Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Bab 51


__ADS_3

Yah...


Kembali kerja di club adalah pilihan. Nadira tidak bisa selalu mengandalkan uang almarhumah mamanya atau ayah sambungnya. Tapi kali ini dia memilih kerja di club yang diperuntukkan untuk kalangan kaum gay. Menurut dia itu akan lebih aman walaupun menjijikkan


Di club ini juga dia berkenalan dengan Dewa. Salah satu anggota club juga. Kebetulan pacar Dewa juga member gold. Lumayan untuk pendukung kehidupan


Hari - hari yang dilalui Nadira selama terpisah dari keluarganya bukanlah hal yang mudah. Dia harus mandiri di antara orang-orang egois yang tidak dia kenal. Apalagi dia memutuskan belajar hukum dan IT secara bersamaan. Tidak jarang dokter Lukman selalu mengingatkannya untuk jaga kesehatan.


Sering kali sakit karena otak dan tenaga yang selalu terforsir bukan hal baru untuk nya. Karena memang menjadi seorang pengacara adalah impiannya. Sedangkan IT digunakan untuk mendukung pekerjaannya nanti.

__ADS_1


Soal almarhum si kembar, ada keluarganya yang akan rutin menyambangi dan mendoakan ya. Sedangkan untuk dia sendiri, baru akhir akhir ini rutin mengunjungi mereka. Tentu saja uang adalah masalah utamanya. Jarak Singapura-Indonesia bukan dekat yang hanya naik motor 1 jam sampai. Hanya setelah dia dikirim ke Batam, baru keliatan dekat dengan makam twins nya


Dan kini dia kembali berkutat dengan berkas dan laptop di hadapannya. Urusan dengan Rafli, dia biarkan Dewa mengurusnya sendiri


"Ra..."


Suara itu membuat Nadira menghentikan kegiatannya. Dipandangnya sahabatnya dulu yang kini telah naik pangkat menjadi budhenya


Salsa yang mendengar ucapan dari sahabatnya di masa lalu itupun diam. Dia hanya duduk dihadapan Nadira sambil menikmati teh hangat yang telah disediakan Stella. Sekretaris utama disini

__ADS_1


Sekitar 30 menit kemudian, pekerjaan Nadira selesai. Dia kembali fokus ke sahabatnya kembali


"kita ke Cafe seberang. Ngga nyaman ngobrol di hadapan pekerjaan" Nadira mengajak Salsa keluar. Memang ini hanya kantor salah satu kantor yang menggunakan jasanya karena kali ini dia tidak bekerja sebagai pengacara. Dia hanya diminta mencari bukti - bukti pembelaan kliennya


"mo ngomong apa?" Nadira tanpa basa-basi langsung menodong pertanyaan pada mantan temannya itu. Ya iyalah mantan teman. Sekarang kan sudah jadi budhenya


"gue ngga akan kayak saudara lo yang lembek ya sekarang. Gue tanya, mau lo apa sekarang? Sok sok an judes sama keluarga. Salah mereka apa sama lo? Oke lo susah jaman dulu. Tapi mereka bisa apa? Uang mereka juga terbatas waktu itu. Kakek lo juga harus mikirin masa depan anak-anaknya yang ada didepannya. Bukan karena ngga sayang sama lo. Tapi waktu itu mereka lagi merintis usaha. Kalau semua uang yang ada digunakan buat nyari lo, ya kalau ketemu. Kalau ngga, anak-anak yang ada didepannya kelaparan, lo juga belum pasti ketemu. Kalau lo mau main salah-salahan, noh, bokap lo masih bernyawa. Paranin gih! Gampar kek! Cekek kek! Injek juga boleh. Tapi jangan salahin ayah Broto sama anak-anaknya. Mereka terhimpit ekonomi. Toh waktu ketemu sama lo mereka juga ngga ingkar kan? Mereka rawat lo kan? Mereka sayang sama lo kan? Siapa yang susah waktu lo kena musibah? Lo bisa gitu cuz terbang sendiri ke Amerika kalau bukan karena keluarga lo? Oke itu semua juga ada biaya dari bininya Adit yang sekarang. Tapi yang nemenin lo disana siapa kalau bukan keluarga lo? Gue kecewa sama lo, Dir. Sebegitu ceteknya pikiran lo sama keluarga lo sendiri. "Salsa yang sudah terlampau emosi langsung meluapkan segala amarahnya. Untung saja ruangan yang dipesan Dira ini ruangan privat. Kalau tidak sudah, sekarang sudah pasti mereka jadi pusat perhatian.


Nadira bungkam. Benar apa yang dikatakan budhenya itu. Tapi waktu itu dia yang dengan usia yang masih muda, sedangkan masalah datang bertubi-tubi padanya seolah tiada henti, membuat jiwanya rapuh. Apalagi didukung keluarga tirinya. Jadilah.

__ADS_1


"maaf"


"hanya maaf!


__ADS_2