Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Sepuluh


__ADS_3

POV Dhea


Air mata ku meleleh, membasahi kedua pipiku. Mengingat semua yang telah terjadi antara Isa dan aku. Aku percaya, bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik.


Hanya saja terkadang sangat tidak bisa di prediksi. Luka lama kembali menganga, menoreh derita. Menambah kenangan buruk yang memang terkumpul banyak.


[Dhe, beri aku kesempatan! Untuk menjelaskan semua yang terjadi, antara diriku dan dirinya. Walaupun ku yakin, kamu tahu yang sesungguhnya. Bahwa cintaku, hanyalah untuk mu. Hanya untuk kita. Tanpa mereka.]


Pesan dengan kalimat panjang itu aku abaikan. Meski, yah... Tidak munafik jika aku memang sangat tertarik untuk membacanya.


[Maafkan aku, bila aku belum mampu. Menjadi yang terbaik, untuk hubungan kita. Aku janji, bahwa itu semua adalah yang terakhir.]


Bunyi pesan masuk kembali menganggu kosentrasi ku. Kondisi seperti ini, pengaturan senyap benar sangat membantu.


"Sore, Mbak Dhea." Sapa Pak Tarjo, Ramah.


"Sore juga, Pak. Apa kabar istri bapak?" Tanyaku pelan.


"Alhamdulillah, sudah membaik. Kandungannya sudah mulai kuat kata dokternya."


"Wah.. Ikut bahagia, Pak."


"Terima kasih, Mbak Dhea. Emm... Mbak Dhea?"


"Iya, Pak?"


"Mas Jo sudah mulai membaik ya. Tadi pagi, saat saya ngasih titipan dari istri saya. Mas Jo sudah bisa senyum."


Berseri seri, wajah petugas keamanan gedung ini begitu bahagia. Hanya karena kembali melihat senyum bos monster itu. Rasanya bikin hatiku yang sedang hancur ini jadi bahagia.


"Iya, Pak. Sudah hampir satu bulan ini memang beliau seperti itu."


Satu bulan setelah kejadian di rumah bos. Satu bulan pula aku tidak bertemu dengan Isa.


"Mari, Pak. Saya duluan."


"Monggo, mbak Dhea. Hati hati ya."


Aku tersenyum, beranjak menuju parkiran sepeda motorku. Yaah... Gaji memang selangit, tapi... Kebutuhan ku juga sebesar bumi. Hahaha. Kacau. Aku mulai rindu wajah tampan Isa.


Empat tahun, hubungan datar dan biasa biasa saja. Aku sibuk dengan kesibukanku, Isa juga sibuk dengan kesibukannya. Pekerjaan dan Tentang Bos, sedangkan Isa... Pekerjaan dan masa lalunya.


Aku muak, terjebak mencintai sosok yang terjebak oleh kehidupan masa lalunya. Isa, terjebak dengan perempuan yang meninggalkan nya demi pria yang lebih mapan, meninggalkan anak kecil berjenis laki laki di panti asuhan.


Informasi yang baru saja aku ketahui beberapa minggu lalu saat perempuan itu datang menemui ku.


"Dia gak bisa lepas dari aku, Dhea. Isa, meskipun urakan. Dia pria yang bertanggung jawab."

__ADS_1


Jika sebagian orang akan menghadapi pelakor dengan tarik menarik rambut, caci maki. Maka aku dengan penampilan paling berkelas menurutku, baju dan semua adalah brand nomor satu. Wajahku? Tentu saja bersolek manis. Tanpa air mata.


"Lantas, apa hubunganku dengan semua ini?"


"Aku hanya ingin kamu melepaskan Isa."


"Hahaha, Isa itu sampah! Dia mau mau saja jadi simpanan mu, tapi dia juga tidak mau melepas ku. Aku berani bertaruh, bahwa dia akan memilih ku, jika kalian tidak memiliki putra yang kalian buang di panti asuhan."


"Kami tidak membuang, Zoel. Saat itu ekonomi kami terperosok jauh di bawah."


"Karena itu juga, kamu meninggalkan Isa. Sudah, kita berhenti disini. Lagian, empat tahun ini, Isa itu bisa di bilang asisten rumah tangga yang tidak perlu di bayar pakai apapun. Gratis tis!"


Aku tertawa, sadis.


"Isa pasti cerita sama kamu, kalau kami tidak memiliki hubungan yang seperti orang lain. Kita hanya saling membuang rasa jenuh dan saling tukar cerita. Bedanya, Isa justru ketergantungan denganku. Tapi tidak bisa lepas dari cengkeraman kamu. Dan-- ah, sudahlah. Perempuan yang kesepian memang menyedihkan."


"Maksud kamu apa!"


"Isa cerita kok, kalau isa tiba tiba jadi bergairah setelah menghabiskan minuman yang kamu buat. Tidak ada rahasia di antara kami, Keke. Sudah dulu ya. Bye"


Aku meninggalkan perempuan yang sedang marah itu dengan langkah santai dan gemulai. Karakter yang aku pelajari dari sosok Bu Amanda.


Ah, Amanda.


Mengapa perempuan itu begitu terobsesi mengetuk bahkan mendobrak pintu hati bos monter dan menyeretku masuk kedalam nya. Padahal, mereka berdua---


Saat kepala ku menoleh--


"Bos!" Sapa ku, ramah. Senyum. Kita memang harus profesional bukan. Dalam hal apapun.


"Ngapain kamu di sini? Sendiri?"


"Tadi ada habis makan malam sama teman, bos?"


"Sendiri. Rindu, sudah lama nggak makan di sini." Mas Jo tersenyum.


Ya Tuhan,


Boleh aku menangis,


Kenapa begitu terharu saat melihat sikap bos yang seperti ini. Rindu, Ya Tuhan. Terimakasih!


"Rindu, bos. Kangen sama bos yang kaya gini." Desahku pelan.


"Hahaha, menyedihkan. Iya kan?"


Aku menggeleng kuat. Tidak, ini keajaiban.

__ADS_1


"Mau ngobrol ? Tapi jangan di sini."


Dasar aku. Justru hanya bisa mengangguk dan mengikuti mas Jo masuk ke dalam mobil.


POV Jovan


"Dhe, yang dulu itu... Sakit sekali ya?" Tanyaku dengan suara pelan, sedikit gugup. Mencoba untuk instrospeksi diri itu sulit, seperti harus kembali mengenali setiap inci perasaan. Untung saja, aku mendapat anugerah istimewa, keajaiban yang nyata di balik badai yang membuatku tidak lagi tahu harus bagaimana.


"Yang mana pak? Soal apa?"


"Soal, dulu. Aku pernah mukul kamu sampai benar benar parah kan. Hari pertama setelah kejadian itu." Kenang ku, sedih sekaligus suram. Perempuan ini datang seperti biasanya, sedangkan aku yang melihat dhea tersenyum karena di sapa oleh Ahmad, justru mendadak kalang kabut, penuh amarah. Menyeret lengan Dhea kasar, masuk ke kantor.


"Ah, itu. Bos-- jangan di ingat ingat lagi. Saya mengerti, saat itu bos melihat saya sebagai bu Rhea." Tenang Dhea. Lembut. Menggenggam jemari tanganku.


"Iya, andai saja Amanda tidak datang tepat waktu dan mukul punggung aku pakai vas bunga, barang kali kamu sudah-- ah. Aku bukan pria yang sebengis itu, Dhe." Sedih, menyesal. Sakit. Aku benar-benar hampir membunuh perempuan mungil ini. Hanya karena di mataku dia terlihat seperti, Rhea.


Genggaman di tanganku semakin mengerat, seperti sedang berusaha menguatkan. Membuat ku menyadari bahwa, ternyata aku selemah itu.


"Tadi bapak lo yang nawarin saya curhat lo, ehhh.. Kok bapak yang jadi curhat gini." Hahaha, tawa Dhea kembali mengajak wajahku tersenyum.


Ya Tuhan,


Aku lupa, kapan terakhir aku tersipu malu malu seperti ini. Hanya karena melihat ekspresi konyol manusia berjenis perempuan.


"Dulu, bapak suka senyum seperti itu. Setiap kali menanggil nama saya." Jelas Dhea, pelan. Suaranya benar benar lembut.


Meski lembut, tetap saja mengoyak luka yang masih belum asing di hatiku. Ah.. Aku dulu memang sering merasakan perasaan ini setiap menatap atau hanya mendengar nama Dhea di panggil.


Karena... Yaah, otakku langsung melesat terbang memikirkan wajah cantik, Rhea. Bukan karena Dhea yang memberikan efek gairah seperti ini.


"Dan kamu selalu saja berhasil meledek saya, padahal jelas jelas... Status saya ini siapa." Sambung ku. Memutuskan untuk mencoba menerima sensasi nyeri yang hadir dari serpihan luka di hatiku. Hidup ku.


"Kita bahkan sering curhat ini itu kan, Dhe. Tapi tidak pernah sampai berpegangan tangan seperti ini." Lanjutku berusaha mencairkan perasaanku sendiri. Dan berhasil. Berhasil membuat Dhea menarik tangannya sambil tertawa malu. Menutupi wajah memerah, tomat. Dengan kedua tangannya.


"Bapak sengaja bikin saya malu, bikin saya jadi... Seperti perempuan yang merayu pria patah hati."


Cemberut, merajuk. Lucu, benar benar mengundang tawa di bibirku. Yaah.. Setelah sekian lama. Aku kembali tertawa pelan.


Suara tawa yang sepertinya membuat Dhea terkejut sekaligus bahagia dan ah! Memeluk erat kepala ku.


"Ini beneran, kamu memanfaatkan saya ya. Meluk meluk gini." Ejekku bercanda. Membalas pelukan wanita yang kini justru menangis tersedu sedu.


Haru, hatiku membuncah haru biru. Mataku mulai berkabut dan ujung tenggorokan ku mulai sesak. Menahan nafas sambil mengelus rambut panjang Dhea, pelan.


"Saya rindu buat curhat sama bapak. Saya rindu senyum bapak, tawa bapak yang bikin siapapun ikut bahagia."


Ada perasaan aneh yang masuk ke dalam hatiku

__ADS_1


__ADS_2