sebenarnya mereka bersama tapi aku yang tidak tahu.
Aaarrrgh!
Pusing pala barbie!
Masa bodoh ah, kerja aja. Kerja!
Sebentar sebentar, mataku melirik ke arah kotak bekal makan siang yang di berikan oleh Bu Amanda. Dari pengalaman yang biasanya ku dapat, isi bekal Bu Amanda rasanya lezat sekali. Khas makanan kelas atas yang mewah.
"Aduh.. Lapar sekali aku." Desahku pilu.
Perutku sudah keroncongan tapi tekad ku sudah bulat untuk segera menyelesaikan laporan ini. Jaga jaga kalau nanti Bu Amanda justru mengajakku ngobrol setelah keluar dari ruangan big boss. Padahal jam istirahat sudah selesai. Repot sendiri kan nanti jadinya. Yang satu ngajak ngobrol, yang satunya lagi nagih laporan.
"Akhirnyaaaa.. Aku bisa menikmatimu jugaa."
Eiiih.. Bau khas masakan olahan daging yang harum sekali. Heran, kenapa dulu suami Bu Amanda bisa bisanya selingkuh. Kurang cantik apa coba Bu Amanda. Seksi, badan bohay. Pintar di dapur lagi. Alaa maaaak, Bodoh nian itu orang.
"Enak enggak Dhe?"
Ya Tuhaaan. Kaget!
Uhuk.. Uhuk..
"Makan itu hati hati. Menjijikkan."
__ADS_1
Aaaaaaaaah. Jahanam kau! Dasar pria tua bangka!
"Di minum dulu, tante Dhe. Mama itu suka gitu kan, kaya makhluk astral. Tiba tiba udah bikin kaget. Untung saja jantung tante Dhe kuat ya tante. Ela punya teman yang nggak boleh sampai kaget, kata miss di sekolah ela, nanti kalau kaget dadanya sakit. Heran deh sama mama. Suka betul bikin kaget orang lain."
Kali ini bidadari surga yang sedang berbicara. Aduuh, manisnya kau nak. Mengungkapkan semua ungkapan manis yang tidak bisa aku ucapkan.
Air yang aku minum sedikit membantu melegakan tenggorokan ku. Syukurlah.
"Terima kasih, Daniela." Ucapku tulus. Tidak lupa mulutku tersenyum.
Gadis kecil itu mengangguk manis, masih berdiri di samping big boss dan juga Bu Amanda.
"Enak kok, Bu. Terima kasih." Ujar Ku malu malu.
"Maaf ya, kalau bikin kamu kaget." Sesal Amanda.
Aku hanya tersenyum.
"Pamit dulu, Mas Jo." Sahut Bu Amanda pelan.
"Hati hati ya, nanti kalau sudah sampai rumah kasih kabar aku." Jawab big boss.
Sumpaaah, mereka manis banget. So sweet gini sih. Walaupun tidak ada adegan cipika cipiki.
"Bye, Daddy. Nanti pulangnya jangan lupa jemput aku." Pesan Daniela sebelum memeluk bosku dan pamit pulang.
Hatiku meleleh.
Andaikan dimata dingin itu ada cinta sebagai pria ke wanita, atau suami ke istri. Sayangnya masih saja dingin tak tersentuh.
Setelah orang orang itu pergi dan meninggalkan ruangan ini, aku kembali menikmati makan siang ku. Tidak ambil pusing, soal big bos yang tidak menoleh maupun sekedar melirik ke arahku. Langsung masuk kembali ke dalam ruang dan membanting pintu kasar.
Hem, sekedar pintu di banting mah hal sepele. Di bandingkan dengan perlakuan yang di lakukan big bos dulu. Awal awal jadi penyihir es. Beehh. Belum seberapa.
*************************************
POV JOVAN
"Mas Jo kalau sama Dhea itu bisa di usahain ramah sedikit?" Desak Amanda. Gemas.
"Oke, Daddy. Tolong kondisikan asap di telinganya mama ya. Hahaha" Jawab Daniela sambil tertawa jahil. Tahu betul aku mengabaikan perkataan mamanya yang sedari tadi langsung mengajukan beberapa protes tanpa tegur sapa terlebih dahulu. Sepertinya, Amanda masih bersemangat tentang pembicaraan tadi siang.
"Mas!" Sentak Amanda kasar. Merasa tidak perlu lagi menjaga nada bicara, karena putrinya yang cerdas sudah masuk ke dalam mobil.
"Besok besok, kurangin jatah nonton kartun Daniela yang tidak mendidik ke arah positif. Kamu dengar tadi?" Ujar ku pura pura merajuk. Mengabaikan topik tentang sekretaris yang menyebalkan itu.
"Dih, mas Jo!"
Aku tertawa sambil berjalan ke arah mobil dan melambaikan tangan. Dari pada nanti justru jadi tontonan tetangga.
"Tutup telinga kamu, itu asapnya mau keluar lagi." Ejek ku dari dalam sebelum menaikkan kaca mobil.
Mataku menatap Amanda yang masih berdiri menunggu kami benar benar sudah tidak bisa di lihat oleh matanya. Kebiasaan Amanda kalau sedang mengantar kami pergi.
Perempuan bodoh, mau bertahan setelah semua itu terjadi. Amanda dan pria itu masih bersama. Memberikan kesempatan, katanya. Dan sesuai yang aku tegaskan, aku tidak mau ikut campur perihal rumah tangga mereka.
"Mama suka gitu deh!"
Kalimat pendek Daniela berhasil membawaku kembali fokus dengan masa sekarang.
"Suka gitu gimana?" Tanya ku pelan. Sesekali menoleh ke samping. Putri kecilku sedang duduk tenang dengan memeluk boneka pandai.
Daniela menoleh ke arahku dengan pandangan mata yang menurutku tidak sesuai dengan usianya. "Menjodohkan Daddy dengan tante Dhe."
Kaget.
Ehem.. Ehem. Aku mencoba mengontrol diriku agar tetap tenang. Daniela persis seperti Amanda yang pandai mengagetkan lawan bicaranya.
"Jangan suka bikin daddy kaget saat daddy lagi nyetir mobil. Pokoknya, itu juga berlaku ke siapa pun. Oke sayang?" Tegas ku.
Bahaya jika kebiasaan seperti ini di biarkan begitu saja. Kalau lawan bicaranya tidak terbiasa, bisa bisa mengalami kecelakaan di jalan.
"Sorry, Daddy." Desah Daniela, pelan.
"Daddy gak bilang ini kesalahan, ini kelebihan yang tidak semua orang miliki. Kemampuan kamu yang seperti ini, bisa sangat menguntungkan kamu sendiri di kemudian hari. Hebat gitu, karena Ela tidak akan mudah di intimidasi oleh siapapun. Hanya saja, kalau seperti ini saat kita sedang berkendara, takutnya daddy justru bisa bikin hilang fokus dan akhirnya-- Ela tahu kan?" Jelas ku tenang saat melihat kepala putri cerdas ku ini menunduk.
__ADS_1
"Ela paham kok, Daddy. Terima kasih!"
Aku ikut tersenyum saat wajah cantik gadis kecilku tersenyum. Pandai dan sopan. Dua hal yang sepertinya di miliki oleh putriku secara alami. Tentu saja di asah oleh perempuan cerdik seperti Amanda.
"Langsung pulang atau gimana ini?" Tanya ku antusias.
"Nonton dulu dong, Daddy. Ela mau nonton film Disney." Bujuk Ela manja.
Sempurna!
Hidupku kini sempurna meski harus melewati ribuan duri nyang saat ini belum sepenuhnya lepas dari hatiku. Apalagi bekas bekas luka yang terkadang masih sangat menyiksa.
"Siap komandan!" Ucapku sambil hormat. Disambut tawa renyah yang bahagia.
Ela tampak begitu bahagia, senyum manis itu tidak pudar dari wajahnya. Menunggu dengan sabar saat kami sedang mengantri untuk membeli tiket. Hingga tiba tiba saja...
"Eh om jangan main maju gitu aja. Budayakan disiplin! Noh, antri dulu." Teriak Daniela tiba tiba, membuatku menoleh kaget ke arah dua manusia yang berbeda generasi itu.
"Sayang!"
"Ela!"
Aku menoleh ke arah suara yang Kompak dengan suaraku barusan.
Dhea?
"Kamu gak papa sayang?" Tanya ku cemas. Sambil memegang kedua pipi mungil putriku.
"Mas, jangan main kasar sama putri saya ya!" Bentak Ku kasar. Tidak perduli wajah Dhea yang panik sambil menarik tubuh teman pria nya yang mencoba maju ke arahku.
"Sudah, yang. Kamu sih!" Suara lembut Dhea terdengar di telingaku.
Mataku tidak bisa lepas memandang pria itu. Benci dan marah seketika menguasai akal sehatku.
"Oh, anak kamu. Ajari dia berbicara sopan sama orang yang lebih dewasa. Biar gak songong kaya gitu." Ejek pria itu sambil mencibir kearah Ela yang menggenggam setelan yang aku kenakan.
Bukk!
Reflek aku memikirkan wajah menjijikan itu. Gila dia! Berani beraninya berkata seperti itu.
Bukk!
Pukul ke tepat sasaran.
Seperti nya sekretaris ku yang mungil itu tidak mampu menahan tubuh teman prianya hingga kami beradu saling berusaha memukul.
"Tolong, pak!" Teriak Dhea ke arah dua satpam yang berlari ke arah kami.
Gila.
Pria rendahan.
Malam ini kami berakhir di pos keamanan setelah satpam berhasil memisahkan kami berdua.
"Yang, kamu sih. Sorry ya, aku gak bisa ikut kamu pulang. Kasihan Ela--"
"Gak perlu!" Potongku kasar. Merebut Ela dari pangkuan Dhea.
"Eh. Bukannya terima kasih" Ujar Isa. Pria yang baru saja berkelahi denganku.
"Maaf, Mas Jo. Saya atas nama isa benar benar meminta maaf atas semua ke salah pahaman ini."
Dhea menundukkan kepala setelah mengucapkan kalimat yang jelas jelas tidak mendapat jawaban apapun dariku.
Tanpa basa basi, aku meninggalkan pos keamanan sambil menggendong Daniela yang sejak tadi diam tampak takut.
"Maafin Ela, Daddy. Semua ini karena mulut Ela yang jelek." Bisik putri ku pelan. Meski suaranya tidak bergetar, namun aku yakin bahwa dia saat ini sedang menangis di bahuku.
"Bukan salah Ela. Ela sudah betul kok. Sudah, daddy gak papa kok sayang." Ucapku yakin, berusaha membuat putri kecilku kembali merasa tenang.
"Daddy jadi terluka karena mulut Ela yang gak bisa di kontrol. Padahal baru saja daddy kasih Ela nasehat. Maafin ela, daddy."
"Tadi sudah di obati kan, jadi gak papa."
Malam ini, Ela tidur sambil memelukku erat. Penyesalan masih begitu ketara di wajah mungilnya. Sesekali mengerutkan kening dan gelisah.
__ADS_1
"Kamu adalah putri daddy yang luar biasa." Bisik ku setelah menyentuh lembut kening Ela yang berkerut. Tidak rela rasanya jika melihat putri kesayangannya itu terganggu meski di dalam tidurnya.