
POV Dhea
"Gaji dari aku masih tidak cukup buat beli mobil?" Tanya big boss judes. Nadanya bikin eneg, belum lagi sikap nya yang tidak sopan sama sekali. Tanya kok tidak sambil melihat ke arah yang di kasih pertanyaan.
Kesal. Meskipun menurutku ini adalah sikap kekanak-kanakan, aku tetap mencoba menguatkan diriku untuk mengabaikan suara yang keluar dari mulut big boss.
Kita berdua memang sedang makan siang bersama, di dalam ruangan beliau yang tampak rapi tapi suram. Sepi seperti kuburan saja.
Betapa aku merindukan bisa duduk bersama teman teman di kantin kantor, sambil bercanda ria. Membahas ini itu yang bikin bahagia meskipun hal sederhana.
"Saya tanya kamu. Tuli ya kamu!" Sentak big bos kasar. Kini beliau menatap wajahku yang masih asyik mengamati menu makan siang. Berusaha menguatkan diri meskipun sebenarnya jari jari yang memegang sumpit bergetar.
Cukup kemarin telingaku penuh dengan caci maki karena membawa putri kesayangannya berkendara sepeda motor. Makan di tukang bakso langganan. Sebenarnya langganan bos juga, karena dulu sering aku beliin. Bapak anak itu sama sama penggemar bakso.
Aku sudah berjanji untuk berusaha kuat dan menenangkan diri. Menganggap bahwa aku sedang bermain perkelahian yang dimana aku harus keluar sebagai pemenang.
Rencana ku yang pertama adalah membuat big bos memanggil namaku. Dhea bukan Rhea. Tanpa teringat mantan istrinya.
Tidak semudah yang di bayangkan karena kini jari jarimu sudah dingin karena menahan rasa takut. Pandangan mata big bos ini rasanya bikin aku pengen ngompol. Takut!
Tenang, makan saja dengan santai meskipun keringat dingin mengucur di seluruh tubuh.
"Budeg"
Diam. Namun kini kepalaku sudah tidak lagi menunduk. Justru berusaha memberanikan diri mengangkat kepala. Tidak akan aku biarkan kamu menindas ku begitu saja monster!
Brakk
Suara tempat nasi yang di banting ke arah lantai. Di lanjutkan suara sumpit yang di banting ke arah meja.
Aku masih diam. Justru semakin berani dengan menyilangkan kakiku. Terus menikmati bekal nasi yang di kirimkan oleh bu Amanda. Hari ini beliau absen menemani bos makan siang.
"Heh!"
Bulu kudukku merinding. Takut. Tapi aku ingin jadi pemenang. Ku pejamkan mata seolah olah menikmati ikan salmon dengan penuh ekspresi. Sebenarnya aku sedang berusaha menahan diri untuk tidak berlari keluar.
Dan,
Praaang!
Gelas bos pecah.
Tubuhku mulai santai, menerima kalimat yang aku bisikan di dalam hati. "Ini tidak seberapa di bandingkan dulu."
Aku menurunkan kakiku, berusaha memberanikan diri untuk setengah membungkuk ke arah big bos. Mengambil potongan ikan salmon yang luput dari amarahnya.
__ADS_1
"Saya tanya sama kamu!"
Diam. Hening.
Kekuatan ku yang utama adalah menghindari kontak mata dengan big bos makan semuanya akan baik baik saja. Telingaku sudah terbiasa dan hatiku juga sudah memaklumi.
Bruk! Bruk!
Prang!
Semua yang ada di meja sekarang jatuh di lantai. Membuatku harus gigit sumpit karena merasa sayang dengan ikan kesukaan ku.
"Pecahkan semua saja, mas Jo. Biar ramai. Tidak sunyi mencekam seperti ini."
Lolos. Kalimat ini nyata lolos dari mulutku. Bukan sekedar kalimat fantasi ku yang memenuhi rongga kepala dan hati.
Plak!
Tamparan keras bos mendarat sempurna di tanganku yang memegang bekal makan siang.
Tidak perduli dengan tatapan tajam sekaligus mematikan itu, ku balas pukul sekuat tenaga di lengan bagian atas.
Bugh!
Aku melayangkan bogem mentah di paha seksi big bos sebelah kanan dan juga kiri. Memanfaatkan kondisi bos yang masih memegang lengan atasnya sambil mengerutkan kening.
"Auu. Sakit ****!" Teriak big bos begitu sadar aku masih memanfaatkan kondisi tidak fokusnya dengan memukul seluruh bagian tubuhnya sambil berdiri.
"Kalau mau tanya sama orang lain itu pakai sopan santun, bos. Tuh mulut ya, di ajari buat ngomong yang sopan sopan. Jangan asal bunyi!" Maki ku keras. Setengah menjerit hingga suaraku bergema di ruangan ini.
Dan setelah itu aku kabur meninggalkan big bos yang masih menatapku bingung. Berlari sekencang mungkin menuju pintu. Membuka dengan kasar, menutup pun dengan tidak kalah kasar. Sampai aku yakin suaranya bisa sampai ke bagian Devisi depan.
"Ya Tuhan-- Ya-- Ya Tuhan. Terimakasih untuk kekuatan hari ini." Ujarku begitu sampai di tempat dudukku sendiri. Menenangkan detak jantungku yang liar seakan keluar dari porosnya.
POV Jovan
Setelah keributan yang kami lakukan, aku dan sekretaris brengsek itu. Aku mencoba mencerna kembali sikap dia yang tiba tiba berubah. Perasaan, dulu hanya menundukkan kepala. Diam, mendengarkan. Menjawab. Nurut!
Iya, persis seperti perempuan iblis itu. Nurut tapi justru membunuhku secara diam diam dari belakang. Menikah belati tepat saat aku memeluknya penuh cinta.
Nama hampir sama, sikap perilaku hampir sama. Rapuh, mereka berdua sama sama terlihat rapuh. Dan--
"Auuuw. Siaaal!" Teriakku kencang. Sambil mengibaskan tangan yang terkena serpihan kaca, kasar.
Braaak!
__ADS_1
Suara pintu yang di banting membuatku menoleh kaget sekaligus menahan nyeri.
"Apaan sih, Bos!" Sentak sekretaris ku kasar.
Heh, sejak kapan dia punya keberanian seperti ini.
"Makanya, jangan jadi monster. Apa apa di banting. Apa apa di pecahin. Kaan, sakit kan."
Aku menepis kasar tangan Dhea yang berusaha menarik lenganku untuk melihat jariku yang terkena pecahan kaca.
"Jangan sok kuat deh, bos. Duduk sini."
Perempuan ini kembali mencoba menarik tubuhku untuk di seret duduk di kursiku.
Reflek, aku mendorong tubuh mungil itu dengan ujung siku. Dan..
"Auuuuww. Sakit ****." Jeritku semakin keras. Ini benar benar sakit.
"Sok kuat. Monster kok masih bisa sakit." Ejek Dhea setelah menyentuh bagian jari. Meski tidak tepat sasaran seperti nya reaksiku sesuai harapannya. Terbukti senyum sadis terbit di wajah nya.
"Bapak itu kekanak-kanakan. Saya dulu sih santai santai aja manggil, mas Jo. Memang terlihat masih pantas di sebut mas mas ganteng. La ini, monster. Pria tua bangka yang menyedihkan." Cercarnya entah mendapat kekuatan dari mana.
Jujur saja aku benar benar bingung dengan perubahan sikap perempuan yang di kutuk ini.
"Kamu kesurupan jin apa, Dhe?" Tanyaku pelan, tanpa sadar bahwa pertanyaanku benar benar keluar dari mulut. Buktinya, telingaku sendiri mendengar.
"Auaw. Pelan pelan, bodoh!" Teriakku sekali lagi saat gadis itu mengeluarkan serpihan beling di jari telunjukku.
Aku menyerah. Dia betul. Bahwa aku memang tidak tahan dengan luka fisik. Dan sebaliknya, tentang luka batin.
Gila.
Gadis ini justru semakin kasar dalam mengobati lukaku. "Aduuh. Sakit Dhea ****. Jangan keras keras."
Kalimat yang keluar dari mulut Dhea, seakan menghipnotis mataku untuk terus melihat ke arah wajahnya yang kini basah oleh air mata.
Gadis bodoh.
Siapa yang terluka di sini.
"Aku rindu sama suara tawa, bapak. Aku rindu sama kita yang saling bercanda. Aku rindu bapak yang asyik jadi teman curhatku. Aku benar benar rindu bapak yang tertawa geli karena malu. Aku rindu bapak yang selalu berbicara sopan dan lembut. Bisa tidak pak, pensiun jadi Monster."
Eh?
Kenapa ini?
__ADS_1