
Keinginan Austin dan calvin untuk ikut panen bersama di desa dikabulkan mbok Darmi. Meskipun sebenarnya bukan membantu malah merusuh.
Di desa ini masih menggunakan arit kecil untuk panen. Meskipun lama, tapi tidak banyak bulir padi yang tersisa di tanah. Kalau menggunakan mesin potong grandong(aku rak reti istilah bahasa Indonesia ne. Pokok e motor sing dinggo panen ngono kaelah. Golek i dewe ya readers😅) banyak bulir padi yang tertinggal. Jadi panen terasa kurang maksimal. Pembenahan struktur tanah pasca panen pun lebih sulit. Karena harus dicangkul dan diratakan dulu sebelum penanaman kembali.
Lagian panen jika seperti ini menggunakan banyak tenaga tetangga yang saling membantu. Hari ini kita dibantu, besok kita gantian yang membantu mereka panen. (gonamu jek model ngunu kwi ra readers?). Selain lebih murah biaya operasional, juga menambah kerukunan antar tetangga dan antar pemilik sawah
"Yu Darmi pye ra tambah nom yo lek Yem. Lah wes mbah-mbah sing ngapeli bening-bening e ra eram. Lah anakku Lasmi ae sing jek perawan kalah lek lek!" ujar salah satu wanita yang ada di sawah tersebut. Sontak saja semua yang mengerti bahasanya jadi tertawa.
" lah... Ora diapeli yow, Jah! Ki mas Betrand anake juraganku mbiyen. Jare pengen dolan nang ndeso. Nang kota raenek sawah panen jare"balas mbok Darmi
" lha yo raenek to. Wong wes dikebaki omah. Pye sing arep ngerti sawah. Ora mbok kenalke karo prawan-prawan kene to, Yu? Po reti dadi jodone."
__ADS_1
"heem. Perawan ndeso kie yo ayu ayu. Ra kalah karo sing nang kota."
"heem. Bejanmen to, Yu. Kerjo nang kota, gaji gede, juragane yo gemati. Anake sekolah dhuwur kabeh. Rejekimu yo, Yu!"
"Amiiiinnnnn. Insya Allah berkah. Mugo yo sak lawase berkah terus. Ben liyane yo melu ketularan. Ora mesti mboke baby, anake yo kudu dadi babu. Nek iso yo sak dhuwure" mbok Darmi menjawab semua godaan para kawannya di sawah. Sungguh istirahat di sawah itu menciptakan sensasi tersendiri. Sejuk, adem dan yang paling mahal adalah kebersamaan bersama orang orang sekitar
"dadi sopir ya yu?" jawab salah satu ibu disana
"Oasem.... Yo ra ngunu to, Jah. Maksudku yo sopir yo rapopo. Kan yo halal. Tapi nek iso mending buka usaha dewe. Minimal dadi bos untuk diri sendiri." mbok Darmi masih meladeni omongan para kawannya masih dengan bahasa yang tidak dimengerti Rafael dan kawan - kawannya
" si Norman, lagi klumpuk klumpuk nggo bukak bengkel. Gaji guru honorer kie ra cukup nek ra karo ubek. Mesakke anak bojone suk. Insya Allah sasi ngarep bukak nang ngarep dalan balai desa. Sing Budi durung lulus. Sekolah e suwe dewe kae. Lha Samsul jare rep bukak toko sembako. Ngenteni panenan iki sek. Ben sitik-sitik bukak usaha. Luwung daripada bar seko kelurahan gur lontang lantung raenek gawean"balas mbok Darmi
__ADS_1
"mereka ngobrolin apa sih guys! Sedikitpun ngga ada yang loading di otak gue"ucap Calvin. Mereka dari tadi hanya makan nasi gudeg yang disediakan mbok Darmi
" beneran. Gue juga ngga ngerti kalau udah pada ngobrol pakai bahasa pribumi gini. Apa di sekolah kita dulu pernah ada pelajaran bahasa ini ya? Tidak ada atau kita yang ngga pernah ada di pelajaran ini? Jika kayak gini, gue bakal pilih sastra sama bisnis entar kalau kuliah."ucap Austin yang dihadiahi toyoran dari 3 sahabatnya
" masuk bisnis aja udah pasti kelimpungan. Masih sok-sok an mau masuk sastra. Mau mati muda lo? "ucap Betrand
" bisnis aja gue ngga yakin nilai lo lancar. Pakai bergaya mau ambil sastra. Sadar diri kek. Otak dibuat mesum kek lo lulus dengan apk 3 itu saja ntar lo harus sujud syukur. "kali ini mulut Calvin yang bersuara. Padahal dia pun hanya berotak pas pasan.tapi dia cukup sadar diri akan hal itu. Dia mulai belajar bekerja di kantor paparnya dari staf biasa tanpa di ketahui identitas nya sama karyawan yang lain. Dia ingin belajar bisnis benar benar dari bawah. Agar nanti saat dia lulus, dan tampuk
kekuasaan di pundaknya, dia sudah tidak kaget
"temen ngga ada akhlak lo semua. Bukannya mendukung malah melecehkan" Austin pun merengut dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
"kita itu ada akhlak. Makanya menyadarkan elo yang lagi belajar ngga waras. Kalau ngga disadarkan dari sekarang, kita takut gila lo tambah parah" ucapan Calvin membuat para sahabatnya yang lain terbahak dan membuat sekumpulan ibu-ibu rumpi terpana
"Lah, nek gelem ro anakku, ra perlu mahar. Anggere gelem dadi mantuku, tak ramekke ngundang dangdut an, mas"